Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Kota Springer (2)


Tim para pemburu sebelumnya sama sekali tidak memilih untuk mengejar Adrine dan teman-temannya. Jaraknya yang terlalu jauh membuat mereka mengurungkan niat untuk mengejar, apalagi mereka telah menduga mangsa yang mereka kejar akan melewati perbatasan.


Dan benar saja, Adrine pergi ke Benua Es untuk menghindari pengejaran. Namun ia tahu bahwa ada pemburu lain yang pastinya ada di daratan yang ia singgahi sekarang.


Dalam perjalanan awalnya di kota Springer, Adrine tengah berlatih untuk menjadi seorang alkemis. Percobaan demi percobaan ia lakukan dan juga banyak kegagalan menyertainya. Apalagi dirinya adalah pemula yang baru saja belajar dalam menyuling pil.


Adrine telah memulai penyulingannya. Tangannya menciptakan api dan meleburkan semua bahannya di dalam tungku. Pil yang akan ia buat adalah pil Penambah Nafsu Makan.


Konsentrasinya begitu tinggi, matanya terus terpaku menatap tiap tahap penyulingannya.


Ketika bahan-bahannya mulai melebur, kini Adrine mempersiapkan batu kristalnya. Kristal murninya juga telah di potong menjadi potongan yang lebih kecil.


Kemudian dia memasukkannya ke dalam tungku dan tinggal meleburkannya.


'Huh, energi mentalku ... Tidak, apinya terlalu- panas,' batinnya.


Adrine menggunakan energi mental untuk membentuk api karena rekomendasi dari sistem. Sistem USC mengatakan bahwa menggunakan energi mental jauh lebih efisien ketimbang menggunakan energi sihir biasa.


***


Sementara itu, di dunia yang sangat jauh dari Bumi. Dalam semesta yang sama, dimensi yang sama, Adrine diawasi oleh dua sosok dengan kekuatan yang begitu dahsyat. Kekuatan mereka setara dengan ahli di tingkat Ketiadaan, tingkat yang kekuatannya sudah tak bisa dibayangkan dengan akal sehat.


Sosok yang duduk di atas singgasana dengan lapisan berlian merah dan emas putih di setiap sisinya. Sosok itu begitu kuat dengan mahkota bercahayakan emas. Zirah merah gelap yang mengerikan dan jubah hitam melindungi sisi punggungnya.


Sosok itu yang bernama Selestialin Westberg Ronzo, sang penguasa keselestialan Resscion Laniakea.


Dan ada tiga sosok master dengan kekuatan yang lebih kuat. Di antaranya, terdapat sosok yang tak asing lagi, dia adalah Leluhur Shin Rhei.


Dua sosok lainnya adalah Leluhur Sha dan Leluhur Qanxiy. Mereka adalah sosok dengan tingkat kultivasi yang mencapai ranah Bintang Kedua. Yap, tak lebih lemah dari Leluhur Shin Rhei.


Mereka berempat tengah melihat layar yang menunjukkan seseorang yang tengah berlatih, usianya sendiri seumuran dengan Adrine.


"Zhou Yan tak pernah mengecewakanku, avatar yang kupilih ini pastinya yang paling kuat. Apalagi dia memiliki fisik Tubuh Iblis yang mencapai tingkat tertinggi," ujar Leluhur Sha.


Leluhur Shin hanya terdiam menatap layar dan mendengar ocehan dari mulut di sebelahnya. Tapi Leluhur Qanxiy menimpali, "Dia juga punya mata jiwa sepuluh teratas, Penjerat Mata Langit, bukan? Masih kalah dengan avatar yang kupilih, dia punya mata jiwa empat teratas, Kucing Raja Semesta."


Mereka berdua saling mengunggulkan avatar masing-masing. Avatar Leluhur Qanxiy bernama Rigel Anza, ia juga memiliki dua fisik spesial, yakni Tubuh Tungku dan Lengan Dewa.


Leluhur Qianxiy juga menampilkan Rigel di layar hologram dan menunjukkan seberapa hebatnya pria tersebut.


Rigel memiliki kemampuan khusus yang didukung oleh fisik Tubuh Tungkunya, yaitu kemampuan dalam menyuling pil.


"Bagaimana dengan avatarmu, Leluhur Shin?" Tanya Selestialin Ronzo, sementara membuat ketiga leluhur menoleh ke arahnya.


"Benar juga, kau belum menunjukkan seberapa hebat avatarmu, Shin," ujar Leluhur Sha.


Leluhur Shin hanya tersenyum ketika akan menjawabnya, membuat yang lainnya menjadi bingung dan penasaran.


Selestialin Ronzo mengingat sesuatu yang menarik, "Oh iya, sepertinya aku ingat kalau aku pernah bertemu dengan avatar pilihan Leluhur Shin Rhei," katanya.


Lalu pria itu menampilkan Adrine ketika berada di dalam suatu dimensi.


Adrine memilah dan mencari teknik yang sekiranya kuat tanpa henti sampai mendapatkannya. Semua leluhur terkagum dengan tekadnya itu yang tidak begitu mudah untuk menyerah.


Leluhur Qanxiy dan Leluhur Sha memuji avatar pilihan Leluhur Shin, namun mereka masih sedikit meremehkan kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh Adrine. Menjelaskannya begitu saja memang tidak berarti apa-apa jika tak memiliki bukti yang kuat untuk diperlihatkan.


Kemudian gambar di layar berganti. Layar menunjukkan bagaimana pertarungan yang dilakukan oleh Adrine melawan seorang pria dengan tingkat Kesempurnaan. Ada juga ketika melawan hewan iblis di tingkat Jelmaan Iblis. Serta ketika menahan kekuatan dari empat pemburu di tingkat Permata.


"Mereka masih misterius, ya?" tanya Selestialin Ronzo.


Wajah para pemburu mendapatkan sensor hingga ke dada. Sensor itu berupa gambaran yang rusak alias Glicth dengan warna merah dan biru yang buram dan mengganggu. Wajah asli mereka sama sekali tak nampak karena memang ada alat untuk menyembunyikan identitas seperti itu.


Leluhur Qianxiy menoleh ke arah pria yang duduk di atas singgasana, "Kau seharusnya memperhatikan bocah itu, kenapa juga kau memperhatikan mereka yang tidak penting itu?" ujarnya.


Selestialin Ronzo menggaruk kepala seraya tersenyum lebar membenarkan kalimat Leluhur Qanxiy.


Sembari melihat kemampuan Adrine di layar hologram, Leluhur Shin menjelaskan bagaimana kekuatan yang dimiliki oleh avatarnya itu. Leluhur Qianxiy dan Leluhur Sha terkejut mendengar dari Selestialin Ronzo bahwa lelaki yang ditampilkan di layar memiliki mata peringkat kedua dari daftar mata jiwa terkuat.


Tak hanya itu, mendengar dari Leluhur Shin, Adrine memiliki mata kembar yang di mana Mata Hitam Semesta Ketiadaan Kuno adalah satu dari mata kembar miliknya itu. Bukan mata jiwa peringkat teratas, melainkan mata jiwa bawaan dengan kekuatan yang dapat menstabilkan kekacauan yang dimiliki oleh mata hitam Adrine.


Selain itu, Leluhur Shin juga menceritakan tentang Jiwa Seratus Angka, dua Jiwa Bela Diri, Sayap Bumi Yin-Yang, dan kemampuan lain Adrine sebagai seorang ahli jimat.


Lalu, ketika layar menampilkan bagaimana keadaan avatar pilihan Leluhur Shin ini, semuanya terkejut mendapatinya tengah berlatih alkemis.


Leluhur Shin juga tak menyangka bahwa Adrine ingin menjadi seorang alkemis, padahal tujuan utama dari pria berambut hitam di dalam layar itu hanya ingin menarik perhatian dari orang kuat di sekelilingnya.


Setelah itu, Leluhur Qianxiy menimpali bahwa avatar memiliki kelebihan yang tidak lebih buruk dari Adrine, "Rigel memiliki kemampuan yang dapat mengalahkan bocah itu, tahu dengan teknik Serangan Penanda?"


"Iya, aku tahu. Bukankah itu dapat ditangkal dengan Jiwa Seratus Angka?" tangkis Leluhur Shin.


Teknik Serangan Penanda adalah teknik yang mengandalkan pukulan fisik. Keterampilan itu dapat meningkatkan kerusakan pada pukulan fisik yang diberikan pada lawan.


Ketika pengguna menanamkan energi penanda pada kepalan tangannya. Setelah lawan dikenai, maka energi penanda akan mengikis jiwa lawan dan mengubah residu jiwa yang terkikis menjadi penguat pukulan berikutnya. Pukulan berikutnya tak bisa diberi energi penanda, tapi di pukulan berikutnya dapat diberi kembali energi penanda lagi.


Serangan yang diperkuat hanya berlaku kepada lawan yang jiwanya telah ditandai oleh teknik tersebut. Misalnya, Rigel menyerang Adrine dengan tangan kanan yang telah diberi energi penanda, maka serangan dari tangan kanan Rigel berikutnya akan diperkuat namun hanya Adrine yang merasakan penguatannya. Jika Rigel menyerang Liona dengan tangan kanan yang diperkuat oleh residu jiwa Adrine, Liona hanya merasakan serangan biasa yang tidak diperkuat sama sekali. Tapi Rigel dapat kembali memberi energi penanda pada tangan kanannya apabila ia menyerang Adrine kembali dan tangan kanannya dapat diberi energi penanda lagi. Namun tangan kirinya tidak diperkuat karena tidak menanamkan energi penanda pada lawan.


Konsekuensinya adalah pada energi yang digunakan. Semakin banyak teknik ini ditumpuk, maka akan semakin menguras energi. Secara teknis, setiap kali energi penandanya ditumpuk maka penanda berikutnya yang ditumpuk pada target yang sama akan meningkat sebesar 15% dari energi yang digunakan pada penanda sebelumnya. Apabila pengguna terus menumpuk energi penanda pada target yang sama secara terus menerus dalam jumlah yang banyak, maka energi penanda berikutnya akan semakin besar dalam menggunakan energi. Walaupun jika menyerang target dengan serangan biasa tidak memakai banyak energi.


Kesimpulannya, jika pengguna menyerang lawan menggunakan energi penanda, maka kerusakan yang diberikan oleh pengguna sebesar 15% dari kerusakan asli selama 15 menit. Durasi keterampilan ini dihitung dari penanda terakhir yang diberikan. Teknik Serangan Penanda ini berada di tingkat Misteri peringkat 1.


Teknik itu tidak memperhatikan seberapa kuat jiwa dari targetnya. Bahkan serangan yang dilancarkan ketika teknik Serangan Penanda ini berlangsung dapat berupa serangan spiritual (mentalitas).


Namun, teknik Serangan Penanda dapat ditangkis oleh Jiwa Seratus Angka. Mendengar dari apa yang Leluhur Shin katakan membuat Leluhur Sha dan Leluhur Qanxiy kembali mengingat bahwa Adrine memiliki kemampuan khusus.


Kemudian pembahasan tentang perbandingan pun berakhir. Berganti topik, kini pembicara mulai terletak pada posisi dan harta benda yang dimiliki oleh tiap avatar.


Untuk Adrine sendiri kini berada di Benua Es. Sementara Rigel berada di Benua Naga dan Zhou Yan berada di Benua Cahaya.


Benua Cahaya adalah benua terdekat dengan Benua Es. Wilayah lautnya berbatasan dengan wilayah laut beku Benua Es, jadi Adrine dan Zhou Yan memiliki peluang besar untuk dapat saling bertemu. Sementara Rigel berada di daratan yang begitu jauh, bahkan jika perjalanan dari Benua Es maka harus melewati Benua Langit dan Daratan Kekaisaran Bumi agar bisa sampai di Benua Naga.


Leluhur Sha berkata bahwa Zhou Yan memiliki hubungan dengan fraksi besar. Avatarnya itu juga memiliki keterampilan teknik yang kuat dan mematikan, serta tumbuh dengan penuh kekuatan.


Tak diragukan lagi jika harta benda yang ada di tangan Zhou Yan tidak sekedar kumpulan sampah.


Lalu Rigel juga tak terlalu banyak memiliki harta, tapi dikatakan bahwa ia memiliki guru dari tingkat Misteri tahap Misteri Keabadian.


Berganti kembali kepada Adrine, kini ia telah berbahagia karena dapat membuat satu buah pil Penambah Nafsu Makan. Pil itu langsung ia telan bulat-bulat karena tidak terlalu berguna. Akan tetapi, mendadak perutnya menjadi keroncongan dan kelaparan.


Adrine lupa akan pil apa yang ia buat, sehingga efeknya juga tak teringat. "Keluar ah, cari makan," ujarnya.


Lelaki itu pun meninggalkan teman-temannya di apartemen dan pergi mencari makanan. Tapi Liona juga ingin keluar mencari sesuatu untuk dimakan. Sebenarnya Adrine tahu apa alasannya.


***


Beberapa saat kemudian, setelah Adrine selesai dengan urusan perutnya, ia melihat adanya selebaran kertas hologram yang tertempel di tembok. Beberapa orang melewatinya karena merasa tak penting, tapi rupanya Adrine salah.


Ada banner yang besar dan drone bulat seukuran kepala yang menyiarkan hal yang sama pada kertas hologram yang dibaca oleh Adrine. Pemberitahuan itu berisikan tentang kompetisi membuat pil antar pemuda.


'Batasan usianya dua puluh tahun, alkemis pemula juga boleh ikut, orang yang cuman tertarik juga boleh ikut, berarti ini kompetisi untuk berlatih,' batin Adrine.


Kemudian Adrine bertanya pada seseorang yang lewat, "Hei, apa kompetisi ini umum?"


"Umum sekali, bahkan setiap bulan pasti ada, hanya saja kali ini penyelenggaranya saja yang berbeda, jadi cukup ramai dan heboh ... Ya, begitulah pokoknya," jawab orang lewat itu.


"Begitukah? Kalau boleh tanya lagi, siapa penyelenggaranya? Apa yang menarik dari itu semua?" tanya Adrine lagi.


"Seorang gadis muda belia yang cantik, Fhiora, dia adalah seorang alkemis yang baru-baru ini meraih gelar alkemis tingkat empat pemula di usia muda, kira-kira baru 22 tahun."


Adrine tak begitu tertarik dengan wanita cantik, justru ia menanti apa yang ditawarkan oleh si alkemis muda bernama Fhiora itu sampai banyak yang ingin mengikuti kompetisi.


"Oh iya, Fhiora adalah tipe wanita yang tak suka dipanggil nyonya, jadi aku panggil saja namanya langsung."


"Aku tidak tanya soal itu. Ayolah kawan, aku hanya ingin tahu apa hadiah spesial yang ditawarkannya? Di selebaran tidak disebutkan," tegas Adrine.


"Apa kau tak tertarik dengan wanita ini?" Tanya orang itu pada Adrine sambil menyodorkan handphone bergambarkan gadis cantik.


Liona begitu jijik ketika melihatnya. Bukan jijik terhadap wanita yang ada di dalam gambar handphone, melainkan pria itu sendiri yang membuat Liona jijik. Itu karena pria itu begitu terobsesi dengan kecantikan wanita yang ada di handphone nya.


"Tidak! Ayolah!" tutur Adrine lagi memperjelas bahwa dirinya benar-benar tak tertarik dengan wanita.


"Aku tahu, aku tahu ... Fhiora menawarkan tempat untuk menjadi muridnya, sepuluh terbesar dapat menjadi anggota di Serikat Alkemis kota Springer. Jika kau beruntung menjadi yang pertama, maka kau bisa menjadi muridnya sang wanita cantik pujaanku,'" jawab pria itu dengan wajah merah merona.


"Ah, begitukah?" Adrine sama sekali tak tertarik dengan hadiah yamg ditawarkan. Tapi ia dapat mengasah kemampuannya dalam membuat pil, siapa tahu dalam beberapa bulan berikutnya ada sosok master alkemis yang tertarik dengan kemampuannya.


"Wajahmu begitu datar, apa kau tak tertarik dengan wanita?" Tanya pria itu yang kemudian melirik Liona yang ada di samping Adrine. "Oh, jadi begitu?"


Adrine bingung melihat tanggapan pria di depannya, "Apa? Dia?" ucapnya seraya menunjuk ke arah Liona. "Bukan, dia bukan pacarku, hanya rekanku saja," tambahnya.


"Benarkah? Kalau begitu kau pasti orang yang kuat kan?"


Adrine menggeleng. Kemudian ia berterima kasih atas informasinya dan pergi dari sana.


"Apa kau tertarik, Adrine?" tanya Liona.


"Aku hanya tertarik pada kompetisinya, tidak pada hadiahnya," jawab Adrine. "Sejujurnya akhir-akhir ini aku agak tertarik dengan menyuling pil, apalagi kota yang kita tempati ini adalah Kota Obat Beku."


Seketika Liona langsung paham dengan maksud Adrine, ia menduga bahwa lelaki di sampingnya itu mencari seseorang yang hebat di kota yang disinggahinya sekarang.


"Kau sendiri sudah mencapai tahap Nirvana level-1 kelas menengah, apa yang kau takutkan? Potensimu saja begitu tinggi, bahkan bisa mengalahkanku ketika di tahap Keberlanjutan," puji Liona pada Adrine.


Liona juga sudah menyadari kekuatan Adrine.


"Ya, begitulah. Tapi setidaknya kita perlu menambah anggota, bukan begitu?" tanya Adrine balik.


Liona pun mengangguk.


Setelah itu mereka menuju ke tempat tujuan kedua mereka, Menara Beku Kuno.


Bersambung!!