Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Menjalankan Misi Pertama


Pertarungan Adrine dan Angelo selesai dengan begitu cepat. Pria yang rambutnya berwarna merah kekuningan itu dikalah Adrine dalam sekali serang. Tubuhnya terkapar di tanah dan tak dapat berkutik lagi.


Sementara Adrine sedikit lelah karena sulit dalam menyeimbangkan Ascended Sword dengan pedangnya.


'Huuuh ... Hampir saja ... '


Kini Adrine pedangnya Pedang Ketiadaan Surgawi. Itu karena ia ingin memanggil pedang itu dengan nama aslinya.


Adrine paham resiko menggunakan teknik Ascended Sword pada pedang yang mana itu adalah artifak tingkat Murni peringkat delapan. Apalagi jika pedang itu memiliki tingkat yang lebih tinggi lagi, maka yang ada kerusakannya bukan hanya pada pedangnya saja, mungkin saja menyerang mata jiwanya. Itu resiko besar menggunakan Ascended Sword pada artifak jiwa karena memang pada dasarnya teknik Ascended Sword adalah teknik tingkat Misteri. Semakin tinggi Ascending dan tingkat pedangnya maka akan semakin besar resikonya.


Sekarang Adrine dinobatkan sebagai pilar terkuat di tingkat Keabadian. Orang-orang yang sebelumnya menghujat, mencibir, ataupun mengatainya kini hanya bisa terdiam dan mencari alasan kenapa Angelo bisa kalah.


Mereka yang tak terima akan terus membuat alasan dan keburukan Adrine atas kemenangannya itu.


Tetapi Adrine tak punya waktu untuk itu semua, ia ingin segera menjalankan misinya di kota Yunsha.


Ketika Adrine keluar, ketua Fheafel datang menemuinya. Dia mengucapkan selamat sekaligus terima kasih karena berhasil mendapatkan gelar pilar terkuat. Bahkan pria berpakaian serba emas itu juga menawarkan akan menghantarkan Adrine hingga ke perbatasan.


"Baiklah, terima kasih atas bantuannya."


Lalu ketua Fheafel, Adrine, dan Reina menuju ke lapangan yang di depan aula utama. Arena pertandingan tadi diapit oleh gerbang masuk dan aula utama.


Tanah lapangan berbalik dan terdapat tiga buah pesawat yang salah satunya akan digunakan oleh ketua Fheafel mengantarkan Adrine.


Selepas itu, mereka berangkat menuju ke perbatasan Prefektur Yamura. Di perjalanan mereka melewati dua kota besar, yakni kota Pava dan kota Mera.


Ketika mereka sampai, Adrine dan Reina turun bersama. Ketua Fheafel kembali ke organisasi dan perjalanan mereka sebelumnya memakan waktu hingga dua jam lamanya. Perbatasan Prefektur Yamura adalah sebuah dinding raksasa yang membentang luas dari selatan ke utara.


Dikatakan untuk masuk ke dalam Prefektur Yamura tidak memiliki izin khusus maupun memerlukan undangan. Tetapi Adrine mendapatkan masalah ketika handak masuk ke dalamnya.


Adrine dihadang oleh empat orang yang memiliki tingkat kultivasi Kesempurnaan.


"Hei, bocah! Apa kau ingin masuk ke dalam?" Tanya salah seorang di sana.


Adrine mengangguk.


Empat orang itu termasuk orang yang bertanya barusan melirik wanita di belakang Adrine. Bibir mereka tersenyum lebar seraya menatap satu sama lain dengan pemikiran yang sama.


"Tiga ratus ribu koin plasma! Itu harga yang sudah kami beri potongan, berikan wanita itu kepada kami juga!" suruh orang itu lagi.


Adrine melirik Reina di belakangnya. Kemudian ia bertanya, "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Reina menyibakkan rambutnya, "Seharusnya kau sudah tahu. Kita tak punya kekuatan untuk melawan, seharusnya kita kembali," jawabnya.


"Bagaimana kalau aku membayar mereka?"


Reina sedikit terkejut dengan jawaban Adrine. "Ini bukan masalah uang, aku juga tak mau memiliki kesan seperti wanita yang hanya menginginkan seorang pria."


Adrine menghela nafas, Reina pun hanya terdiam setelah itu. Mereka memutuskan untuk kembali dan membatalkan misinya.


"Hei, tunggu! Kalian mau ke mana? Bagaimana kalau kami beri potongan lagi, dua ratus delapan puluh lima ribu?" tawar orang-orang itu lagi. Adrine dan Reina tak memperdulikannya dan tak sudi membalikkan wajahnya.


"DUA RATUS TUJUH PULUH RIBU! KAMI JUGA AKAN MEMBAWA KALIAN BERKELILING KOTA SEBAGAI BONUSNYA!!!" ucapannya semakin memaksa dan nada bicaranya seperti orang yang sedang marah.


Lalu Adrine menoleh, "Diamlah! Kami sedang berpikir!" serunya dengan tatapan wajah yang marah, dahinya terlipat, suaranya juga terdengar seperti orang yang sedang kesal.


Orang-orang yang menjaga gerbang itu terdiam dan mundur untuk meyakinkan Adrine dan Reina.


Setelah itu, Adrine berbisik kepada Reina, "Aku punya ide."


Sementara itu orang-orang sebelumnya saling berbisik satu sama lain. Mereka juga kesal dengan sikap Adrine terhadap mereka. Orang-orang memang berniat untuk memeras uang Adrine dan mengambil wanita yang bersamanya.


"Mereka tak mungkin akan pergi. Mereka datang ke sini yang pastinya ada suatu kepentingan, bukankah kalian melihat pesawat tadi?"


"Ya, kuyakin mereka pasti akan kembali ke sini."


"Walaupun wanita itu masih bocah, tapi tetap saja tubuhnya itu ... "


"Kau terlihat seperti seorang pedofil, menjijikkan!"


"Apa maksudmu, wanita itu pasti sudah berusia tiga puluhan dan dia juga sudah tidak lagi anak-anak. Lagipula wanita itu terlihat lebih tua daripada pria yang bersamanya."


"Apa ada dari kalian yang bisa melihat profil mereka berdua? Identitas mereka sangatlah tersembunyi, firewall yang mereka gunakan sangat kuat."


"Ya, aku juga merasa aneh."


Mereka saling sahut menyahut membicarakan Adrine dan Reina. Sementara orang yang dibicarakan benar-benar balik lagi ke sana. Mereka berdua memang berniat untuk menyelesaikan misinya.


"Bagaimana? Apa kau setuju?" tanya orang-orang itu lagi.


Adrine memasang tampang bingung, "Apa yang kalian bicarakan? Setuju apa?" tanyanya.


"Apanya yang apa? Maksudku bagaimana dengan harga yang kutawarkan tadi? Kau setuju tidak?" tanya orang itu balik.


"Oooh ... Untuk masuk ke dalam?"


Mereka semua mengangguk dengan tatapan bingung, mengira Adrine adalah seseorang yang ingatannya tidak normal.


"Hmm ... Antarkan dulu kami ke dalam, setelah itu kami akan membayarnya, bagaimana?" tanya Adrine lagi.


Beberapa orang tak setuju dengannya, tetapi mereka tak punya pilihan lagi. Mereka membiarkan Adrine dan Reina masuk ke dalam serta dikawal masuk oleh salah satu dari keempat orang yang menjaga barusan.


Selepasnya orang yang bersama Adrine dan Reina meminta bayarannya serta menggandeng tangan Reina dengan sangat erat.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Adrine marah.


Orang yang menggandeng Reina bingung, "Kau ini ... Aku tak mengerti lagi, apa ingatanmu itu bermasalah? Kami akan membawanya juga bersama uangmu, mana uangmu?!" suruhnya.


Lantas Adrine hanya tersenyum tak menjawab ataupun berbuat sesuatu.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya seseorang tadi.


Adrine tidak menjawab apapun. Ia hanya tersenyum seraya mengangkat tangannya. Lantas mengacungkan jari tengahnya.


"Buat apa kami harus membayar kalian? Masuk ke Prefektur Yamura bukanlah sesuatu yang berbayar, lagipula kami bukanlah penyusup," ujarnya.


Lalu kawanan yang lainnya muncul karena mendengar ucapan Adrine. Mereka memang sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi, mereka juga sudah sering mendapat masalah seperti ini. Antusiasme mereka benar-benar luar biasa dalam mengatasi apa yang sedang dilakukan oleh Adrine sekarang ini.


"AARGH!!"


Seseorang yang menggenggam tangan Reina berteriak. Wanita yang digenggamnya menusuk pergelangan tangannya dengan menggunakan jarum yang sangat kecil. Reina berhasil kabur dan kembali ke sisi Adrine. Mereka berdua yakin untuk bisa mengalahkan lawan mereka yang menang dalam jumlah sekaligus tingkat kultivasi.


"Kalian ingin melawan kami yang sudah jelas menang jumlah ini? Sadarlah! Kalian berdua saja hanya baru sampai ke tahap Nirvana Alam Pertama, kami saja yang paling rendah adalah tahap Penciptaan level-2 kelas puncak."


Adrine amat sangat tahu akan hal itu, maka dari itu ia agak menjaga jarak. Tetapi bukan karena dirinya dan Reina kalah jumlah maupun tingkat kultivasi.


"Ugh ... Apa kau bisa mengobati lukaku?" pinta seseorang yang tangannya baru saja ditusuk oleh Reina.


"Tentu," sahut temannya sembari memeriksa tangan orang yang terluka tadi.


Orang yang mengobati tadi mencabut jarumnya terlebih dahulu. Dan yang terluka mengerang kesakitan.


Ketika diperiksa, nadi orang yang terluka tadi berubah menjadi berwarna kehitaman. Mereka berdua bingung melihatnya, tetapi mereka langsung sadar kenapa itu terjadi. Mereka panik dan yang terluka itu lekas menghisap racun di pergelangan tangannya.


"SIALAN! AKU KERACUNAN!" teriaknya.


Adrine dan Reina hanya tersenyum kegirangan, mereka memang telah merencanakan ini semua untuk bisa segera masuk. Waktu mereka jadi tersita hanya karena dihambat jalan masuknya saja.


"APA YANG TELAH KAU LAKUKAN KEPADA GODA?!"


Adrine hanya diam sembari memalingkan mukanya, ia merasa tidak melakukan tidak melakukan sesuatu.


"Racun Bunga Mawar, sama seperti namanya, bunga mawar adalah bunga yang batangnya berduri, jadi hanya dengan menyentuh saja racun itu dapat menular," ujar Reina.


Keempat orang yang menghadangnya tadi terkejut, dua dari mereka merasa telah menyentuh jarum yang mana itu adalah sumber racunnya. Mereka panik karena sudah ada tiga orang yang terkena Racun Bunga Mawar.


"Ka ... Kalian ini! Tapi sejak kapan?" tanya orang yang masih belum terkena racun.


Adrine dan Reina hanya tersenyum sembari menatap satu sama lain, mereka memang telah merencanakan itu semua sebelumnya.


Bersambung!!