Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Ujian Kelulusan (7)


Sesosok dengan wajah yang tertutup oleh kabut gelap dengan mata merah yang menyorot dengan tajamnya beserta beberapa orang yang ada dibelakangnya sedang mengawasi pertarungan dari belasan orang yang ada tepat dibawahnya, yakni berada dibawah sebuah kawah yang cukup dalam.


Adrine kembali merancang sebuah rencana yang dimana ia sendiri yang nantinya turun tangan dalam rencana tersebut, namun semua itu masih Adrine perhitungkan lagi untuk melibatkan teman-temannya atau tidak. Namun dengan sangat cepat Adrine memutuskan, dan keputusannya adalah...


"Tidak ada yang boleh ikut campur kecuali aku memberikan perintah. Aku sendiri yang akan turun kesana."


Adrine memutuskan untuk tidak membawa teman-temannya terjun kedalam pertarungan yang direncanakannya, kini Adrine sedang bersiap sedia untuk turun dalam pertarungan Geng Lima Jenius. Namun apa yang sedang dilawan oleh Geng Lima Jenius bukanlah lawan biasa yang dimana hanya segerombol orang yang sedang bekerja sama, mereka jauh lebih banyak jumlahnya jika hanya kelompok biasa.


Lawan dari Geng Lima Jenius sekarang ini sangatlah kuat dengan kekuatan dan juga jumlah anggota, bahkan masih ada beberapa yang berada dibelakang untuk menjadi cadangan dan bagian yang lebih dalam untuk dilindungi. Namun mereka sebagai lawan yang cukup tangguh memang bukan asal-asalan dari sekelompok orang yang berkumpul, mereka berasal dari murid utara dan berasal dari guild besar dan Rio juga termasuk didalam guild tersebut, guildnya bernama Guild Tangan Raja.


Adrine mengerutkan dahinya, matanya menatap tajam bagaikan elang, dan kepalanya dipenuhi dengan banyak rencana dan pertanyaan yang dikarenakan cukup penasaran dengan sekelompok lawan dari Geng Lima Jenius, padahal Yama yang terkuat pun hanya mampu melawan tidak lebih dari 3 orang.


"Benar adanya kalau murid utara itu jauh lebih kuat, tapi bagaimana mereka sekuat itu? Apa mereka berasal dari sebuah guild besar?"


Adrine memang melihat dan menatap kebanyakan anggota lawan masih berada dibelakang ketimbang yang maju melawan Geng Lima Jenius, namun Rio berada didekat pertarungan dan hanya mengawasi pertarungannya saja, jadi ia dengan jelas terlihat lebih dahulu.


"Sepertinya mereka berasal dari salah satu guild besar yang ada diperguruan utara, Guild Tangan Raja, Guild Tulang Emas, dan Guild Garis Ombak. Mungkin mereka adalah salah satunya diantara ketiga guild tersebut."


Setelah dijawab oleh salah satu dari 2 orang yang mengikutinya tadi, Adrine menjadi harus berpikir ulang untuk melaksanakan rencananya, namun ia masih berniat untuk segera membentuk serta menyelesaikan rencananya dalam sekali pemikiran.


Dalam beberapa detik saja Adrine telah berhasil menyusun ulang rencananya, kini ia telah siap akan menjalankan rencananya.


Lalu Adrine menoleh kebelakang kearah teman-temannya.


"Walaupun aku telah merevisi rencanaku, tapi masih tetap kalau kalian harus menunggu perintah untuk boleh melakukan pergerakan."


"Baik!!"


Dengan serentak keempat orang yang ada dibelakangnya menjawab perkataan Adrine dengan kompak.


Adrine pun langsung pergi dan turun kebawah kawah untuk segera menyelesaikan urusannya dan memberikan sebuah kejutan besar bagi lawan maupun pihak yang akan dibantunya. Semakin turun kebawah magma yang ada semakin banyak, karena kebanyakan dari dinding-dinding kawah terdapat banyak retakan dan lubang yang dialiri magma yang mengalir kebawah dalam jalur retakan yang tercipta. Adrine sendiri sudah jelas menyadari itu semua dan lebih untuk menghindari aliran magmanya.


'Mungkin menghadapi mereka menggunakan kekuatan biasa akan butuh bantuan dari mata jiwa, lebih baik aku menghindari pertarungan langsung dan menggunakan cara yang lain seperti apa yang telah kurencanakan sebelumnya.' Pikir Adrine.


Seketika Adrine mendapatkan sebuah ide untuk melawan musuh tanpa harus menggunakan kekuatan fisik dan mengaktifkan mata jiwanya, idenya itu cukup bagus karena ia juga bisa melakukan apa yang barusan dipikirkannya.


Sementara itu, pertarungan antara Geng Lima Jenius dan Guild Tangan Raja masih saja memanas dan juga Geng Lima Jenius semakin terpojok karena kurangnya kekuatan dan kalah jumlah. Namun Guild Tangan Raja masih belum bertemu siapapun dari Guild Tulang Emas, tak satupun dari mereka.


Qiandi mengetahui kalau sebelumnya Rio dan kedua rekannya telah dikalahkan oleh seseorang, ia ingin tahu bagaimana peristiwa itu terjadi dan siapa yang telah melakukan padanya. Qiandi sangat tahu kalau yang melakukannya adalah murid selatan, karena Rio sudah sangat dikenal dan disegani oleh para murid utara lainnya dan hal itu yang membuat kemungkinan yang dimana penyerangnya adalah murid selatan. Namun Qiandi dan Rio masih belum tahu kalau orang yang telah menyerang Rio sebelumnya hingga membuatnya menggunakan point respawn adalah Adrine, dan mereka masih meremehkan kekuatan Adrine karena masih belum tahu kepastian dari kekuatannya.


Qiandi sangat ingin tahu bagaimana ciri-ciri dari orang yang telah menyerang Rio hingga harus menggunakan point respawn.


"Rio, bagaimana semua yang kau alami itu bisa terjadi? Dan bagaimana ciri-ciri dari penyerangnya? Apa kau sudah memeriksa profilnya?"


Rio melirik keatas dan memikirkan tentang karakteristik dari penyerangnya, yaitu Adrine. Namun ia hanya dapat memikirkan sedikit dari apa yang telah dilihatnya sebelumnya, Rio memang sedikit ceroboh dalam memperhatikan musuh.


"Tidak, aku tak sempat memeriksanya karena ia menyerang kami disaat aku sedang memeriksa profilnya. Aku hanya teringat sedikit tentang orang itu, dia lumayan tinggi, berkulit putih, dan tubuhnya standar, tidak gemuk maupun kurus. Dan yang pasti dia adalah murid selatan, kekuatannya sangat luar biasa bahkan menghancurkan 2 rekanku hanya dengan aliran energinya saja."


Rio memang menjelaskan cukup banyak tentang Adrine, namun ia tak menatap langsung wajahnya karena Adrine selalu menunduk dan membuat wajahnya menjadi tertutup bayangan hitam dan gelap, sehingga membuat wajahnya menjadi sulit untuk dilihat. Hal itulah yang membuat Rio tidak bisa menambahkan kedalam ciri-ciri yang disebutkannya tadi dengan detail dan teliti.


Qiandi masih penasaran dengan orang yang disebut oleh Rio, namun ia lebih memilih untuk menginvestigasi kekuatan dari penyerang Rio dan dari sudut pandangnya.


"Jika orang itu membunuh kedua rekanmu hanya dengan aliran energinya saja, apa kekuatan dari kedua rekanmu itu sudah mencapai tahap Kematian level-2?"


Rio dengan mantab langsung mengangguk, ia sangat tahu kalau kekuatan dari kedua rekannya itu telah mencapai tahap Kematian level-2 bahkan telah mencapai kelas akhir.


"Aku tidak menerima orang yang ingin mengikutiku kecuali telah mencapai tahap Kematian level-2 kelas menengah dan keatasnya. Ketahuilah, kedua orang itu bahkan telah mencapai kelas akhir."


Rio dengan penuh keyakinan menyebutkan kalau yang orang yang bersamanya itu bukanlah orang yang lemah, mereka berdua pasti telah lulus dari seleksi Rio dalam pengetesan kekuatan yang dilakukannya berdasarkan aura energi dan kekuatan yang dimiliki, apalagi batas dan ketetapan yang telah ditetapkan oleh Rio cukup tinggi.


Qiandi masih kurang bisa menyimpulkan seberapa kuatnya orang yang sedang dibahasnya dengan Rio, namun menurutnya kalau kekuatannya itu cukup besar, bahkan lebih besar dibandingkan dengan semua orang yang ada didepan mereka, termasuk Yama dan sekelompoknya.


"Bagaimana denganmu? Apa kau juga dikalahkan dengan aliran energinya juga?"


Rio menggelengkan kepalanya karena apa yang dikatakan oleh Qiandi tidak benar, namun ia masih sedikit saja kalau Qiandi marah mendengar kalau kalah hanya dengan sebuah tebasan jari saja. Adrine sendiri bahkan bisa melakukan lebih lagi yang jauh dibawah kata sebuah tebasan, bisa jadi Adrine mengalahkan Rio hanya dengan sebuah trik juga, namun tetap belum cukup baginya untuk langsung mengalahkan Rio.


"Tidak, kalah hanya dengan mendekatinya itu terlalu lemah, tapi sebenarnya..."


Rio seperti tidak bisa menjelaskan alasannya dengan lengkap, tiba-tiba saja ia hanya menceritakannya sampai setengah cerita saja. Qiandi yang merasa sangat penasaran terus mendorong Rio untuk segera menceritakan apa yang bisa membuatnya kalah.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana caranya kau bisa kalah dengan orang itu?"


Akhirnya Rio pun menyerah dan menceritakan sebab dari kekalahannya. Walaupun agak sulit untuk mengatakannya, namun ia memaksa dirinya sendiri untuk menceritakannya.


Lalu Rio menceritakannya dengan suara yang pelan dan sedikit gagap.


"APA!!?"


Sontak hal tersebut membuat Qiandi terkejut karena mendengar Rio kalah hanya dengan sebuah tebasan jari. Suaranya sangat nyaring bahkan sampai terdengar oleh Adrine yang belum turun kebawah kawah.


"A... Aku minta maaf karena itu."


Rio sangat takut mendengarnya, bahkan yang tadi ia sedang berdiri kini ia terjatuh karena saking terkejut dan takutnya. Semua orang mendengarnya bahkan Adrine dan juga teman-temannya. Arpha dan David, begitu juga dengan kedua orang yang mengikutinya juga mendengar suara Qiandi dengan sangat jelas.


Lalu Qiandi menatap dengan sangat mengerikan kearah Rio, juga orang yang ditatapnya menjadi sangat takut. Tatapannya sangat mengerikan ditambah dengan hawa pembunuh yang dipancarkannya dalam satu waktu itu.


"KAU... KAU KALAH HANYA DENGAN SEKALI TEBAS?"


Suara Qiandi menjadi berubah dengan sangat drastis, bukan suara yang keras yang dikeluarkannya, namun suaranya berubah menjadi sangat mengerikan dan mengintimidasi.


Rio tahu bahwa ketua dari guildnya, Guild Tangan Raja adalah orang yang sangat kuat, namun untuk mengalahkan Rio sendiri tetap membutuhkan kekuatan untuk bisa sepenuhnya berhasil membunuh. Karena akan butuh perlawanan yang cukup sengit disaat pertarungannya.


"I... Iya..."


Qiandi semakin marah ketika Rio menjawab iya. Karena telah dikuasai oleh emosinya, Qiandi pun berbalik dan mencekik leher Rio dengan sangat kuat, bahkan orang yang dicekiknya ini menjadi tidak bisa bernafas dengan baik. Rio juga berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Qiandi yang sangat keras dengan juga mencengkeram tangan Qiandi dengan sangat kuat, namun ia tidak bisa mengeluarkan banyak kekuatannya karena sudah terpaku pada daya tahannya dilehernya yang sedang dicekik.


"Ehkkk... Kehkk... Kehkehkk...."


Rio bahkan tidak bisa berucap sepatah katapun, hanya bisa mengeluarkan suara orang tercekik yang sangat khas. Namun Qiandi tetap masih dikuasai oleh emosinya dan sekarang tangan kirinya mengepal dengan sangat kuat dan siap untuk memukul. Rio juga melihat itu dan tangan kanannya berusaha untuk menahan pukulan yang akan diberikan oleh Qiandi.


"BODOH!!"


WUUUSH!!


Dengan sangat cepat Qiandi mengayunkan tangannya dan memukul Rio, namun tangan Rio berhasil menahan sedikit kekuatannya dan tetap kekuatan pukulan yang diterimanya masih cukup besar karena kekuatannya sekarang tidak terfokus pada pertahanan ditangan kanannya.


Karena pukulan yang diberikan cukup besar, tubuh Rio terpental dan berhasil terlepas dari cengkeraman tangan Qiandi. Karena merasa terancam, Rio mengaktifkan mata jiwanya dan menggunakan zirahnya untuk berjaga-jaga akan serangan yang diterimanya lagi. Qiandi kini telah dikuasai oleh emosinya dan sekarang Rio juga tak bisa memungkiri kemarahannya, apalagi semua itu disebabkan oleh ceritanya.


"Ketua Qiandi... Mohon kendalikan dirimu dan emosimu!!"


Qiandi malah semakin marah kepada Rio, ia merasa kalau anak buahnya yang satu ini tidak berguna. Awalnya Qiandi merasa kalau kekalahan Rio itu karena kalah jumlah dan kekuatan, namun semuanya berubah ketika Rio mengatakan kalau kekalahannya itu hanyalah oleh 1 orang dan kalah dalam sekali tebasan, bukan pedang melainkan hanya jari yang menebas bagai pedang.


Qiandi dengan kekuatannya yang besar itu berjalan perlahan kearah Rio. Langkahnya sangatlah berat dan membuat tanah yang dilangkahinya menjadi hancur.


Namun langkah beratnya itu perlahan menjadi lebih cepat dan jauh menjadi lebih berat. Dan juga diikuti Rio yang berjalan mundur dengan mengimbangi langkah dari Qiandi. Dan pada suatu titik, langkah berat Qiandi telah terhenti dan membuat Rio juga terhenti, namun ia sangat terkejut akan hal tersebut.


ZRAAAST!!


Tiba-tiba saja gerakan Qiandi menjadi secepat kilat dan jalan yang dilintasinya menjadi jalan dengan sebuah saluran, namun dialiri oleh energinya yang bersifat menghancurkan. Kekuatan elementalnya berupa bayangan atau kegelapan, namun tidak berwarna hitam pekat, namun seperti tercampur juga dengan warna merah darah yang sangat gelap.


'Tamatlah Riwayatku.' Pikir Rio.


BLAAARR!!


Suara ledakan yang sangat keras terdengar hingga telinga Arpha dan David beserta kedua orang pengikut kelompoknya. Bahkan suara tersebut tetap sangat keras walaupun dalam jarak yang jauh.


"Suara apa itu?"


Jelas hal tersebut membuat Arpha bertanya-tanya, begitu juga dengan 3 orang yang ada disampingnya.


'Ini... Apakah benar ini berasal dari Adrine? Kenapa rasanya seperti kekuatan milik Adrine? Tetapi juga kenapa terasa sedikit berbeda?' Pikir David.


David sendiri menduga kalau suara tersebut berasal dari kekuatan Adrine, namun kekuatan yang dirasakan juga seperti bukan milik Adrine. Namun intuisi dan inderanya juga tak salah menilai kalau energi tersebut adalah milik Adrine, namun David merasa kalau energinya telah tercampur milik orang lain.


'Benar, mungkin energi milik Adrine sedang berbenturan dengan energi milik orang lain. Tapi Adrine tidak pernah mengeluarkan energi selemah ini, ada apa yang sebenarnya terjadi?' Pikir Adrine.


David, Arpha, dan 2 orang yang ada disamping mereka berdua tidak bisa melihat dengan jelas dengan apa yang sedang terjadi dibawah dan apa yang terjadi dengan Adrine, itu dikarenakan terdapat sebuah kabut asap berwarna hitam yang tiba-tiba menyelimuti seluruh kawah, namun masih agak samar-samar.


Mereka berempat tak tahu apa yang sebenarnya terjadi disana, namun apa yang dirasakan oleh David memang benar, energi milik Adrine berbenturan dengan milik orang lain, yakni Qiandi. Adrine telah menahan pukulan dari Qiandi hanya dengan kedua jari pada tangan kirinya.


"Kau jangan terlalu keras pada anggotamu sendiri."


Adrine berkata dengan wajah yang ramah sekali sambil tersenyum lebar dan memejamkan matanya. Namun dibalik senyuman yang ramah itu, Qiandi sudah merasakan adanya iblis yang sudah siap untuk menghampirinya, kini ia tak tahu sosok apa yang ada didepannya. Qiandi sendiri bahkan tak bisa berkata lagi, bukannya takut, tapi ia tahu kekuatannya itu tak sebanding dengan dirinya.


Lalu Adrine berbicara dengan menggunakan nada yang sangat ramah.


"Cukup sudah!! Sekarang waktunya perkenalan... Perkenalkan, namaku Adrine!!"


Bersambung!!