
Fu Chen mengurung diri di dalam kamar selama dua hari usai mengunjungi tetua Li. Pikiran Fu Chen di penuhi akan bayang-bayang ketakutan karena orang sekuat tetua Li ternyata sudah mencari latar belakangnya sejak awal.
Fu Chen mulai menerka-nerka hal mencolok dari dirinya dan ada beberapa alasan yang membuat sebagian orang tertatik padanya. Namun tetap saja, hal itu tidak menjelaskan apapun untuk masalahnya.
Tepat di hari di mana Fu Chen telah membulatkan keputusannya, Fu Chen kembali mendatangi tetua Li yang ada di ruangannya.
"Oh… ternyata kau masih berani datang ke tempatku." Tetua Li menyapa sambil tersenyum tipis. Tetua Li sedikit tidak menyangka Fu Chen akan datang lebih cepat dari perkiraannya.
Fu Chen hanya diam dan terus berdiri, pedangnya tidak di simpan di dalam cincin bumi melainkan tersarung rapi yang kemudian terikat di pinggangnya.
Tetua Li menghela napas sejenak, ia tahu Fu Chen saat ini hanya akan bicara yang seperlunya. Tetua Li sedikit mempertanyakan apakah keputusan yang ia ambil kemarin tepat atau tidak.
"Untuk apa kau datang kemari jika hanya diam di situ?" Tetua Li sedikit acuh, lagipula ia hanya ingin melihat bagaimana keputusan Fu Chen dalam menghadapi masalah ini.
Fu Chen sedikit mengepalkan tangannya, mengumpulkan keberanian untuk mengatakan maksud dan tujuan yang telah di pertimbangkan dengan matang.
"Mohon angkatlah aku sebagai muridmu!" Fu Chen berlutut dengan bertumpu satu kaki, pedangnya tergeletak di depan sebagai tanda kesungguhannya.
Kepala Fu Chen tertunduk, sedangkan jantungnya terus berdegup kencang menanti jawaban dari orang yang masih ia curigai sebagai musuh atau kawan.
Fu Chen berani mengambil risiko yang begitu besar usai mempertimbangkan beberapa hal, setidaknya ia cukup yakin bahwa tetua Li tidak akan membunuhnya dalam waktu dekat.
Tetua Li hanya diam selama beberapa saat, ia menunggu seseorang yang hawa keberadaanya sudah semakin dekat.
"Berharaplah jika keputusanmu tidak salah." Tetua Li bangkit dari kursi dan berjalan mendekati Fu Chen. Tetua Li berhenti tepat di hadapan Fu Chen dan mengambil katana yang tergeletak di bawahnya.
Terdengar suara beberapa langkah kaki dari luar, membuat jantung Fu Chen berdetak semakin kencang, banyak dugaan yang mengalir deras di kepalanya hingga membuat keringat dingin mulai bercucuran.
Namun, pemuda itu tetap diam sambil menundukkan kepala, pasrah akan takdir yang akan datang.
"Permisi, Tuan," ucap seorang pelayan dan setelahnya pintu ruangan itu terbuka lebar.
Fu Chen menelan ludah beberapa kali hingga suara yang terdengar begitu akrab berhasil membuatnya terkejut.
"Fu Chen?" Kyoto sedikit mengerutkan kening.
"Hei, Pak Tua! Bukankah kau bilang akan mengangkatku sebagai murid pertamamu? Apa kau mencoba menipu kami, hah?" Sin Lou menatap tajam tetua Li, namun keangkuhannya tidak bertahan lama sebab Kyoto langsung memukul kepala bocah itu.
"Bicaralah yang sopan pada seorang tetua, bodoh!" bisik Kyoto sambil menahan rasa geram.
Fu Chen yang tidak kalah terkejut sebenarnya juga ingin bertanya namun tetua Li segera melerai mereka sebelum ia sempat berbicara.
Merasa situasi kembali tenang tetua Li meminta mereka untuk berbaris. "Tunggu apa lagi, segeralah berlutut di hadapanku. Bukankah kalian memiliki tujuan yang sama?"
Meski sedikit enggan, Sin Lou dan Kyoto ikut berlutut di samping Fu Chen. Keduanya menunduk dan menanti tetua Li berbicara.
"Kalian datang kemari dengan tekad yang tinggi dan tujuan yang sama. Aku tidak akan menyambut kalian secara formal karena alasan tertentu namun setelah kalian terdaftar sebagai muridku maka kalian harus mengikuti peraturanku."
Tetua Li menepuk pundak masing-masing pemuda itu sebanyak tiga kali menggunakan pedang milik Fu Chen. Setelah itu tetua Li meminta ketiganya untuk bangkit kemudian menyerahkan pedang milik Fu Chen.
"Apakah sudah selelsai?" Sin Lou melirik ke arah Fu Chen dan Kyoto secara bergantian, lalu ia memeriksa tubuhnya untuk melihat apakah ada sedikit perubahan.
"Itu sudah cukup, yang di perlukan seorang murid hanyalah ilmu, bukan setatus ataupun hal lainnya." Tetua Li kembali ke kursinnya dengan santai.
Kyoto juga merasa aneh, dia mengira jika melantik seorang murid akan menjadi sesuatu yang istimewa namun bayangan itu menjadi sirna sekarang.
"Lalu apa tugas pertama kami?"
Tetua Li hanya tertawa kecil, "Pulanglah, guru kalian yang sebenarnya bukanlah aku."
"Huh?" Ketig pemuda itu saling berpandangan. Mereka sungguh tidak mengerti apa yang di bicarakan Pak Tua ini.
"Apa maksudmu, Pak Tua? Kalau bukan kau lalu siapa?" Sin Lou segera menyahut dengan cepat.
Tetua Li menjentikkan gumpalan kertas kecil yang ia lipat dan tepat mengenai kening Sin Lou hingga membuatnya berbekas.
"Jaga bicaramu, anak muda! Aku seorang tetua di sini," ucap tetua Li sedikit dingin.
"Besok pagi aku akan mengantar kalian menemui orang itu, dengan kemampuan kalian saat ini belum tentu orang itu mau menerima kalian sebagai muridnya."
Karena tidak ada lagi yang ingin di tanyakan, Sin Lou dan Kyoto segera keluar usai membungkukkan badan dan memberi hormat. Sementara Fu Chen masih memandangi tetua Li selama beberapa saat sebelum mengambil pedangnya dan pergi.
Ke esokan paginya tetua Li telah menyiapkan sebuah kereta kuda sebagai kendaraan mereka. Sebelumnya tetau Li sudah bepesan untuk membawa beberapa pakaian ganti sebab ia sendiri tidak tahu berapa lama mereka akan di tempat orang itu.
Kyoto dan Sin Lou sempat heran karena Fu Chen tidak membawa apa-apa selain pedang yang terselip di pinggangnya. Mereka sebenarnya sedikit pensaran dengan pedang milik Fu Chen namun waktunya belum tepat untuk membahas itu.
Saat kereta kuda hendak berangkat Fu Chen memilih untuk duduk di samping kusir, Fu Chen sedikit penasaran bagaimana kusir itu mengendalikan kuda sebab ia sedikit kesusahan sebelumnya.
Tindakan Fu Chen kemudian diikuti oleh Sin Lou dan Kyoto hingga menyisakan tetua Li seorang yang ada di dalam kereta kuda.
Tetua Li hanya tersenyum tipis dan berkata, "Anak itu jadi lebih waspada terhadap lingkungannya."
Tempat yang di tuju tetua Li sebenarnya masih di dalam sekte Pedang Suci, namun karena sekte Pedang Suci di bangun di atas pegunungan membuat perjalanan mereka memakan waktu dua jam.
Saat pertama kali mereka sampai, mereka di sambut oleh hutan belantara yang membentang luas seperti tidak pernah tersentuh oleh manusia. Hanya ada jalan setapak yang dapat di lalui oleh kereta kuda merak.
Namun, ketika masuk lebih dalam mereka di sambut oleh hutan bambu yang tersusun rapi dan udara sejuk yang menyegarkan. Kedua tempat itu di batasi oleh sungai kecil dengan arus yang cukup deras.
Bagi mereka, tempat seperti itu hanya bisa di temukan dalam dongeng-dongeng yang biasa di ceritakan oleh warga Desa.
"Apa kita akan berhenti di sini?" Fu Chen memperhatikan sekitarnya dan tidak menemukan adanya jembatan untuk menyebrangi sungai.
"Ah, lihat! mungkin bangunan itu adalah kediaman orang yang di maksud tetua Li." Kyoto menunjuk ke arah bagian dalam hutan bambu itu, di mana ada sebuah rumah yang tertutupi oleh banyaknya tanaman.
"Ya, itu adalah tempat yang kita tuju, kita akan berjalan kaki untuk ke sana." Tetua Li menyahut dari dalam kereta.
Tanpa di beri aba-aba, Sin Lou, Kyoto dan Fu Chen segera mengambil ancang-ancang dan melewati sungai kecil itu dalam sekali lompatan. Namun, saat kaki mereka baru saja berpijak, tubuh ketiganya langsung terjatuh karena tekanan berat yang menimpa tubuh mereka.
"Tekanan apa ini?" Fu Chen mengerutkan kening cukup dalam sambil berusaha berdiri.
"Ini adalah ujian sebelum kalian menjadi muridku, jika kalian tidak bisa melwati tekanan itu maka lebih baik kalian pulang!" Suara parau nan serak menggema di hutan bambu itu, Fu Chen dan lainnya sempat mencari sumbernya namun tidak menemukan apapun.
"Hahaha… kau selalu saja muncul dengan cara yang tidak biasa." Tetua Li tertawa lebar sambil mendongakkan kepalanya.
Seorang pria bertelanjang dada berdiri tegap di pucuk daun bambu dengan tenang, kedua tangannya menyilang ke belakang sambil memandangi orang-orang di bawahnya.