
CRAASHT!! CRAASHT!! CRAASHT!! CRAASHT!! CRAASHT!! CRAASHT!!
Para Jenderal Monsternya telah bercucuran darah hitam. Terluka 4 dan mati 11. Jenderal Monsternya terengah-engah melawan Adrine.
"GAH!! GAH!! GAH!! GAH!!" Nafas tersengal-sengal behkan bisa didengar oleh Etern yang tidak ikut bertarung. Etern hanya melihat bagaimana Adrine dan pasukannya bertempur melawan para Jenderal Monster.
"Sepertinya, pertempuran ini belum selesai." Kata Adrine dengan tatapan mata yang sangat serius menatap kearah debu yang mengepul sangat tebal didepan mereka.
"Apa maksudmu?" Tanya Etern yang bingung.
"Lihat saja didepan!" Kata Adrine dengan menunjuk kearah asap yang mengepul tadi.
"Didepan sana ada apa?" Etern masih belum bisa melihat apa-apa yang ada didepannya.
"Apa itu?" Mata Etern terbelalak lebar melihat sesuatu yang tak biasa datang dengan jumlah yang begitu banyaknya.
"Setidaknya mereka lebih kuat daripada jenderal monster kita hadapi tadi." Adrine dalam keadaan sedang bersiap siap untuk melakukan serangan.
CRAASHT!! CRAASHT!!
Kepala dari sisa para jenderal monster yang tadi, telah terpenggal dan mati berjatuhan. Etern hampir tak percaya, monster sekuat itu mati hanya dalam sekali tebas saja.
"Apa aku sedang bermimpi? Semua jenderal monster yang kuat tadi sudah habis dibunuh oleh Adrine dan para pasukannya? Dan sekarang muncul lagi yang lebih kuat dan jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya!? Apa aku akan mati disini?" Etern bergidik ketakutan melihat segerombolan monster yang bahkan lebih kuat dari sebelumnya datang dengan jumlah yang banyak.
"Kau tak perlu khawatir tentang semua ini, Etern. Bangkitlah para pejuangku." Adrine membangkitkan para jenderal monster yang sudah mati.
"Para monsternya kau bangkitkan lagi?" Etern sangat takut sekali walaupun sudah akan ditangani oleh Adrine. Ia takut akan terjadi sesuatu hal yang lebih tidak disangka sangka.
Tak lama keduanya berbincang, telah datang puluhan lebih pasukan monster kuat. Menghentakan kaki ketanah hingga berguncang, dan suaranya bergema. Hal ini membuat ketakutan Etern menjadi lebih menjadi jadi.
"Sistem, jika diurutkan berdasarkan kekuatan para monster yang sudah kubunuh semuanya, berapa ukuran kekuatan para monster ini?" Tanya Adrine terhadap sistem.
"[Para monster yang datang kali ini, adalah monster level ketiga.
Avg power : 205]" ...
'Setidaknya, satu saja dari mereka bisa mati dalam sekali tebas. Tapi jumlah kekuatanku yang sekarang, apa mungkin bisa melawan mereka yang jumlahnya mencapai puluhan lebih? Akan kucoba selagi energiku masih cukup.' Pikir Adrine yang cemas dengan sisa energi yang masih ia miliki sekarang. Adrine juga khawatir bagaimana jadinya kalau kekuatannya tak cukup untuk melawan raja monster nantinya.
"Etern, apa kau bisa membantuku?" Pinta Adrine.
"Ya, aku bisa. Seharusnya kau meminta ini sejak tadi." Kata Etern.
"Kau itu sebenarnya sedang cemas, aku tahu itu. Cepatlah, sebelum mereka berdatangan lebih banyak lagi." Kata Adrine untuk mempercepat serangan dan pelatihannya.
"Ya, baiklah." Etern berdiri dengan sigap. Walaupun dihatinya terselip sedikit rasa cemas, namun dengan tekad ingin membantu seorang teman, rasa cemasnya perlahan mulai menghilang.
"Tak ada lagi yang akan kusembunyikan! Bangkitlah semua pasukanku!" Adrine membangkitkan semua pasukannya. Tak ada sedikitpun yang terlewat.
"Etern, kau bergabunglah dengan penyerang yang menggunakan pedang." Kata Adrine yang mengkhawatirkan keselamatan Etern.
"Ya, aku mengerti." Kata Etern yang mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Adrine kepadanya.
"Kalau begitu, bersiaplah. Semuanya, SERAAAANG!!"