
Pedang Fu Chen tidak bisa membuat para peserta itu langsung tumbang, namun hal lebih parah terjadi. banyak bagian tubuh mereka yang memar dan beberapa patah tulang.
Hal itu bahkan lebih sakit daripada luka goresan yang biasa di berikan pendekar. Sebagian dari mereka berusaha untuk kabur, namun Fu Chen tidak membiarkannya begitu saja.
"Kalian sudah susah payah mengikuti ku kesini. Kenapa sekarang kalian ingin pergi?" Ucap Fu Chen sembari mengayunkan pedangnya.
Jantung Fu Chen berdetak kencang, sudah lama ia tidak bersemangat seperti ini. Tebasan Fu Chen yang disertai senyuman diwajahnya membuat peserta lain bergidik ngeri.
Tidak terbayangkan di pikiran mereka bahwa anak yang mereka kira lemah ternyata sangat mengerikan. Meski melawan cukup banyak orang, namun belum ada tanda-tanda jika Fu Chen akan kelelahan.
Tidak butuh waktu lama bagi Fu Chen mengalahkan mereka. sebagian tidak sadarkan diri sementara sebagian lainnya terpaksa memberikan pin masing-masing pada Fu Chen.
Fu Chen cukup puas dengan hasilnya, di hari pertama dia telah berhasil mengumpulkan belasan pin. Dengan ini seharusnya dia bisa fokus untuk bertahan dihari pertama.
Fu Chen segera meninggalkan peserta yang tergeletak disana, dia yakin akan ada peserta lain maupun binatang buas yang akan datang.
Dari kejauhan, nampak seorang pengintai yang mengamati Fu Chen. Pengintai itu sempat tertegun dengan kemampuan Fu Chen yang berhasil mengalahkan belasan pendekar seorang diri.
Dia mengira itu akan menjadi pertarungan diantara belasan pendekar itu karena mereka berkumpul di satu tempat. Pengintai itu lekas menulis sebuah surat usai Fu Chen menjauh.
Dia mengikat surat itu pada seekor burung elang sebelum akhirnya pergi mencari peserta lainnya.
Fu Chen mencari tempat untuk bersembunyi, sebenarnya Fu Chen telah menyadari jika dia diawasi seseorang. Namun ia sengaja mengacuhkannya karena dia nampak tidak ingin ikut campur.
Fu Chen tidak perlu khawatir tentang persediaan makanan, sebab dirinya telah menyimpan banyak makanan di cincin Bumi miliknya. Untuk sementara waktu dia akan mempelajari struktur hutan, mencegah seandainya beberapa peserta memasang jebakan.
Saat malam tiba, Fu Chen menyudahi kegiatannya menelusuri hutan. Dalam perjalanannya Fu Chen juga sempat melawan beberapa pendekar sehingga pin miliknya pun telah mencapai angka 20.
Fu Chen beristirahat pada salah satu dahan pohon, ia tidak ingin membuat semacam api unggun karena akan menarik perhatian musuh maupun hewan buas.
Fu Chen akan memulihkan stamina tubuhnya malam ini, dia berencana berburu pin ketika matahari akan muncul. Dia yakin akan banyak peserta yang bergerak di waktu itu.
**
"Liu Zhiyong! Kau pikir bisa lari dariku?" Seorang pria paruh baya melesat diantara pepohonan.
Wajahnya merah padam, sepertinya seseorang bernama Liu Zhiyong itu telah membuatnya murka. Keduanya melesat cukup cepat hingga dapat mengagetkan peserta lainnya.
"Keparat! Kemana kau ingin lari?" Pria itu mengumpat.
Liu Zhiyong hanya tersenyum tipis menanggapinya, meski pria yang mengejarnya berada di ranah Jenderal Petarung. Liu Zhiyong sebenarnya telah terlibat konflik dengan pria itu sejak di Kota.
Keduanya sempat berselisih karena pria itu berhasil mendapatkan barang yang di incar Liu Zhiyong disebuah pelelangan. Liu Zhiyong terus mengikutinya hingga berakhir menjadi peserta dalam turnamen.
Liu Zhiyong bukan tidak tertarik dengan penelusuran, hanya saja dia telah berada di kelompok yang dipastikan akan lolos di turnamen ini.
Benda yang diambil Liu Zhiyong adalah sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu. Liu Zhiyong mengincarnya karena sebuah pil yang tersimpan didalamnya. Pil itu akan sangat membantu kultivasinya yang sempat terhenti.
Liu Zhiyong tidak begitu peduli dengan umpatan pria yang mengejar dibelakang. Dengan kekuatannya saat ini, mudah untuk menjauh dari pria itu.
Setelah cukup lama berlari pria yang mengejar Liu Zhiyong itu mulai kelelahan. Jarak diantara mereka semakin menjauh, dengan kondisi hutan yang tertutup akhirnya pria itu kehilangan jejak Liu Zhiyong.
"Aku akan membunuhnya saat semua ini selesai!" Rahang pria itu menjadi tegang, dia mendengus sejenak sebelum pergi.
Liu Zhiyong memperlambat langkah ketika ia sudah tidak merasakan keberadaan pria yang mengejarnya.
"Bajingan bodoh… kau pikir bisa menyamai kecepatan ku?" Liu Zhiyong tersenyum tipis.
Ia lekas mengedarkan pandangan ketika mengendus aroma lezat dari sebuah daging, lebih tepatnya adalah daging panggang.
Liu Zhiyong menelusuri sekitarnya mencari sumber aroma tersebut. Di menemukannya setelah beberapa saat, ia menajamkan matanya untuk mengamati seseorang yang sedang duduk di dahan pohon, tentu dengan daging panggang di tangannya.
Liu Zhiyong merasa heran karena ia tidak bisa merasakan kehadiran orang itu disana.
"Apa yang kau lakukan?" Fu Chen merasa terganggu karena seseorang menatapnya dengan tajam sejak tadi.
"Justru seharusnya itu menjadi pertanyaan ku," sahut Liu Zhiyong. Dia tidak menyangka ada peserta seusia Fu Chen yang mendaftar turnamen.
"Seperti yang kau lihat aku sedang makan." Fu Chen menjawab singkat.
"Apa-apaan sikapnya itu?" gumam Liu Zhiyong.
Liu Zhiyong kemudian menarik pedangnya dan berniat mendekati Fu Chen. Liu Zhiyong memang tidak tertarik dengan turnamennya, namun beda cerita ketika seseorang berani memakan sesuatu yang lezat di hadapannya.
"Apa yang coba kau lakukan? Apa kau berniat menyerang seseorang yang sedang makan?" tanya Fu Chen acuh tak acuh.
"Haha…" Liu Zhiyong tertawa lantang. "Sepertinya Kau tidak paham dengan situasi mu bocah! Serahkan semua makananmu dan aku akan membiarkanmu hidup!" Liu Zhiyong tersenyum lebar.
Fu Chen menaikkan alisnya, ia mengira pria ini akan meminta pin atau semacamnya. Meski begitu makanan juga penting saat ini.
"Apa hanya itu yang kau mau?" Fu Chen berdiri sejenak sebelum ia melemparkan daging panggang miliknya ke Liu Zhiyong.
"…" Liu Zhiyong terdiam. Pikirannya kosong sembari menatap kearah daging panggang yang berhasil dia tangkap.
"Jika itu yang kau inginkan maka aku akan pergi." Fu Chen mulai berpikir untuk memakan roti saja kedepannya.
"H-hei! Aku bilang serahkan semua yang kau punya!" Liu Zhiyong lekas menyahut ketika Fu Chen hendak pergi.
"Hanya itu yang ku punya." Fu Chen menyahut sebelum akhirnya pergi begitu saja.
Liu Zhiyong mendengus sejenak dan mulai menyantap daging yang sekarang menjadi miliknya. Meski ada bekas gigitan Fu Chen namun hal seperti itu bukan sesuatu yang menjijikan bagi para pendekar.
"Apa dia memberikan makanannya semudah itu?" Liu Zhiyong bergumam, ia mulai berpikir jika Fu Chen menyimpan makanannya di suatu tempat.
Liu Zhiyong kemudian berniat mengikuti Fu Chen, namun sebelum ia sempat melangkahkan kaki beberapa orang muncul dari balik semak-semak.
"Sepertinya kau punya makanan yang cukup layak, tidak bisakah kau berbagi denganku?" tanya salah satu pendekar dengan senyum lebar.
Liu Zhiyong menyipitkan matanya sebelum menarik napas panjang. "Sialan!" ucapnya.