Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch. 143 - Perbatasan


"Ini lebih ramai dari dugaan ku." Fu Chen mengedarkan pandangannya, ia sedikit menaikkan alis saat mendapati begitu banyak tenda yang terpasang di sekitar perbatasan.


Fu Chen dapat mengetahui jika orang-orang di sekitar tenda itu bukanlah prajurit, bukan juga para pendekar. Mereka hanya para pedagang yang terpaksa berhenti di sana karena tidak diizinkan melewati perbatasan.


Para pedagang itu sebenarnya sudah tahu jika Kekaisaran Meng telah mengalami kekacauan sejak beberapa tahun lalu. Tapi para pedagang itu tidak memperhatikannya karena peluang bisnis di Kekaisaran itu cukup besar, terutama bagi mereka yang menjual arak dan perlengkapan senjata.


Fu Chen mendekati tenda-tenda itu secara perlahan, tidak sedikit juga para pedagang yang menjajakan barang dagangan mereka, sekedar menambah uang saku mereka sembari menunggu persetujuan penjaga perbatasan.


Tempat ini sudah seperti sebuah Desa menurut Fu Chen, bahkan tidak sedikit prajurit yang membeli barang dari para pedagang.


Fu Chen singgah di salah satu tenda pedagang yang cukup ramai, pedagang itu menjual minuman keras berupa arak dan anggur sehingga cukup banyak pendekar yang menghampiri.


Fu Chen belum pernah ke perbatasan sebelumnya sehingga informasi apapun yang ia dapatkan akan cukup berguna.


Orang-orang di kedai ini banyak membicarakan tentang identitas, karena situasi Kekaisaran Meng yang sedang kacau membuat penjaga perbatasan lebih berhati-hati untuk memberikan izin pada para pedagang dan pendekar diperbatasan.


Selain itu beberapa orang juga membicarakan rumor yang beredar di Kekaisaran Meng. Mulai dari lokasi yang cukup berbahaya hingga gadis-gadis cantik di Kekaisaran itu.


Fu Chen merasa beruntung karena sebelumnya Ye Kong sempat memberikannya sebuah identitas sebagai anggota Menara Bintang Permata. Besar kemungkinan Fu Chen dapat melewati perbatasan tanpa kendala.


"Sepertinya aku harus banyak belajar di tempat ini." Fu Chen menyadari saat ia selesai berkeliling ternyata budaya di Kekaisaran Meng cukup berbeda dengan Kekaisaran Song, sehingga ia menunda perjalanan untuk beberapa hari.


Tidak jauh dari tembok perbatasan, nampak sekumpulan pemuda tengah berlatih di bawah bimbingan seorang prajurit yang terlihat memiliki pangkat cukup tinggi. Para pemuda itu setidaknya berjumlah sepuluh orang, setengah diantaranya telah beristirahat sedangkan setengah lainnya masih melanjutkan pelatihan.


"Satu! Dua! Satu! Dua…!" ucap prajurit itu yang kemudian di ikuti oleh para pemuda di belakangnya.


Para pemuda itu mengikuti gerakan sang prajurit yang memasang kuda-kuda dan mulai meninju udara dengan pola tertentu. Meski terlihat mudah, namun gerakan itu memerlukan ketahanan cukup tinggi agar dapat melakukannya cukup lama.


Fu Chen lantas menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon rindang tidak jauh dari para pemuda itu berlatih. Dia merasa letih, pemuda itu telah melaju tanpa henti selama beberapa hari untuk menghindari masalah yang tidak perlu.


Saat matahari mulai bergerak ke ufuk barat, sebuah rombongan yang keluar dari salah satu tenda besar segera bergerak menuju tanah lapang di hadapan Fu Chen. Dari rombongan itu terdapat dua orang yang terlihat mencolok karena badan mereka yang jauh lebih besar.


Fu Chen yang terganggu dengan kegaduhan yang mereka buat pun lantas membuka mata. Fu Chen mengangkat alisnya ketika mendapati tanah lapang sebelumnya telah dipadati banyak orang.


"Ah, maaf. Apa yang sebenarnya terjadi?" Fu Chen bertanya pada seorang pria yang baru saja kembali dari kerumunan.


"Bukan apa-apa, cuma perkelahian biasa dari pemabuk di siang hari." Jawab pria tersebut.


Fu Chen berterimakasih pada pria tersebut lalu melirik kearah kerumunan sebelum menggeleng pelan. Terkadang dunia yang ditinggalinya memang cukup aneh. Fu Chen lekas menjauh dari sana dan mencari tempat yang lebih tenang.


Saat hari menjelang malam Fu Chen mulai menyadari jika di tempat ini tidak ada penginapan. Namun setelah ia mengamati situasi lebih jauh orang-orang mulai membuat kelompok masing-masing dan berkumpul mengelilingi api unggun.


Fu Chen merasa perlu untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya namun sebagian besar tidak menyambut Fu Chen dengan ramah.


Fu Chen menghela napas panjang, ia berniat membuat perapiannya sendiri sebelum menemukan rombongan yang berisi pedagang kecil.


Fu Chen mendekat ke arah mereka dan menawarkan satu koin perak agar mereka membiarkan Fu Chen ikut bergabung. Pedagang itu menerima Fu Chen dengan ramah, mereka juga menolak uang pemberian Fu Chen.


"Aku berasal dari Ibu Kota," jawab Fu Chen sambil tersenyum lembut.


"Jarak antara Ibu Kota ke perbatasan cukup jauh, melihatmu yang sendirian berpergian sejauh itu kau pasti memiliki kemampuan yang tinggi, bukan?"


Pria paruh baya itu cukup terkejut sebelumnya, namun setelah memperhatikan Fu Chen lebih jauh, pria itu merasa jika Fu Chen memiliki beberapa pengawal hanya saja mereka tertinggal atau tewas selama perjalanan.


Pakaian yang dikenakan Fu Chen memang terlihat sederhana, namun pria itu dapat melihat bahan yang digunakan cukup bernilai.


"Anda terlalu memuji, kemampuan ku hanya dapat melindungi diri sendiri." Fu Chen tersenyum lembut.


Pria itu lalu memperkenalkan dirinya sebagai Jin Taeso, meski tidak terlalu besar namun ia mendedikasikan hidupnya untuk berdagang. Fu Chen lantas mengenalkan diri dan menyebut dirinya berusia 10 tahun, membuat Jin Taeso dan yang lain terkejut.


Saat suasana mulai canggung Fu Chen menawarkan diri untuk membuat makanan mereka. Fu Chen mengeluarkan beberapa potong daging dari tas yang di bawa kudanya. Meski hanya sebatas daging panggang namun karena resep dan cara memasak Fu Chen yang berbeda membuat rombongan itu terkagum.


Kemudian ketika malam semakin larut, satu-persatu pedagang mulai lelap dalam tidur. Fu Chen ikut mengistirahatkan tubuhnya namun kesadarannya tetap terjaga dan waspada.


Ketika matahari berangsur muncul Jin Taeso menemukan Fu Chen telah bangun lebih dulu. Ia senang melihat pemuda seperti Fu Chen yang begitu sehat dan bertenaga, ia mulai tertarik untuk menanyakan tujuan anak itu selanjutnya.


"Tubuhmu sangat bagus meski kau baru berusia 10 tahun," Jin Taeso menghampiri Fu Chen yang sedang meregangkan tubuh. Meski tidak memahami beladiri namun Jin Taeso dapat menilai Fu Chen sebagai anak yang berbakat.


"Kakek Jin, selamat pagi!" Fu Chen menundukkan kepala sambil memberi hormat.


"Nak Chen, jika kau ingin memberitahuku kemana tujuanmu selanjutnya? Mungkin kami dapat membantumu meski tidak banyak."


Fu Chen diam sejenak, ia bahkan belum tau pasti dimana lokasi yang akan ia tuju karena Dou Huang yang mengurusnya.


"Entahlah, saya sendiri belum mengetahui dengan pasti kemana aku akan pergi, namun tujuanku selanjutnya adalah memasuki Kekaisaran Meng."


Jin Taeso mengelus dagu sejenak sambil memperhatikan Fu Chen dari atas sampai bawah sebelum buka suara.


"Aku tidak tau apa tujuanmu, tapi seperti yang kau tahu Kekaisaran Meng sedang tidak stabil untuk saat ini, akan sangat berbahaya untuk anak sepertimu berpergian sendirian."


"Ya aku mendengar hal itu selama perjalanan kemari." Fu Chen sadar jalannya tidak akan mudah, mungkin akan ada banyak konflik yang ia hadapi selama perjalanan namun hal itu akan menjadi pengalaman tersendiri baginya.


Jin Taeso menghela napas sejenak, "Rombongan kami akan berangkat melewati perbatasan lima hari lagi, kami telah mendapatkan izin beberapa hari yang lalu. Jika kau mau kau bisa bergabung bersama kami untuk melewati perbatasan, setelahnya aku tidak akan menghalangi mu untuk pergi."


Jin Taeso tidak tau apa yang akan Fu Chen lakukan di Kekaisaran Meng, namun Jin Taeso tidak tega melihat anak muda seperti Fu Chen mengalami kesulitan. Meski sedikit setidaknya Jin Taeso ingin membantu Fu Chen.


Fu Chen merenung sejenak, dari banyaknya pedagang yang terjebak di perbatasan menandakan prosedur untuk mendapat izin tidaklah mudah. Akan lebih baik jika Fu Chen menerima tawaran Jin Taeso sembari menghemat waktu.


"Baiklah, maaf karena akan merepotkan mu lagi." Fu Chen tersenyum hangat.


"Jangan dipikirkan."