
"Apa bocah itu yang kau maksud saudara Xiao?" Tanya salah satu teman Xiao Jung sambil menunjuk ke arah Fu Chen.
"Ya, bagaimana menurutmu?" Balas Xiao Jung sambil tersenyum tipis.
"Untuk anak seusianya kekuatan seperti itu memang cukup kuat. Tapi aku tidak melihat keistimewaan dari bocah itu."
"Kau akan melihatnya nanti ketika ia mendapatkan musuh yang cukup kuat... Oh ya, apa kau punya pesuruh?"
"Apa maksudmu? aku bukan orang yang seperti itu atau jangan-jangan kau ingin menunjukan pada kami kalau anak itu akan menjadi pesuruh pertama mu?"
"Tentu saja tidak, aku juga bukan orang seperti itu, aku hanya ingin membeli beberapa cemilan… hanya saja aku malas untuk berdiri."
"Aku punya satu orang, aku akan memanggilnya untukmu." Sahut salah satu teman Xiao Jung lainnya.
Pasangan demi pasangan murid baru masuk ke arena untuk menunjukkan kemampuan mereka. Beberapa terlihat membosankan, ada yang tidak berimbang dan ada juga yang cukup menarik untuk di saksikan.
Pertandingan itu berlangsung selama dua hari untuk sampai ke babak 20 besar. Di hari kedua Xiao Jung masih setia menonton pertandingan Fu Chen sedangkan dua orang lainnya memilih untuk berlatih karena merasa jenuh menyaksikan pertandingan yang tidak menarik sama sekali.
Perjalanan Fu Chen dan teman-temannya cukup mulus untuk sampai ke babak 20 besar. Namun yang berhasil masuk ke 20 besar dari Desa mereka hanya empat orang saja. Mereka adalah Qiao Wu, Sin Lou, Kyoto dan Fu Chen.
Sin Lou dan Kyoto mendapatkan lawan yang cukup berat untuk dapat masuk ke babak sepuluh besar. Mereka harus bertarung sengit untuk dapat melaju babak berikutnya.
Di babak ke 20 besar, ada seorang murid yang menjadi pusat perhatian dan menjadi kuda hitam di pertandingan. Di babak sebelumnya nama Tan Bao tidak pernah terdengar sama sekali, namun dalam 20 besar ini dia mengalahkan lawan-lawannya hanya dengan satu pukulan mematikan yang langsung membuat lawannya pingsan.
Kyoto sangat bersyukur sebelumnya karena tidak menjadi lawan Tan Bao meski dari grup yang sama.
Di babak sepuluh besar, mereka kembali mengundi nomor masing-masing. Kali ini Xiao Jung benar-benar memaksa teman-temannya untuk ikut menonton, dia bahkan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk membawa lari kedua temannya yang sedang mendapatkan kelas pelajaran di sekte.
Di kejauhan juga ada Bai Chi yang ikut menonton, di hari sebelumnya dia tidak terlihat sama sekali di sekitaran asrama murid senior. Mungkin dirinya tidak berani menunjukkan wajahnya setelah apa yang di lakukan Xiao Jung.
Pertandingan pertama di buka dengan pertarungan Sin Lou melawan seorang gadis bernama Xiao Yi.
keduanya saling membungkuk memberikan hormat dan berkenalan. Sin Lou sedikit terpesona melihat wajah Qiao Yi yang tirus dan kulit putih bersihnya dengan pipi yang sedikit merona.
Rambut panjangnya yang terikat kebelakang berkibar di hembus angin, membuat Sin Lou sedikit terhipnotis.
"Ternyata ada juga orang sepertimu disini." Keduanya tidak segera menyerang karena ingin mencari waktu yang tepat.
"Apa maksudmu?" tanya Xiao Yi kembali tanpa menurunkan kewaspadaannya, merasa curiga jika Sin Lou hanya ingin mengalihkan perhatian sebelum ia menyerang.
"Kau melihatnya sendiri bukan, wajah mereka tidak terlalu cantik… tapi mereka begitu sombong hingga mereka mengumpati kekalahan yang seharusnya memang milik mereka." Sin Lou mengangkat bahunya sambil berkata santai.
Mereka yang di maksud Sin Lou adalah gadis-gadis yang sempat menjadi lawannya di babak penyisihan.
Merasa apa yang Sin Lou bahas tidaklah penting, Xiao Yi segera berlari kebelakang Sin Lou untuk melancarkan serangan. Suasana menjadi lebih serius, keduanya saling bertukar serangan satu sama lain.
"Apa dia juga dari keluargamu?" tanya teman Xiao Jung padanya.
"Kenapa kau masih menanyakannya, bukankah itu sudah jelas." Jawab Xiao Jung singkat, merasa tidak tertarik dengan apa yang di bahas temannya.
"Apa kau mengenalnya?"
"Tidak, aku juga tidak pernah ikut campur dalam urusan keluarga jadi hentikan pertanyaan tidak bergunamu itu."
Pertarungan Sin Lou berlangsung sengit hingga akhirnya Xiao Yi mengakui kekalahannya. Kekecewaan terlihat jelas si wajah gadis itu, namun ia menyadari jika dirinya masih belum cukup kuat.
"Terimakasih sudah mengalah." Sin Lou menangkupkan kedua tangannya saat pertandingan selesai.
"Tidak perlu sungkan, ku harap kau mendapatkan posisi yang bagus nantinya." Xiao Yi pergi meninggalkan arena setelah mengatakannya. Sin Lou benar-benar terkesima saat melihat Xiao Yi mengatakannya sambil tersenyum.
Di seberang arena, pertarungan Tan Bao berlangsung singkat, lagi-lagi Tang Bao mengakhiri lawannya hanya dengan sekali pukulan tepat mengenai ulu hati lawannya.
"Tidakkah caranya bertarung terlalu kejam? Jika dia terlalu kuat memukul di ulu hati lawannya, maka bisa saja lawannya mati dengan sekali pukulan itu."
"Apa itu benar?" Sahut salah satu teman Xiao Jung.
Xiao Jung melirik ke arah Tetua yang mengawasi jalannya pertandingan dari bangku penonton sebelum mengalihkan perhatiannya pada peserta yang menjadi lawan Tan Bao."Itu benar, beruntung anak itu sudah memperkirakan serangan lawannya, jika tidak maka ia tidak mungkin masih bisa mempertahankan kesadarannya saat ini."
Mereka bertiga memandangi lawan Tan Bao yang memegangi dadanya karena sesak nafas, wasit bahkan sudah memperingati Tan Bao untuk tidak melakukannya, namun anak itu tidak mengindahkan kata-kata wasit sama sekali.
Fu Chen dan Qiao Wu masuk ke babak berikutnya tanpa hambatan karena lawan mereka menyerah sebelum bertanding. Keduanya mungkin berpikir masuk sepuluh besar saja sudah cukup agar dapat mempelajari kitab bela diri yang di janjikkan.
Sin Lou bahkan sampai berdecak kesal karena mereka berdua selalu mendapatkan keberuntungan yang bagus.
Pertarungan terakhir sebelum masuk ke perempat final adalah Kyoto melawan Bai Yan.
Keduanya langsung menyerang saat wasit sudah memberikan aba-aba. Bai Yan dan Kyoto ternyata cukup berimbang, keduanya bertarung dengan intens hingga membuat nafas mereka mulai memburu.
Bai Yan melompat mundur setelah rangkaian serangan yang dia lancarakan. Dia mendapatkan beberapa pukulan di wajah dan perutnya, begitu juga dengan Kyoto.
"Kita lihat, apa kau masih bisa berdiri tegak setelah ini." Bai Yan mengeluarkan dua buah belati dari balik bajunya sambil memasang senyum lebar.
Fu Chen dan yang lainnya sangat terkejut melihat ini, namun saat Qiao Wu baru saja ingin protes, ia segera di hentikan oleh wasit.
"Dalam aturan tidak di sebutkan jika dilarang menggunakan senjata, salahkan diri kalian sendiri karena tidak mendengarkan penuturan Tetua dengan baik." Wasit itu melanjutkan pertarungan setelah mengatakannya.
Bai Chi tersenyum tipis melihat Bai Yan mengambil keputusan yang tepat, sedangkan Fu Chen dan lainnya hanya bisa menggertakkan gigi sambil berharap Kyoto tidak terlalu memaksakan diri.
"Seperti yang di harapkan dari adik Tuan Putri." Xiao Jung tersenyum tipis ketika melihat Bai Yan mulai menyerang dengan kedua belatinya.
"itu benar, tingkahnya tidak jauh berbeda dengan Bai Chi, dia akan menggunakan segala cara agar mendapat posisi teratas."
Keahlian Bai Yan yang sebenarnya memang bukan di pertarungan tangan kosong. Anak itu sudah terbiasa di latih menggunakan belati sejak kecil oleh kakaknya, karena itu dia cukup percaya diri dengan kemampuannya.
Tidak perlu waktu lama sebelum akhirnya Kyoto mengaku kalah, tubuhnya benar-benar kacau dengan di penuhi luka sayatan. Darah segar membasahi bajunya yang robek terkena serangan Bai Yan, bahkan untuk berjalan ia harus di bantu oleh Sin Lou dan Kyoto.
Bai Yan benar-benar tidak memberikan kesempatan Kyoto untuk menghindar sebelumnya, bahkan Kyoto tidak bisa menyatakan kekalahannya karena tidak memiliki kesempatan untuk berbicara.
Sedangkan wasit baru menghadang Bai Yan saat kondisi Kyoto sudah lemas dan di penuhi luka sayatan.
"Kau mengundang kematianmu sendiri." Fu Chen berkata dingin saat berpas-pasan dengan Bai Yan.
Bai yan membalasnya dengan tersenyum sinis, "seharusnya kau gunakan kalimat itu untuk dirimu sendiri."