Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.11 - Kebenaran


Pagi harinya saat mereka berdua telah kembali melanjutkan perjalanan. Fu Chen tidak berbicara sama sekali, namun di balik sikap diamnya, dirinya masih mencoba untuk menerima kenyataan itu


Tang Shu tidak bisa berbuat banyak, dirinya membiarkan Fu Chen untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu.


Di hari kedua, perjalanan mereka kali ini harus menyebrangi sungai dan menuju kearah aliran sungai itu berasal. Selama perjalanan juga tidak ada percakapan yang berarti, mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.


kuda yang mereka naiki di pacu lebih cepat agar segera tiba. Saat telah sampai di tempat tujuan mereka yang terletak tidak jauh dari sebuah air terjun dan terdapat sebuah gubuk disekitarnya. Tang Shu segera mengikatkan kudanya di samping gubuk.


Fu Chen sangat terpana melihatnya, tempat itu begitu indah dan bersih seolah dirawat setiap saat. Di bawah air terjun itu terdapat banyak bebatuan besar sebagai pembatas air yang mengalir. Tang Shu memang sudah menyiapkan tempat ini jauh-jauh hari. Dan beberapa waktu terakhir ia habiskan untuk mengusir hewan buas yang kemungkinan masih ada disekitarnya.


merasakan suasana yang begitu tenang dan menyegarkan membuat pikiran Fu Chen juga merasa tenang. Dirinya segera mencari ranting serta dedaunan kering untuk di jadikan api unggun, karena memang saat mereka tiba di tempat itu, hari sudah mulai petang.


Fu Chen menggunakan cara yang diajarkan oleh ayahnya, ia tidak ingin meminta bantuan ayahnya meski ayahnya bisa membuat api dalam sekejap mata.


Tang Shu yang melihat Fu Chen sudah mulai tenang mencoba untuk menghampirinya. "Chen'er, apa kau sudah tenang sekarang?" ucapnya sambil mengusap kepala Fu Chen


"Ya… kurasa demikian!" Fu Chen memeluk kedua lututnya yang ia lipatkan.


"jika kau ingin beristirahat maka tidurlah lebih dulu, ayah masih bisa menunggu besok sampai kau siap" saran Tang Shu pada anaknya.


"Tidak perlu ayah, aku akan mencoba untuk memahaminya…" Fu Chen menjawab dengan posisi yang masih sama. Tang Shu menghela nafas panjang setelahnya.


"Baiklah jika begitu… jangan terlalu dipikirkan apa yang ayah sampaikan ini Chen'er, ayah hanya berharap kau bisa berlatih dengan benar setelahnya…" Fu Chen menganggukakan kepalanya paham.


"Ayah sebenarnya berasal dari benua Tengah, benua yang dikenal terbesar di antara lima benua. Di benua itu juga sama dengan benua yang kita tinggali saat ini dimana benua itu di kuasai oleh beberapa kekaisaran serta klan-klan hebat. Dan ayah berasal dari salah satu klan hebat tersebut…"


Tubuh Fu Chen bergetar hebat, ia semakin erat memeluk lututnya untuk mengurangi getaran yang ia rasakan. Pandangannya tetap kebawah tak berani menatap Tang Shu.


"Ayah berasal dari klan Tang yang bisa dikatakan klan terkuat saat itu. Oleh karena itu ayah memiliki marga Tang, kau dan adikmu juga sama. Namun karena sebuah insiden yang diakibatkan oleh keserakahan orang-orang disana yang ingin merebut pusaka yang dimiliki oleh klan Tang, membuat klan itu diserang oleh berbagai macam kekuatan di benua tengah." Tang Shu menarik nafas sejenak, dirinya sungguh tidak ingin mengingat hal itu kembali. Tang Shu kemudian menatap Fu Chen yang kini memandanginya.


"Karena serangan tersebut, klan Tang harus menghapuskan namanya di benua tengah…" Tang Shu menjelaskan segala kejadian di masa lalunya hingga dirinya bertemu dengan Xin Xue di Desa Bintang Jatuh.


"Dan kenapa ayah menyembunyikan margamu dengan nama Fu adalah agar dirimu tidak mendapat masalah di kemudian hari Chen'er. Ayah tidak ingin keluarga ayah hancur karena dendam masa lalu" Tang Shu tersenyum lembut mengatakannya.


Fu Chen yang mendengarkannya bahkan meneteskan air mata. Dirinya tidak menyangka bahwa ia memiliki keluarga besar diluar sana.


"Chen'er, kuharap kau tidak mencari masalah ataupun membalaskan dendam dengan orang-orang di benua tengah itu… kekuatan mereka adalah sesuatu yang tidak bisa dihadapi seorang diri. Dan janganlah menggunakan marga Tang jika kekuatanmu belum cukup untuk melindungi dirimu sendiri Chen'er" Tang Shu menghela nafas panjang, dirinya masih ragu untuk menyerahkan beban membawa pusaka peninggalan klannya pada Fu Chen untuk saat ini.


"Apakah ayah juga menyembunyikannya dari ibu dan Mei'er?!" meski terlihat lebih tenang namun pikiran dan jiwanya sedang bergejolak menerima kenyataan yang baru saja ia dengar.


"Ibumu adalah orang pertama yang mengetahuinya di Desa itu dan ayah tidak ingin memberitahukannya pada Mei'er, kau tahu alasannya bukan?" Tang Shu menaikan alisnya.


Fu Chen berpikir sejenak, banyak dugaan yang melintas di kepalanya. Namun yang meyakinkan menurutnya hanya satu, "apa ayah tidak ingin Mei'er menjadi pendekar?"


Tang Shu tersenyum lebar, pernyataan anaknya memang benar. "Ayah sebenarnya juga berharap dirimu tidak menjadi pendekar juga... namun setelah melihat Dantianmu. Ayah akan merasa orang paling bodoh untuk menghentikanmu menjadi orang hebat!" Tang Shu tertawa setelah mengatakannya. Dirinya benar-benar bangga pada anaknya yang dikaruniai Dantian istimewa.


"Apa maksudmu ayah?!" Fu Chen sedikit meninggikan suaranya, ia benci melihat ayahnya bersikap misterius.


"hahah, Dantianmu adalah Dantian istimewa yang bahkan hanya dimiliki oleh luluhur klan Tang. Di benua Tengah sekalipun hal itu hanya sejarah yang terlupakan..."


Mata Fu Chen melebar tak percaya. "Bisakah ayah serius dalam hal ini?!" Fu Chen merasa di permainkan oleh ayahnya yang bahkan sesekali memakan roti kering ketika bercerita.


"Chen'er... Dantian yang kau miliki itu terdapat dalam catatan klan yang mengatakan Dantian itu adalah Dantian istimewa. Disana juga disebutkan dengan nama Dantian Surgawi, karena dalam sejarahnya, leluhur Tang meimiliki kekuatan yang telah ditakdirkan oleh Surga.


Namun di balik itu semua, ada beberapa catatan yang mengatakan Dantian itu adalah Dantian kutukan. Meski tidak dijelaskan lebih rinci, namun banyak yang beranggapan orang-orang akan memburu pemilik Dantian Surgawi untuk dibunuh agar tidak berkembang lebih jauh"


Fu Chen tidak tahu harus bereaksi seperti apa, dirinya hanya diam dengan mulut sedikit terbuka solah ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa. Dirinya terlalu terkejut untuk sekedar berbicara.


Pikirannya sedikit senang merasa Dantianya tidak cacat namun ia juga merasakan khawatir disaat yang sama.


Jika memang orang yang memiliki Dantian Surgawi telah di tentukan takdirnya oleh surga, ia merasa harus bertanggung jawab karena telah dianugrahi Dantian seperti itu. Dirinya juga merasa cemas akan orang-orang yang memburunya nanti.


"Kau tak perlu khawatir Chen'er, catatan mengenai Dantian Surgawi hanya dimiliki oleh klan Tang. Meski ada beberapa orang yang mengetahuinya, tapi itu hanyalah segelintir orang di benua Tengah."


"Bukankah klan Tang sudah musnah?" tanya Fu Chen keheranan.


"Apa kau lupa, jika ayah yang membawa peninggalan terakhir klan itu"Tang Shu kemudian menunjukkan tangan kirinya yang terdapat sesuatu yang melingkar di jari manisnya.


"Cincin?" Fu Chen keheranan. Pusaka yang ia pikirkan adalah sebuah senjata dengan warna yang mengkilap.


Sedangkan yang ditangan Tang Shu adalah Cincin usang dengan ukuran yang terbilang cukup besar dan tebal, warnanya sendiri sedikit kecoklatan.


"Tidak bukan ini… segala peninggalan klan ada di dalam cincin ini. kurasa cincin ini juga termasuk" Tang Shu tersenyum canggung.


Fu Chen semakin tidak faham maksud ucapan ayahnya, bagaimana mungkin cicin sekecil itu dapat menampung banyak benda. "Ayah, bisa kau jelaskan terlebih dahulu ada apa dengan cincin itu?"


"Cincin ini biasa di sebut cincin Bumi oleh pendekar dibenua tengah. Keberadaannya cukup langka didunia ini, bahkan dibenua tengah sekalipun hanya dimiliki oleh ketua klan dan sekte serta orang-orang tertentu yang beruntung memilikinya"


"Lalu apakah semuanya sama seperti itu?" Fu Chen menunjuk cicin di tangan Tang Shu.


"Tentu saja tidak, cincin di tangan ayah terlihat usang karena ayah tidak dizinkan untuk membukanya. Setiap kali ayah ingin membukanya, maka energi Qi yang ayah alirkan akan di tolak olehnya" Tang Shu kemudian melepas cincin itu dan memperlihatkannya pada Fu Chen.


Di bagian dalam Cincin itu terdapat sebuah tulisan kuno yang tidak dapat di mengerti oleh Fu Chen. "Tulisan apa yang ada di dalam sini ayah?" Fu Chen memperhatikan cincin itu lebih jauh, ia bahkan menimang-nimang berat cincin itu.


"Itu adalah segel jiwa yang berikan kepala klan untuk menjaga cincin itu agar tidak dapat di buka oleh sembarang orang. Kepala klan sengaja menyegel jiwanya didalam cincin itu disaat-saat terakhir sebelum kematiannya. Jiwa kepala klan juga akan menghilang dengan sendirinya setelah cincin itu terbuka"


perasaan bersalah akan kematian kakeknya saat itu sungguh membuat Tang Shu terpukul. Berkat pengorbanan kakeknya serta anggota klan yang lain membuat dirinya memiliki kesempatan untuk kabur bersama dengan beberapa orang lainnya.


Dirinya merasa menjadi pecundang yang tidak bisa apa-apa selain melarikan diri.


"Ketahuilah Chen'er, apa yang didalam cincin ini bahkan bisa membuat satu benua hancur karena keributan. Dan ayah ingin kau membangkitkan kembali nama Tang di daratan ini dengan pusaka didalamnya!" Tang Shu berucap tegas.


"Tapi bukankah itu-…"


"Tidak masalah, lagipula tidak akan ada yang berpikiran cincin seperti ini ada ditangan mu. Lagipula cincin ini baru akan terbuka saat kekuatanmu setidaknya telah mencapai Jendral Petarung" Potong Tang Shu terlebih dahulu.


"Bagaimana jika aku tidak bisa mengabulkan keinginan ayah?" Meski Dantiannya adalah Dantian Istimewa, namun ia sadar betapa luasnya Dunia persilatan seperti yang ayahnya jelaskan sebelumnya.


"Tidak perlu kau pikirkan, cukup berlatih dan jadilah kuat. Maka nama Tang akan bangkit dengan sendirinya." Ada sedikit rasa keterpaksaan dirasakan oleh Tang Shu untuk memberikan tanggung jawab yang cukup besar pada anaknya.


Namun ia juga tidak punya pilihan lain selain mengharapkan anaknya dengan Dantian Surgawi yang ia miliki.