
Saat ketiga orang itu masuk, satu per satu pengunjung di lantai dua mulai pergi. Mereka seolah mengerti jika keberadaan mereka tidak di inginkan disana.
Salah seorang dari tiga orang itu tersenyum tipis melihatnya, dia masih belum menyadari keberadaan Fu Chen sebab pemuda itu berada di sisi yang berbeda.
Pelayan di tempat itu melayani mereka dengan sangat hati-hati. Mereka segera bergegas saat ketiga orang itu mulai memesan makanan.
Sebisa mungkin Fu Chen menyembunyikan wajahnya dari tatapan mereka. Fu Chen ingin mendengarkan perbincangan mereka terlebih dahulu sebelum ikut campur. Sosok Hang Xie yang saat itu telah tertangkap adalah salah satu di antara mereka.
"Kau memiliki pengaruh yang luar biasa di kota ini, Tuan Muda Xian," puji sosok wanita yang salah satu kakinya telah putus. Dia adalah Hang Xie.
"Nona terlalu memuji, aku jelas tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan anda." Seorang pemuda yang terlihat berusia 20 tahun berbicara.
"Seperti yang kita bicarakan sebelumnya, kami akan menyalurkan lebih banyak budak untuk di distribusikan padamu. Ini adalah bisnis yang sangat besar, ku harap Tuan Muda dapat bekerja sama dengan baik." Hang Xie tersenyum tipis.
Orang yang di panggil Tuan Muda itu menyeringai lebar. Tidak salah dia memilih untuk bekerja sama dengan kelompok Beruang Hitam. Dengan pengaruhnya sebagai anak Walikota, pasti mudah baginya untuk menyeludupkan budak-budak itu.
"Anda dapat mempercayakan hal itu pada saya. Ayah juga sangat setuju dengan kerja sama ini, dengan berkembangnya bisnis ini, maka Kota Tiemao akan semakin maju. Dan keluarga kami tidak akan bergantung pada Bangsawan Xiao lagi." Pemuda bernama Xian Bu itu tertawa lantang.
Hang Xie dalam hati sangat memuji sikap naif dari pemuda ini. Menjual para budak untuk membangun Kota? Sungguh, lucu sekali.
Pandangan Hang Xie kemudian tidak sengaja menangkap seseorang yang duduk dengan santai sambil memandang keluar jendela dari belakang tubuh pelayan. Hang Xie kemudian menoleh ke arah Xian Bu.
Dia menujuk pemuda yang tadi ia lihat dengan matanya. Pandangan Xian Bu mengikuti arah yang di tunjuk Hang Xie. Matanya melebar, raut wajahnya menjadi geram selama beberapa saat. Pengawal yang bersamanya memahami hal itu dan segera mendekati pemuda di sisi yang berbeda itu.
Xian Bu tersenyum tipis setelahnya, dia mengajak Hang Xie untuk melanjutkan perbincangan karena menganggap pengawalnya akan mengurus pemuda lancang itu debgan cepat. Namun, pandangan Hang Xie tidak pernah lepas dari pemuda di ujung sana sejak pengawal Xian Bu menghampirinya.
Ia seperti pernah bertemu dengan pemuda itu, namun entah dimana.
"Ah, sepertinya aku ketahuan." Fu Chen menoleh pada pengawal Xian Bu yang mendekatinya lalu tersenyum tipis.
Hang Xie seketika membuka matanya lebar-lebar saat melihat wajah pemuda itu. Ingatan beberapa hari yang lalu mengalir deras ke otaknya. Tubuhnya bergetar, lekas ia menundukkan kepala dan menghadap Xian Bu.
Fu Chen mengetahui hal itu, sudut bibirnya sedikit melengkung sebelum memfokuskan diri pada pengawal yang datang padanya.
"Anak muda, kami sedang melakukan pertemuan khusus. Tolong tinggalkan tempat ini!" Suara pengawal itu terdengar sangat merendahkan Fu Chen.
"Aku juga sedang melakukan pertemuan khusus dengan rembulan di atas sana. Tidakkah kau menyadarinya, sinarnya begitu terang malam ini. Dia seolah sedang menyapaku."
Pengawal itu mengerutkan kening, ia melirik sekilas ke arah luar jendela sebelum memejamkan matanya dengan geram.
"Saya harap anda bisa bekerja sama selagi saya bicara baik-baik." Pengawal itu memperlihatkan pedang yang terserung di pinggangnya. Menunjukkan jika ia sedang memberi peringatan pada pemuda di depannya.
"Pendekar kelas dua..." Fu Chen bergumam. Sejak keluar dari markas Beruang Hitam saat itu, dirinya mulai sedikit mengerti cara mengukur tingkatan seseorang.
"Apa yang akan anda lakukan? Aku sudah memesan meja ini cukup mahal. Aku ingin menikmati waktuku sedikit lebih lama," kata Fu Chen lalu menuangkan teh pada cangkirnya.
Pengawal itu segera menarik pedang dan menghunuskannya pada Fu Chen. Dia tidak main-main dengan ucapannya kali ini. "Ini adalah peringatan terkahir untukmu, bocah. Segera pergi dari sini!" kata pengawal itu dingin.
Fu Chen tersenyum tipis, beberapa tarikan nafas berikutnya dia telah berada di samping pengawal itu. "Pertahananmu terlalu terbuka untuk orang yang berani mengancamku," kata Fu Chen pelan namun penuh penekanan.
Tangannya kemudian memegang pundak pengawal itu lalu mencengkramnya dengan kuat Pengawal itu tercekat, pedangnya terlepas dan ia jatuh berlutut.
Fu Chen tidak melepaskan cengkramannya, tangannya yang lain menggapai pedang pengawal itu yang terjatuh. "Aku pinjam pedangmu sejenak."
Fu Chen mendekati meja tampat Hang Xie dan Xian Bu sedang berbicara. Dia tidak tergesa-gesa, karena ia melihat wanita itu bahkan kesulitan untuk menenangkan dirinya saat ini.
Xian Bu tidak sadar jika raut wajah Hang Xie memucat, dia terus menjelaskan rencana-rencana yang akan di jalankan kedepannya. Tanpa menyadari jika maut telah mendekat.
"Apa aku boleh ikut bergabung?" Fu Chen tersenyum lembut sambil menyembunyikan kedua tangannya yang memegang pedang kebelakang.
"D-dimana pengawalku?" Xian Bu mengedarkan pandangannya, matanya melebar saat mengetahui pengawalnya sudah terbaring di lantai. "Apa yang kau lakukan dengannya?" Suara Xian Bu bergetar.
"Kami hanya saling sapa, dia jatuh setelah aku menyentuh pundaknya." Fu Chen terkekeh kemudian duduk di antara Xian Bu dan Hang Xie, matanya melirik ke arah keduanya.
Ia meletakkan pedang yang tadi di ambilnya ke atas meja, Fu Chen cukup percaya diri jika dua orang di sampingnya ini tidak akan lebih cepat darinya untuk merebut pedang ini.
Hang Xie dan Xian Bu menelan ludah mereka masing-masing melihat pedang itu, keduanya sadar tidak bisa berbuat apa-apa saat ini meski memiliki status yang cukup istimewa.
"Tuan Muda Xian, aku sudah mendengar semua pembicaraan kalian. Namun, aku belum tahu pasti siapa indentitasmu, bisa kau katakan itu?" Fu Chen mengambil satu daging panggang dan mulai menyantapnya.
Xian Bu menggertakkan gigi kuat. Jika ia mengatakan identitasnya, bisa di pastikan posisi ayahnya akan terancam atau lebih parahnya mereka akan di usir dari Kota Tiemao. Ia mencengkram celananya dengan kuat, tidak tahu harus menjawab apa.
Fu Chen melirik Xian Bu dari sudut matanya, kemudian berkata, "Pengawalmu tadi mengatakan jika aku harus berkerja sama dengannya selagi ia bicara baik-baik. Kau tau maksudnya?" Raut wajah Fu Chen mulai datar.
Melihat pemuda itu hanya diam saja, Fu Chen melemparkan sisa tulang yang tadi ia makan dengan jarinya dan menghasilkan luka gores di pipi Xian Bu. Fu Chen kemudian beralih pada Hang Xie.
Dia menghela nafas pelan. "Seperti biasa, kau selalu menjadi pilihan terbaik, Hang Xie. Masih ingat kejadian saat itu? Lakukan dengan baik jika kau memang mengingatnya." Fu Chen tersenyum tipis.
Hang Xie seolah membeku, Ia perlu beberapa saat sebelum menganggukan kepala dengan cepat dan mulai angkat bicara. Mata Xian Bu terbuka lebar saat Hang Xie mulai membeberkan identitasnya, ingin dia menghentikan gadis itu namun keberadaan Fu Chen sudah cukup membuatnya terdiam di tempat.
"Jadi begitu…" Fu Chen berdiri dan mengambil pedangnya setelah mendengar latar belakang Xian Bu dan alasan Hang Xie bisa berkeliaran disini. "Duri dalam daging harus segera di singkirkan, bukan?"
Wajah Xian Bu seketika menjadi pucat. Dia segera bersujud di kaki Fu Chen. "T-tolong ampuni aku, Tuan. Aku… aku melakukannya karena perintah ayah, semua karena ayah. Tolong ampuni aku…" Xian Bu memohon dengan air mata yang berjatuhan.
Fu Chen hanya menatapnya dalam diam. Sejak awal dia memang berniat melumpuhkan pemuda ini agar ia dapat menangkapnya. Namun lain halnya dengan Hang Xie.
"Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama, Hang Xie?" Fu Chen berkata dingin. "Apa kau merasa tidak memiliki hubungan apapun dengannya?"
Hang Xie tertegun, baru saja ia ingin bersujud namun sebuah pedang teracung ke wajahnya. "Ada apa, Tuan?" Suara Hang Xie gemetar ketakutan.
"Lihatlah wajahmu. Kau pikir setelah lolos satu kali aku akan melakukan hal yang sama? Jangan bercanda." Fu Chen mendengus." Bahkan tidak ada penyesalan yang terlihat dari wajahmu itu."
Hang Xie mengeluarkan keringat dingin, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. "S-saya sudah melakukan semua yang Tuan inginkan. Kenapa Tuan tidak-"
Cresss!
Darah mengucur deras dari lengan kanan Hang Xie. Wanita itu terdiam untuk sesaat, pandangannya secara perlahan mengarah ke tangan kanannya, ia terlambat untuk menyadari jika tangannya telah terputus!
"T-tidak! Tidaaaak! Aaaaahk!!"
Teriak wanita itu saat Fu Chen menebas satu lengan yang masih tersisa. "Kau masih ingin bertanya setelah semua yang kau lakukan?!" bentak Fu Chen yang tidak tahan lagi menahan amarahnya.
"Kau pikir berapa banyak nyawa yang melayang di luar sana karena ulah kelompokmu?" Fu Chen menyepak kepala Hang Xie hingga membuatnya berdarah.
"T-tolong ampuni aku, aku bersalah! Aku mengakui kesalahanku! I-itu semua berkat anda, anda telah membuka mataku saat ini. Tuan adalah pahlawan yang menyelamatkanku…" Hang Xie segera meminta ampun dengan cepat.
Mendengarnya justru membuat Fu Chen ingin meludahi wajah Hang Xie. Orang lain mungkin akan tersanjung dengan ucapan itu, namun ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri seberapa liciknya wanita ini.
"Kau telah menjadi sampah tidak berguna tanpa kedua tanganmu." Fu Chen mulai menarik pedangnya, bersiap mengakhiri hidup wanita itu. "Lebih baik kau segera mati!"
Keringat dingin terus mengucur di punggung Hang Xie, dia tidak menyangka jika Fu Chen tidak termakan dengan ucapannya.
"Chen'er, tunggu!" Suara itu seketika menghentikan ayunan pedang Fu Chen yang hampir mengenai leher Hang Xie.
Fu Chen menoleh ke arah sumber syara itu, lalu bergumam, "Senior?"