
"Setahuku, hewan spirit yang setara atau diatas tingkat langit, kulit pertahanannya lebih tebal dan kuat. Aku harus mengandalkan tangan sekarang, senjataku kian tak berguna dihadapan hewan spirit yang setingkat."
Adrine bergumam sendiri yang sedang menyatakan profil kemampuan hewan spirit menurut perkiraannya sendiri tanpa bantuan analisa drone. Begitupun dengan luka Adrine, kini Adrine benar-benar terluka yang dianggapnya lumayan serius pula. Skill regenerasinya sangat membantunya untuk memulihkan kembali tubuhnya.
"Semakin lama Adrine pun juga akan terluka dengan mengalahkan begitu banyak hewan spirit tingkat suci." Ujar Heyto.
Taro dan yang lainnya ikut mengangguk setuju akan perkataan Heyto. Hati kecil Tirani mulai was-was melihat kondisi Adrine. Tirani memalingkan perhatiannya kepada murid lain seakan-akan sangat malu untuk mengkhawatirkan orang lain.
"Jika bocah ini melawan yang setingkat langit, mungkin anak ini bisa. Tapi kapasitas energi pada tubuhnya..." Tiran juga ikut khawatir dengan Adrine.
"Aku sendiri juga tak yakin."
Heyto dan yang lainnya seperti sedang pesimis. Heyto menyirih Taro untuk mengawasi peserta yang lainnya. Setelah itu, muncul suara angin yang disertai suara langkah kaki yang berasal dari luar ruang pengawasan. Pintu terbuka seperti ada yang membukanya. Dan benar, ada yang membukanya. Seseorang yang memakai hodie dan masker untuk menutupi wajahnya, muncul. Dimata para master lainnya, semua telah familiar dengan siapakah orang ini. Terlepas peduli atau tidaknya siapa orang itu, mereka para master lebih sibuk mengawasi pergerakan para peserta termasuk Adrine.
Orang yang masuk kedalam tersebut bernama Kai, master pemimpin dari pengawasan ujian perburuan 1 dan 2, dan ujian ke-3. Ujian ketiga adalah ujian yang berbeda daripada perburuan. Mereka menyebut ujian tersebut adalah Survival (Bertahan hidup).
"Aku tahu bocah yang bernama Adrine ini membuat kalian menjadi terfokus akan kemampuannya." Ujar Kai sambil menunjuk kamera yang sedang menunjukkan Adrine yang beristirahat memulihkan diri.
"Anak ini benar-benar membawa kotak kejutan yang tak terduga."
Heyto bahkan lebih semangat dibanding yang lainnya disaat sedang membahas tentang Adrine. Sebaliknya, Tirani malah sangat mencemaskan keadaan Adrine yang dalam posisi terluka.
"Potensinya sangatlah luas untuk dikatakan. Kita awasi saja. Dan sepertinya kau mengenalnya, Heyto?"
Kai malah menjadi semangat seperti Heyto pada kalanya saat membahas tentang Adrine. Heyto hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Kai.
Sementara itu, Adrine sudah merasa lebih baik saat selesai meregenerasi tubuhnya. Adrine bergerak kembali untuk mencari lawan disekitarnya. Tempat sedikit lebih gelap dan lebih suram dibandingkan dengan perbatasan antara whitezone dengan stormzone. Tanpa disadari, Adrine semakin bergerak lebih dalam dan hampir masuk kedalam wilayah deepzone.
"Disekitar sini hewan spiritnya lebih sepi dibandingkan dengan yang baru saja kulalui tadi. Apa ada sesuatu yang lain."
"Setingkat itu? Apa kau serius?"
Adrine berhenti sejenak untuk mencari titik koordinat letak iblis api tersebut melalui bantuan pencarian dari sistem drone. Dan dalam pencarian, Adrine sudah sangat dekat dengan iblis tersebut. Bersemayam didalam goa yang berada ditengah-tengah gunung yang ada didepannya.
Baru saja Adrine mendapatkan titik letaknya, kobaran api muncul dari atas goa yang berada ditengah-tengah gunung. Adrine terkejut melihat hal tersebut yang terjadi berada diatas kepalanya. Seolah-olah, panas apinya sampai ketubuh Adrine.
"Itu dia. Baru saja kau kucari, kau malah menampakkan dimana tempatmu berada. Apa kau sudah tak sabar ingin menjadi bayanganku?"
Adrine langsung melompat dan segera bergegas menuju ke sumber api tersebut berkobar. Letak lumayan tinggi. Semakin Adrine menapakkan kaki ketempat yang lebih tinggi, tanahnya pun semakin panas pula.
"Bocah ini benar-benar ingin mengincar Fire demon of death. Apa dia sudah gila?"
Taro menjadi semakin meluap emosinya hanya dengan melihat pergerakan Adrine yang semakin tak tahu diri.
'Anak yang berani. Potensinya akan semakin terlihat dengan begini. Ataukah anak ini akan kalah? Siapa yang tahu?' Pikir Kai.
"Hei hei, Adrine! Apa dia tergila-gila dengan point? Point yang sudah kau miliki telah lebih dari seribu, apa kau ingin jadi yang pertama?"
Tak terkecuali Heyto. Seperti seorang ayah saja kelakuan yang ia lakukan. Dalam pikirannya, Heyto ingin sekali menghukum Adrine karena terlalu mengambil resiko yang tinggi.
Tetapi, berbeda halnya dengan Adrine. Semangatnya membuat ia semakin berani untuk maju dan memasuki ranah keberanian yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Saat Adrine sampai, panas yang dirasakannya telah sangat tinggi dan sangat kuat untuk dirasakan oleh orang biasa.
"Iblis purgatori. Hidupmu akan berakhir kali ini."
Keringat Adrine menjadi sangat deras dan Adrine memunculkan Red Diamond untuk mendinginkan suhu tubuhnya. Adrine yang sedang menurunkan suhu tubuhnya, ia juga sedang memulihkan energinya yang sudah habis karena menahan panas dan naik kepuncak gunung.
"Cukup sudah aku beristirahat. Sekarang waktunya untuk membuat si iblis api itu menjadi pasukanku juga." Ujar Adrine sambil menunjuk kearah sisi dalam goa yang panas dan terang.