Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.50 - 19 Menit Yang Melelahkan


Fu Chen berhasil menggapai pedang yang tergeletak di antara para boneka itu. Namun sebuah pukulan langsung melesat saat ia baru saja menginjakkan kakinya. Fu Chen yang sudah menduga datangnya serangan itu segera menepis dan menendang kepala boneka yang menyerangnya.


Fu Chen mengerutkan kening saat kepala boneka itu tidak terlepas, kepala itu hanya berputar beberapa kali di tempatnya. Pada saat yang bersamaan, sebuah lengan muluncur deras mengincar Fu Chen.


Fu Chen menangkis dengan pedangnya. Dan menghantamkan sebuah lengan lainnya yang datang secara bersamaan. Hasil dari serangan Fu Chen hanya sebuah retakan pada lengan boneka itu.


Karena Fu Chen berhasil membuat dua boneka tidak dapat bergerak selama beberapa detik. Gerakannya menjadi sedikit lebih leluasa, dengan ilmu Tarian Bayangan Fu Chen menendang punggung beberapa boneka yang tidak bergerak itu. Dengan maksud ingin menghancurkan mereka.


Meski tendangan Fu Chen cukup kuat, tapi hasilnya hanyalah sebuah retakan. Fu Chen mengerutkan keningnya lagi menyadari hal itu. "Apa-apaan?! Bukankah tulang belakang adalah kelemahan mereka?"


Desis Fu Chen, yang membuatnya sedikit lengah hingga tidak menyadari satu boneka lainnya datang untuk melepaskan pukulan yang sangat kuat.


Fu Chen terpental sejauh lima meter dari tempat awalnya berdiri. Puluhan anak panah juga langsung mengarah padanya. Fu Chen tak sempat mengelak, ia berhasil menangkis beberapa anak panah itu namun sebagian lainnya berhasil mengoyak pakaian Fu Chen.


"Ini tidak sama dengan yang tetua itu katakan!" Fu Chen sedikit menggerutu.


Ia melupakan poin penting dari ujian ini, yaitu menguji intuisi bertarungnya. Yang berarti pemahaman Fu Chen dalam menilai keadaan dan mencari jalan keluar akam di uji di tempat ini. Ujian ini sebenarnya tidak terlalu sulit, namun karena ulah tetua Mao. Semua menjadi berubah.


Boneka-boneka di dalam lorong Fu Chen saat ini setara dengan pendekar kelas dua tahap menengah. Sesuatu yang cukup merepotkan untuk Fu Chen taklukan, di tambah dengan adanya kerja sama dengan senjata rahasia yang muncul membuat ujian ini terasa mustahil.


Meski begitu, Fu Chen berusaha untuk tetap tenang. Jika dia tidak bisa menghancurkan boneka itu dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Maka ia hanya perlu menghancurkan semua bagian dari boneka itu.


Fu Chen cukup percaya diri dengan ilmu berpedangnya. Di tambah ia sempat melakukan kombinasi dengan ilmu Tarian Bayangan yang membuat gerakannya semakin cepat.


***


"Ini sudah 16 menit dan dia masih bisa bertahan dalam tekanan seperti itu? Aku tidak bisa membayangkan seperti apa dia nanti jika ia berada di medan pertempuran yang sebenarnya," komentar resepsionis Shi.


Ia tidak ingat berapa banyak murid yang bertahan di level ujian yang sama dengan Fu Chen. Mungkin dapat di hitung dengan jumlah jari di sebelah tangannya. Atau bahkan belum ada yang pernah melakukan ujian yang sama dengan Fu Chen selama ia bekerja di administrasi.


Beberbeda dengan Shi yang memberikan komentarnya. Tetua Mao hanya bisa memelototi Fu Chen sambil mengigit kuku ibu jarinya. Karena dua buah boneka berharganya telah hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Tetua Mao sedikit menyesali keputusannya untuk menyulitkan Fu Chen.


Sedangkan Tao Lin juga melakukan hal yang sama dengan gurunya. Tetapi isi pikiran keduanya berbanding terbalik. Dia iri karena Fu Chen mendapat lawan yang tangguh, menurutnya.


Baju Fu Chen telah tercompang camping karena banyaknya senjata rahasia yang harus ia hindari. Nafasnya mulai tidak beraturan, wajahnya juga terlihat gusar karena terus menajamkan pandangannya.


Setelah menghancurkan dua boneka kesayangan tetua Mao. Dia menyadari sesuatu yang terputus dari boneka-boneka itu. Fu Chen menduga itu adalah semacam benang qi yang mengendalikan para boneka. Hanya saja Fu Chen tidak dapat memastikan lokasi benang itu berasal.


Fu Chen sempat mengira benang-benang itu berasal dari atas, namun saat dirinya mencoba untuk melemparkan sebuah belati kesana. Belati itu kembali terpantul, ternyata di atas sana juga ada semacam dinding penghalang.


Semakin lama Ujian itu berlangsung, Fu Chen semakin menguasai medan pertempuran meski senjata rahasia yang muncul juga bertambah banyak. Bahkan hampir memenuhi seperempat lorong itu. Dan bukan berarti dia dapat menghindari semuanya.


"Aku tidak akan bisa bertahan jika seperti ini!" Keluh Fu Chen sembari melompat-lompat di dinding pembatas. Dinding itu ternyata juga dapat membuat Fu Chen terpantul seperti halnya senjata-senjata disana. Fu Chen sempat terkejut sebelumnya karena ia tidak sengaja menginjaknya.


"Dimana? Dimana?!" Fu Chen melirik kesana kemari sambil menghindari senjata rahasia yang mengarah padanya.


"Aku harus mengakhiri ini dengan cepat!" Fu Chen kembali mengincar salah satu boneka agar ia mendapatkan sebuah petunjuk. Dengan menggunakan ilmu Langkah Bayang, Fu Chen menyelinap ke belakang salah satu boneka.


"Hiroshi Pertama!"


Fu Chen mencincang habis boneka di hadapannya hingga menjadi potongan-potongan kecil. Sedetik berikutnya, Fu Chen merasakan aliran qi yang bergerak naik ke atas. Fu Chen baru menyadari jika ada semacam celah kecil pada dinding penghalang yang di lalui aliran qi itu.


Dengan memanfaatkan medan di sekitarnya, Fu Chen melesat bak sebuah peluru dan mengincar celah kecil pada dinding penghalang di atasnya.


"Heaaah!"


Teriak Fu Chen sesaat sebelum ia menancapkan pedangnya pada lubang kecil yang ia lihat. Saat pedang Fu Chen berhasil mengenainya, pedang itu seperti dihisap kedalam lubang. Fu Chen tak kuasa untuk menahannya, dia terpaksa melepaskan pedang itu dan membuat dirinya terjatuh ke lantai.


Mata Fu Chen melebar saat ia melihat pedang itu sudah habis terhisap. Tidak ada apa-apa yang terjadi. Dia bahkan masih bisa mendengar desisan senjata-senjata rahasia yang membelah udara. Ia telah salah menduga jika itu adalah celah untuk menghentikan ujian ini.


Fu Chen tidak bergerak dari tempatnya, ia sudah menyerah. Jika dengan pedang saja dia masih kesulitan, lalu bagaimana dengan kondisinya saat ini? Bahkan qi miliknya tidak banyak yang tersisa.


Tetua Mao, Tao Lin dan resepsionis Shi terkejut melihatnya. Mata mereka melebar di saat yang bersamaan.


"Apa dia sudah tumbang?!"Tetua Mao tertegun, namun tidak berselang lama, "Cepat matikan!" Tetua Mao yang paling awal tersadar segera menyuruh resepsionis Shi untuk mengakhiri ujian.


"B-baik!" Sahut resepsionis Shi gelagapan. Dia segera menarik semacam tuas di sampingnya.


"Apa ini sudah berakhir?" Desah Fu Chen, pelan. Setelah mendengar suara benda-benda tajam yang terjatuh.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Tao Lin sedikit khawatir dengan junior yang baru saja ia kenal pagi ini.


"Apa aku terlihat seperti itu?" Tanya Fu Chen balik dengan nada yang lemas.


Tao Lin tersenyum bodoh sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Jangan Khawatir… makan ini! Pil itu akan membantu penyembuhanmu." Tetua Mao memberikan Fu Chen sebuah pil berwarna hijau muda. Dia merasa perlu untuk terlihat baik di depan anak ini.


"Terimaksih…" Fu Chen menelan pil itu dalam sekali tegukkan. "Berapa lama aku bertahan?" Tanya Fu Chen lagi, merasa penasaran dengan hasil ujiannya.


"Kau hanya bertahan selama 19 menit. Tapi itu adalah sebuah pencapaian yang bagus karena tetua Mao memintaku untuk meningkatkan level ujiannya ke level tertentu," Jelas resepsionis itu.


Tetua Mao terbatuk pelan mendengarnya, ia kemudian melirik ke arah resepsionis Shi.


"19 menit ya… itu bahkan terasa begitu lama didalam sana," Gumam Fu Chen sambil merenungkan apa saja yang terjadi saat ia ada di dalam lorong itu.