Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.42 - Pangeran Kekaisaran Meng


Di suatu tempat yang berada di perbatasan kekaisaran Song dan Meng. Sepasang pemuda sedang berlari di ikuti oleh sekelompok pendekar dengan baju hitam.


Gelapnya malam dan derasnya hujan tidak menghentikan kelompok itu untuk menangkap mangsanya. Petir-petir yang saling menyambar menjadi penerang langkah mereka.


"Bertahanlah Zhi'er. Kita akan segera sampai." Seorang pemuda yang berusia sekitar 17 tahun mencoba untuk membantu adiknya yang terjatuh.


"Kakak… aku tidak kuat lagi." Meng Zhi menelan ludahnya dengan nafas terputus-putus.


Mereka sudah berlari cukup lama di bawah cuaca yang buruk. Kondisi Fisik mereka telah mencapai batas maksimal. Namun karena kelompok yang mengejar mereka adalah sekelompok pendekar tangguh membuat mereka harus berjuang lebih keras.


"Apa yang kau lakukan?!" Bentak kakak yang di maksud Meng Zhi saat melihat adiknya sudah pasrah dengan kondisinya. "Jangan sia-siakan pengorbanan paman Ji! Aku tidak akan memafkanmu jika kau mati disini!"


Meng Zhi mengepalkan tangannya keras, ia juga tidak ingin mati begitu saja namun fisiknya tidak memadai untuk terus berlari.


"Hahaha… mereka sudah terlihat!" Seseorang yang di duga ketua kelompok itu tertawa lebar melihat mangsanya sudah tidak berdaya. Mereka sempat terhambat ketika di hadang Jendral kekaisaran Meng bernama Ji Furan. Beruntung kondisi Jendral itu sudah cukup parah sebelum melawan mereka.


"Zhi'er! Cepat!" Kakak Meng Zhi yang bernama Meng Tian itu mencoba untuk menggendong adiknya dan berlari ke tempat tujuan mereka.


"Hahaha… Kau mau pergi kemana lagi Pangeran Tian?! Serahkan nyawamu! Kami akan menjaga Putri Zhi'er dengan baik." Seru ketua kelompok itu sambil menjilat bibirnya.


Meng Tian menggertakkan giginya. Hanya karena perebutan tahta dengan kakaknya, dia harus kehilangan ayah dan ibunya, bahkan sebagian besar anggota kerajaan juga mati di tangan para pengkhianat.


Tanpa di sadari oleh kelompok yang mengejar Meng Tian, mereka terus berlari menuju tembok yang menjulang tinggi yang merupakan markas perbatasan kekaisaran Song.


Satu-satunya jalan bagi Meng Tian dan adiknya untuk hidup adalah mengharapkan pertolongan dari para prajurit yang bertugas menjaga perbatasan disana.


"Kakak, kepalaku sakit." Ujar Meng Zhi lemah.


"Bertahanlah Zhi'er!" Meng Tian melirik ke arah belakang sambil melompat dari satu dahan pohon ke dahan lainnya. Ia kemudian memperhatikan area di sekitar tembok yang cukup terbuka.


Ia berniat untuk kesana dan memancing para pendekar yang mengejarnya untuk keluar dari hutan agar pendekar yang berjaga di perbatasan dapat melihatnya.


Meng Tian merogoh sesuatu ke dalam jubahnya dan mengambil beberapa buah benda beebentuk pil lalu melemparkannya ke arah pendekar yang mengejarnya. Seketika asap hijau mengepul dan menghalangi pandangan pendekar yang mengejarnya.


"Sial, bom asap! Dia masih punya beberapa trik." Ketua kelompok pengejar itu berdecak kesal. Mereka kembali kehilangan Jejak mangsa mereka.


"Bagaimana ini, ketua?" Tanya pendekar lainnya.


"Tetap cari! Dia tidak akan pergi terlalu jauh."


Rencana Meng Tian sepertinya berhasil, setidaknya ia memiliki cukup waktu untuk menghampiri perbatasan lebih dulu. dengan gerakan yang cepat tanpa keraguan, Meng Tian melepaskan kembang api ke udara dan seketika membuat semua orang terfokus pada kembang api yang menyala terang dalam beberapa tarikan nafas itu.


"Itu… Jendral, bukankah itu-" Komandan pasukan yang sedang berjaga saat itu sangat terkejut melihat kembang api yang tiba-tiba meledak di area perbatasan.


"Kau benar… Itu tanda darurat milik kekasaiaran Meng. Cepat perintahkan pasukan untuk menelusuri area sekitar!" Jendral Jia Lu mengepalkan tangannya keras. Entah apa yang membuat kembang api itu bisa ada di sekitar perbatasan namun yang pasti bukanlah sesuatu yang baik.


"Ketua, bagaimana ini? Apa kita akan terus melanjutkan pengejaran?" Salah satu pendekar bertanya dengan khawatir. Mereka juga tanpa sadar telah melakukan pengejaran hingga area perbatasan.


"Tidak, kita harus melihat keadaan terlebih dahulu." Ketua kelompok itu juga mencemaskan kondisi mereka. Dirinya terlalu gegabah hingga tidak menyadari tujuan pangeran Tian.


Di tempat lain Meng Tian masih terus berlari ke area lapang agar para penjaga dapat menemukannya dengan mudah. Benar saja, Jendral Jia Lu yang berjaga di menara dapat melihat sosok Meng Tian di tengah lapangan dengan kondisi yang cukup parah.


"Siapkan anak panah!" ujar komandan pasukan namun segera di hentikan oleh Jia Lu.


"Tahan! Aku akan turun ke bawah untuk melihat siapa itu." Meski dapat melihat sosok Meng Tian, tapi karena hujan yang begitu deras dan wajah Meng Tian yang tertutupi oleh rambutnya membuat Jendral Jia Lu harus memastikannya lebih dekat.


Sedangkan kelompok yang mengejar pangeran Tian harus berhenti di jarak 100 meter dari tembok perbatasan. Jika mereka keluar, maka mereka akan langsung di hujani anak panah dari para penjaga.


"Pangeran Tian?" Ujar Jendral Jia Lu terkejut saat melihat sosok Pangeran dari kekaisaran Meng dalam kondisi yang buruk. Keduanya telah bertemu beberapa kali karena Jendral Jia Lu memang di tugaskan sebagai perwakilan setiap urusan di kekaisaran Meng.


"Jendral Jia, tolong bantu kami." Balas Meng Tian tanpa memeperdulikan keterkejutan Jendral Jia Lu. Keselamatan adiknya menjadi prioritas utamanya sat ini.


Tanpa pikir panjang, Jia Lu membawa kedua kakak beradik itu memasuki gerbang tanpa menurunkan penjagaan.


"Sial! Kita mundur! Setidaknya kita sudah mengusir pangeran itu dari kekaisaran Meng." Ketua kelompok itu mengumpat dalam hati atas kecerobohan dirinya sendiri ketika melihat Pangeran Tian dan adiknya di bawa masuk oleh Jia Lu.


"Tapi ketua. Bagaimana dengn perintah Pangeran Guanji?"


"Diamlah!" Bentak ketua kelompok itu. "Aku akan menjelaskannya pada pangeran. Setidaknya Keparat itu sudah mendapatkan posisi yang ia inginkan."


Ketua kelompok itu menggertakkan giginya kesal. Jika bukan karena dukungan di belakang Pangeran Guanji yang saat ini akan menduduki tahta kekaisaran, maka ia sudah lama menebas leher anak itu.


Kelompok merekapun mundur begitu saja setelah memperhatikan sekitar. Banyak prajurit yang mulai menelusuri area sekitar hutan, membuat mereka harus berhati-hati.


Di sisi lain, Pangeran Tian akhirnya dapat bernafas lega meski adiknya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Jendral Jia Lu juga tidak bertanya banyak hal, ia membiarkan Meng Tian dan Meng Zhi untuk beristirahat.


"Siapa sebenarnya mereka ini, Jendral?" Komandan pasukan bertanya heran, tidak biasanya wajah Jendral Jia terlihat pucat seperti saat ini.


"Mereka adalah anak-anak dari Kaisar Meng. Aku tidak tau apa yang membuat mereka sampai seperti ini." Jendral Jia Lu menghela nafas kasar, kepalanya terasa sakit.


Komandan pasukan sangat terkejut mendengarnya, bahkan prajurit yang baru saja membuka ruangan itu juga ikut terkejut.


"Ekhem… Ada apa?" Tanya Komandan itu saat menyadari prajuritnya berada di ambang pintu.


"Maaf Komandan. Kami menemukan sekelompok pendekar yang berusaha untuk melarikan diri di hutan. Saat ini beberapa pasukan sedang mengejarnya."


"Tarik mundur pasukan itu! Kita tidak bisa mengejarnya di luar perbatasan."