
Adrine semakin membuat Dusk terpojok. Iron selalu membuat hal yang memojokkan Dusk, dan juga Adrine tidak hanya mengindari serangan dari Dusk, ia juga menyerang sedikit demi sedikit agar pasir yang dikendalikan oleh Dusk semakin berkurang.
Adrine masih sedikit mengulur waktu walaupun waktunya hanya tersisa 10 menit saja. Adrine masih belum menentukan bagaimana dan kapan ia akan menyerang. Dan Iron juga masih menyerang Dusk sesuai rencana awal. Adrine sedikit menjauh dari Dusk agar ia dapat memikirkan suatu rencana yang matang.
"Sial, bagaimana aku bisa menyerangnya kalau malah aku sendiri yang semakin terpojok oleh rencanaku sendiri."
Adrine malah semakin tak tahu apa yang harus ia lakukan. Semakin Adrine berpikir lebih keras, semakin ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Gerakan Adrine semakin lambat. Ada apa ini? Apa semuanya tak berjalan sesuai rencana Adrine?"
Etern masih mengamati Adrine dari kejauhan. Etern juga merasa bahwa Adrine malah membuat gerakan yang sedikit aneh menurutnya.
"Sedikit demi sedikit aku mulai bisa melihat makhluk itu sudah mulai menargetkan Iron. Baiklah, ini tak lama lagi."
Adrine mengeluarkan belatinya. Menggenggam erat belatinya dan menunggu kesempatan untuk membunuhnya.
"[Iron menggunakan skill Sharpeners.]"
"Sedikit lagi..."
Adrine sudah tahu pola serangan dari Dusk.
"Sedikit lagi..."
"Adrine kenapa hanya berhenti dan melihat saja? Dia membiarkan pasukannya menyerang sendirian, apa dia sudah merencanakan ini sebelumnya?"
Etern terus mengamati pergerakan Adrine dan Dusk dari kejauhan. Etern bingung kenapa Adrine hanya terdiam dan menunggu pasukannya mengalahkan Dusk.
"Ini dia, Sekarang!"
Tangan Adrine yang tadinya menggenggam erat erat belatinya, sekarang ia melempar belatinya kearah Dusk. Iron sudah dalam kendali Adrine. Iron menutupi arah lemparan Adrine agar Dusk tak menyadarinya.
Iron melompat backflip dan memberikan jalan untuk belati Adrine mengenai Dusk. Iron melompat mundur. Disaat belatinya hampir mengenai wajah Dusk, Adrine langsung mengeluarkan tekniknya yang misterius.
"Dead Silent, Dead Shadow, On Target!!"
Seketika Adrine langsung berada diposisi belatinya tersebut. Dusk terkejut melihat Adrine yang tiba-tiba muncul didepannya.
SLASH!! CRAASHT!!
"[Anda telah mengalahkan Dusk.]"
"Apa... Apa yang sebenarnya terjadi?"
Mata Etern terbelalak kebingungan melihat Adrine membunuh Dusk dengan tiba-tiba. Tak tahu apa yang terjadi, bagaimana Adrine membunuhnya, semua itu terngiang-ngiang dikepala Etern.
"Secepat itu?"
Lalu Adrine melihat Etern. Adrine tahu kalau Etern kebingungan melihat Dusk terbunuh tiba-tiba.
Adrine berteriak memanggil Etern agar ia turun. Etern langsung melompat dan bergegas menuju kearah Adrine. Melihat lihat sekeliling untuk mengamati, apakah aman atau tidak.
"Apakah benar-benar sudah mati?" Etern masih waspada akan sekitar.
"Tenang saja, makhluk ini sudah mati. Sekarang tinggal kujadikan dia sebagai pasukanku. Bangkitlah!!"
Adrine membangkitkan jiwa dari Dusk. Pupil mata Etern mengecil seperti terkejut bercampur takut. Karena ini adalah pertama kalinya Etern melihat suatu hal seperti ini pada kehidupannya kini.
"A... Apa yang kau lakukan?"
Etern takut kalau ada sesuatu hal yang berada diluar perkiraan mereka berdua.
"Dia sudah menjadi pasukan yang akan bertarung dibawah kendaliku."
"Oh ya, untuk namanya adalah Dusk."
"[Statistik pasukan :
-Nama : Dusk
-Peringkat : 2 -Level : 3
-Kekuatan : 168
-Daya Tahan : 27
-Kecepatan : 36
-Indera : 65
-Intelegence : 92.]"
"Pertahanannya terlalu lemah, tapi untuk status yang lainnya lumayan juga."
Adrine merasa kalau Dusk bisa diandalkan.
"Apakah ini aman?"
Etern sedikit takut melihat Dusk, apalagi wujudnya sedikit berbeda dari sebelumnya dan sedikit lebih menakutkan.
"Kau itu tenang saja, semuanya aman."
Adrine ingin meyakinkan Etern agar apa yang dikatakannya bukanlah kebohongan.
"Lagipula aku pernah bilang kalau latihan yang ini ada rewardnya. Kau bisa ambil beberapa benda yang ada dimayatnya. Biasanya barang bagus."
Lalu Adrine menunjuk mayat Dusk dan mengisyaratkan untuk Etern mengambilnya.