Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.29 - Pemandangan Buruk


Wang He memperlambat kudanya saat melihat kepulan asap dari kejauhan, ia kemudian mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan rombongan itu untuk berhenti.


Di Desa sebelumnya mereka telah mendapat kabar jika ada beberapa kelompok yang mulai aktif melakukan perampokan di daerah mereka. Desa sebelumnya juga memperketat penjagaan, andai saja Wang He tidak menunjukkan identitasnya maka mereka tidak akan di izinkan masuk.


Wang He sangat yakin kepulan asap itu berasal dari Desa yang akan mereka kunjungi, Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk sedang terjadi di Desa itu.


Firasat Xiao Jung juga memgatakan hal yang sama, "Tetua, mungkinkah …"


"Aku tidak yakin, lebih baik kita bergegas untuk memastikannya." Wang He segera memacu kudanya dan di ikuti yang lainnya.


Saat mereka tiba di gerbang Desa, mereka di sambut dengan pemandangan yang tidak biasa. Tepat di atas gerbang yang akan mereka lewati, terpampang sebuah kepala manusia yang di tancapkan pada sebuah kayu.


Wang He mengenalinya sebagai kepala Desa, Kepala Desa itu sebelumnya sering menemui Wang He hanya untuk membicarakan beberapa hal mengenai perkembangan Desa. Wang He sungguh tidak menduga kepala Desa itu akan berakhir mengenaskan.


Saat Wang He memasuki Desa, dirinya di sambut dengan puluhan kepala manusia yang di tancapkan pada tiang-tiang kayu. Pemandangan seperti ini bahkan membuat orang yang sudah terbiasa dengan pertempuran merasa tidak nyaman.


"Keparat mana yang melakukan ini?!" Wang He mengepalkan tangannya geram, pembantaian seperti ini sangatlah tidak manusiawi baginya.


"Jyu Sun, jaga anak-anak dan jangan biarkan mereka masuk! yang lainnya ikuti aku dan berpencar mencari warga Desa yang masih bersembunyi-!" Wang He tidak yakin anak-anak bisa mempertahankan kesadarannya setelah melihat pemandangan ini.


Bahkan sebelum anak-anak itu masuk kedalam, mereka sudah merasa mual melihat kepala tergantung di gerbang, beberapa bahkan sudah mengeluarkan isi perutnya karena bau tidak sedap dari darah warga Desa yang mulai membusuk.


Jyu Sun membawa anak-anak menjauh dari Desa, pikirannya saat ini juga tertuju pada pelaku di balik semua ini.


Meski Fu Chen telah di latih oleh ayahnya, bukan berarti mentalnya akan terasah begitu saja. Perasaanya sedikit goyah karena tidak sengaja melihat banyak kepala yang tertancap di kayu saat Wang He membuka gerbang.


"Apa kau baik-baik saja?" Qiao Wu bertanya pada Fu Chen karena ia terlihat pucat.


Fu Chen mengangkat kepalanya, merasa heran pada Qiao Wu karena masih dapat tersenyum di situasi seperti ini.


Qiao Wu salah tingkah karena Fu Chen memandanginya begitu dalam. "K-kenapa kau melihatku seperti itu… aku tidak mengatakan hal yang salah kan?" Qiao Wu tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.


Fu Chen menggelengkan kepalanya lalu memandangi kepulan asap yang menjulang tinggi. 'Kenapa tidak ada orang yang membantu Desa ini? Apa mungkin mereka tidak mengetahuinya? tapi dengan asap setebal itu seharusnya membuat siapapun dapat melihatnya dari kejauhan.'


Apapun yang Fu Chen pikirkan tidak akan mengubah apapun, apa yang dia lihat adalah fakta bagaimana mengerikannya dunia persilatan yang akan dia jelajahi. Fu Chen tidak bisa membayangkan kekuatan macam apa yang dapat menghancurkan klan Tang dahulu jika pembantaian di sebuah Desa kecil saja sudah cukup mengerikan.


Wang He dan murid senior lainnya menelusuri ke setiap sudut Desa, mereka tidak menemukan apapun selain mayat tanpa kepala dan puing-puing bangunan yang hangus terbakar.


"Bara api nya masih menyala, kemungkinan pembantaian ini terjadi kemarin malam, tapi apa yang mereka incar dari Desa kecil ini?" Wang He bergumam pelan, dia mengehela nafas pelan sebelum menyuruh murid-muridnya berkumpul memberikan laporan.


"Apa kalian menemukan petunjuk?" tanya Wang He saat murid-muridnya menghadap.


Wang He menghela nafas kasar Namun tiba-tiba seorang murid memanggilnya dari kejauhan.


"Tetua! aku menemukan sesuatu!" Murid itu tergesa-gesa menghampiri Wang He sambil membawa sepotong kain hitam.


Wang He dan Xiao Jung saling berpandangan sejenak saat melihat simbol di kain hitam itu.


"Tetua, jika ini ulah kelompok Mawar Putih maka bukan hal yang tidak mungkin mereka melakukan pembantaian seperti ini!" kata Xiao Jung usai melihat simbol di kain itu.


"Kau benar, tapi aku tidak pernah mendengar mereka meninggalkan simbol seperti ini. Mungkin saja ada kelompok lain yang ingin menghancurkan Mawar Putih dengan mengadu dombanya dengan aliran putih."


"Atau mereka hanya ingin melindungi nama kelompoknya, karena selama ini lokasi kelompok Mawar Putih masih belum di ketahui."


Meski memiliki nama yang melambangkan keindahan dan kesucian, Mawar Putih sebenarnya adalah kelompok aliran sesat yang cukup besar di kekasiaran Song. kelompok ini di ketuai oleh seorang wanita, ia terus mengambil tumbal untuk mempertahankan kecantikannya dan mendapatkan kekuatan yang besar.


Banyak sekte menengah maupun sekte besar yang mengerahkan muridnya untuk mencari keberadaan mereka, namun kelompok ini bak di telan bumi, sampai sekarang tidak ada yang mengetahui pasti lokasi mereka.


"Tidak perlu di pikirkan lebih jauh, aku akan melaporkan ini pada Ketua sekte untuk di tindak lanjuti. Sekarang lebih kita membakar mayat-mayat warga Desa agar tidak menimbulkan penyakit."


"Tetua, saya rasa membakar mereka seperti ini kurang-"


"Apa kau ingin mengubur mereka satu persatu? Kita tidak punya banyak waktu lagi dan perjalanan kita masih cukul jauh, setidaknya dengan membakar mayat itu, mereka tidak akan menimbulkan penyakit yang tidak di inginkan."


"Baik Tetua" murid itu tertunduk takut mendengar bentakan Wang He.


"Tetua, apa masih ada yang selamat?" Jyu Sun bertanya saat melihat Wang He dan lainnya telah kembali.


Wang He menggelengkan kepalanya dengan wajah kusut, begitu juga murid lainnya. Api yang menjulang tinggi di dalam Desa membuat Jyu Sun dan anak-anak yang menyaksikannya merasa heran sekaligus terkejut.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jyu Sun kembali.


Xiao Jung menepuk pundak Jyu Sun sebelum berkata, "Aku akan menceritakannya di perjalanan nanti."


"Kalian bersiaplah, kita akan melanjutkan perjalanan." Wang He tidak ingin anak-anak mencium bau gosong dari mayat-mayat yang mereka bakar.


Anak-anak terheran karena Desa itu dibiarkan terbakar begitu saja. Mereka takut jika itu akan menjadi kebakaran besar jika terus merambat hingga keluar Desa.


Qiao Wu menatap tajam ke arah api itu, ia teringat kenangan masa lalu yang tidak ingin ia ingat kembali. Fu Chen yang melihatnya cukup terkejut, anak ini sebelumnya terlihat baik-baik saja namun sejak Tetua Wang kembali, ekspresinya terlihat kusam.