Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.113 - Fu Mei II


"Kakak… aku, aku…"


Fu Chen seolah terjaga saat mendengarnya, sementara Fu Mei semakin membenamkan wajah ke dada Fu Chen, suaranya berhenti sampai di situ.


"Tenangkan dirimu Mei'er, tidak perlu banyak bicara," ucap Fu Chen namun Fu Mei segera menggelengkan kepala setelahnya.


"Diriku telah kotor! Aku telah ternodai kak… aku membawa aib untuk keluarga kita…" ucap Fu Mei tersendu-sendu.


"Apa yang kau bicarakan Mei'er! Semua wanita di Desa juga mengalami hal sama denganmu, kau tak perlu menyalahkan diri." Fu Chen berusaha menghibur.


Walaupun ia sudah menduga hal ini, namun mendengarnya secara langsung terasa sangat menyakitkan. Hatinya penuh rasa dendam pada sekelompok bajingan yang melakukan semua ini. Tapi Fu Chen sadar, tidak ada yang dapat ia lakukan untuk mengembalikan adiknya sebagai gadis seutuhnya.


Fu Mei begitu terpukul, seharusnya anak seusia dirinya tidak mengetahui apa-apa tentang hal itu. Namun karena kecerdasannya yang di atas rata-rata serta didikan dari Xin Xue, pemahaman Fu Mei begitu cepat, bahkan seorang anggota Bangsawan Su berniat untuk mendidiknya dan menjadikannya seorang sarjana.


"Tapi aku malu kak, aku malu pada semua orang…" keluh Fu Mei, masih menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Fu Chen tersenyum lembut, dia tidak bicara lagi untuk sesaat. Melihat adiknya yang nampak lesu Fu Chen pun segera membopongnya ke tempat tidur.


"Bisakah kakak menemaniku malam ini?" Fu Mei menahan tangan Fu Chen saat pemuda itu hendak pergi.


"Tentu, Mei'er…" Fu Chen tersenyum lembut.


"Bukankah kakak sudah menjadi seorang pendekar? Kenapa kakak tidak membawa pedang?"


"Ah, kau ingin melihatnya?" tanya Fu Chen dan di jawab anggukan kepala oleh Fu Mei, "Tunggu sebentar…" Fu Chen segera keluar rumah, dia tidak ingin membuat adiknya terkejut saat ia tiba-tiba mengeluarkan sebilah pedang di udara.


Fu Mei sedikit heran saat melihat Fu Chen hanya membawa sebuah pedang kayu, namun saat Fu Chen menjelaskannya lebih detail ia pun terkejut. Fu Mei memperhatikan pedang itu dengan teliti, sarung pedang itu terasa sangat keras hingga ia kesulitan membukanya.


"Hati-hati, pedang ini sangat tajam," Fu Chen membantu membukakan sarung pedang itu.


"Maukah kakak menceritakan perjalanan kakak dengan bangsawan itu?" tanya Fu Mei saat mengetahui pedang ini pemberian Xiao Jung.


"Tentu…" Fu Chen tersenyum lembut, dia menceritakan setiap kejadian menarik yang mungkin dapat memberikan motivasi pada adiknya.


Cerita Fu Chen bagai kisah dongeng sebelum tidur yang biasa di ceritakan ibunya bagi Fu Mei, sementara Fu Chen terus bercerita hingga ia melihat adiknya telah terlelap. Fu Chen membiarkan adiknya memeluk pedang miliknya karena Fu Mei terlihat sangat menyukai pedang itu.


Fu Chen kemudian pergi keluar, berniat mencari udara segar sembari menenangkan pikirannya. Meski begitu, udara malam yang sejuk dan bintang yang berkerlap-kerlip seperti tidak mampu membuat hatinya cerah.


"Saudara Chen, kau belum tidur?"


Fu Chen langsung menoleh begitu mendengar suara yang menyapanya dari kejauhan. Dengan cepat ia menghilangkan wajah murungnya, lalu tersenyum ramah.


"Ternyata kau Kyoto, Dari mana?" tanya Fu Chen.


Kyoto mempercepat langkahnya dan menghampiri Fu Chen, lalu duduk di sebelahnya.


"Aku menawarkan diri untuk menjaga desa…" sahut Kyoto, "Bagaimana dengan adikmu?"


Fu Chen mendesah pelan, "Ku rasa dia sedikit lebih baik sekarang,"


"Syukurlah, aku masih tidak percaya akan ada orang yang bernafsu untuk menyetubuhi gadis sekecil itu," tukas Kyoto.


"Entahlah, semua terjadi begitu saja," Fu Chen mengela napas, seperti enggan membahas hal tersebut. Mereka lantas terdiam untuk beberapa saat.


"Sebentar lagi akan panen, sawah ayahmu termasuk luas dan hasilnya pun bagus. Apa rencanamu selanjutnya?" kata Kyoto memecah keheningan.


"Entahlah… aku belum memikirkannya…"


Kyoto kembali terdiam, disadari kalau pikiran dan hati pemuda di sampingnya ini tengah kusut. Meski keluarganya tidak mengalami hal yang sama, agaknya Kyoto dapat mengerti perasaan Fu Chen.


Beberapa saat kemudian, dua penduduk Desa yang bertugas jaga malam melewati depan kediaman Kyoto. Saat melihat Fu Chen dan Kyoto di sana mereka pun segera menghampirinya.


"Kalian belum tidur?" tanya salah seorang peronda berusia 30 tahun.


"Ah, belum…" sahut Kyoto.


"Apa kau kakaknya Mei'er? Aku tadi melihat adikmu pergi, dia mau kemana?"


"Tadi kami melihatnya menuju ke arah ladang. Kelihatanya terburu-buru sekali…" sahut peronda lainnya.


"Apa kau tidak salah lihat? Adikku sudah tertidur sejak tadi." Fu Chen tampak terkejut, tapi untuk memastikannya ia segera kembali ke tempat Fu Mei, benar saja, adiknya tidak ada di sana. Pintu belakang rumah itu pun terbuka lebar.


Fu Chen semakin resah, apalagi saat menemukan sepucuk surat yang di letakkan di atas meja.


"Kakak, Mei'er akan pergi, tidak perlu mencari Mei'er. Sebab jika Mei'er masih di sini Mei'er hanya akan membuat kakak malu. Maafkan Mei'er, tapi Mei'er ingin bertemu dengan ayah dan ibu… kakak tetap semangat ya, Mei'er pergi dulu."


"Mei'er…!!" desis Pemuda itu kaget.


Buru-buru Fu Chen keluar rumah dan menghampiri Kyoto serta dua peronda sebelumnya.


"Bagaimana, saudara Chen?" tanya Kyoto meski ia tahu jawabannya dari gelagat Fu Chen yang panik.


"Mei'er tidak ada di dalam! Tunjukkan padaku di mana kalian tadi melihatnya!!" sahut Fu Chen dengan wajah bingung dan cemas, apalagi pedang yang dia pinjamkan juga tidak ada.


"Di sebelah sana!" sahut salah seorang peronda yang menunjuk ke salah satu sisi Desa.


"Cepat, bantu aku mencarinya!" seru Fu Chen kemudian mereka berempat segera berlari ke arah yang di tunjuk peronda sebelumnya.


Fu Chen merasa langkah mereka terlalu lamban sehingga ia menarik kerah pria itu dan membawanya lari menggunakan ilmu meringankan tubuh. Kyoto mau tidak mau juga melakukan hal yang sama.


***


"D-di sini… kami terakhir melihatnya!" tunjuk peronda yang di bawa Fu Chen, kepalanya terasa pusing hingga membuatnya sedikit mual.


"Mei'er!! Kau di mana…!! Mei'er!!!" teriak Fu Chen sembari mengedarkan pandangannya. Gelapnya malam sedikit menganggu pangelihatan Fu Chen, beruntung obor milik peronda yang di bawa Kyoto belum padam.


Yang lain ikut berteriak mencari gadis itu, namun tidak ada sahutan selain angin malam yang bertiup lembut. Bahkan hingga jauh malam, gadis itu tidak kunjung di temukan. Fu Chen mulai putus asa, seluruh ladang dan persawahan ini telah di kelilinginya bersama tiga orang tadi. Namun hasilnya nihil, Fu Mei seperti raib di telan bumi.


"Saudara Chen, lihat!" seru Kyoto seraya menunjukkan sesuatu.


"Ada apa?" Fu Chen melompat menghampiri Kyoto, ia langsung menyambar sarung pedang di tangan pemuda itu. 'ini… tapi bukankah Mei'er tidak bisa membukanya?' pikir Fu Chen dengan wajah tegang.


Tanpa pikir panjang Fu Chen langsung melesat ke arah semak-semak yang sedikit terbuka, seperti telah di lalui seseorang, "MEI'ERR!! MEI'ER!!" Teriakan Fu Chen semakin lantang.


Namun, langkahnya seketika berhenti saat ia menemukan tubuh seorang gadis kesayangannya yang tergeletak bersimbah darah. Matanya terbuka begitu lebar seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Tidak… tidak mungkin," gumam Fu Chen sembari mendekati tubuh gadis itu, seluruh tubuhnya bergetar hingga membuatnya sulit untuk melangkah.


Kyoto dan dua peronda lainnya hanya terpaku menyaksikan pemandangan itu, tidak seorang pun yang percaya akan terjadi hal mengerikan seperti ini.


"Mei'er… bangunlah, ku mohon," Fu Chen berlutut di depan tubuh adiknya, secara perlahan ia mengangkat dan mendekap tubuh gadis itu.


Tangan Fu Chen bergetar hebat saat menyentuh darah yang keluar dari perut gadis itu, Fu Chen tidak lekas mencabut pedang yang menembus perut gadis itu, sebab ia berharap adiknya masih bisa di selamatkan.


"Bertahanlah Mei'er… aku akan menyelamatkanmu," Fu Chen segera mengalirkan qi untuk menghentikan pendarahan.


Kyoto yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas pelan, siapapun yang melihatnya pasti sadar bahwa gadis itu sudah meninggal.


"Saudara Chen, sudahlah… adikmu telah-"


"Diam!" bentak Fu Chen pada Kyoto, "Kau tahu apa?! Adikku masih bisa hidup! Aku akan menyelamatkanya, percayalah…" lanjut Fu Chen tanpa menutupi kesedihannya.


Kyoto hanya bisa pasrah melihatnya lalu mengamati Fu Chen yang sibuk mengobati Fu Mei dengan berbagai cara. Udara sejuk malam itu mulai terasa dingin, obor yang di bawa salah satu peronda tidak lagi terasa hangat.


Telah satu jam Fu Chen terus berkutat untuk membangunkan adiknya, bahkan beberapa sumber daya dari cicin Bumi telah dia gunakan agar Fu Mei terbangun. Kyoto merasa cemas saat melihat wajah Fu Chen yang semakin pucat karena terlalu banyak energi qi yang dia buang.


Tanpa ada pilihan lain Kyoto pun segera menotok bagian belakang kepala Fu Chen hingga membuatnya tidak sadarkan diri, "Maafkan aku, Saudara Chen…" Kyoto segera membawa tubuh pemuda itu dengan perasaan bersalah.


"Tolong kalian antarkan tubuh gadis itu ke rumahku, aku akan menunggu kalian di sana," pinta Kyoto sebelum dirinya melangkah pergi.


Kedua peronda itu saling berpandangan sejenak lalu melirik tubuh Fu Mei sambil menelan ludah pahit. Meski mereka pernah melihat hal serupa sebelumnya tapi mereka tidak ingin terbiasa melihat pemandangan seperti ini.