Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.56 - Salah Paham


Rombongan itu kemudian berhenti saat malam sudah tiba. Fu Chen langsung bergegas menghampiri Xiao Jung untuk menyampaikan sedikit informasi yang ia dapat. Informasi yang Fu Chen dapatkan tidak terlalu banyak, dia hanya mendapatkan informasi mengenai jumlah anggota kelompok itu dan seberapa besar kelompok mereka.


Wanita bernama Hang Xie itu mengatakan jika jumlah anggota kelompok Beruang Hitam telah mencapai angka 400 orang, itupun hanya sebagian besarnya saja. Fu Chen sebenarnya kurang percaya, namun Hang Xie mengatakan jika kekuatan kakaknya setingkat dengan pendekar Raja dan membuat kelompoknya menjadi salah satu yang di segani.


Kakak Hang Xie selaku pemimpin kelompok itu juga memiliki sepuluh anggota yang memiliki kekuatan pada tingkatan Jendral petarung. Fu Chen sebenarnya ingin menanyai banyak hal, namun wanita itu selalu diam setelah memberikan dua informasi yang Fu Chen inginkan.


Fu Chen berniat menyerahkannya pada Xiao Jung karena ia sendiri belum memiliki pengalaman apapun tentang hal seperti ini.


Awalnya Xiao Jung hanya mengacuhkan Fu Chen karena ia sedang berbicara dengan ketua rombongan itu. Namun setelah Fu Chen membisikkan nama kelompok perampok itu, raut wajah Xiao Jung langsung berubah.


Xiao Jung sebenarnya berniat segera menghampiri kawanan perampok yang masih ada di belakang, tapi ia merasa tidak enak hati jika meninggalkan pria paruh baya yang saat ini terus saja berbicara dengannya.


Pria paruh baya itu mengeluarkan banyak sekali makanan dari barang-barang yang ia bawa. Dirinya benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan seorang bangsawan besar setelah mengetahui identitas Xiao Jung.


"Paman tidak perlu mengeluarkan makanan sebanyak itu… paman dapat menyimpannya untuk perjalanan besok," Kata Xiao Jung sambil tersenyum canggung. Dia tidak tau bagaiamana cara menghabiskan makanan yang di berikan pedagang itu.


Namun pria paruh baya itu justru semakin membujuk Xiao Jung untuk menghabiskan makanan yang dia berikan. "Adalah kehormatan bagi kami dapat menjamu Tuan muda Xiao seperti ini… kami akan merasa sangat bersalah jika anda tidak menikmatinya."


Xiao Jung menggaruk pipinya, menjadi keluarga bangsawan tak sepenuhnya menyenangkan bagi Xiao Jung, ia kerap kali di hadapkan dengan situasi-situasi tidak nyaman seperti ini.


"Kalau memang begitu, apa paman punya arak? Aku akan lebih senang untuk minum bersama paman jika paman memilikinya…" Sahut Xiao Jung dengan senyum kecut.


Pedagang itu membawakan sekendi arak untuk mereka habiskan bersama malam itu, sedangkan Fu Chen hanya menyendiri sembari mengawasi para tahanan.


Malam semakin larut, rombongan pedagang itu sudah tertidur pulas karena terlalu banyak minum. Xiao Jung memanfaatkan hal ini untuk mendatkan informasi dari perampok yang mereka tangkap.


Xiao Jung juga melihat Fu Chen yang sudah memejamkan matanya, Xiao Jung mengira jika pemuda itu sudah tertidur sehingga ia membiarkannya. Meskipun mata Fu Chen sudah terpejam, namun ia tidak benar-benar terlelap, anak itu hanya mencoba untuk menenangkan pikirannya.


Saat Xiao Jung berniat untuk melepas tali yang mengikat tangan Hang Xie, Fu Chen seketika membuka mata dan menghunuskan pedangnya kepada Xiao Jung.


Gerakan yang sangat tiba-tiba itu bahkan membuat Xiao Jung begitu terkejut dan mundur beberapa langkah karena mengira pedang itu akan mengenai lehernya.


"Kau belum tidur, Chen'er?" Xiao Jung sangat tidak menyangka jika Fu Chen akan sangat waspada dengan keadaan di sekitarnya meski dengan mata terpejam. Xiao Jung sebenarnya cukup yakin jika ia tidak membuat suara yang tidak berarti saat berjalan di dekat pemuda itu.


"Senior?" Fu Chen mengerutkan dahinya. "Apa yang senior lakukan disini?" Tanya Fu Chen sedikit curiga.


Fu Chen melirik ke arah belakang Xiao Jung dan menemukan semua orang sudah terlelap, gerak-gerik Xiao Jung yang mengendap-ngendap itu sangat mencurigakan bagi Fu Chen.


Xiao Jung tidak pernah berpikir jika Fu Chen akan mencurigainya di saat seperti ini, dia hanya bisa tersenyum kecut membayangkan hal itu. "Sebelum itu, bisa kau turunkan dulu pedangmu ini? Akan sangat menyusahkan jika pedangmu ini mengenai leherku." Xiao Jung berkata santai sambil mengangkat kedua tangannya.


Fu Chen menarik kembali pedangnya secara perlahan, namun matanya masih ***** memandangi Xiao Jung.


Fu Chen menyarungkan pedangnya kembali, raut wajahnya sudah kembali bersahabat. "Maafkan aku, senior! Aku hanya terlalu waspada karena tidak ingin mereka melarikan diri." Fu Chen membingkukkan badannya.


"Lupakan itu…" Xiao Jung mengibaskan tangannya. "Bantu aku membawa wanita ini, aku akan membawa pria kekar satunya dan mari bawa mereka berdua menjauh dari sini." Xiao Jung menyumpalkan sebuah kain pada mulut wanita dan pria kekar itu.


Mereka berdua melompat menjauhi rombongan pedagang yang masih terlelap dalam mimpi mereka masong-masing. Xiao Jung dan Fu Chen membawa pria kekar dan wanita itu cukup jauh, bahkan sampai asap dari api unggun yang di buat rombongan pedagang itu sudah tidak terlihat.


"Senior, apa ini tidak terlalu jauh?" Fu Chen khawatir jika mereka akan kehilangan arah jika terus masuk ke dalam hutan.


"Tidak apa, aku masih bisa merasakan keberadaan rombongan itu." Xiao Jung terus melanjutkan langkahnya hingga ia menemukan tempat yang dirasanya cocok.


Xiao Jung menyandarkan tubuh pria kekar itu di bawah sebatang pohon besar, Fu Chen juga melakukkannya di samping Xiao Jung.


"Hmmph! Hmmmp...!!" Pria kekar itu sedikit meronta dengan mulut yang tertutup oleh kain. Xiao Jung melepaskan kain itu agar dapat mendengar apa yang ingin dia ucapkan.


"Apalagi yang kau inginkan berengsek!!" Sergap pria kekar itu setelah mulutnya terbebas dari sumpalan kain.


Xiao Jung mengorek telinganya dengan wajah datar, ia malas berurusan dengan orang yang tidak dapat melihat seperti apa situasinya. Xiao Jung kemudian melirik ke arah Hang Xie yang sejak tadi hanya terdiam, wanita ini terlihat lebih cerdas di mata Xiao Jung.


Xiao Jung berjongkok agar pandangannya dapat sejajar dengan pria kekar di depannya. "Kau pasti tau kan dimana markas terdekat kalian di daerah ini? Katakan lokasinya selagi aku bicara baik-baik," Kata Xiao Jung, sinis.


Cuih!


Pria kekar itu meludah, ia tertawa lebar dan melototi Xiao Jung. "Kau pikir siapa dirimu bocah? Meski kau membunuhku sekalipun aku tidak akan membuka suara!"


Raut wajah Xiao Jung menjadi dingin, dia menempelkan tangannya ke kepala pria kekar itu. Dari telapak tangannya keluar sedikit cahaya redup, orang lain tidak akan bisa melihatnya kecuali ia mengamati dari dekat.


Xiao Jung mengacaukan beberapa saraf di kepala pria kekar itu dengan mengalirkan sedikit qi ke otaknya, lekas membuat pria kekar itu meronta-ronta dengan tubuhnya yang bergetar hebat.


"Kalian selalu mengatakannya dengan bangga seolah apa yang kalian lakukan sangat terpuji. Apa kau lupa seberapa bengisnya kelompokmu itu?" Xiao Jung menarik kembali tangannya setelah itu.


Pria kekar itu masih dapat mempertahankan kesadarannya meski kondisinya sangat buruk. "Kami memang kotor, tapi bukan berarti kami akan mengkhianati satu sama lain hanya karena di hadapkan dengan kematian." Pria kekar itu berkata lemah dan terbata-bata.


Xiao Jung mendengus sejenak, ia lalu menyodorkan tangannya pada Fu Chen.


"Berikan pedangmu!" Pinta Xiao Jung singkat.


Fu Chen memberikan pedangnya begitu saja, agaknya ia sudah mengerti apa yang Xiao Jung ingin lakukan. Lagipula pedang itu juga tidak akan bertahan lama karena ia sudah memiliki beberapa retakan.


Fu Chen sedikit menjauh, ia bersandar pada sebatang pohon dan membelakangi Xiao Jung. Matanya terpejam sambil berusaha menguatkan diri, mentalnya masih terlalu lemah untuk melihat hal yang akan Xiao Jung lakukan.