Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.12 - Latihan


Pagi harinya Tang Shu tidak langsung melatih Fu Chen, ia memperkenalkan lingkungan yang akan di gunakan oleh Fu Chen terlebih dahulu. Tempat yang di gunakan Tang Shu ternyata adalah tempat mereka tadi malam mengobrol.


Tang Shu kemudian menjelaskan apa saja yang harus dilakukan selama satu minggu di hutan ini. Intinya Tang Shu ingin mengajari Fu Chen cara bertahan hidup di dalam hutan dalam keadaan yang apa adanya.


"Karena alam adalah tempat tinggal manusia, maka manusia harus nyaman tinggal didalamnya." Itulah kalimat yang keluar dari mulut Tang Shu saat Fu Chen menanyakan alasan di balik pelatihannya.


Untuk menjadi seorang pendekar juga harus bisa memahami kondisi alam agar dapat memudahkan setiap urusan pendekar itu yang berkaitan dengan alam. Tang Shu juga mengatakan energi qi pada dasarnya adalah energi alam, jadi tidak ada orang yang boleh menyombongkan kekuatannya di hadapan pemilik asli kekuatan tersebut.


Tang Shu kemudian mencontohkan cara untuk menangkap ikan menggunakan tombak. Kuncinya adalah lemparan itu harus memiliki kekuatan yang cukup besar serta tepat pada sasarannya, jika tombak yang dilemparkan tidak cukup kuat dan cepat maka lemparannya akan meleset dan berbelok saat telah masuk ke dalam air.


Tang Shu mengajak Fu Chen untuk berburu ketika malam sudah tiba. Fu Chen mengikuti Tang Shu dengan hati-hati dan kewaspadaan yang selalu terjaga. Berburu pada malam hari seperti ini adalah pengalaman pertama baginya.


Setelah beberapa saat mereka menelusuri hutan akhirnya ada seekor babi hutan yang mereka temukan. Tang Shu segera mengambil tombak kayu dan menyuruh Fu Chen untuk diam memperhatikan.


Tang Shu membidik babi hutan itu sejenak sebelum melesatkan tombak itu dengan cepat. Babi itu seketika menjerit saat sebuah tombak menembus kepalanya sebelum akhirnya ia terdiam tak bernayawa.


Fu Chen menutup matanya saat tombak yang di lemparkan ayahnya tepat mengenai babi tersebut. Ada rasa kengerian dan tidak tega dalam perasaannya, namun dirinya segera mengerti itu semua perlu dilakukan untuk dapat bertahan hidup.


Tang Shu kemudian menggotong babi itu menuju tempat mereka beristirahat sebelumnya. Lagi-lagi mental Fu Chen di buat bergejolak saat dirinya harus memotong babi yang masih utuh itu. Tangannya sedikit bergetar saat mengiris perut hewan itu dan melihat isi organ dalamnya.


Fu Chen bahkan mengatakan tidak ingin makan apapun malam itu. Namun Tang Shu tentu tidak akan membiarkannya begitu saja, meski pekerjaan memotong daging babi dilanjutkan oleh Tang Shu namun bayangan akan dirinya yang tidak sengaja menyentuh organ dalam makhluk itu sungguh menjijikan.


Tang Shu kemudian mengajarkan Fu Chen cara memanggang daging yang telah di bersihkan dan dicincang. Disini perasaan Fu Chen sedikit lebih baik, dirinya mulai menerima daging bakar karena aromanya yang sangat menggoda.


Keesoka harinya Tang Shu mengajak Fu Chen mengunjungi kaki bukit yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat awal mereka. Disana Tang Shu menjelaskan pada Fu Chen bahwa ia harus menaiki serta menuruni bukit itu dengan beban yang akan Tang Shu berikan saat latihan.


Fu Chen menelan ludahnya kasar. Bukit dihadapannya cukup besar dan tinggi, apalagi disana tidak ada tempat untuk berteduh, semuanya hanya rumput liar setinggi lututnya.


Tang Shu juga mengatakan pada Fu Chen, putranya ini harus bisa bertarung dengan beberapa hewan buas yang digiring oleh Tang Shu. Fu Chen tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa dirinya jika dimakan oleh hewan buas itu.


Setelah merasa cukup memberikan petunjuk latihan Fu Chen, Tang Shu segera mengajak Fu Chen untuk berlatih meregangkan otot dan latihan untuk memperkuat otot lainnya.


Tang Shu bertujuan untuk memperkuat fisik anaknya terlebih dahulu sebelum melakukan latihan yang sebenarnya. Tang Shu menyuruh Fu Chen untuk berlari menuju kaki bukit dan kembali lagi ke tempat gubuk mereka berada. Hal itu terus dilakukan berulang kali hingga malam tiba.


Pada malam hari, Fu Chen duduk bersila dibawah pancuran air terjun sesuai perintah Tang Shu. Beberapa kali dirinya menggertakan gigi karena suhu air yang begitu dingin dimalam hari.


Tang Shu memahami jika Fu Chen bisa jatuh sakit karena hal itu. Sehingga ia mengalirkan qi pada tubuh Fu Chen saat setelah selesai bersemedi di bawah air terjun untuk menetralisir rasa dingin di dalam tubuh Fu Chen.


Satu minggu penuh dihabiskan Fu Chen untuk berlatih. Dirinya sudah mulai terbiasa dengan dinginya air terjun serta memotong daging hewan buruan. Selama satu minggu itu merupakan hal baru bagi Fu Chen, perkembangannya dalam memahami arahan yang diberikan Tang Shu juga sangat cepat.


Namun bukan Tang Shu namanya jika sudah puas sampai disitu, ia merasa kurang karena melihat keraguan dalam diri Fu Chen saat sedang berburu. Oleh karena itu Tang Shu menunda kepulangannya satu mingggu lagi.


Tang Shu mengatakan pada Fu Chen bahwa dirinya akan pulang selama satu hari untuk memberikan kabar pada Xin Xue, kalau mereka akan menunda pulang ke Desa satu minggu lagi.


"Kuharap ayah sudah kembali kesini saat malam tiba." Fu Chen tersenyum lembut setelahnya.


"Heheh, itu tidak akan terjadi ... berhati-hatilah." Tang Shu melompat tinggi pada dahan-dahan pohon disekitarnya setelah mengakhiri kalimatnya.


Fu Chen terpana melihat ayahnya begitu mudah melompat dengan sangat tinggi dari satu pohon ke pohon lainnya. Dia sudah tidak sabar untuk melakukan hal yang sama.


***


Saat telah sampai di Desa Tang Shu segera mencari Xin Xue untuk memberi kabar. Meski sedikit enggan namun Xin Xue mencoba untuk mengerti keadaan suaminya.


Setelah mendapat izin dari sang istri, Tang Shu tidak segera beriatirahat. Dirinya menghampiri Kepala Desa untuk meminta izin memasuki cekungan Desa mengambil sumber daya miliknya dulu.


Di dalam kotak bertuliskan nama Tang Shu itu ternyata terdapat banyak sumber daya. Salah satu yang paling mencolok adalah ginseng merah karena warnanya yang kontras. Ginseng merah adalah sumberdaya berharga bagi pendekar, sebab pendekar pada tingkat Jendral Petarung sekalipun masih dapat merasakan khasiatnya.


Khasiat ginseng merah adalah untuk melancarkan peredaran darah dan memperkuat tulang serta sumsum. Ginseng ini sangat berguna bagi mereka yang memiliki kotoran pada darah mereka serta pendekar yang ingin meningkatkan kualitas tulang mereka.


Tang Shu mengambil tiga buah ginseng merah dan sebuah seruling panjang untuk dia bawa.


Setelah selesai dengan urusannya Tang Shu segera berpamitan dengan istrinya, tidak lupa juga ia membawa beberapa peralatan memasak untuk mengolah ginseng merah.


Saat sampai di tempat berlatih ternyata hari sudah menjelang petang dan Fu Chen tidak terlihat disekitar sana sama sekali. Tang Shu khawatir karena dirinya meninggalkan Fu Chen seorang diri ditengah hutan seperti ini. Namun rasa khawatirnya sirna saat melihat Fu Chen membawa seekor ayam dari dalam hutan.


Tang Shu kemudian menghampirinya. "Ayah telah mendapat izin dari ibumu, jadi kita akan melanjutkan latihan ini seminggu lagi sebelum pulang…" Tang Shu menepuk kedua pundak anaknya sambil tersenyum lembut.


Fu Chen tidak mempermasalahkannya, ia memang kurang puas dengan dirinya sendiri selama satu minggu sebelumnya. Namun perhatian Fu Chen segera teralihkan oleh beberapa alat memasak disekitar gubuk.


"Untuk apa semua itu ayah?" Fu Chen menunjuk ke arah gubuk.


"Ahah… itu hanya untuk persiapan saja. Bukan hal penting." Tang Shu tertawa canggung sambil menghindari tatapan anaknya. "Kau bersihkan saja tangkapan yang baru kau tangkap tadi, nanti malam ayah akan membantumu mencerna ginseng merah."


"Ginseng merah? Bukankah itu untuk menghangatkan tubuh?" Fu Chen memiringkan kepalanya, jika hanya itu maka ia juga tau cara mengkonsumsinya.


Langkah Tang Shu terhenti sebelum kembali berbalik ke arah Fu Chen dan menjentikan jarinya didahi anaknya itu. "Bedakan antara ginseng dan jahe, apa kau tidak pernah belajar sebelumnya?" Tang Shu kemudian berlalu pergi begitu saja.


"Sshh…" Fu Chen menggosokan dahinya yang terkena jentikan Tang Shu. Rasanya sedikit panas dan sakit. "Lalu apa itu? Aku bahkan baru tahu jika ginseng itu bukan jahe!"


"Kau akan mengetahuinya nanti." Sahut Tang Shu dari jauh.


"Cih, menyebalkan! Selalu saja seperti itu…" Fu Chen menggerutu tidak jelas dan mulai membersihkan bulu ayam dengan kesal.