
Fu Chen kembali merapikan kamar saat esok harinya, tubuhnya begitu lelah hingga membuatnya tertidur nyenyak sepanjang malam.
"Jika di pikirkan, ada baiknya juga aku tinggal sendiri di kamar ini. Aku bisa berlatih dan menyerap qi dengan bebas." Fu Chen memandangi kamarnya yang cukup luas untuk melakukan beberapa gerakan kecil dari latihannya.
Fu Chen dan seluruh murid baru lainnya berkumpul di lapangan pelatihan sekte untuk mendengar arahan dari Feng Youxin selaku Ketua sekte. cukup lama mereka disana sebelum akhirnya upacara itu selesai.
Feng Youxin menyampaikan pada mereka jika sekte Pedang Suci akan memilih sepuluh murid terbaik untuk dapat memilih kitab jurus di paviliun perpustakaan.
Sedangkan murid-murid yang tidak terpilih hanya akan mendapatkan pelatihan umum yang akan di ajarkan di setiap kelas. Karena itu sekte Pedang Suci membuat pertandingan ini untuk menentukan sepuluh murid terbaik di kalangan murid baru.
Fu Chen sangat gembira mendengar penjelasan dari Ketua sekte. Jika ucapan Xiao Jung benar, maka ia cukup yakin untuk dapat memenangkan pertandingan itu.
Saat sedang berkeliling sekte, Sin Lou mengeluh karena dia tidak bisa memiliki teman baru dikamarnya. Satu kamar dengan Kyoto membuatnya frustasi dan terlalu menghabiskan tenaga ketika keduanya mulai berdebat.
"Ku dengar kau mencari masalah dengan seseorang kemarin. Apa yang sebenarnya kau lakukan?" Sin Lou bertanya penasaran, kabar mengenai Bai Yan yang terisak tangis ketika keluar dari kamar Fu Chen sudah menyebar begitu cepat.
Fu Chen hanya bisa menggaruk tengkuknya menyadari masalah tidak akan berakhir begitu saja. "Sejujurnya bukan aku yang mencari masalah, aku hanya terpaksa melakukannya." Balas Fu Chen sambil mengangkat bahu.
"Tidak perlu takut, adik iparmu ini akan selalu menjagamu…"
Fu Chen tersenyum kecut mendengar perkataan Sin Lou. Seharian penuh waktu yang di perlukan untuk berkeliling sekte, beberapa bahkan sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Dari seluruh tempat yang ada, Fu Chen telah menetapkan tempat favorite nya, tempat itu sangat cocok dengannya yang tidak suka keramaian selain itu disana juga ada aula untuk berlatih.
Dua hari setelahnya, murid-murid baru sudah mempersiapkan diri untuk bertanding. Mereka hanya perlu memilih salah satu dari tumpukan kertas yang berisi nomor-nomor untuk menentukan lawan mereka.
Banyak murid dalam juga ikut menyaksikan pertandingan ini, kebanyakan dari mereka berniat merekrut anggota baru untuk di jadikan bawahan atau sekedar mencari mangsa untuk merampas sumber daya yang di berikan sekte setiap bulannya.
Xiao Jung ikut datang menyaksikan bahkan beberapa murid inti lainnya mengikutinya karena paksaan dari Xiao Jung.
"Saudara Xiao, apa yang kau harapkan dari bocah-bocah ini?" Salah seorang teman Xiao Jung berkata lesu.
"Kau benar, aku bahkan belum sempat menghabiskan sarapanku saat dia tiba-tiba menyeretku ke sini."
Xiao Jung tersenyum bangga lalu duduk dengan kaki yang di angkat ke bangku penonton di depannya. "Kalian lihat saja, aku membawa seorang jenius yang layak untuk kita saksikan."
Dua orang yang di seret Xiao Jung untuk menemaninya saling berpandangan sejenak, mereka hanya menghela nafas dan duduk di samping Xiao Jung.
"Kau seharusnya membawakan kami makanan jika ingin kami menemanimu melihat hal membosankan seperti ini."
"Ayolah, apa kalian tidak penasaran siapa yang akan menjadi murid terkuat sekte ini di masa depan?"
"Tidak!" Keduanya menjawab serentak.
Setelah seluruh murid mendapatkan nomornya, seorang Tetua mulai berbicara, "Sebelum memulai pertandingan, aku akan menjelaskan beberapa. peraturan yang tidak boleh kalian langgar…"
Tetua itu terlihat berbicara dengan pelan, tapi karena ia mengalirkan Qi pada suaranya hingga suara itu terdengar jelas bagi penonton maupun peserta, seolah sedang berbicara di samping mereka.
Tetua itu menjabarkan satu persatu aturan yang berlaku selama pertandingan. Peserta akan di nyatakan kalah ketika mereka sudah tidak sadarkan diri, keluar dari lapangan, mendapatkan luka serius dan menyerah.
"Lawan kalian akan sesuai dengan nomor urut kalian, ingatlah… kalian sekarang sudah menjadi murid sekte, jadi tidak perlu terlalu berlebihan dalam melukai lawan…"
"Singkirkan kakimu! kau menghalangi jalanku." Seorang wanita menegur Xiao Jung dengan sinis.
"Hm?" Xiao Jung mengangkat sebelah alisnya dengan kaki yang masih di selonjorkan ke bangku di depannya. Beberapa saat kemudian dia tersenyum tipis.
"Hoho… ada apa ini, aku tidak menyangka sosok seperti Bai Chi akan menyaksikan pertandingan seperti ini." Xiao Jung menaik turunkan kedua alisnya untuk menggoda wanita bernama Bai Chi tersebut. "Apa sebegitu jatuh cintanya kau padaku, hingga rela mengikutiku kemanapun aku pergi?"
"Itu bukan urusanmu." Bai Chi menjawab ketus, dia adalah salah satu murid inti di sekte Pedang Suci. Dirinya juga satu genarasi dengan Xiao Jung, umur mereka tidak terpaut jauh meski Bai Chi lebih tua dari Xiao Jung.
"Benarkah? atau kau kemari hanya ingin menyaksikan adikmu yang menangis sepanjang asrama kemarin malam? suara tangisannya begitu kencang hingga terdengar di kamarku, aku penasaran siapa yang membuatnya sampai seperti itu." Xiao Jung memegang dadanya sambil memasang wajah sedih.
Bai Chi mengumpat dalam hati, karena ulah adiknya dia juga harus menanggung malu saat adiknya mengadu sambil terisak tangis di asrama wanita murid inti.
Xiao Jung tertawa kecil, "Hehe… ini urusanku pribadi, kenapa kau selalu mengaitkannya dengan keluarga?"
"Singkirkan kakimu atau aku sendiri yang akan memotongnya?!" Bai Chi benar-benar kesal menghadapi orang seperti Xiao Jung.
"Fufu… menakutkan sekali. Baiklah, baiklah… aku memberikan jalan selebar-lebarnya untuk tuan putri." Xiao Jung tersenyum tipis saat Bai Chi mulai melangkah.
Baru saja Bai Chi melewati Xiao Jung, Xiao Jung menjegal kaki Bai Chi dengan kakinya hingga membuat Bai Chi tersungkur.
"Pfft, hahaha…" Xiao Jung dan kedua temannya tertawa lepas melihat Bai Chi yang begitu menyedihkan.
"Nona, kau tidak apa-apa?" seorang gadis pengikut Bai Chi berusaha membantu Bai Chi berdiri, namun Bai Chi hanya diam menunduk sambil mengangkat tangannya untuk menghentikan gadis itu.
"Sekali lagi kau menyebutkan keluarga Xiao di depanku, maka nasibmu akan lebih buruk dari ini." Xiao Jung menunduk mempringati Bai Chi dengan nada dingin.
Bai Chi berdiri lalu pergi dari sana dengan suasan hati yang buruk, dia mengumpat serapah akan membalaskan perbuatan Xiao Jung berkali-kali lipat.
"Nona?" tanya gadis itu khawatir ketika melihat nonanya diam dan pergi menjauh.
"Sial, aku melewatkan beberapa pertandingan karena tuan putri itu." Xiao Jung berdecak kesal, namun kedua temannya dapat melihat jika dirinya sangat senang saat ini.
"Kau sangat jahat pada seorang wanita kawan." Salah satu teman Xiao Jung tertawa puas setelah mengatakannya.
"Itu benar, kau seharusnya menangkapnya agar sang putri tidak terjatuh."
"Haha, aku hanya takut dia adalah nenek sihir yang menyamar menjadi seorang putri… sepertiyang di katakan pada cerita dongeng itu."
Bai Chi memang di kenal sebagai orang yang ketus dan selalu memanfaatkan posisinya sebagai murid inti untuk menindas murid lain. Dia bahkan rela merebut sumber daya milik temannya sendiri, sikap arogansi nya itu semakin terbentuk karena orang-orang selalu tunduk di hadapannya.
Tidak banyak yang berani melawannya karena ia juga termasuk lima besar murid terkuat di sekte Pedang Suci. Hanya segelintir orang yang bisa bersikap santai di hadapannya dan salah satunya adalah Xiao Jung.
karena terlalu lama terfokus pada Bai Chi, Xiao Jung melewatkan banyak pertandingan yang sedang berlangsung. Beruntung orang yang di tunggunya memiliki urutan yang cukup jauh.
Wasit yang mengatur jalannya pertandingan kemudian menyebutkan peserta selanjutnya. "Peserta nomor 56 dan 57 silahkan naik ke arena!"
"Lihatlah bagaimana kekuatan penuh dari calon adik ipar-mu ini." Sin Lou tersenyum lebar lalu menaiki arena dengan membusungkan dada.
"Cih, kau hanya bisa bermimpi menjadi kakak ku." Fu Chen berdecak kesal, temannya itu masih belum menyerah juga untuk mengejar adiknya.
"Lawanku ternyata cukup mudah, bocah kampung sepertimu tidak layak untuk melaju ke babak berikutnya." Lawan Sin Lou adalah keturunan yang lahir di sekte Pedang Suci, jadi mereka telah mendapatkan pelatihan dari orang tua mereka sejak kecil.
"Apa maksudmu? aku tidak berasal dari kampung tapi Desa, kau mengerti?" balas Sin Lou santai.
"Kalian siap? mulai!"
Ketika wasit memberikan aba-aba, sikap Sin Lou langsung berubah drastis dia memasang kuda-kuda yang cukup kokoh sebagai awalannya. Dia teringat dengan ucapan Fu Chen untuk tidak meremehkan lawan apapun kondisinya.
"Cukup mengagumkan untuk bocah kampungan sepertimu, tapi itu tidak cukup!" Lawan Sin Lou menyerang lebih dulu dengan memperpendek jarak di antara keduanya.
Ia melihat sedikit celah di pertahanan Sin Lou, dengan sigap ia memutari Sin Lou agar mendapatkan kesempatan. Sin Lou tau tujuan serangan lawannya, karena ia selalu melihat ke arah kaki depannya.
Sin Lou kemudian sengaja melonggarkan pertahanan dan benar saja, lawanya langsung bergerak cepat untuk memukul kaki Sin Lou. Namun sayangnya gerakan itu adalah kesalahan fatal, Sin Lou yang sudah memperkirakan serangan itu segera memutar tubuh dan menendang tepat di muka lawannya.
"Woah! sejak kapan anak itu menggunakan otaknya?" Fu Chen berdiri bersorak dari tempat duduknya karena tidak menduga Sin Lou dapat membaca gerakan lawannya.