
Kota yang sebelumnya sangat megah kini hanya tersisa beberapa bangunan yang masih dapat berdiri. Pertempuran selama dua minggu itu membuat kota Gaozu di genangi oleh darah. Jeritan serta tangisan tidak lagi terdengar di penghujung pertempuran yang panjang itu.
Cukup lama pertarungan Tang Hao dengan Yuan Meng dan sepuluh pendekar lainnya berlangsung. Wajah Tang Hao semakin pucat seiring berjalannya waktu, tubuhnya benar-benar sudah di ambang batas untuk dapat melanjutkan pertarungan.
Celah sedikit terlihat ketika beberapa pendekar suci tidak dapat fokus karena luka sayatan yang baru saja mereka dapatkan. Tang Hao memanfaatkan hal itu dengan bergerak cepat menggunkan jurus Langkah Cahaya yang ia miliki.
Tiga orang pendekar Suci tidak sempat bereaksi sehingga mereka terkena tusukan serta tebasan di leher masing-masing. Tang Hao segera memanfaatkan peluang saat melihat rekan-rekan Yuan Meng sedang terkejut dengan kejadian yang mereka lihat dalam hitungan detik itu.
Tang Hao kembali melesatkan tendangan ke arah Yuan Meng dan tebasan pada pendekar lainnya. Energi dari setiap tebasan pedang yang di luncurkan Tang Hao sangat besar hingga membuat beberapa pendekar yang berusaha menghalau tebasan itu terpental jauh.
Tang Hao segera mundur dan mengatur nafasnya setelah rangkaian serangan yang ia luncurkan, dari satu kesempatan yang terlihat. Mulutnya beberapa kali mengeluarkan darah segar saat ia berhenti menyerang.
"Kekuatan rubah tua ini benar-benar tidak bisa di remehkan!" Yuan Meng menyeka darah yang keluar dari bibirnya. Ia melihat Tujuh rekannya yang memiliki kondisi tidak jauh berbeda darinya.
Pusaka di tangan mereka masing-masing setidaknya memiliki retakan halus, setelah cukup lama menahan beberapa serangan Tang Hao.
"Saudara Yuan… apakah kita akan melanjutkan ini? kita bahkan hanya memberikan sedikit luka padanya," Tanya salah satu pendekar suci bersenjatakan tombak dengan nafas tersenggal-senggal.
Yuan Meng tidak menjawabnya, ia masih mencoba untuk memahami situasi sekitar mereka dengan sorot mata tajam. Pandangannya kemudian terkunci pada Tang Hao yang kini berada di dekat Tang Shu.
Yuan Meng baru menyadari jika Tang Hao juga tidak dalam kondisi lebih baik dari mereka. Mata Yuan Meng segera melebar dan terkejut dengan apa yang ia lihat.
Tang Hao baru saja Menyerahkan sebuah cincin Bumi pada cucunya di hadapan seluruh pendekar yang tadi menghadapinya.
"K-kakek… apa yang kau lakukan disini?" Tang Shu terkejut saat kakeknya menghampiri dirinya. Ia tau kakeknya sedang menghadapi musuh yang kuat saat ini, tapi kejadian selanjutnya sungguh membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.
"Shu'er segeralah pergi dari sini dan bawa cincin ini bersamamu! Kakek akan membukakan gerbang dimensi untukmu dan yang lainnya melarikan diri," Ucap Tang Hao sedikit lemah.
Tang Hao tau meskipun ia berhasil memojokkan delapan pendekar Suci yang tersisa, tapi tidak menutup kemungkinan akan ada pihak lain yang akan datang saat kondisinya lebih buruk dari sekarang. Selagi masih ada sedikit kekuatan yang tersisa, maka ia akan menggunakannya untuk menyelamatkan anggota klan lain agar tetap hidup.
Gerbang dimensi memiliki cara kerja yang sama seperti cincin Bumi, perbedaanya hanya terletak dari ruang dimensi serta waktu yang lebih besar. Penggunaan gerbang dimensi juga harus memiliki perkiraan lokasi yang tepat sebagai tempat tujuan mereka, serta energi qi yang di perlukan juga tidak sedikit.
Gerbang dimensi hanya dapat dikuasai bagi mereka yang telah memahami aturan ruang dan waktu pada tingkatan tertentu. Serta setidaknya telah berada pada tingkatan pendekar suci tahap akhir.
Semua pendekar musuh yang tadi bertarung di sekitar Tang Shu memilih mundur dan berkumpul dengan yang lainnya, mereka tentunya tidak ingin mati sia-sia karena keberadaan Tang Hao.
"Apa yang kakek lakukan?! Kakek akan mati setelah menggunakannya!" Tang Shu jelas tidak rela meninggalkan kakeknya menghadapi 70 pendekar yang masih tersisa seorang diri dengan keadaan sekarat.
Tang Hao tersenyum tipis sebelum mengisyaratkan pada beberapa tetua untuk membawa Tang Shu saat ia telah berhasil membuat gerbang dimensi.
Yuan Meng yang sedari tadi mengamati situasi sangat terkejut saat melihat sebuah lingakaran hitam tiba-tiba muncul di depan Tang Hao. Dirinya dan 70 pendekar lainnya segera memasang sikap siaga dan menatap tajam ke arah lingkaran hitam di pihak lawan.
Kewaspadaan itu segera berubah kecemasan saat beberapa orang memasuki lingkaran itu dan tidak terlihat lagi. Yuan Meng menyadari Tang Hao berniat menyelamatkan keturunannya, ia kemudian segera berteriak dan melesat dengan kecepatan tertinggi yang ia miliki.
"Hentikan mereka!"
Mendengar teriakan Yuan Meng sontak membuat pendekar lainnya juga ikut bergerak cepat. Tetua yang masih tetap tinggal disana tentunya tidak akan membuat tujuan Yuan Meng berhasil. Dengan segenap tenaga yang mereka miliki, mereka menghadang Yuan Meng dan yang lainnya meski harus mempertaruhkan nyawa.
Tetua yang menghadang Yuan Meng terkejut saat dirinya berhasil di desak meski ia memiliki kekuatan pada tingkatan yang sama dengan Yuan Meng.
"LEPASKAN! LEPASKAN AKU! Aku akan menyelamatkan kakek!" Tang Shu memberontak ketika diseret memasuki gerbang dimensi. Kakinya menerjang ke segala arah untuk menghentikan Tetua yang menyeretnya.
"Shu'er bangkitkan kembali nama Tang dengan pusaka yang kau bawa. Aku harap kau dan anakmu nanti dipilih oleh leluhur yang menjaga cincin itu." Tang Hao berpesan sambil tersenyum lembut, sebelum mulai berbalik dan membantu Tetua yang lain.
"KAKEK! Kakek …! Kakek…" Amarah Tang Shu berubah menjadi isakan tangis yang memilukan. Pandangan terakhirnya hanyalah punggung kakeknya yang semakin menjauh sebelum akhirnya buram dan gelap.
Yuan Meng berteriak keras melihat tidak ada lagi lingkaran hitam di belakang Tetua yang menghadangnya. Tetua yang terkejut dengan teriakan itu pun terkena pukulan dari tongkat Yuan Meng dan terpental jauh karena tidak dapat menghalaunya.
Yuan Meng kemudian segera melesat ke arah Tang Hao yang seolah sudah menunggu kehadirannya.
"TANG HAO! DIMANA KAU SEMBUNYIKAN MEREKA?" Yuan Meng berteriak keras saat sedang melesat, ia kemudian memutarkan tubuhnya sebelum mengayunkan tongkatnya dengan qi yang besar.
Tang Hao telah menggunakan sebagian energi kehidupannya saat membuat gerbang dimensi sebelummya, karena qi yang ia miliki ternyata tidak cukup. Sehingga ketika tongkat Yuan Meng mengenai lengannya, Tang Hao terpental cukup jauh sebelum akhirnya berhenti ketika menabrak sebuah bangunan.
Tang Hao hanya mengandalkan kekuatan fisik untuk menahan serangan Yuan Meng. Dengan usianya yang tua membuat kekuatan fisik Tang Hao bukan sesuatu yang di harapkan.
Yuan Meng kembali melesat menyusul Tang Hao dan memulai serangan lainnya. Tang Hao yang sudah tidak memiliki qi di dalam tubuhnya membuat dirinya dengan mudah di kalahkan oleh Yuan Meng.
Yuan Meng berhasil membuat Tang Hao terkapar hanya dengan beberapa jurus yang ia keluarkan. Tidak puas sampai disitu, Yuan Meng menendangi Tang Hao untuk melampiaskan kemarahannya.
"Dimana kau menyembunyikan pusaka itu, Tang Hao?" Yuan Meng berjongkok untuk dapat menatap wajah Tang Hao yang sudah dilumuri darah dengan jelas setelah menenangkan diri.
Tang Hao ingin tertawa, tapi karena darah yang menyangkut di lehernya membuat dirinya hanya terbatuk-batuk. Mulutnya beberapa kali mengeluarkan darah kental dangan senyuman lebar di wajahnya.
"Kau tidak akan mendapatkan apa-apa Yuan Meng." Senyuman lebar tidak lepas dari wajah Tang Hao meski mulutnya di penuhi darah. Dirinya juga sadar, meski Yuan Meng tidak membunuhnya, cepat atau lambat ia akan mati dengan sendirinya.
"Hahaha! Kau benar-benar naif Tang Hao. Apa kau pikir cucumu dapat hidup tenang dengan terus bersembunyi? Aku akan mencarinya bahkan sampai ke ujung dunia!" Yuan Meng masih menahan diri agar tidak segera membunuh Tang Hao. Ia ingin Tang Hao melihat sisa-sisa anggota klannya di bantai oleh rekan-rekan yang ia bawa.
Perbedaan jumlah yang sangat signifikan membuat anggota klan Tang yang tersisa tidak bisa berbuat banyak. Dengan cepat mereka semua di habisi begitu saja.
"Apa kau melihatnya? Klan yang sangat kau agungkan kini rata dengan tanah!" Yuan Meng menjambak rambut Tang Hao dan mengangkat kepalanya, agar Tang Hao dapat melihat kehancuran klan Tang dengan matanya sendiri.
Pandangan Yuan Meng kemudian terarah pada sebilah pedang yang sudah patah tergeletak di tanah. "Inikah pedang yang dapat menahan puluhan pusaka tingkat berlian?"
Yuan Meng melangkah mendekati pedang tersebut. Pedang itu patah di bagian tengahnya, serta serungnya masih terselip di pinggang Tang Hao.
"Kurasa kau tidak keberatan jika aku mengambilnya bukan?" Yuan Meng tersenyum sinis melihat keadaan Tang Hao yang tidak dapat berkutik sama sekali.
Tang Hao bahkan tidak bisa hanya untuk mengumpati Yuan Meng dalam hati, pikirannya saat ini tertuju pada cucunya yang ia kirim entah kemana. Dirinya merasa khawatir cucunya mendarat di tempat berbahaya.
Merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Yuan Meng mengambil sarung pedang di pinggang Tang Hao. "Akan ku anggap ini sebagai tebusan dari pertunangan yang tidak kau restui dulu." Setelah mengucapkannya, Yuan Meng langsung menghujamkan tongkatnya tepat di kepala Tang Hao, yang membuat kepalanya pecah berceceran.
Yuan Meng kemudian segera membakar mayat itu sebelum meninggalkannya. Menurutnya itu lebih baik dari pada Tang Hao harus menunggu ajal menjemputnya.