Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.43 - Perebutan Tahta


Dua hari telah berlalu sejak pengejaran malam itu. Namun bukan berarti kondisi Meng Tian dan Meng Zhi menjadi lebih baik. Keduanya jatuh sakit akibat menerjang cuaca buruk dalam dinginnya malam.


Kecemasan juga terukir di wajah Jendral Jia Lu. Ia bahkan mengerahkan pasukan pengintai untuk mencari informasi keadaan ibu kota kekaisaran Meng, selagi menunggu kepulihan Meng Tian.


"Bagaimana ini Jendral? Apa sebaiknya kita segera memberi kabar pada Kaisar?" Tanya Komandan pasukan pada Jia Lu.


"Kita belum tau pasti apa yang terjadi. Kita harus menunggu Pangeran Tian sadarkan diri untuk menanyakan situasinya." Jia Lu menghela nafas.


Beberapa bulan terakhir memang banyak sekali laporan kekacauan di kekasairan Meng. Jendral Jia Lu sebenarnya dapat menebak apa yang terjadi, namun ia tidak ingin menyimpulkannya terlalu cepat.


Jia Lu dan Komandan pasukan mengecek setiap laporan yang di berikan oleh para prajurit. Semua informasi yang mereka terima belum ada yang berkaitan dengan kasus Pangeran Tian. Hal itu membuat Jia Lu mengusap-ngusap keningnya memikirkan kemungkinan yang terjadi.


Dalam keheningan itu, seseorang mengetuk ruang kerja Jendral Jia Lu.


Seorang pelayan yang bertugas mengurus Meng Tian dan adiknya masuk ke ruangan setelah di izinkan masuk. "Pangeran Tian telah sadarkan diri, saat ini beliau berada di kamarnya."


Wajah Jia Lu seketika berubah cerah, angin segar seolah menerpa dirinya. "Antar aku kesana!" Jendral Jia Lu menghampiri Meng Tian dengan senyuman lebar. Bebannya terasa sedikit terangkat.


Jendral Jia Lu membuka pintu kamar Meng Tian perlahan. Ia melihat sosok Meng Tian sedang memandangi hutan di luar jendela dengan tatapan kosong. Sepertinya pikiran Meng Tian sedang tidak ada disana.


"Pangeran?" Panggil Jia Lu pelan karena tidak ingin mengejutkan Meng Tian.


Meng Tian menoleh dan raut wajahnya sedikit berubah. Ia berusaha untuk tersenyum meski di paksakan. "Jendral Jia Lu… Bagaiamana keadaan adikku?"


"Dia baik-baik saja, hanya saja ia belum sadarkan diri." Balas Jendral Jia Lu dan duduk di samping ranjang Meng Tian.


"Begitu ya…" Gumam Meng Tian pelan, " terimakasih sudah menolong kami Jendral. Aku tidak tau harus kemana selain ke perbatasan ini."


"Jangan sungkan," Jendral Jia Lu memperhatikan tubuh Meng Tian yang di penuhi luka, ia menduga luka itu karena Meng Tian menerobods rumput-rumput tajam di hutan malam itu. Jendral Jia Lu merasa takjub dengan kegigihan Meng Tian tanpa memperdulikan luka di tubuhnya.


Dalam keheningan yang sesaat itu, Meng Tian mulai berbicara tentang kondisi di Ibu Kota Kekaisaran Meng. Sepertinya ia memahami kesulitan yang di alami Jendral Jia Lu dalam beberapa hari ini.


Meng Tian menceritakan awal mula kudeta yang di lakukan kakaknya karena sang Kaisar yang merupakan ayahnya sendiri akan mewariskan tahtanya pada Dirinya. Ayah Meng Tian sangat memahami jika Pangeran Guanji tidak cocok sebagai pemimpin.


Berbeda dengan Meng Tian yang sangat cerdas dalam mengurus berbagai urusan kekaisaran. Pangeran Guanji adalah sosok yang berbakat di dunia persilatan. Namun karena sikapnya yang ambisius membuat Kaisar Meng khawatir dengan keadaan negerinya di masa depan.


Namun keputusan Kaisar itu menimbulkan bencana yang tidak terelakkan. Pangeran Guanji yang saat itu sedang di telan kemarahan pergi meninggalkan istana dan bergabung dengan sebuah kelompok besar aliran hitam di kekaisaran Meng.


Kelompok itu tentu saja menyambut Pangeran Guanji dengan gembira. Mereka tau jika Pangeran yang satu ini memiliki ambisi yang besar, sehingga mereka dapat mengendalikannya dari balik layar.


Beberapa bulan setelah kepergian Pangeran Guanji dari istana, Keributan mulai muncul di setiap sudut kekaisaran. Para pendekar dan pasukan kekaisaran saling bekerjama untuk memberantas setiap kekacauan yang di buat oleh kelompok yang sama dengan Pangeran Guanji.


Kelompok itu bahkan terus bertambah besar setiap mereka melancarkan aksinya. Mereka merekrut banyak pendekar dan kelompok-kelompok kecil di aliran hitam. Bahkan ada beberapa sekte aliran putih yang berlindung di balik naungan kelompok itu.


Kelompok itu kemudian semakin menjadi-jadi, mereka tidak hanya membuat kekacauan di kota-kota melainkan menyerang sekte-sekte besar dan merebut pusaka sekte itu.


Tujuan kelompok itu tidak lain adalah memperkuat diri mereka sebelum menyerang Ibu Kota. Kaisar Meng yang saat itu sedang menjabat merasa geram dan marah. Dia melimpahkan banyak sumber daya bagi sekte yang mau membantunya, namun hal itu tidak membuat pihaknya lebih baik.


Pada serangan pertama kelompok itu ke ibu kota, mereka berhasil membunuh hampir seperempat pasukan kekaisaran dan membunuh semua selir juga permaisuri. Kejadian itu membuat Kaisar Meng tidak bisa berpikir jernih.


Sehingga pada serangan kedua mereka ke Ibu Kota, kelompok itu beserta Pangeran Guanji berhasil membunuh Kaisar Meng.


Saat itu Jendral Ji Furan yang bertugas menjaga Meng Tian dan adiknya membawa mereka untuk melarikan diri. Namun karena banyaknya luka yang ia dapatkan dari pertarungan sebelumnya membuat Jendral Ji Furan tidak bisa bergerak bebas.


Meng Tian yang saat itu melihat Jendral Ji Furan mengorbankan dirinya untuk menghadang musuh yang mengejar mereka memutuskan untuk membawa adiknya ke perbatasan Kekaisaran Song. Tempat dimana saat ini ia berada.


***


Jendral Jia Lu menggertakkan giginya saat mendengar cerita Meng Tian. Dia tidak menyangka jika Pangeran Guanji akan melakukan kudeta dengan bekerja sama kelompok aliran hitam.


Jendral Jia Lu memahami situasi ini akan sangat berpengaruh, bahkan untuk kekaisaran mereka sekalipun. Pangeran Guanji yang di kenal ambisius itu pasti akan memperluas wilayahnya dalam waktu dekat.


"Ini benar-benar kacau. Aku tidak menyangka Pangeran Guanji akan bertindak sejauh itu." Jendral Jia Lu bergumam sambil mengepalkan tangannya. Namun Meng Tian masih dapat mendengar gumaman Jendral Jia Lu.


Meng Tian kembali memandang keluar jendela, pandangannya kembali kosong. Kejadian kala itu terlalu cepat, ia bahkan tidak sempat untuk bersedih dan menangis sama sekali.


Jendral Jia Lu yang melihat kondisi Meng Tian merasa perlu membiarkannya menenangkan diri terlebih dahulu. Kejadian itu pasti sangat berat baginya.


"Istirahatlah Pangeran Tian! Aku akan segera mengabarkan hal ini pada Kaisar. Ku harap beliau membiarkanmu tinggal di negerinya."


"Terimakasih Jendral Jia…" Ujar Meng Tian sambil tersenyum lembut.


***


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah aula isatana yang cukup luas. Seorang Pemuda berusia 20 tahun terlihat sedang menampari bawahannya yang berlutut.


Pemuda itu terlihat begitu marah mendengar kegagalan yang di lakukan bawahannya. Dia adalah Pangeran Guanji, di belakangnya ada seseorang yang memakai jubah putih bersih dengan sedikit keemasan.


Sedangkan pria paruh baya yang di marahinya adalah ketua kelompok yang mengejar Meng Tian. Ketua kelompok itu hanya bisa memendam amarahnya dalam hati karena sosok yang di belakang pangeran Guanji.


Ia baru saja tiba di istana beberapa saat yang lalu dan langsung di mintai keterangan tentang tugasnya tanpa di berikan waktu istirahat sedikitpun.


Pangeran Guanji baru saja mencabut pedangnya berniat untuk menebas bawahan tidak berguna di hadapannya, namun segera di hentikan oleh sosok berjubah putih di belakangnya.


"Sudahlah Pangeran. Anak itu tidak akan bisa merebut tahtamu kembali, ia tidak mempunyai kuasa untuk meminta bantuan kaisar Song." Ujar sosok itu sambil menurunkan pedang di tangan Guanji. "Lebih baik anda mempersiapkan diri untuk penobatanmu besok. Kau harus tampil memukau di hadapan rakyatmu!"


Pangeran Guanji berdecak kesal, namun ia membenarkan ucapan sosok itu. "Baiklah, kau urus bedebah tidak berguna ini." Guanji meninggalkan aula setelah mengatakannya.


Sosok berjubah putih itu tersenyum tipis. Membuat ketua kelompok pengejar itu keringat dingin.


"Hamba mohon patriark… mohon ampuni hamba!" ujar ketua kelompok itu setengah berteriak.


"Kau berani meninggikan suaramu di hadapanku?" Sosok berjubah itu bertanya dingin. Tapi ia tidak membiarkan orang yang ia tanyai menjawab. Ia mengibaskan tangannya dan seketika leher ketua kelompok pengejar itu terputus.


Darah membasahi lantai di sekitar tubuh tak bernyawa milik ketua kelompok itu. Tanpa disuruh sekalipun beberapa prajurit dan dayang disana segera membersihkannya dan membawa mayat itu keluar.


"Selanjutnya aku hanya perlu mencari pusaka yang di inginkan orang itu." Sosok berjubah putih itu terlihat tidak senang saat mengatakannya.