Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Ujian Kelulusan (8)


Lolongan suara keras terdengar dari sisi sebuah pertarungan hebat, munculnya sesosok yang tiba-tiba diiringi oleh suara keras itu beserta dengan gerakan penuh semangat dan kekuatan. Sesosok itu adalah Adrine yang sedang menahan serangan dari pukulan tangan yang menggenggam sangat erat sekali.


Disaat-saat sebelumnya Adrine telah memperkenalkan dirinya yang dimana langsung mengejutkan seluruh orang yang ada disana kecuali mereka yang sebagai murid selatan. Sungguh tak disangka ketika Adrine memperkenalkan siapa dirinya membuat semuanya menjadi hening dengan penuh keterkejutan dalam hati masing-masing orang yang ada disana, bahkan murid selatan yang ada disana juga terkejut ketika melihat Adrine membantu mereka.


Namun tak selamanya mereka terus diam terkejut tanpa ada reaksi lainnya, Qiandi pun membuka mulutnya.


"Kau Adrine?"


Adrine juga membuka matanya tanpa menghilangkan senyumannya itu, seakan ia terkejut ketika Qiandi menyebutkan namanya, padahal ia tahu kalau memang sudah banyak yang mengenalnya, jadi ia hanya hanya berpura-pura saja.


"Oh? Kau mengenalku?"


Mereka semakin penasaran dengan Adrine, apalagi kedatangannya yang sangat tiba-tiba dan menghentikan sebuah serangan yang kuat. Namun dengan ekspresi Adrine yang seperti itu membuat orang lain disekitarnya menjadi penasaran dan bingung.


Rio sendiri juga berganti menatap Adrine yang awalnya terus memandangi Qiandi yang ingin menyerang dirinya. Namun bukan seperti sebelumnya yang dimana Qiandi berinisiatif untuk mundur, sekarang ia berpikir kalau menghancurkan orang yang ada didepannya itu adalah sebuah tantangan tanpa kesulitan. Kini Qiandi malah tersenyum dan menatap Adrine dengan tatapan yang seperti penuh dendam, seakan ia ingin segera melampiaskannya.


Qiandi pun menurunkan tangannya dan mundur selangkah, ia seperti sedang bersiap. Adrine sendiri juga menurunkan tangannya dan masih tersenyum ramah. Lalu Qiandi memejamkan matanya sejenak dan membuka matanya kembali dan mengucapkan sesuatu.


"Tak kusangka kita akan bertemu disini!! Baiklah, ini adalah HARI KEMATIANMU!!!"


Dengan berteriak sekencang mungkin Qiandi dengan segera langsung melepaskan sejumlah besar energinya dan membuat orang lain menjadi tak nyaman dan perlu untuk menghindar ataupun bertahan. Dan kini senyuman ramah Adrine telah menghilang dan menatap konyol kearah Qiandi, dan ia juga mengibaskan tangan kirinya didepan hidungnya lalu mengatakan sesuatu.


"Ternyata mulutmu itu bau sekali ya? Ugh... Sungguh aku tak tahan dengan aromanya..."


Perkataan Adrine sangatlah memberi pukulan yang keras terhadap Qiandi. Perkataan itu bukanlah hanya sekedar sebuah mainan kata, namun hinaan yang sangat memalukan untuk Qiandi.


"BERANINYA KAU!!"


Emosi Qiandi semakin meluap dilihat dari ia yang berbicara keras seperti itu dengan nada yang penuh ancaman dan ia juga menggertakkan giginya bersama dengan tangannya yang sudah mengepal yang berarti ia telah bersiap untuk melepaskan sebuah pukulan.


Namun Adrine bersikap seolah seperti orang polos dengan matanya yang mendelik dan alisnya yang terangkat ditambah dengan ekspresi yang seolah sedang bertanya-tanya.


"Berani apa? Apa kau berbicara denganku?"


Pupil mata Qiandi kian menyusut karena merasa dipermainkan oleh orang yang ada didepannya. Emosinya hampir tak bisa dikendalikan.


"Ternyata mulutmu itu cukup menggelikan juga ya... AKAN AKU HANCURKAN MULUTMU ITU!!!"


Suara keras kembali terlontar pada mulut Qiandi, kini kekuatannya telah ia keluarkan hingga pada puncaknya. Adrine sendiri masih terlihat menjengkelkan dimata Qiandi, seolah ia memang seorang yang benar-benar polos dan berpikiran datar.


ZRAAAST!!


Qiandi bergerak dengan sangat cepat dan langkahnya membuat tanah yang ada disana berterbangan disertai dengan selimut tebal dari kegelapan bayangan merah kekuatan yang dimiliki oleh Qiandi. Namun serangan yang telah diluncurkan kepada Adrine nampaknya gagal total karena targetnya dapat dengan mudah menghindari semua serangannya. Tapi menurut Qiandi semua itu memanglah gerakan awal yang diciptakan untuk mengecoh Adrine agar membuat lawan berpikir kekuatannya itu mampu setara atau lebih lagi.


"Oh... Gerakan yang bagus untuk menghindari semua seranganku, tapi aku hanya sedang pemanasan. Kita akan lihat bagaimana kau akan menghindari yang satu ini!"


Lagi-lagi Qiandi mengeluarkan suara lantangnya, namun ia tidak berteriak seperti sebelumnya yang dimana sekarang ancamannya lebih halus, namun terkandung makna yang mematikan.


"Menarik. Coba kita lihat apakah yang satu ini akan gagal seperti tadi."


Sekali lagi Adrine juga melontarkan kalimat pedasnya untuk memanaskan emosi Qiandi yang mudah meluap, namun sepertinya Qiandi menahan emosinya dan hanya tersenyum tipis saja sambil menatap Adrine dengan tatapan yang sangat tajam.


"Baiklah, kau yang minta... AMUKAN PANTHER PETIR!!"


Tubuh Qiandi mengeluarkan sejumlah besar energi petir yang berwarna merah gelap dan membentuk 2 panther disebelahnya. Ukuran panthernya sebesar manusia jika tubuhnya berdiri tegak, namun sedikit lebih besar daripada manusia. Adrine sendiri cukup terkejut melihat hal tersebut.


"Apa?"


Seketika mata Adrine langsung terbuka lebar, ia teringat akan 1 temannya yang sampai kini belum ia temukan yaitu Etern. Elemental yang dikuasai oleh Qiandi ternyata hampir mirip dengan Etern yang dimana adalah petir bayangan, sangat mirip sekali apalagi warnanya yang merah gelap.


Karena sudah teringatkan akan hal tersebut, raut muka Adrine langsung berubah menjadi sangat serius. Tak tahu apa yang terjadi, kini Adrine langsung mengaktifkan mata jiwa kirinya. Pergerakan Qiandi dengan jelas bisa dilihat oleh Adrine, bahkan sangat mendetail. Energi yang dikeluarkan oleh mata jiwa Adrine cukup kuat sehingga Qiandi mampu merasakan energi tersebut walaupun samar-samar. Qiandi juga sudah tahu kalau Adrine akan menanggapinya dengan serius ketika melihat raut muka Adrine yang berubah.


Namun Qiandi hanya tersenyum saja sambil menatap Adrine. Ia cukup percaya diri disaat mengeluarkan 2 ekor panther disampingnya, namun sama sekali tidak membuat Adrine takut, hanya saja ekspresi wajah Adrine digunakan untuk mengecoh Qiandi seolah memang sedang ketakutan melihat teknik tersebut.


"Maju!"


Dengan 1 kata saja, 2 panther tersebut langsung mendengar perintahnya dan bergerak maju menyerang Adrine, diikuti Qiandi dari belakang kedua panthernya yang juga ikut bergerak menyerang. Qiandi memang menggunakan teknik tersebut sebagai kombinasi serangan, bukan untuk melindunginya.


Adrine hanya berdiri diam dengan aura yang telah berubah. Aura yang sebelumnya ramah seperti angin sepoi-sepoi, kini telah berubah menjadi dingin seperti badai petir. Qiandi bergerak secara acak dan memutari Adrine yang sedang diam ditempat dengan tatapan yang kosong, namun dibelakang tatapan kosong Adrine terdapat sebuah pemikiran yang penuh konsentrasi dan dipenuhi dengan energi yang terkonsentrasi pula. Mata Adrine melirik kanan dan kirinya tanpa menoleh sedikitpun.


Lalu Adrine mengayunkan kedua tangannya yang dimana jari telunjuk dan jari tengahnya telah dirapatkan dan jari lainnya menggenggam erat.


SLAAASH!!


Mirip seperti mengayunkan sebuah pedang, namun tangan Adrine seperti jauh lebih tajam daripada sebuah pedang. Ayunan tangan Adrine sangatlah cepat namun sangatlah sunyi tanpa suara sama sekali, namun kedua jari tersebut mengeluarkan energi yang sangat kuat hingga menciptakan gelombang kekuatan yang sangat kuat.


Tak disangka hanya dengan sekali tebasan tangan Adrine saja semua panther milik Qiandi telah musnah dalam serangan tersebut, kekuatan yang sangat dahsyat hingga membuat mata siapapun yang melihatnya menjadi terkejut dan terbelalak lebar. Qiandi sendiri tak percaya akan hal yang telah dilihatnya itu, perasaannya mulai kacau dan gerakannya telah terhenti. Namun jarak antara Qiandi dengan Adrine sudah sangat dekat hingga bisa melakukan serangan langsung dengan menggunakan kekuatan energi tanpa harus berpindah tempat dan mendekat.


Adrine memancarkan kekuatan yang besar dan bersiap mengeluarkan sebuah serangan, Qiandi merasakan energi kuat tersebut dengan sangat jelas, apalagi energi tersebut memberikan tekanan yang sangat kuat dan terdapat hawa pembunuh didalamnya. Sebuah intimidasi yang sangat kuat bahkan orang lain pun merasakannya pula, namun tak ada satupun yang berani untuk bergerak mendekat kedua orang yang sedang bertarung itu.


Lalu Adrine mengaktivasi mata jiwa kanannya, memberikan tekanan yang lebih kuat lagi kepada Qiandi dan yang lainnya. Sebuah pedang hitam yang besar muncul ditangan Adrine, menciptakan suasana yang seakan telah datang bencana yang besar. Tatapan mata kebencian terhadap Adrine telah berubah menjadi tatapan antusias dan waspada, mereka semua takut akan serangan yang mendadak dan diluar perkiraan masing-masing. Namun tak ada satupun dari mereka yang melangkahkan kakinya, bahkan Adrine sendiri juga diam ditempat dengan wajah yang tertutup bayangan gelap sambil menatap Qiandi dengan tatapan yang tajam.


Qiandi kembali menatap Adrine dengan tatapan yang seperti sebelumnya ketika pertama kali mereka berdua bertemu. Qiandi menganggap bahwa orang yang ada didepannya bukanlah manusia, namun seekor iblis yang sedang turun kesana. Sekarang ini ia sangat waspada, jauh lebih waspada ketika sebelumnya Adrine datang disana.


Bersambung!!