
Setelah Fu Chen menyelesaikan ujiannya, mereka kembali ke meja kerja sang resepsionis. Fu Chen sedikit pesimis dengan hasil ujiannya karena ia tidak memenuhi persyaratan di ujian ketiga.
Fu Chen diam memperhatikan resepsionis Shi yang berbisik-bisik dengan rekan kerjanya, sedangkan Tao Lin terlihat sangat santai. Hasil dari ujiannya memang sudah di tentukan sejak awal sehingga ia bersikap biasa saja.
"Junior Fu," Panggil resepsionis Shi.
Fu Chen kemudian buru-buru mengalihkan pandangnya pada resepsionis itu.
"Hasil ujian pertama dan keduamu sudah cukup memuaskan, bahkan bisa di katakan luar biasa. Namun kau hanya bisa bertahan selama 19 menit pada ujian ketiga…"
Fu Chen menelan sedikit ludahnya, dia memang terlalu cepat menyerah.
"Tapi seperti yang ku katakan, ujian itu berada di level yang berbeda dengan ujian biasanya. Ini adalah permintaan tetua Mao, jadi dia yang akan memberikan penilaian kepadamu," kata resepsionis itu, membuat Fu Chen sedikit bernafas lega.
Raut wajah tetua Mao menjadi serius, dia memperhatikan setiap catatan yang di tulis resepsionis saat mengamati Fu Chen. Ia melirik ke arah Fu Chen sejenak dan kembali lagi pada catatan di depannya. Hal itu berulang beberapa saat hingga ia berdehem pelan.
"Kau lulus!" Kata tetua Mao, singkat.
Fu Chen mematung beberapa saat sebelum otaknya kembali bekerja. "Apa?" Sambar Fu Chen terkejut.
Resepsionis Shi menggelengkan kepalanya pelan mendengar pernyataan tetua Mao tanpa penjelasan apapun itu. "Setidaknya berikan ia sedikit penjelasan agar ia tidak kebingungan…"
"Kurasa tidak ku jelaskan sekalipun dia sudah mengerti. Dia sudah mengalahkan anak ini dan mempu bertahan lebih dari 15 menit dari ujian dengan level yang cukup tinggi. Bahkan anak ini sekalipun belum tentu bisa melakukannya, bukankah itu sudah cukup jelas untuk menilai kemampuannya," Potong tetua Mao sambil memegangi kepala Tao Lin.
"Tetap saja. Kau harus memberikan alasan yang jelas karena telah menaikkan level ujiannya. Apa kau tidak melihat wajah manisnya itu tergores karena ulahmu…?"
"Kau mulai tidak sopan di hadapanku ya? Mau aku naikkan atau tidak, itu urusanku karena akulah yang mengawasinya. Apa kau lupa? Wajah muridku ini juga pernah terluka karena ulahmu!"
"Jangan samakan wajah dekil muridmu itu dengan anak ini! dia terluka saat itu karena kesalahannya sendiri…!" Sahut resepsionis Shi berapi-api.
Fu Chen merasa canggung dengan situasi ini. Resepsionis itu baru saja mengenali Fu Chen dan dia bahkan membela Fu Chen sampai sebegitunya, padahal mereka hanya memperdebatkan hal-hal yang tidak penting.
Sementara itu, Tao Lin terlihat murung di dekapan tetua Mao. Wajahnya terlihat kecewa karena di banding-bandingkan dengan anak kecil di depannya.
***
Fu Chen kembali ke asramanya setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Dengan resminya ia menjadi murid dalam, ia bisa mengambil misi untuk keluar sekte. Dia juga mendapatkan beberapa tanda pengenal sebagai murid dalam seperti, jubah, token dan bahkan resepsionis itu memberikan Fu Chen sebuah pedang. Meski pedang itu hanya sebuah pedang biasa, tapi ia bisa menggunakannya untuk berlatih.
Dengan kenaikannya menjadi murid dalam, berarti Fu Chen juga harus pindah ke asrama murid dalam. Padahal ia sudah cukup nyaman tinggal seorang diri di asrama ini. Dia juga harus memberitahukan teman-temannya jika dirinya tidak lagi menjadi murid luar. Ini akan menjadi kejutan yang luar biasa menurut Fu Chen.
Namun sebelum semua itu terjadi, ada satu hal yang harus ia lakukan saat ini, yaitu istirahat. Hari ini ia sudah menghabiskan banyak tenaga jadi tidak ada salahnya untuk tidur sementara waktu.
Esok harinya Fu Chen mendatangi kamar Sin Lou dan Kyoto dengan perasaan yang sangat bahagia. Karena tidak ada kelas pelatihan pagi itu, Fu Chen dapat menemui mereka dengan mudah.
Fu Chen sedikit berbasa-basi di awal, tidak lama kemudian dia menceritakan semua hal tentang kelulusannya. Sin Lou adalah yang paling terkejut, dia sempat tidak percaya namun saat Fu Chen menunjukkan tokennya, dia terdiam beberapa saat.
"Tidak… Chen'er, kenapa kau mengkhianatiku? Kenapa? Bagaimana Mei'er akan berpaling darimu jika kau terus melampauiku?!" Desah Sin Lou dengan wajah yang sedih. Dia sedikit kecewa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Kenapa kau begitu serakah? Kau sudah memiliki Qiao Wu, kenapa kau masih ingin merebut adikmu dariku?" Lanjutnya lagi dengan nada yang meninggi
"Tentu saja! Aku tidak akan membiarkan orang sepertimu mendapatkan adikku! Aku sudah katakan ini sejak dulu, kau hanya bisa bermimpi untuk mendapatkan Mei'er…" Pancing Fu Chen dengan seringai lebar, berusaha menambah kesedihan Sin Lou.
Kyoto merasa muak melihat tingkah mereka yang selalu saja memperdebatkan masalah gadis keduanya bertemu. Dia mengajak Fu Chen keluar dari kamarnya untuk membicarakan hal yang lebih penting. Meninggalkan Sin Lou yang memeluk bantal dengan air mata buayanya.
Kyoto mengajak Fu Chen berbicara sambil berkeliling, anak ini memang sedikit lebih dewasa dari anak seumurannya. "Aku tau kau itu kuat, tapi aku tidak menyangka jika kau akan menjadi murid dalam secepat ini. Bahkan kau jarang hadir di kelas pelatihan, apa kau berlatih dengan tetua itu?" Tanya Kyoto karena mengingat anak di sampingnya hanya pergi ke perpustakaan setiap hari.
"Ya begitulah…" Jawab Fu Chen sambil mendongakkan kepalanya menatap langit. "Ceritanya panjang."
"Tidak apa, kita punya banyak waktu hingga hari berakhir."
Fu Chen tersenyum kecut mendengarnya namun tidak menolak untuk menceritakan kegiatannya selama di perpustakaan. Kyoto mendengarkan dengan seksama, dia hanya menanyakan beberapa hal yang dia perlukan.
Setelah mendengar semua kisahnya, Kyoto merasa tidak heran kenapa tetua pertama memperhatikan Fu Chen. Ia akui, anak ini memang sedikit berbeda dengan yang lainnya.
"Ah iya, aku jarang melihat Qiao Wu berkumpul dengan kalian. Ada apa sebenarnya?" Tanya Fu Chen karena suasana menjadi hening setelah ia selesai bercerita.
Kyoto menghela nafasnya mendengar nama Qiao Wu. "Anak itu memiliki banyak teman sekarang, dia juga sangat akrab dengan para senior. Beberapa kali aku melihatnya makan siang bersama seniornya, dia seolah melupakan kami."
Fu Chen sedikit mengangkat alisnya mendengar Qiao Wu memiliki banyak teman. "Bukankah itu bagus jika ia punya banyak teman sekarang? Tapi kenapa dia melupakan kalian?" Tanya Fu Chen sedikit penasaran dengan pernyataan terakhir Kyoto.
"Apa kau tidak terheran? Dia tidak pernah bergaul dengan anak-anak di desa kita sebelumnya dan setauku dia hanya dekat denganmu… itupun saat perjalanan kita ke sekte ini."
Fu Chen membenarkan ucapan Kyoto, dia juga heran kenapa dirinya tidak terkejut. Seolah itu adalah hal yang wajar. "Mungkin dia hanya merasa kurang cocok dengan anak-anak di desa kita dan sekarang ia mendapatkan yang ia inginkan," balas Fu Chen, berusaha untuk tidak memikirkan hal yang buruk.
"Pilih-pilih sekali, ck," Lidah Kyoto berdecak kesal. "Terserah apa yang ia inginkan, aku tidak peduli dengannya," Ketus bicara Kyoto setelahnya.
Fu Chen tersenyum canggung, anak ini memang sedikit dingin dengan perempuan.
"Dari sini aku akan pergi menemui tetua Li, sampai jumpa!" Kata Fu Chen setelah cukup lama berbincang dengan Kyoto. Dia melambaikan tangannya lalu pergi ke arah yang berbeda dengan Kyoto.
"Baiklah… sampai jumpa!"
Fu Chen berlari kecil, berharap jika tetua Li sudah ada di kediamannya. Namun saat dia tiba di depan paviliun perpustakaan, tempat itu sangat sepi. Dia masuk kedalamnya dan hanya mendapati beberapa pelayan yang sedang bersih-bersih.
"Apa tetua Li sudah kembali?" Tanya Fu Chen pada seorang pelayan.
"Tetua masih belum kembali… apa tuan ingin memakai ruang latihannya lagi? Aku akan segera menyiapkannya kalau memang begitu…" Balas si pelayan.
"Ah, tidak perlu… aku hanya ingin menemuinya."
"Baiklah… aku akan melanjutkan pekerjaanku, permisi…"
Fu Chen menghela nafasnya pelan, pelayan itu biasanya selalu membuatkan Fu Chen hidangan saat berlatih. Dia orang yang baik, pikir Fu Chen sambil memandangi pelayan itu.
"Tapi kenapa tetua Li belum kembali? Kemana kakek tua itu sebenarnya?" Fu Chen membatin. Pertanyaan ini selalu menghantuinya beberapa hari ini.