Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.33 - Pertandingan Murid Baru II


Lawan Sin Lou terpental sejauh dua meter karena tendangan yang di terimanya. Dia sempoyongan saat berusaha untuk berdiri, hidungnya berdarah dan pandangannya mulai buram.


"Ternyata kau memiliki cukup kekuatan, tapi kali ini aku tidak akan lengah." Lawan Sin Lou tersenyum tipis sambil menyeka darah di hidungnya.


Namun kali ini Sin Lou tidak membiarkan lawannya memulai serangan, ia lebih dulu menerjang ke arah lawannya hingga membuat pemuda itu kembali terjatuh karena belum siap.


Tidak sampai disana, Sin Lou tetap melanjutkan serangannya, "Apa kau pikir karena kau sudah berlatih sejak kecil maka kau lebih kuat dari kami? Jangan bercanda, kami bahkan sudah melakukan pekerjaan berat saat kau masih merengek meminta uang pada orang tuamu!"


"Apa peduliku, itu karena takdir kalian menjadi orang susah sejak kecil." Lawan Sin Lou berhasil menghindari beberapa pukulan Sin Lou saat ia mendapatkan keseimbangannya kembali.


"Serangan mu yang asal-asalan itu tidak akan bisa mengenaiku lagi."


"Benarkah?" Sin Lou sedikit terpancing mendengar ucapan lawannya. Ia meningkatkan intensitas seranganya menjadi lebih cepat.


Lawan Sin Lou tidak menduga akan perubahan serangan yang mendadak lebih cepat dan berbobot itu. Ia menangkis dan menghindarinya sambil melangkah mundur, langkah demi langkah Sin Lou manfaatkan agar lawannya tidak bisa membalas serangan.


Sin Lou tersenyum lebar yang membuat lawannya mengerutkan dahi hingga wasit menyatakan pertandingan selesai. Lawan Sin Lou baru tersadar jika dia sudah keluar dari garis merah pembatas arena pertarungan


Ia memandang Sin Lou yang saat ini sedang tersenyum dengan tatapan penuh amarah. " Beraninya kau bermain curang!"


"Aku tidak melihat kecurangan dimana pun, bahkan wasit tidak menghentikanku… itu hanya hasil dari kesombonganmu." Sin Lou membalas santai.


"Sampah tetaplah sampah! kau tidak pantas ada disini!" Pemuda yang menjadi lawan Sin Lou itu berlari hendak menerjang Sin Lou, namun segera di hentikan oleh wasit.


"Jika kau melakukannya maka hukuman siap menantimu!" Wasit itu mempringati pemuda tersebut dengan nada dingin.


"Sial, sial! aku akan membalas ini setelah pertandingan ini selesai." Pemuda itu keluar dari arena dengan amarah dan rasa benci yang meluap-luap.


"Sejak kapan kau menggunakan otakmu? aku yakin kau tidak akan menang jika hanya menggunakan ototmu ini." Fu Chen menunjuk-nunjuk ke arah gumpalan otot di lengan Sin Lou.


"untuk mendapatkan Fu Mei, aku harus bisa lebih pintar dari kakaknya." Balas Sin Lou sambil tersenyum lebar.


"Itu tidak akan."


Sin Lou sadar sebelumnya jika ia hanya mengandalkan ototnya maka ia bisa di kalahkan dengan mudah oleh pemuda yang menjadi lawannya. Teknik yang digunakan keduanya begitu berbeda, apa yang Sin Lou serang hanya melalui insting bertarungnya sedangkan pemuda yang ia lawan setidaknya sedikit mengetahui titik-tik fital dalam tubuh manusia.


Di lapangan itu terdapat tiga arena yang digunakan. Itu karena murid-murid yang di terima sekte Pedang Suci cukup banyak, tentunya mereka tidak ingin menunggu pertandingan satu per satu sampai seluruh peserta menyelesaikan pertarungan mereka.


Di arena lain Kyoto sedikit kesusahan menghadapi lawannya. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk menjatuhkan pemuda yang menjadi lawannya, namun semua serangannya dapat di tangkis dan di hindari.


Meski begitu Kyoto masih bisa mempertahankan alur pertarungan di tangannya. Teknik-teknik bela diri yang Kyoto pelajari di dapatkan dari pendekar yang melatihnya saat masih di Desa.


Puluhan serangan sudah mereka lakukan untuk menjatuhkan lawan, hingga akhirnya Kyoto melihat kesempatan karena lawannya sudah mulai kelelahan. Kyoto baru menyadari efek latihan fisik yang sangat menyiksanya dulu karena selama ini dia tidak pernah melakukan kegiatan berat setelah seleksi murid di Desa Bintang Jatuh selesai.


Lawan Kyoto tumbang ke lantai karena tidak mampu lagi berdiri setelah menerima pukulan tepat di ulu hatinya. Nafas Kyoto mulai berantakan setelah melancarkan pukulan terakhir, ia khawatir pada lawannya karena sudah memukul terlalu kuat.


"Kapan giliranmu?" Qiao Wu bertanya pada Fu Chen.


"Kurasa masih cukup lama, kau sendiri?" Fu Chen balik bertanya.


"Kau tidak melihat pertandinganku? Menyebalkan!" Qiao Wu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil mengembungkan pipinya kesal.


"Aku baru saja menyelesaikannya, apa kau benar-benar tidak melihatnya?"


Fu Chen menggelengkan kepala.


"Huh, percuma saja aku jauh-jauh kemari dari arena di ujung sana."


"Eh… maafkan aku, aku terlalu fokus dengan Sin Lou dan Kyoto tadi, jadi tidak bisa memperhatikanmu." Fu Chen benar-benar tidak tau harus menjawab bagaimana setelah ini.


"Hemph… aku tidak peduli." Qiao Wu menghentakkan kakinya lalu pergi ke tempatnya semula.


"Kau melakukannya lagi kawan." Sin Lou merasa perihatin dengan nasib asmara temannya ini, meski dia juga tidak tau bagaimana dengan nasibnya sendiri.


"Apa maksudmu?" Fu Chen kebingungan dengan ucapan Sin Lou.


"Kau harus banyak belajar dari adik iparmu ini nanti…"


Cukup lama Fu Chen menunggu hingga nomornya di sebutkan oleh wasit. Peserta di setiap arena setidaknya 200 orang dan Fu Chen mendapatkan nomor ke 120, angka yang membuatnya menunggu cukup lama.


Tidak di duga ternyata lawan Fu Chen adalah anak peringkat ke dua dari Desanya sendiri. Dia adalah Ji Jie, anak yang cukup pendiam selama perjalanan.


Fu Chen merasa bersemangat karena mendapat lawan yang cukup kuat. Keduanya tidak banyak berbicara karena memang sudah saling kenal secara tidak langsung.


Saat wasit memulai pertandingan, Ji Jie langsung melesat untuk melepaskan pukulan. Fu Chen sedikit terkejut karena anak itu ternyata cukup agresif, ia pun meladeni serangan Ji Jie dengan sumringah.


Keduanya saling menjual beli serangan, Fu Chen sengaja tidak mengakhiri pertarungan dengan cepat karena ia ingin melihat kempuan Ji Jie sampai sejauh mana.


"Anak ini cukup lincah, kurasa dia akan seimbang dengan Sin Lou jika keduanya bertarung." Fu Chen bergumam sambil menghindari serangan Ji Jie.


Setelah puluhan rangkaian serangan yang ia lepaskan, Ji Jie mengambil langkah mundur menyadari serangannya sama sekali tidak mengenai Fu Chen.


Fu Chen membenarkan keputusan Ji Jie, dia harus memahami situasi agar bisa menang. Namun Fu Chen tidak membiarkan Ji Jie berpikir lebih lama, dia segera melesat melakukan pukulan saat konsentrasi Ji Jie sedang teralihkan.


Di luar dugaan Fu Chen, Ji Jie justru menyambut datangnya pukulan Fu Chen dengan sebuah pukulan. Fu Chen terkejut dengan tindakan Ji Jie dan dengan segera Fu Chen mengurangi tenaganya agar tidak membuat Ji Jie cedera.


Namun terlambat, Ji Jie sudah lebih dulu menghantamkan pukulannya dengan milik Fu Chen yang membuat anak itu terseret sejauh tiga meter kebelakang dan menghasilkan kepulan debu.


"Huh? Dia benar-benar melakukannya." Fu Chen tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepala Ji Jie. Beradu pukulan seperti tadi sangat berbahaya untuk dilakukan.


Ji Jie memegangi tangan kanannya yang meneteskan darah melalui kuku jari jemarinya. Fu Chen merasa kasihan dengan kondisi Ji Jie saat ini, tapi dia tidak bisa menunjukkannya ketika di atas arena karena itu sama saja menghina semua usaha Ji Jie untuk bertarung.


"Aku menyerah." ujar Ji Jie dengan sedikit mengangkat tangan kirinya. Dia memang sengaja beradu pukulan dengan Fu Chen sebelumnya, ia hanya ingin mengetes kekuatan Fu Chen karena dari sudut pandangnya selama di perjalanan, Fu Chen adalah sosok yang bisa di andalkan dan cukup tangguh.


Hal itu di buktikan dengan kelompok mereka selalu mendapatkan hasil buruan lebih banyak dari yang lainnya. Rasa ingin tahu Ji Jie itu kemudian terjawab di pertarungannya kali ini dengan Fu Chen.


Fu Chen meninggalkan arena dengan perasaan yang campur aduk, dia memandangi punggung Ji Jie yang masuk ke ruang perawatan dari kejauhan.


"Ku harap tangannya baik-baik saja." Fu Chen memandangi tangan kanannya yang terasa sedikit kebas, pukulan Ji Jie sebelumnya juga sedikit meningalkan bekas padanya.