Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.123 - Langkah Awal


Fu Chen merenungi setiap informasi yang ia dapatkan dari beberapa buku di dalam kotak kayu itu. Buku-buku tersebut memuat banyak informasi tentang benua Tengah, Tang Shu nampaknya menaruh harapan tinggi pada Fu Chen.


Fu Chen belum bisa memahami seluruh informasi itu, ia sendiri belum mendapat gambaran jelas tentang seperti apa benua Tengah sebenarnya. Diantara tumpukan buku itu, terlihat sebuah benda pipih berbalut kain putih yang menarik perhatian Fu Chen.


Saat membukanya ternyata isi di balik kain putih itu adalah sebuah lencana yang berwarna emas, lencana itu memiliki bentuk layaknya prisai dengan sebuah pedang yang berdiri tegak di tengah-tengahnya. Nama klan Tang terlihat melengkung di bawah gagang pedang itu, lalu di sekitarnya terdapat beberapa corak dengan warna merah dan putih.


"Ini…" Fu Chen bergumam, saat ia mengangkat lencana itu, rasanya cukup berat, mungkin karena bahan yang digunakan adalah emas murni.


"Lencana itu akan memudahkan mu untuk menunjukkan identitas dan menjalin kerja sama dengan orang-orang yang ditunjukkan ayahmu, sepertinya dia telah menyiapkan semuanya sejak awal." Dou Huang memperhatikan lencana itu, ia merasa familiar dengan bentuk dan ciri khasnya.


Fu Chen menggenggam lencana itu dengan kuat, bahkan setelah kematiannya pun Tang Shu masih memiliki peran besar untuk membimbing Fu Chen. Fu Chen merasa hatinya semakin membara untuk mencari dalang dari pembunuhan keluarganya.


Fu Chen lalu bertanya pada Dou Huang, berapa lama waktu yang dia perlukan untuk memulihkan kekuatan jiwanya kembali. Fu Chen ingin segera meninggalkan hutan ini, ia merasa kekuatannya sekarang sudah cukup untuk melindungi diri dari dunia luar.


"Guru, apa anda memiliki cara untuk menyembunyikan kekuatanku?" tanya Fu Chen.


Dou Huang sedikit menaikkan alisnya, "Itu hal yang mudah, tapi untuk apa kau melakukannya?"


Fu Chen tersenyum lebar, dia mengatakan akan kembali ke sekte untuk beberapa waktu. Mungkin Fu Chen tidak bisa berlatih di sini lagi, ia juga merasa kurang nyaman dengan Feng Bian akhir-akhir ini.


"Jadi kau ingin menjalankan amanah ayahmu? Yah aku tidak masalah asal kau tidak melupakan tujuanmu yang sebenarnya." Dou Huang juga setuju dengan rencana Fu Chen, meski goa milik Feng Bian menyimpan banyak energi qi tapi Fu Chen harus mendapat banyak pengalaman dari dunia luar.


Dou Huang lalu meminta Fu Chen untuk mencari sebuah pusaka yang dapat menekan kekuatan seorang pendekar di dalam cincin Bumi. Seingatnya dia dulu sering menggunakan pusaka itu, jadi seharusnya pusaka itu masih tersimpan sampai sekarang.


Fu Chen hanya menurut, mungkin Dou Huang mencari alternatif lain karena ia tidak bisa menggunakan kekuatan jiwanya secara terus menerus. Fu Chen memejamkan matanya, ia membayangkan ciri-ciri pusaka yang Dou Huang katakan.


Fu Chen lantas mengeluarkan pusaka itu yang berupa sebuah gelang giok berwarna hitam. Gelang giok itu segera menyesuaikan ukuran saat Fu Chen mencoba memakainya. Fu Chen bisa merasakan kalau ia bisa sesuka hati menekan kekuatannya sampai ke tingkat tertentu.


"Hais… kenapa aku selalu merasa bakat bocah ini lebih tinggi dariku?" Dou Huang menghela napas pelan, di kehidupannya dulu ia hampir tidak pernah mendengar seorang Jenderal Petarung yang menyembunyikan kekuatan mereka. Umumnya para pendekar malah saling memamerkan kekuatan dan intimidasi pada orang lain.


"Sepertinya pola pikir manusia telah banyak berkembang," lanjut Dou Huang usai mendesah pelan.


Fu Chen menjulurkan tangan kirinya ke udara untuk melihat gelang itu, tangannya terlihat seperti tangan seorang gadis karena terlalu banyak memakai perhiasan. Orang-orang mungkin tidak akan menyangka, bocah sembilan tahun sepertinya telah mengantongi pusaka-pusaka hebat yang di incar seluruh pendekar di balik lengan bajunya.


Fu Chen lalu mengatakan pada Dou Huang bahwa ia akan berkultivasi selama beberapa waktu, sekalian memikirkan rencana untuk kedepannya.


Dou Huang mengangguk pelan, rohnya kemudian menghilang layaknya asap yang terkena hembusan angin. Dou Huang mengatakan bahwa ia akan muncul kembali saat Fu Chen telah bersiap untuk pergi.


Fu Chen menarik napas panjang, ia membuka sekali lagi catatan peninggalam ayahnya untuk mencari informasi penting tentang keluarga Ye.


"Baiklah, mari kita lihat seberapa hebat keluarga itu!"


***


Fu Chen berjalan memasuki goa yang sekelilingnya telah di penuhi lubang-lubang besar. Dirinya telah menghabiskan waktu selama satu minggu untuk menyusun rencana dengan matang, juga mencari alasan agar Li Chun membiarkannya mengambil misi baru.


Feng Bian melirik Fu Chen dari sudut matanya dengan sinis, dia masih menaruh dendam pada manusia satu ini karena telah merusak tempat tinggalnya. Feng Bian masih tidak berpindah dari posisinya, sepertinya rubah itu memiliki cedera yang cukup parah.


Fu Chen menelan ludah sejenak, ia sedikit tidak percaya diri untuk berbicara dengan Feng Biang mengingat rubah itu sedang dalam suasana hati yang buruk. Sementara Dou Huang yang juga sudah terbangun memilih menunggu diluar, dia telah menyusun rencana andai rubah itu tidak menuruti Fu Chen.


"Apa lagi yang kau cari ditempatku?" Feng Bian menyipitkan matanya.


Tangan Fu Chen terkepal kuat untuk mengumpulkan keberaniannya yang mulai luntur, "Apa kau masih ingat dengan janjiku tempo hari-?"


"Entahlah… aku tidak pernah mengindahkan ucapan manusia yang hanya bisa bicara!" Feng Bian menguap pelan seraya menggaruk belakang telinganya dengan kaki.


"Hahaha!!!" Feng Bian tertawa lantang, "Bocah! Apa telinga di kepalamu itu hanya perhiasan? Aku adalah hewan Magis yang diburu jutaan pendekar di dunia, kau pikir aku sudi untuk mengikutimu?!"


Fu Chen menajamkan pandangannya, sepertinya Feng Bian benar-benar tersinggung dengan ucapannya barusan, "Aku tidak mengatakan bahwa kau harus mengikutiku. Tapi aku akan pergi bersamamu untuk mengelilingi dunia sebagai rekan-!"


"Cukup!" Feng Bian mendengus, sorot matanya sedikit berubah, "Jika kau ingin pergi maka pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan memakanmu di sini…! Jika kau memang berambisi menjadikanku sebagai rekanmu, maka kembalilah saat kau merasa kekuatanmu sudah cukup untuk menandingi ku!"


Tatapan Feng Bian mendadak berubah dingin, hawa pembunuh mulai merembes dari tubuh kecilnya. Feng Bian tidak main-main dengan ucapannya kali ini.


Fu Chen menelan ludahnya dengan kasar, tapi sorot matanya menandakan bahwa tekadnya tidak berkurang. Fu Chen lalu membungkukkan badan untuk memberi hormat.


"Sesuai keinginanmu. Aku berjanji akan membuatmu kembali bersinar di Dunia Persilatan!" Fu Chen lantas membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Feng Bian, pandangannya lurus ke depan, menandakan tekadnya bukanlah bualan belaka.


Tanpa sadar bibir Feng Bian nampak tersenyum tipis, seolah mengharapkan pemuda itu agar menepati ucapannya.


Di Luar, Dou Huang nampaknya sudah mengetahui jawaban yang Fu Chen dapatkan. Ia pun memasang seringai lebar dan segera mendekati Fu Chen.


"Nak, aku ingin meminjam salah satu tanganmu sebentar, bisa kau memberikannya padaku?" pinta Dou Huang seraya menyembunyikan senyuman di wajahnya.


"Eh? Tanganku?" Fu Chen mengerutkan kening, ucapan Dou Huang terdengar sedikit ambigu.


"Ya, cukup arahkan tanganmu yang memegang cincin Bumi ke mulut goa, selanjutnya kau dengarkan arahan!"


Fu Chen menelan ludahnya sejenak sebelum mengangguk pelan, sepertinya Dou Huang berencana melakukan sesuatu pada goa itu.


Dou Huang mengangguk puas saat Fu Chen menuruti keinginannya, ia kemudian memegang lengan kiri Fu Chen seraya memejamkan mata, lalu berkata, "Pejamkan matamu, dan saat kau mendengar suara aneh dari tebing ini segeralah berlari sekencang mungkin!"


Kerutan dikening Fu Chen semakin dalam, tapi sebelum ia sempat bicara tiba-tiba energi qi yang sangat banyak besar masuk ke tangan kirinya. Tangan kiri Fu Chen seolah mati rasa dan sulit di kendalikan.


Di sisi lain, goa yang selama ini di tinggali Feng Bian seolah terhisap oleh tangan kiri Fu Chen. Kejadian itu berlangsung selama beberapa detik, setelah semuanya selesai, lokasi goa sebelumnya telah tergantikan oleh sebuah lubang besar berbentuk persegi panjang.


Beberapa saat setelahnya, terdengar suara gemuruh yang amat keras hingga membuat Fu Chen sontak membuka mata. Betapa terkejutnya Fu Chen saat melihat tebing besar itu menunjukkan tanda-tanda akan rubuh.


"Apa yang kau lamunkan? Cepat lari dari sini?"


Bentakan Dou Huang membuat Fu Chen tersadar, tanpa pikir panjang dia segera menjauh secepat yang ia bisa. Dou Huang sendiri terus tertawa lantang sembari melayang di pundak Fu Chen.


Suara longsor terdengar keras di belakang mereka, banyak pepohonan yang tumbang akibat longsoran tebing itu. Seketika itu hutan telah di penuhi oleh debu tebal selama beberapa saat.


Fu Chen lekas menghentikan langkahnya saat merasa telah cukup jauh dari tebing itu. Ia naik ke salah satu pohon untuk melihat apa yang terjadi.


Lokasi goa sebelumnya benar-benar sudah tertimbun oleh longsoran dari tebing itu, beberapa hewan liar dan burung juga terlihat menjauh dari lokasi longsor. Fu Chen semakin penasaran apa yang di lakukan Dou Huang hingga terjadi longsor sebesar itu.


"Guru, apa yang baru saja anda lakukan?" Fu Chen merasa perlu untuk mengetahui kebenarannya.


Dou Huang kembali tertawa lantang mendengar pertanyaan Fu Chen, "Aku memindahkan goa itu ke dalam cincin Bumi… ini adalah pelajaran kecil untuk Rubah Kecil yang terlalu angkuh itu, hahaha…"


"A-apa…?!"


~


*Ingin dukung penulis tapi sayang poin? Gampang kok, kalian cukup klik tombol like dari setiap chapter terbaru di novel ini.


satu like dari kalian sangat berarti bagi author, terimakasih**^^