
Fu Chen frustasi karena Li Han tidak juga muncul meski satu minggu telah berlalu. Ia memang terlalu sering ke perpustakaan hingga tidak terlalu akrab dengan yang lainnya.
Sin Lou dan Kyoto bahkan sering ia acuhkan karena terlalu fokus berlatih. Dia baru menyesali hal itu sekarang.
Hari berikutnya Fu Chen memilih berlatih seorang diri di pinggiran danau. Ia mencoba kembali melatih kemampuan berpedangnya. Ia menyadari kekurangannya dari pertarungan dengan Tao Lin tempo hari.
Fu Chen berlatih hingga hari beranjak petang. Beberapa kali ia mencoba untuk mengkombinasikan ilmu pedang Arus Jeram nya dengan ilmu Tarian Bayangan. Fu Chen pikir ia dapat menggabungkan Kedua jurus itu karena sama-sama mengandalkan kecepatan.
Hasilnya cukup memuaskan menurutnya. Meski hanya berlatih dengan ranting, ia dapat menggabungkan beberapa gerakan dari kedua jurus itu.
Fu Chen kemudian terduduk dengan kepala mendongak ke langit. Bajunya basah kuyup karena keringat yang begitu banyak.
"Kapan tetua Li akan kembali…? Apa aku harus menunggunya?" Gumam Fu Chen sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat. Cukup lama ia terdiam memandanginya sebelum sebuah pikiran menyadarkannya.
"Tidak, tidak! Sejak kapan aku bergantung pada orang lain seperti ini? Aku akan meminta tetua lain menjadi saksiku nanti!" Fu Chen menggelengkan kepalanya, berusaha untuk meyakinkan diri.
***
Pagi-pagi buta Fu Chen datang mengunjungi perpustakaan. Disana ia masih tidak menemukan kakek tua yang ia cari. Merasa yakin dengan keputusannya, Fu Chen coba bertanya pada pelayan wanita disana dan menanyai lokasi kediaman para tetua.
Pelayan itu menunjukkan arah dengan detail dan memberi tahukan nama-nama tetua yang tinggal di setiap tempat yang ia tunjuk.
Fu Chen menganggukkan kepalanya dan berterimakasih pada pelayan itu sebelum bergegas pergi.
Fu Chen melesat dengan ilmu meringankan tubuhnya meski ada larangan di sekte itu untuk tidak menggunakannya.
Fu Chen menghampiri sebuah vila yang cukup besar sebagai tujuan pertamanya. Disana juga banyak murid-murid yang sedang berlatih. Spertinya mereka adalah murid di bawah bimbingan tetua yang menempati tempat itu.
"Senior! Apa tetua sedang berada di kediamannya?" Tanya Fu Chen pada seorang murid yang beristirahat.
Murid itu melirik ke arah Fu Chen. "Iya, ada apa?" Balasnya singkat.
"Aku ada sedikit urusan. Bisakah senior mengantarku menemui tetua?" Pinta Fu Chen dengan nada yang sopan.
Murid itu tidak segera menjawab, dia mengamati Fu Chen dari atas sampai bawah sejenak. "Ikuti aku!"
Fu Chen mengikuti pemuda itu dengan senyuman lebar. Berharap tetua itu mau menjadi saksinya. Fu Chen di bawa ke halaman belakang vila itu. Disana beberapa orang sedang memukuli samsak kayu dengan serius.
Sedangkan seorang pria paruh baya yang terlihat berumur 45 tahun sedang duduk di bawah pohon besar sembari mengamati murid-muridnya. Pemuda yang Fu Chen temui tadi membawanya pada pria itu.
"Guru … aku membawa seseorang yang ingin bertemu denganmu." Sapa pemuda itu dengan sopan.
"Ada apa?" Tanya tetua itu. Masih mengamai murid-muridnya.
Pemuda yang mengantar Fu Chen tadi melirik ke arahnya. Memberikan isyarat untuk segera menjawab.
Fu Chen sedikit ragu, tapi ia sudah terlanjur berada disini. "Maaf jika murid ini lancang sebelumnya. Jika tetua berkenan, maukah tetua menjadi saksi untukku menjadi bagian murid dalam?" Tanya Fu Chen sedikit terbata-bata.
Tetua itu melirik ke arah Fu Chen, ia memandang Fu Chen dari atas sampai bawah. Wajah datar tetua itu membuat Fu Chen menegak ludahnya.
"Kembalilah … aku tidak punya waktu mengurusi hal demikian." Balas tetua itu, pendek.
Fu Chen agaknya mengerti alasan tetua itu. Ia sedikit kecewa, tapi tidak bisa ia perlihatkan.
"Baiklah… terimakasih, tetua." Fu Chen memberikan hormatnya lalu meninggalkan tetua itu.
Pemuda sebelumnya masih mengantar Fu Chen sampai ke teras depan. "Sebaiknya kau meminta bantuan kepada tetua Bai. Dia terlihat memiliki banyak waktu untuk mengurusimu." Saran pemuda itu sebelum kembali masuk, tanpa menunggu balasan Fu Chen.
"Tetua Bai?" Gumam Fu Chen sambil mengingat beberapa kejadian yang ia alami. "Sebaiknya tidak, lebih baik aku mencari tetua yang lain meski lebih sulit." Fu Chen hanya bisa tersenyum kecut mengingat dirinya mempunyai masalah dengan Bai bersaudara.
Fu Chen terus berada di kediaman para tetua sampai beberapa jam. Lelah sudah pasti ia rasakan. Bahkan ia harus membuang rasa malunya jauh-jauh. Hampir semua tetua sudah ia temui namun kebanyakan beralasan tidak memiliki waktu.
Fu Chen benar-benar tidak habis pikir jika meminta bantuan seorang tetua sangat menyulitkan. Fu Chen kemudian memasuki kediaman yang cukup sepi. Hanya beberapa murid saja yang sedang berlatih disana.
Semua yang ada di halaman itu menghentikan kegiatan mereka dan memandangi Fu Chen dengan tatapan aneh. Fu Chen menelan ludahnya lalu tersenyum layaknya orang bodoh.
"Ada apa?" Tanya seorang pemuda bertubuh kekar.
"Apa tetua Wang ada di dalam?" Tanya Fu Chen, langsung pada inti pembahasan.
"Tidak ada. Tetua sedang menjalani misi. Ada keperluan apa? Akan ku sampaikan saat ia kembali." Sahut pemuda kekar itu.
"Ah, begitu ya." Tubuh Fu Chen menjadi lemas, seketika semangatnya menurun drastis. "Terimakasih."
Pemuda berotot itu memiringkan kepalanya heran dengan Fu Chen. Baru beberapa langkah keduanya berjalan, Fu Chen kemudian teringat dengan seorang tetua yang mungkin bisa membantunya.
"Ah, senior…" Panggil Fu Chen kembali, membuat pemuda berotot itu memutar bola matanya.
"Apa lagi?" Sahut pemuda itu ketus.
"Apa senior tahu dimana kediaman tetua yang melatih senior Tao Lin?" Tanya Fu Chen, sumringah.
"Yang melatih Tao Lin…?" Pemuda berotot itu berpikir sejenak. "Ah, maksudmu tetua Mao?" Kata pemuda itu setelah berhasil mengingat sesuatu.
"Mungkin…" Fu Chen sendiri tidak tau siapa nama tetua itu.
"Kediamannya tidak jauh dari sini…" Pemuda berotot itu mulai memberikan arahan pada Fu Chen.
Fu Chen tersenyum lebar. Ia berterimakasih pada pemuda itu lalu berlari kecil menuju kediaman tetua Mao yang di sebutkan pemuda sebelumnya.
Berlarian layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan uang dari ibunya. Tanpa mengetahui hasil yang akan ia dapatkan. Itulah gambaran sosok Fu Chen saat ini.
Fu Chen menarik nafas panjang setelah menemukan kediaman tetua Mao. Baru saja ia ingin membuka pintu gerbang, tetapi pintu itu sudah terbuka lebih dulu dari dalam.
"Fu Chen?" Ujar seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah tetua Mao.
Fu Chen tersenyum canggung sambil mengelus tengkuknya. "Be-benar, tetua…"
"Ada perlu apa kau kemari?" Tanya tetua Mao sambil membukakan gerbang lebih lebar.
"Itu … ini mengenai token yang ku dapatkan tempo hari…"
"Apa kau menghilangkannya?" Potong tetua Mao karena Fu Chen terlihat ragu mengatakannya.
"Ah tidak, bukan begitu." Fu Chen menarik nafas sejenak.
"Lalu?" Tanya tetua itu lagi. Heran dengan tingkah Fu Chen.
"Aku berencana menukarnya untuk menjadi murid dalam. Jadi… apa tetua memiliki waktu untuk menjadi saksi kenaikanku?" Fu Chen menghela nafas pelan setelahnya.
"Begitu ya … Kau cukup beruntung karena Tao Lin juga akan melakukannya besok."
Fu Chen menaikan alisnya. "Secepat itu?" Sulit di percaya jika anak itu mendapatkan posisinya kembali dalam beberapa hari saja. Namun itulah kenyataannya.
Tetua Mao menyunggingkan senyumnya. "Bukankah sudah ku katakan. Dia akan mendapatkannya kembali dalam waktu dekat."
"Kau bisa datang esok pagi ke administrasi jika ingin aku menjadi saksimu." Setelahnya, tetua Mao meninggalkan Fu Chen seorang diri di depan kediamannya. Ia terlihat sedang terburu-buru.
Fu Chen menganggukan kepalanya dengan senyuman lebar. Kemudian ia juga berniat pergi, namun langkahnya terhenti melihat pintu gerbang yang masih terbuka lebar.
"Tetua sepertinya lupa menutup pintu ini."
Like and komennya gaes^ω^ See u next Chapter~