
"Senior, apa Ibu Kota masih cukup jauh?"
Fu Chen dan Xiao Jung kini sedang berhenti untuk istirahat, keduanya duduk di pinggiran api unggun. Sudah tiga hari sejak mereka terus menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk meninggalkan Kota Tiemao.
Beruntung perjalanan mereka cukup lancar dan dapat mempersingkat waktu. Sejauh ini Fu Chen masih belum juga mendapat kesempatan untuk memeriksa cincin Bumi miliknya karena mereka terus berlari siang dan malam dan hanya berhenti untuk istirahat sejenak.
Xiao Jung menguap sambil menggosok matanya perlahan, kemudian berkata, "Mungkin dua minggu lagi kita akan segera sampai jika kecepatan kita sama seperti sebelumnya. Setelah melewati satu Kota lagi maka itu berarti Ibu Kota sudah dekat."
Fu Chen menghela nafas panjang lalu merebahkan tubuhnya. "Akhirnya tinggal sedikit lagi," kata Fu Chen lemas.
Xiao Jung terkekeh mendengarnya kemudian mendongakkan kepala, menatap gelapnya malam dari matanya. "Kau akan segera terbiasa melakukan perjalanan seperti ini seiring waktu. Bahkan mungkin kau akan menyukainya." Xiao Jung tersenyum tipis setelahnya.
"Aku harap itu benar terjadi." Fu Chen berkata pelan lalu memejamkan matanya. Benar yang di katakan Xiao Jung, dia harus menikmati hal-hal seperti ini.
Mungkin di masa depan ia tidak memiliki kesempatan untuk menikmati hal seperti ini bersama teman-temannya karena tugas yang ia bawa. Misi yang di berikan Tang Shu sangat berat, ia tidak ingin menyeret teman-temannya ke dalam masalah itu.
Xiao Jung melirik ke arah Fu Chen dari sudut matanya selama beberapa saat, kemudian ikut merebahkan tubuhnya. "Kita akan beristirahat malam ini, aku sedikit mengantuk setelah tiga hari lamanya terus berlari." Mata Xiao Jung perlahan-lahan mulai terpejam.
Namun, Fu Chen nyatanya tidak berniat untuk tidur, dia terus menunggu hingga Xiao Jung benar-benar terlelap, Fu Chen hanya ingin memastikan jika cincin Bumi miliknya benar-benar terbuka. Saat suara dengkuran Xiao Jung terdengar Fu Chen lekas membuka matanya dan duduk dalam posisi lotus.
Ia kembali mengalirkan qi pada cincin Bumi di tangannya seperti saat pertama ia mencobanya. Fu Chen mengalirkan lebih banyak energi qi karena percobaan pertamanya hampir gagal.
Mata Fu Chen melebar saat ia melihat pemandangan yang sama ketika pertama membukanya. "Jadi semua ini nyata?" gumam Fu Chen dengan mulut terbuka.
Fu Chen mengalirkan lebih banyak qi pada cincin itu untuk memastikan apa saja yang berada di dalamnya. Kening Fu Chen kemudian berkerut saat merasakan aliran qi miliknya seolah di hadang oleh sesuatu. Ia mencoba mengalirkan qi lebih banyak lagi hingga hampir setengah energi qi di dalam tubuhnya terkuras.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Fu Chen memejamkan matanya dengan kuat, nafasnya sedikit memburu dan setitik keringat muncul di keningnya. Energi qi yang ia alirkan seperti di hadang oleh sebuah tembok besar yang kokoh.
Fu Chen menduga jika di balik tembok itu berisi pusaka-pusaka yang di perebutkan pendekar di Benua Tengah. Mungkin inilah yang di maksud Tang Shu jika cincin itu di jaga oleh roh leluhur klan Tang.
Saat Fu Chen sedang mengatur nafasnya kembali tiba-tiba sebongkah cahaya muncul dalam pikirannya. Kening Fu Chen kembali berkerut, bongkahan cahaya itu seperti mendekatinya. Benar saja, bongkahan cahaya itu ternyata melesat dengan cepat dan mengincar kepala Fu Chen.
Fu Chen terlambat untuk menyadarinya sehingga ia hanya bisa menghalau cahaya itu dengan kedua tangannya. Namun, cahaya itu menembus tangan Fu Chen dan seketika masuk ke kepalanya.
"Ahk!" Fu Chen tercekat, kepalanya mulai terasa sakit setelah cahaya itu mengenainya. Rasa sakit itu kemudian semakin menjadi-jadi hingga membuat Fu Chen meronta dan mencengkram rambutnya dengan kuat.
Beberapa saat kemudian rasa sakit itu mulai mereda, nafas Fu Chen kembali memburu bersamaan dengan hal itu. Ia menelan ludahnya kasar lalu mengusap keringat yang keluar di keningnya.
"Apa ini?" Fu Chen kebingungan saat tiba-tiba kepalanya di isi oleh begitu banyak informasi.
Semua informasi yang muncul di kepalanya ternyata mengenai pusaka-pusaka dan beragam nama-nama pil. Meski begitu, informasi itu terlalu banyak hingga membuat kepala Fu Chen terasa penuh dan tidak dapat menampungnya lagi.
Fu Chen mencoba untuk menenangkan diri, informasi ini ia dapatkan terlalu tiba-tiba. Setelah hampir satu menit berusaha untuk menenangkan dirinya, Fu Chen kemudian menarik nafas panjang.
Fu Chen kemudian mecoba mencari tahu informasi mengenai benda yang sejak awal ia temukan ketika membuka cincin Bumi. "Mari kita lihat… berapa banyak jumlah koin emas di dalam sini," ucap Fu Chen sambil menyeringai.
Fu Chen kemudian di buat terkejut oleh angka-angka yang muncul di kepalanya, ia tersenyum pahit sambil mengusap tengkuknya. "Ku rasa aku harus menghitungnya terlebih dahulu. Ini… ratusan, ribuan, puluhan ribu…"
Fu chen mulai mengukir angka-angka nol di tanah tempat ia berpijak sesuai dengan jumlah yang ada di ingatannya. Setelah beberapa saat kemudian, ia menelan ludahnya kasar.
"Ratusan juta koin emas? Tunggu… bahkan masih ada dua angka lagi yang tertinggal?" Fu Chen kembali menambahkan dua angka nol yang tertinggal lalu menghitungnya lagi dari awal untuk memastikan jumlahnya.
Fu Chen menelan ludahnya sekali lagi. "Seberapa kaya klan itu sebenarnya? Bahkan di dalam cincin ini saja sudah melewati angka ratusan juta, ck." Lidah Fu Chen berdecak. "Dengan kekayaan ini mungkin aku sudah dapat membangun kerajaanku sendiri."
Fu Chen hanya tersenyum kecut menyadari selama ini ia membawa uang sebesar itu, ia sendiri tidak yakin jika sebuah kerajaan mampu menyainginya. Terlepas dari kekagumannya, Fu Chen kemudian mempelajari semua informasi yang ia dapatkan dan melihatnya.
Setelah mengetahui sebagian besar benda-benda yang ada di cincin itu, Fu Chen ingin menguji cobanya dengan mengeluarkan satu kepingan emas dari sana.
Dalam satu kali percobaan saja ternyata Fu Chen dapat melakukannya dengan mudah, ia hanya perlu membayangkan benda apa yang ingin ia keluarkan beserta dengan nama dan jumlahnya. Fu Chen mencobanya beberapa kali kemudian tersenyum lebar.
"Meski belum terbuka sepenuhnya tapi sumber daya di dalam sini sangat luar biasa. Mungkin aku dapat mencapai tingkat Jendral Petarung kurang dalam satu tahun dengan sumber daya ini." Fu Chen mulai bersemangat memikirkannya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya dengan senyum bahagia.
Fu Chen memejamkan matanya untuk merenungi rencana-rencana yang akan dia jalani. Semua rencana awalnya telah berubah karena terbukanya cincin itu.
"Bagaiman jika aku jual saja pusaka-pusaka yang tidak berguna di dalam cincin ini? Lagipula aku tidak mungkin menggunakan mereka semua, kan?" Fu Chen kembali memikirkan ucapannya.
"Tapi untuk apa juga aku menjualnya jika uang yang aku punya bahkan setara dengan harga sebuah Kerajaan? Ah, sial!" Fu Chen berdecak kesal.
"Menjadi orang kaya ternyata tidak selalu menyenangkan…" Fu Chen tersenyum kecut memikirkannya. "Bagaimana jika aku memberikan Sin Lou dan lainnya pusaka yang mereka inginkan saat pulang nanti…? Ya, lebih baik seperti itu. Mereka juga dapat di andalkan untuk menjaga desa."
Fu Chen kembali berpikir hingga keningnya sedikit berkerut. "Ah, benar juga. bagaimana jika aku mengikuti pelelangan itu saja? Baiklah, aku akan memikirkan cara untuk berpisah dengan senior nanti. Sekarang aku hanya perlu memikirkan penyamaranku saat di Ibu Kota." Fu Chen tersenyum lebar.
Fu Chen kemudian bangkit dari tidurnya dan segera duduk dalam posisi lotus. Energi qi yang ia keluarkan cukup banyak untuk membuka cincin itu, ia tidak ingin menghambat perjalanan dengan alasan kehabisan qi nantinya.
Fu Chen terus melakukan pemulihan hingga sinar matahari mengenai wajahnya, dia membuka mata secara perlahan lalu menemukan Xiao Jung yang telah bersiap. Fu Chen mengusap matanya sejenak dan mempersiapkan barang bawaanya.
"Apa kau masih ingin istirahat?" tanya Xiao Jung saat menyadari Fu Chen terlihat lesu dan letih.
"Ah, tidak. Kita bisa melanjutkan perjalanan seperti biasa."
Xiao Jung mengalihkan pandangnnya sambil merentangkan badan. "Jangan paksakan dirimu, kita dapat menundanya hingga siang hari."
Fu Chen menggeleng dan tersenyum lembut. "Tidak apa, aku dapat memulihkan diri selama perjalanan."
Xiao Jung hanya menghela nafas pelan mendengar itu, mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sebelum akhirnya menggunakan ilmu meringankan tubuh masing-masing.