
"Bagaimana keadaan Kyoto? apa dia baik-baik saja?" tanya Qiao Wu saat Fu Chen dan Sin Lou keluar dari ruang perawatan.
Fu Chen dan Sin Lou menghela nafas sebelum menggelengkan kepalanya.
"Kyoto saat ini sedang tidak sadarkan diri, mungkin perlu beberapa hari agar lukanya sembuh total." Xiao Chen mengepal kuat tangannya, ia berjanji akan membalas perbuatan Bai Yan berkali-kali lipat.
Setelah melihat Sin Lou kembali bersama Fu Chen, wasit segera melanjutkan pertandingan berikutnya.
Sin Lou benar-benar tidak beruntung kali ini karena harus melawan Tan Bao. Sin Lou menelan ludahnya, merasa ragu untuk masuk ke arena, tapi demi calon adik iparnya, ia harus tetap terlihat kuat apapun resiko yang harus ia hadapi.
Sin Lou memasang konsentrasi penuh pada pertahan area perut dan ulu hatinya. Dari beberapa pertandingan Tan Bao yang ia lihat, anak itu selalu melesat sejak awal untuk melepaskan pukulan mautnya.
Namun dugaan Sin Lou salah, saat Sin Lou memfokuskan pandangannya pada tangan kanan Tan Bao yang mengincar bagian perutnya, tangan kiri Tan Bao juga bergerak mengincar kepala Sin Lou.
Karena hal itu Sin Lou yang sudah terlanjur mencondongkan tubuhnya ke depan terpaksa menerima pukulan telak di wajahnya. Yang membuat Sin Lou terpundur beberapa langkah sambil memegangi hidungnya yang berdarah.
"Sial, anak ini lebih hebat dari perkiraanku." Sin Lou berusaha untuk mengambil jarak lebih jauh dari Tan Bao.
Namun apalah daya, Tan Bao tidak ingin sama sekali memberikan Sin Lou kesempatan untuk menenangkan diri. Kali ini serangan Tan Bao lebih acak dari sebelumnya, gerakannya sudah tidak bisa di prediksi oleh Sin Lou.
"Aku kira anak itu hanya bisa melakukan One Punch, ternyata dia cukup lihai dalam bela diri."
"Hm? Bahasa apa lagi yang kau gunakan, sialan?" tanya Xiao Jung.
"Itu lah akibatnya jika kau tidak pernah mengikuti kelas, Tetua bilang jika bahasa itu berasal dari benua barat. " Balas teman Xiao Jung sambil menyungingkan senyumnya.
"Woah, pengetahuanmu cukup luas, tapi kenapa kau masih di belum menembus jendral petarung tahap menengah?" Xiao Jung menyikuti lengan temannya.
"Sial, jika aku menggunakan sumber daya sebanyak yang kau gunakan, maka kekuatan kita tidak akan terpaut jauh." Jawab teman Xiao Jung kesal.
Di arena sendiri pertarungan Sin Lou dan Tan Bao sudah berada di titik puncaknya. Sin Lou terkapar di arena dengan muka lebam dan tidak bisa melanjutkan pertarungan, yang membuat Tan Bao langsung melaju ke babak final.
"Apa aku tidak bisa memukulnya sekali lagi? ini sangat memalukan." Sin Lou pasrah menyadari kondisinya saat ini, tubuhnya terasa sangat sulit untuk di gerakkan.
Tan Bao mengusap pipinya yang terkena pukulan Sin Lou di pertukaran serangan terkahir mereka. "Aku akui, kemampuan fisikmu sangat hebat… kau bahkan bisa bertahan setelah menerima beberapa pukulanku, tidak banyak yang bisa melakukannya."
Sin Lou tertawa kecil mendengar ucapan Tan Bao, "Bisakah kau bantu aku berdiri?"
Tan Bao melirik ke arah Sin Lou sejenak sebelum membantunya berdiri.
"Terimakasih." Ujar Sin Lou setelah berhasil berdiri.
"Hm, aku menantikan pertarungan kita selanjutnya." Baru saja Tan Bao ingin pergi namun Sin Lou kembali memanggilnya.
"Eheh… aku tidak bisa berjalan, jadi-"
"Baiklah," Tan Bao menghela nafas sejenak sebelum mengantar Sin Lou ke ruang perawatan.
"Ternyata dia anak yang baik." Komentar Fu Chen saat melihat Tan Bao membantu Sin Lou.
Fu Chen kemudian masuk ke arena saat namanya di sebutkan. Fu Chen sangat berharap bisa melawan Bai Yan saat ini, namun harapannya runtuh karena Qiao Wu yang justru menjadi lawannya.
"Kenapa kau hanya diam? apa kau ingin aku memukulmu lebih dulu?" Qiao Wu geram melihat Fu Chen hanya berdiri layaknya orang bodoh.
"Tentu tidak, aku hanya tidak tega memukul seorang gadis."
"Apa kau meremehkanku? aku akan tetap menghajarmu meski kau mengerahkan seluruh kemampuanmu." Qiao Wu menyunggingan senyum sombongnya tanpa memikirkan konsekuensi dari ucapannya.
'Benar juga, anak ini bertingkah aneh padaku belakangan ini, mungkin ini bisa membuatnya membuka suara.' Fu Chen tersenyum tipis ketika memikirkannya.
"Baiklah, jangan menyesal karena telah menantangku." Fu Chen tersenyum lebar lalu melesat ke arah Qiao Wu.
Qiao Wu sangat terkejut karena Fu Chen yang tiba-tiba bergerak menyerangnya, beruntung dirinya masih bisa menghindari pukulan keras yang di layangkan oleh Fu Chen.
"Kau gila ya? apa kau ingin membunuhku?" Qiao Wu menelan ludahnya saat melihat retakan kecil di tempat yang tadi ia pijaki.
"Kau sendiri yang memintanya bukan?" Fu Chen kembali melesat ke arah Qiao Wu. Meski bukan kekuatan penuhnya, tapi itu cukup untuk mengalahkan Qiao Wu.
"Hoho, lihatlah anak itu, dia benar-benar tidak pandang bulu pada musuhnya." Dua teman Xiao Jung tertawa puas melihat pertunjukan Fu Chen. Mereka sangat bahagia saat melihat Qiao Wu kesusahan melompat kesana kemari layaknya anak ayam.
Xiao Jung menepuk keningnya melihat aksi Fu Chen, "dasar anak ini, apa dia berniat membunuh penggemarnya sendiri?"
"Kyaaa!! Aku menyerah! aku menyerah!" Qiao Wu berteriak keras saat pukulan Fu Chen hampir mengenai wajahnya.
"Huh?" Beruntung Fu Chen masih bisa menghentikan serangannya di saat yang tepat.
"Ada apa? kenapa kau menyerah?"tanya Fu Chen kebingungan, padahal gadis itu begitu lantang menantangnya.
"Tentu saja, apa kau benar-benar ingin menghancurkan wajahku?!" Qiao Wu membentak Fu Chen dengan kesal.
"Bukankah kau sendiri yang memintanya? lagi pula aku sudah mengatakan jangan menyesal karena menantangku." Fu Chen menjawab santai tanpa perasaan bersalah.
Qiao Wu merasa sangat geram pada Fu Chen, ingin sekali rasanya ia melemparkan sepatunya pada Fu Chen agar anak itu tersadar. 'oh Dewa, apa yang dipikirkan anak ini hingga ia menggap serius semua ucapanku?'
Qiao Wu menangis dalam hatinya, semua bayangan saat Fu Chen akan menangkapnya ketika ia terjatuh hancur di telan realita.
"Kenapa kau hanya diam? apa kau baik-baik saja?"
"Tidak, aku sedang tidak baik." Qiao Wu memayunkan bibirnya kemudian pergi meninggalkan arena dengan lesu.
"Anak itu benar-benar payah, sepertinya aku harus menurunkan ilmuku padanya agar dia tidak sebodoh ini." Xiao Jung mengusap-ngusap wajahnya frustasi.
"Jadi anak itu yang kau maksud?" tanya teman Xiao Jung.
"Kemana saja kau selama ini? aku sudah mengatakannya sejak kemarin."
Xiao Jung kemudian kembali memperhatikan arena pertandingan. Pertarungan selanjutnya akan layak untuk di saksikan karena jagoannya akan melawan adik sang Tuan Putri.
Wasit langsung melanjutkan pertandingan karena Fu Chen sebelumnya juga tidak mendapatkan luka apa-apa.