
Didalam Hutan Sindra, Adrine dan seluruh Geng Deon sedang membicarakan tempat tinggal mereka nantinya disaat Adrine pergi.
"Apa kita perlu membangun rumah?"
Adrine mengusulkan untuk membangun rumah secara manual dan mencari bahan, apalagi mereka sedang dihutan dan bahan-bahannya bisa dengan mudah dicari. Dan semua yang ada disana setuju.
"Oh iya, bukannya kakak bisa menggunakan Energi Mental dan Jimat Mental? Jika kakak bisa menggunakannya, itu akan membuat pembangunannya menjadi mudah."
Sura mengajukan saran yang mungkin menurutnya kesan yang ditujukannya seperti sedang memerintah. Namun Adrine menerimanya dengan senang hati.
Walaupun Adrine setuju, tapi ada yang membuatnya seperti harus berpikir ulang.
"Apa disini cuma aku yang bisa menggunakan Jimat Mental?"
Tadi Sura bukan hanya sekedar memberikan saran, namun ia juga punya cara untuk membantu.
"Kakak, disini aku juga bisa menggunakan Jimat Mental seperti kakak, tapi mungkin tidak sebagus dengan kakak."
Adrine menjadi cukup senang karena ada yang sama-sama bisa menggunakan Jimat Mental.
"Bagus itu, tidak bagus pun yang penting bisa membantu. Bagaimana kalau kita sekarang saja?"
Serentak semuanya setuju dan menganggukkan kepalanya. Mereka semua langsung bergerak dan bergegas mencari bahan-bahan untuk membangun sebuah rumah, seperti kayu dan batu.
Bahkan Adrine juga ikut membantu untuk membangun. Disana, Adrine membantu untuk membangun bagian rumahnya. Dan Adrine juga sudah membagi tugas untuk yang lainnya mencari bahan-bahannya.
Sementara itu, Kai dan Heyto sedang bersiap-siap untuk menjemput Adrine. Taro sedang mempersiapkan kendaraan untuk menjemputnya.
"Bagaimana? Apa kendaraannya sudah siap?"
Kai yang masih menanyakan persiapan kendaraan, Heyto langsung nyelonong masuk kedalam pesawat tanpa memperdulikan persiapannya seperti Kai. Taro pun turun untuk menjawab pertanyaan dari Kai karena Taro punya sikap yang sopan.
"Ya, sudah siap. Kau lihat sendiri kan, itu Heyto langsung masuk berarti pesawatnya sudah siap."
Taro pun mempersilahkan Kai untuk masuk duluan. Dan setelah itu, ia pun masuk sebagai pilot yang mengendarai pesawat itu.
WUUUSSHHH!!
Pesawat pun terbang dan berangkat untuk menjemput Adrine. Heyto masih terus berharap sesuatu yang baik akan selalu terjadi pada Adrine.
Dan ditempat Adrine, semuanya masih terus bekerja hingga waktu telah pagi kembali. Mereka pun telah berhasil menyelesaikan satu bangunan kecil yang cukup digunakan beberapa orang yang ada disana untuk beristirahat dan berlatih.
"Ah, akhirnya selesai. Baiklah, aku akan pergi sekarang. Jaga diri kalian baik-baik!!"
Adrine pun langsung pergi meninggalkan seluruh Geng Deon disana dan menuju keperguruan murid inti.
"Kakak ingin langsung pergi? Baiklah kalau begitu, baik-baik juga disana, kakak!"
Semua yang ada disana mendoakan balik pada Adrine agar semuanya baik-baik saja dan takdir baik selalu berdampingan.
Adrine pun pergi dan melambaikan tangannya. Shino dan yang lainnya juga melambaikan tangan mereka balik kearah Adrine.
Setelah Adrine pergi, Shino dan yang lainnya langsung berlatih. Ada beberapa yang masih ingin membangun rumahnya untuk menambah bagian sisa yang belum selesai dan diperluas, dan yang lainnya berkultivasi dan berlatih.
Disaat Adrine telah berjalan cukup jauh, ia mendengar suara mesin dari kejauhan. Dan disaat suaranya semakin jelas, Adrine melihat kalau suara mesin itu berasal dari sebuah pesawat yang sedang terbang kearahnya.
"Siapa itu? Apa mereka dari rasi bintang?"
Adrine awalnya mengira kalau pesawat itu adalah pesawat tempur yang dulunya ia lihat, namun setelah Adrine melihatnya dengan teliti, ia melihat kalau pesawatnya berbeda. Pesawat itu lebih mirip dengan Pesawat Saber 0109.
Pesawatnya pun berhenti disaat mulai berada dekat dengan Adrine. Seperti apa yang terjadi, Adrine sangatlah terkejut mendapati pesawat yang tiba-tiba mendekatinya dan berhenti tepat didekatnya.
"Kenapa pesawat ini mendarat didepanku?"
Adrine sangat terkejut. Tapi Adrine lebih terkejut ketika melihat pintu pesawatnya terbuka yang bahkan pesawatnya saja belum mendarat.
Dan tiba-tiba saja muncul seseorang yang melompat dari pintu pesawat tersebut. Tubuhnya nampak seperti siluet yang hanya seperti bayangan hitam karena membelakangi arah cahaya.
WUUUSSHHH!!
Disaat orang itu telah menapak tanah, debu menghembus begitu kencang hingga membuat Adrine batuk.
Lalu orang itu langsung menghampiri Adrine dan memeluk Adrine.
"Akhirnya, kau kembali. Darimana saja kau ini, Adrine?"
Adrine terkejut. Ia mengira kalau orang itu sedang salah orang, namun orang itu menyebutkan nama Adrine yang berarti ia memang kenal dengan Adrine.
"Ah, maaf. Siapa ya?"
Adrine benar-benar masih belum mengenali siapa yang memeluknya karena belum melihat secara langsung wajah dari orang yang memeluknya.
"Selama ini kau pergi dari perguruan, sampai-sampai kalau dirimu itu tidak mengenaliku. Apa kau sekarang masih tidak mengenaliku?"
Hanya dari suaranya Adrine sudah mulai sedikit merasa familiar dengan orangnya. Apalagi disaat orang itu menampakkan wajahnya kepada Adrine.
"Master Heyto?"
Adrine benar-benar terkejut hingga setengah mati. Ia tidak menyangka kalau orang yang pertama kali menyambutnya adalah Heyto.
Dan seketika itu, Adrine refleks mengeluarkan beberapa pil yang ada didalam cincin penyimpanan.
"Apa ini?"
Heyto sangatlah terkejut ketika Adrine tiba-tiba mengeluarkan banyak sekali pil yang banyak dari cincin penyimpanannya.
"Bukankah ini semua yang dulu kujanjikan padamu?"
Adrine masih teringat jelas kesepakatan mereka berdua. Namun raut wajah Adrine sedikit berubah disaat memberikan semua itu.
"Kenapa raut wajahmu berubah seperti itu?"
Adrine hanya sedikit terdiam. Ia pun menoleh kearah Shin kecil dan kembali menatap Heyto.
"Mungkin ini hari terakhir kesepakatan kita selama ini. Memang sulit untuk mengatakannya, tapi aku... Aku menjual sumber dari semua pil yang kudapatkan."
Adrine sebenarnya tidak pandai dalam berbohong, namun ia juga terpaksa berbohong dengan aktingnya yang tidak bagus.
"Tidak apa-apa, yang penting kau itu sudah kembali. Untuk uangmu, nanti akan aku transfer ketika kita pulang."
Heyto langsung percaya dengan perkataan Adrine tanpa harus berbasa-basi. Dan ia juga langsung mengajak Adrine untuk segera pulang keperguruan murid inti.
Pesawat yang tadi telah mendarat dengan sempurna dan muncul seseorang dari dalam seperti sedang menyambut kedatangan Adrine. Dan orang itu adalah Kai.
"Halo Adrine, bagaimana kabarmu?"
Kai terlebih dahulu menanyakan kabar Adrine. Dan Adrine juga mengangguk.
"Baik, terima kasih karena telah menanyakan kabarku. Bagaimana juga dengan kabar Master Kai?"
Master Kai mengangguk.
"Baik juga. Sekarang kita masuk kedalam dan kembali keperguruan!"
Adrine pun mengangguk karena ingin segera bertemu dengan Etern. Disana Heyto merangkul Adrine dan berjalan masuk kedalam pesawat bersama dengan Adrine.
Dan disaat Adrine dan Heyto masuk kedalam pesawat, pintu pesawat pun langsung menutup. Dan yang menutup pintu itu adalah Taro yang ada didepan dan menjadi pilotnya.
"Baiklah, sekarang kita akan kembali."
Taro pun dengan semangat menekan banyak tombol yang ada didepannya dan diatasnya. Lalu pesawat pun terbang kembali dan segera menuju keperguruan murid inti.
'Etern, Arpha, Senior David, dan Nicho, tunggulah aku! Aku sudah dalam perjalanan kembali.' Pikir Adrine.
Adrine berharap untuk penantian mereka semua, namun Adrine tak tahu, bahwa Nicho telah dipindahkan secara khusus untuk menghindari permasalahan lain.
Dan ditempat Nicho yang sekarang, ia pun juga berharap tentang kepulangan Adrine. Tak hanya Nicho, Bahkan Etern, Arpha, dan David juga menunggu kepulangan Adrine.
Bersambung!!