Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Ujian Kelulusan (4)


Sudah cukup lama Adrine bersama dengan kedua temannya, yakni Arpha dan David mencari Etern. Sudah lebih dari 2 jam mereka bertiga mencari Etern dan karena terlalu lama, Adrine memutuskan untuk berburu point juga. Kini Adrine mempunyai 16 point, Arpha mempunyai 9 point, begitu juga dengan David.


Mereka juga tidak pernah bertemu dengan segerombolan dari Geng Lima Jenius lagi selain Adrine sebelumnya. Walaupun seperti itu, mereka selalu mendapati banyak pertarungan. Beberapa tak ada yang ingin Adrine ganggu karena menurutnya ia akan mengganggu pertarungan orang. Namun Adrine hanya bertarung dengan orang yang sedang memiliki waktu luang atau tidak bertarung dengan siapapun. Dari sanalah Adrine dan kedua temannya mendapatkan beberapa point tersebut.


Untuk sekarang ini, Adrine dan kedua temannya itu sedang beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi masing-masing, mereka semua terus mencari Etern yang posisinya masih belum diketahui sama sekali, jadi Adrine memutuskan untuk istirahat sejenak agar kondisi dan energi teman-temannya pulih secara perlahan seiring berjalannya waktu.


'Ini sudah lebih dari 2 jam, jauh dari apa yang kuperkirakan sebelumnya. Dimana Etern sekarang?' Pikir Adrine.


Ruang yang ada dibawah gunung tersebut sangatlah luas, dan juga tempat kemunculannya juga sangatlah acak. Adrine sendiri tak tahu pola dari kemunculannya, jadi sebisa mungkin ia menghindari adanya perpisahan atau kekalahan.


Namun tak tahu kenapa, tak ada sama sekali yang namanya hewan spirit dibawah ruang tersebut, Adrine sendiri merasa aneh akan hal tersebut karena ada yang ganjil.


'Biasanya tempat yang memiliki energi elemental yang cukup kuat seperti ini dihuni oleh para hewan spirit, bahkan biasanya mereka lebih kuat daripada biasanya yang berada dihutan.' Pikir Adrine.


Menurut Adrine, hal seperti ini sangatlah ganjil jika benar-benar dihubungkan dengan hewan spirit, dikarenakan magma yang tersebar dimana-mana itu memiliki suhu yang tinggi dimana biasanya hewan spirit yang mempunyai kecocokan dengan elemental api seperti ini akan sangat diuntungkan, namun tidak pada ditempat Adrine sekarang ini. Hal tersebut membuat beberapa orang yang cukup teliti menjadi agak bingung dengan hal tersebut.


'Hmm... Lupakan! Lagipula sekarang aku harus fokus mencari Etern yang masih belum diketahui dimana, entah dimana juga dia?' Pikir Adrine.


Sebenarnya Arpha dan David juga ingin saling berkeluh kesah akan hal tersebut, namun karena tak ada yang berani dan sedikit malu dengan satu sama lain, jadi mereka semua hanya memendam keluhan mereka masing-masing.


Arpha sendiri sudah tak bisa menahan keluhannya, ia langsung bertanya kepada Adrine tentang perubahan rencana atau semacamnya.


"Hei Adrine, apakah kau tidak ingin mengubah rencananya? Kita sudah melakukan semua yang kau rencanakan, namun tak ada hasil yang kita dapatkan atas semua ini, kau perlu merubah beberapa rencana!"


Arpha sedikit kesal atas rencana yang dipikirkan oleh Adrine, begitu juga dengan David, ia merasa kalau rencananya itu cukup egois dan tidak mementingkan suara yang lain.


"Betul juga Adrine, kau hanya akan terlihat egois jika terus seperti ini, rencana untuk mencari Etern tak akan berhasil, aku sendiri tak yakin apakah rencana ini dapat berhasil dalam waktu kurang dari 5 jam."


Walaupun telah diingatkan oleh David, namun Adrine tetap diam. Ia sendiri juga sedang memikirkan akan rencana baru yang dimana akan menguntungkan masing-masing. Arpha sendiri hampir tak mau tahu, ia ingin segera Adrine untuk mengubah rencananya apapun itu.


"Bisa jadi kita akan memiliki point yang lebih banyak jika kita memprioritaskan point terlebih dahulu."


Tetap saja Adrine diam walaupun Arpha mengambil suara, namun bukan tak ada sebab Adrine terus diam seribu bahasa, dirinya yang sekarang ini sedang memikirkan tentang rencana yang juga bisa membuat kedua temannya itu setuju dan merasa diuntungkan pula termasuk dirinya. Namun Adrine sendiri masih memikirkan tentang Etern, ia tak ingin Etern melihat Adrine bersama kedua temannya itu lulus dan dilihat oleh Etern yang bisa jadi tak lulus.


Adrine masih belum tahu rencana apa yang akan diubahnya, ia masih belum punya ide yang lain mengubah rencananya. Karena itu Adrine hanya akan menggunakan rencana asal-asalan yang telah ia ciptakan sebelumnya. Walaupun disusun secara asal-asalan dan mendadak karena tak tahu kalau tempat kemunculan ditentukan secara acak, namun rencana ini tetap lebih baik daripada terus mementingkan pencariannya terhadap Etern.


"Baiklah, aku telah memutuskan, kita akan melawan siapapun yang kita lihat sekaligus mencari Etern. Jadi kita punya waktu dan kecepatan yang memadai."


David dan Arpha langsung tersenyum senang mendengarnya, bukan karena senang Adrine telah meninggalkan rencananya yang sebelumnya, namun karena rencana kali ini bisa menguntungkan bagi masing-masing pihak. Mereka berdua juga senang karena Adrine tidak berpikiran sempit dan egois atas rencananya.


"Bagaimana kalau kita langsung saja?"


Arpha semakin tak sabar untuk segera mempercepat rencananya, bukan karena demi mempercepat rencana, namun karena ingin segera menghajar lawan dan juga mendapatkan point'sebanyak-banyaknya. Adrine hanya tersenyum melihat Arpha yang terburu-buru, ia suka dengan sifat Arpha yang suka tergesa-gesa.


"Ayo! Aku juga merasakan aura dari beberapa orang yang sedang saling bertarung, ikuti aku!"


Adrine pun bergerak dan kedua temannya mengikutinya dari belakang. Adrine memang merasakan adanya aura kekuatan yang dimana bukan hanya 1 ataupun 2 orang saja, namun lebih dari 2 orang. Akan tetapi aura yang dirasakan oleh Adrine hanya terasa tipis dan tidak terlalu mencolok, hal itu menandakan bahwa kekuatan dari beberapa orang itu tidak terlalu lemah. Menurut Adrine kekuatannya hampir setara dengan Arpha.


Ketika Adrine mendekatinya, aura yang dirasakannya memang membesar, namun tidak terlalu besar dan masih dalam perkiraannya. Adrine dan kedua temannya melihat adanya 5 orang yang dimana terdapat 2 kubu, yang satu adalah 3 orang dan yang satunya lagi adalah 2 orang. Adrine tidak mengenal mereka dan dimana kelompok yang bertiga itu berasal dari perguruan utara, jadi Adrine tidak mengenalnya. Untuk kelompok yang satunya lagi, memang dari perguruan selatan, namun Adrine tidak terlalu mengenal kedua orang itu.


"Kita ambil saja point milik murid utara, kita tinggalkan saja yang murid selatan."


Adrine bisa membedakan mana murid utara dan mana yang murid selatan karena Adrine sudah sedikit tahu dan familiar akan wajah-wajah dari murid selatan, dan Adrine memiliki insting yang cukup kuat dimana ia bisa mengenali orang yang pernah berada disekitarnya.


"Kedua orang itu kita tidak ambil sekalian? Apa kau yakin?"


Arpha tidak yakin akan keputusan Adrine untuk membiarkan point milik murid selatan, namun Adrine hanya mengangguk dan sangat yakin akan keputusannya.


"Tunggu dulu! Aku yang akan kesana dan kalian akan datang kesana menunggu aba-aba dariku!"


Arpha dan David mengangguk paham akan perintah Adrine.


Lalu Adrine pun pergi menemui 2 orang murid selatan. Sebenarnya ia ingin tahu akan kemampuan lawan dan menguji kemampuan dari 2 orang yang akan ditolongnya. Disaat Adrine mendekati kelima orang itu, ia merasakan adanya perbedaan yang besar diantara 2 kubu tersebut, Adrine tak yakin kalau kedua orang yang murid selatan itu bisa mengalahkan lawan mereka. Adrine sendiri bahkan tak menjamin kemenangan dari kedua orang itu jika dipihak mereka ditambah lagi seseorang yang kekuatannya setara dengan kedua orang itu.


Adrine pun ingin menawarkan bantuan kepada mereka agar bisa saling menguntungkan masing-masing. Adrine pun mendekati mereka berdua, serentak kelima orang yang ada disana melihatnya.


"Hei, apakah kau membutuhkan bantuan?"


Murid-murid dari utara pun menatap Adrine dengan tatapan yang rendahan. Mereka pun tersenyum menghina ketika kedatangan Adrine disana.


"Oh... Datang bala bantuan ya? Apa kalian menjadi seorang pengecut yang hanya berlindung dari belakang saja?"


Ketika Adrine menawarkan bantuannya, kedua orang yang ditawarinya malah menatapnya dengan sinis. Tak tahu apa yang mereka pikirkan, namun sepertinya mereka telah berpikir buruk akan kedatangan Adrine.


"Kami berdua tak butuh bantuan darimu! Sudahlah, pergi sana!"


Adrine malah diusir dari sana oleh kedua orang yang sedang ia tawari sebagai bantuan. Namun Adrine bukan orang yang membiarkan orang lain sengsara, ia berusaha untuk bisa membantu mereka walaupun dengan cara yang kurang baik.


"Aku punya beberapa kejutan untuk kalian. Apa kalian tahu, tadi Yama meminta bantuan dariku untuk melawan beberapa murid utara yang mengepungnya? Dan kalian tahu? Aku membantunya."


Seketika kedua orang itu terkejut. Sepatah kata pun terlontar dari mulut mereka.


Jelas mereka tak dapat mempercayainya, namun mereka tetap berpikir secara logis agar mempertimbangkan bantuan dari Adrine. Mereka berdua tahu kalau Adrine pernah mengalahkan Yama beserta anggota yang lain dari Geng Lima Jenius secara langsung.


"Baiklah, kau boleh membantu, tapi kau hanya boleh mengambil 1 saja."


Kedua murid itu juga tak mau kehilangan point yang sudah ada didepan mata, jadi mereka memperingatkan kepada Adrine untuk tidak mengambil semuanya. Akan tetapi sepertinya Adrine tidak berencana untuk maju dan membantu secara langsung, ia hanya tersenyum ketika tawarannya diterima dengan baik dan tanpa paksaan.


"Bukan aku yang akan membantu kalian, tapi temanku lah yang akan membantu kalian berdua."


Lalu datanglah Arpha yang entah bagaimana ceritanya ia seperti telah terpanggil walaupun Adrine belum memberikan aba-aba.


"Aku belum memanggilmu, kenapa kau sudah kemari? Dan lagi, aku bukan ingin memanggilmu, aku ingin memanggil David."


Adrine terlihat cukup kesal hanya dari nada bicaranya, namun wajahnya hanya terlihat datar dan tidak terlalu terlihat kalau ia sedang marah dan kesal. Arpha hanya tersenyum mendengar ocehan dari Adrine, namun hal itu tidak membuatnya mundur.


"Tenang saja, aku juga bisa membantu sama seperti David."


Dengan sangat percaya diri Arpha menepuk dadanya sendiri. Hidungnya terlihat panjang yang memang dirinya sedang menyombongkan diri.


"Haiish... Kalau begitu baiklah, tapi kalau kau merasa tak mampu kau bisa mundur dan digantikan oleh David. Kau hanya perlu mengalahkan satu diantara mereka."


Adrine sendiri sebenarnya sedang menyarankan untuk mundur kepada Arpha didalam sarannya itu, namun Arpha terlihat menolak akan sarannya dan masih terlihat congkak dan sangat percaya diri akan kemampuannya.


"Baiklah, itu tak akan terjadi! Ayo kita maju! Kita lawan satu-satu dari mereka."


Setelah itu, Adrine pun mundur dan melihat pertarungan dari keenam orang yang ada didepannya dari jarak jauh. Ia sendiri telah memprediksi akan hasilnya yang dimana adalah seimbang, namun bisa saja lebih unggul jika Arpha bersedia untuk menguras energinya. Adrine sendiri tahu kalau Arpha tetap harus mengeluarkan banyak teknik dan kekuatan untuk bisa mengalahkan lawannya.


Bisa dikatakan dari prediksi Adrine, Arpha masih kurang untuk bisa membantu, namun ia tahu kalau Arpha masih punya kesempatan untuk bisa menang kalau ia menggunakan seluruh kekuatannya. Hal itu akan secara langsung menguras seluruh tenaganya dan langsung kelelahan setelah pertarungannya selesai.


Arpha beserta yang lainnya pun telah maju, begitu juga dengan lawannya yang juga tak ingin kalah, mereka beradu kekuatan dan saling mengeluarkan masing-masing teknik yang telah mereka kuasai.


"Untuk awalannya cukup bagus, tapi aku tidak menjamin kalau Arpha bisa menang melawan orang itu, tapi aku juga tidak menjamin kalau Arpha akan kalah dari orang itu."


David paham akan maksud dari perkataan Adrine, pemikirannya memang sudah bisa mengerti dengan pemikiran dan perkataan Adrine.


"Maksudmu kalau Arpha akan seimbang melawan orang itu? Benar bukan?"


Adrine mengangguk beserta tersenyum mendapati David yang langsung paham akan maksudnya. Adrine sendiri juga tahu kalau David itu memang cukup pintar dan pemikirannya sudah sangat matang dibandingkan dengan orang yang seusianya.


"Tapi Adrine, apa menurutmu mereka akan menang?"


Ketika ditanya oleh David, Adrine menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Aku sendiri tak yakin akan kemampuan dan kekuatan dari pihak kita."


Adrine memang telah memperkirakan itu semua, namun David ingin mencari tahu apa sebenarnya dari rencana yang telah disusun oleh Adrine sebenarnya.


"Lalu kenapa kau memerintahkan kepada Arpha untuk terjun kesana? Bukankah lebih baik aku yang kau kirim? Jika aku yang kau kirim, presentasi kemenangan pun juga akan meningkat."


Adrine hanya menggelengkan kepalanya dengan perlahan, David masih kurang mengerti akan rencana yang sebenarnya disusun oleh Adrine. Ia tak mengerti, kenapa harus mengirim Arpha yang presentasinya lebih kecil dibandingkan dengan dirinya yang presentasinya lebih besar.


'Atau jangan-jangan...' Pikir David.


Raut wajah David berubah, ia seperti menyadari akan adanya sesuatu dan maksud dari rencana Adrine yang sebenarnya.


"Apa kau bermaksud untuk membuat mereka kalah dan kau akan datang membantu mereka? Lalu mereka akan secara sukarela membantumu nanti?"


Adrine tersenyum puas ketika David menyadari akan rencananya, ia memang sudah menduga kalau David juga akan menyadarinya secara perlahan.


"Tepat sekali! Kebanyakan orang yang membutuhkan bantuan itu akan tunduk pada orang yang membantunya. Tapi aku merasa tak yakin kalau mereka bersedia untuk membantuku. Kau tahu, mereka dulu membenci diriku karena aku telah mempermalukan seluruh perguruan."


David mengerti akan perkataan Adrine, ia tahu kalau hal itu akan susah untuk diterima mereka yang mendapati seseorang yang mempermalukan perguruannya dan menawarkan bantuan, apalagi bantuan tersebut memiliki maksud tertentu.


"Lalu mengapa kau masih melakukannya? Bukankah itu semua bisa merusak reputasimu?"


David sendiri juga mengkhawatirkan Adrine yang dimana ia tahu kalau teman dekatnya ini punya masalah bahkan sampai dengan semua murid perguruan.


"Sebuah keberhasilan tak akan langsung muncul tanpa adanya kegagalan, harus dilakukan banyak percobaan agar bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Selagi aku punya peluang, aku masih berani untuk mencobanya."


Walaupun sepertinya perkataannya sangatlah emosional dan penuh dengan ambisi, namun wajahnya hanya terlihat datar dan nampak seperti orang yang sedang termenung. Tak banyak ekspresi yang dikeluarkan oleh wajahnya, hanya terlihat datar dan cukup tersenyum, itulah yang selalu menjadi ekspresi utama dari Adrine.


"Dengarlah! Aku masih punya rencana untuk melakukan semua yang aku inginkan. Tenang saja, kau hanya tinggal melihat dan mengikuti semua rencanaku!"


David pun mengangguk paham akan perkataan Adrine.


"Baiklah, aku siap!"


Adrine pun tersenyum ketika mendengarnya.


Bersambung!!