
Tang Shu terdiam sejenak ketika menemukan rumah-rumah yang sebagian hampir roboh dan terbakar. Mayat penduduk bergelimpangan dimana-mana sedangkan anak-anak menangis ketakutan. Sementara yang membuat Tang Shu merasa pilu bercampur geram adalah ketika melihat para wanita yang di permainkan layaknya binatang.
"Xue'er… Mei'er…" teriak Tang Shu dan membuat dirinya menjadi pusat perhatian kawanan bajingan itu.
"Ha, siapa orang idiot ini?" tanya salah satu bajingan yang peling dekat dengan Tang Shu. Lalu dengan sombongnya orang ini mendekati Tang Shu sambil tersenyum mengejek.
"Kau kenapa? Sedang mencari istri dan anakmu-"
Tang Shu tidak mengizinkan orang itu menyudahi ucapannya, tangannya lekas mencekik leher pria itu kemudian mematahkannya begitu saja. Beberapa orang lainnya tampak terkejut melihat hal itu kemudian segera menghentikan kegiatan asusila mereka dan segera menjaga jarak.
"Siapa Kau!" orang-orang itu menjadi waspada, rekan mereka yang baru saja terbunuh adalah seorang Jenderal Petarung. Setidaknya memerlukan kekuatan seorang pendekar Raja untuk membunuhnya dengan satu tangan seperti yang Tang Shu lakukan.
"Keparat! Seharusnya aku yang bertanya siapa kalian!" Tang Shu sektika menghilang dari posisinya, beberapa saat kemudian dua bajingan busuk berhasil Tang Shu singkirkan dalam sekali kedipan mata.
"Kalian, cepat beritahukan Ketua! Orang ini sangat berbahaya!" ucap seseorang yang tadi bertanya. Mau berapapun jumlah mereka saat ini mustahil untuk mengalahkan Tang Shu.
Orang itu memperkirakan kekuatan Tang Shu setidaknya berada satu level yang sama dengan pemimpin mereka.
Tang Shu memungut senjata seorang bajingan yang baru saja dia bunuh. Tatapan Tang Shu begitu tajam menatap orang-orang itu.
Tang Shu kemudian memperpendek jarak dengan orang yang tadi bicara, dalam sekejap pedang di tangan Tang Shu telah menempel di leher orang itu, "Di mana anak dan istriku?" Tang Shu sengaja menunda kematian orang itu.
"Keparat! Mana aku tahu di mana istrimu!" desis orang itu, tapi jawaban itu malah membuat nyawanya melayang dengan kepala terputus.
Sementara Tang Shu masih menghabisi anggota kelompok berkuda itu, seseorang diantara mereka telah pergi untuk melapor pada Ketua mereka. Dengan wajah sedikit pucat orang itu menjelaskan kehadiran Tang Shu dan kekuatannya. Sang Ketua yang baru saja menyetubuhi seorang wanita di halaman rumah penduduk pun terlihat kesal.
"Di mana orang itu sekarang?" tanya si Ketua bernama Qiao Wuji sembari memasang pakaiannya. Sementara wanita yang baru saja ia pakai lekas di lemparkan ke tengah jalan.
"D-dia ada di sana…" Bawahannya menunjuk ke salah satu sudut Desa.
Qiao Wuji bersama beberapa anak buahnya segera pergi, sedikit memberikan napas lega untuk para penduduk yang sebelumnya mereka tindas.
Satu per satu anggota kelompok berkuda itu mati di tangan Tang Shu, bahkan mereka yang belum selesai dengan nafsunya pun mati saat itu juga. Perbuatan Tang Shu itu membuat jeritan ketakutan kembali terdengar, meski demikian para wanita itu sedikit bersyukur karena Tang Shu berniat menyelamatkan mereka, meskipun sudah terlambat.
Sedangkan anggota kelompok berkuda yang masih hidup memilih menjaga jarak sejauh mungkin. Rata-rata kemampuan mereka setidaknya berada di ranah Jenderal Petarung tapi untuk mengalahkan Tang Shu mereka memerlukan kekuatan yang lebih besar.
"Xue'er… Mei'er…" gumam Tang Shu sembari menilik ke segala penjuru, tidak ingin melepaskan satu orang pun dari pengawasannya.
Saat Tang Shu melangkah lebih jauh matanya tidak sengaja melihat sesosok yang begitu akrab dengannya tengah tergeletak di tanah. Tangan kanan orang itu telah putus sementara mulutnya dipenuhi dengan darah.
"Zhou! Saudara Zhou…!! Tang Shu segera menghampiri pria itu dan memeriksa denyut nadinya, syukurlah ternyata dia masih hidup, "Bertahanlah! Aku akan menyelamatkanmu!"
Sin Zhou yang melihat kedatangan Tang Shu hanya bisa tersenyum sederhana sambil menahan rasa sakit, "Jangan pedulikan aku… cepat, selamatkan anak dan istrimu!"
"Apa yang kau bicarakan?!" Tang Shu segera mempercepat proses penyembuhan itu, meski tidak bisa sembuh sepenihnya setidaknya Tang Shu berhasil menghentikan pendarahan Sin Zhou.
"Saudara Shu… harapan Desa ini hanya ada di tanganmu," ucap Sin Zhou sebelum kehilang kesadaran karena sebelumnya telah kehilangan banyak darah.
Tang Shu hanya mengangguk pelan kemudian menyandarkan tubuh Sin Zhou pada dinding rumah yang terbuat dari kayu. Sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki yang berjalan mendekatinya dari belakang. Meski masih jauh namun Tang Shu dapat mengetahui jumlahnya lebih dari sepuluh orang.
Qiao Wuji bersama beberapa anggotanya berjalan mendekati Tang Shu, karena hadirnya sang Ketua, para bajingan yang tadi mundur pun kembali muncul.
"Di mana kalian menyembunyikan Xue'er dan Mei'er?" tanya Tang Shu dengan nada begitu dingin, sorot matanya sangat tajam seolah dapat mencabik para bajingan itu kapanpun ia mau.
"Ha? Apa yang kau bicarakan? Seharusnya kau bertanya siapa kami dan segera memohon saat itu juga," Qiao Wuji sedikit memiringkan kepalanya sambil tersenyum mengejek. Namun, salah seorang anak buahnya segera memberitahukan maksud pertanyaan Tang Shu.
"Ini kesempatan terakhir kalian! Di mana anak dan istriku?!" Tang Shu mulai memasang kuda dan mengalirkan qi ke pedangnya. Percikan listrik sedikit terlihat pada pedang yang di gunakan Tang Shu, sementara beberapa bawahan Qiao Wuji segera mundur beberapa langkah ketika merasakan perubahan aura di tubuh Tang Shu.
"Ah, jadi wanita keras kepala itu adalah istrimu? Sayang sekali, dia tidak membiarkanku menikmati tubuhnya dan mati begitu saja." Qiao Wuji mengangkat bahunya seolah itu hal yang biasa.
"KEPARAAT!!"
Tang Shu melesat secepat angin dan memperpendek jarak antara dirinya dengan Qiao Wuji. Beberapa orang sempat menghadangnya namun mereka mati dalam sekali tebasan pedang. Beberapa Jenderal Petarung seperti itu tidak ada apa-apanya di hadapan Tang Shu, mereka mati tanpa memberikan perlawanan berarti.
Qiao Wuji yang melihat anggotanya terbunuh satu per satu segera turun tangan, dia tidak bisa membiarkan Tang Shu membunuh lebih banyak lagi karena mereka masih memiliki misi lain.
Pedang milik Tang Shu dan Qiao Wuji yang saling berbenturan dan menghasilkan percikan-percikan api. Qiao Wuji sedikit terdorong mundur akibat adu kekuatan itu, sementara pedang di tangan Tang Shu hancur seketika karena banyaknya qi yang dia terima.
"Orang ini… dia jauh lebih kuat dari perkiraanku," ucap Qiao Wuji dalam hati kemudian mengambil jarak.
Beberapa anak buah Qiao Wuji yang melihat Tang Shu tidak memegang senjata segera mengeroyoknya. Orang-orang itu mengira jika Tang Shu bukanlah sebuah ancaman tanpa memegang senjata, sayangnya pemikiran itu salah besar.
"Bodoh! Jangan menyerangnya!"
Qiao Wuji membentak pada anak buahnya, namun terlambat. Tang Shu yang sudah menunggu para bajingan itu dengan sigap menghajar menghajar mereka. Berkat hal itu Tang Shu kembali mendapatkan senjatanya.
"Sial-!" Qiao Wuji berdecak kesal sebelum memperpendek jarak dengan Tang Shu. Benturan senjata keduanya kembali terjadi, kali ini Tang Shu sedikit mengendalikan diri sehingga senjata yang ia pakai bisa bertahan sedikit lebih lama.
Pertarungan keduanya berlangsung sengit, Tang Shu yang hanya seorang pendekar Raja nyatanya mampu mengimbangi Qiao Wuji yang sudah mencapai ranah pendekar Sakti tahap awal.
"Sial- siapa kau sebenarnya?" Qiao Wuji sedikit terpojok, meski serangan Tang Shu tidak terlalu kuat namun teknik yang di gunakan pria itu sangat sulit untuk di baaca. Akibatnya, Qiao Wuji banyak menerima luka sayatan di tubuhnya sementara dirinya hanya memberikan beberapa luka kecil pada Tang Shu.
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu. Kenapa seorang pembunuh bayaran sepertimu mengacau di Desa ini?!"
Belajar dari pengalamannya di dunia persilatan, Tang Shu dapat membedakan teknik yang di gunakan seorang pembunuh dengan pendekar pada umumnya. Sementara teknik yang di gunakan Qiao Wuji jelas merupakan teknik seorang pembunuh, setiap langkah dan gerakannya begitu senyap, bahkan setiap serangannya hanya berfokus pada area vital saja.
Tang Shu sadar Qiao Wuji terbiasa membunuh secara diam-diam dan bisa di katakan sekarang Qiao Wuji tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Pedang di tangan Tang Shu akhirnya patah untuk kesekian kalinya, namun kali ini Tang Shu hanya membuangnya dan tidak mengambil senjata yang lain.
Salah satu yang membuat nama klan Tang sangat di segani di benua Tengah adalah kemampuan pengendalian qi mereka. Tang Shu yang mengandalkan kemampuannya pun mulai menyerang Qiao Wuji dengan tangan kosong.
Aliran listrik berwarna biru nampak menggeliat di kedua tangan Tang Shu, hal itu membuat Qiao Wuji terkejut ketika melihatnya dan membuat dirinya sedikit lengah.
Pengendali energi petir sangat langka di benua Timur bahkan keberadaanya menjadi pertanyaan besar, namun melihat Tang Shu dapat melakukannya membuat Qiao Wuji bertanya-tanya akan latar belakang Tang Shu.
Di saat pertempuran itu hampir mencapai puncaknya, seorang pria tua yang menunggangi kuda tiba-tiba muncul dari belakang barisan anak buah Qiao Wuji. Pria tua itu membawa seorang gadis muda yang terkulai lemah di pangkuannya. Pakaian gadis itu nampak lusuh, bahkan di beberapa bagian terdapat sobekan besar.
"Hentikan!"