Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Reina (2)


Pertandingan untuk memperebutkan posisi 'Pilar' pun selesai. Adrine berhasil mempertahankan dirinya hingga penantang terakhir pun menyerah karena ketika mendekatinya pasti keadaannya akan dibalikkan.


Karena dirasa ada yang lebih penting daripada hanya menonton pertandingan bertarung saja, Adrine memutuskan untuk kembali ke asramanya. Ia juga menyeret Reina untuk kembali karena penasaran dengan racun di tangannya.


"APA-APAAN INI?! LEPASKAN AKU!!!" suruh Reina dengan nada yang marah.


Orang-orang yang ada di sekitar terkejut mendengarnya. Ada beberapa yang terkejut karena mengira Adrine dan Reina adalah pasangan yang sedang bertengkar, ada juga yang terkejut karena baru pertama kali mendengar Reina berteriak. Suaranya seraknya memang terdengar sesuai dengan penampilannya yang seram.


Reina bahkan sempat menggigit tangan Adrine hingga berdarah karena ketidakmauannya. Adrine tak memperdulikan apapun yang dilakukan oleh wanita itu, ia peduli dengannya.


Sesampainya di kamar, Adrine mengunci pintu bahkan menggunakan sihirnya. Lantas ia memaksa Reina untuk memperlihatkan tangannya, tapi wanita itu bersikeras untuk menyembunyikan tangan kanannya. Sebab itu Adrine memaksa Reina secara kasar.


'Aku ingin tahu, apakah benar 'ini' bisa?' batin Adrine.


Kemudian karena Adrine telah memegang tangan Reina dengan amat sangat erat, ia membuka penutup mata kirinya dan memperlihatkan bagaimana mata kirinya itu. Reina cukup terkejut melihatnya, ia menduga bahwa itu mata jiwa milik Adrine.


"Apa matamu itu membuatmu bisa tahu tentang racun di tanganku ini?" tanyanya.


Adrine mengangguk, "Secara teori, itu benar. Tapi aku belum tahu pasti apakah mata ini benar-benar bisa melihat racun yang tersembunyi, jadi aku hanya mengatakannya secara teori saja," jawabnya.


"Apa kau bisa mengobatinya?" tanya Reina lagi. Ekspresi wajahnya kembali datar seperti semula, tidak terdapat lagi penolakan seperti sebelumnya.


"Sebenarnya aku juga tak tahu pasti, sekarang ini aku hanya ingin mencoba saja, tergantung keberuntunganmu juga," jawab Adrine.


"Aku tak percaya keberuntungan, lakukan saja apa yang kau mau."


Lalu Adrine segera mengaktifkan mata jiwa aslinya, namun Reina tak bisa melihat mata tengahnya itu. Mata itu seolah memang tak bisa dilihat oleh orang lain saja. Pihak lain yang mengetahuinya hanyalah leluhur Shin, Selestialin Ronzo, dan dua leluhur lainnya.


Adrine kemudian menggigit punggung telapak tangan kanan Reina, ia menghisap darahnya bahkan racunnya ikut terhisap. Sinar hitam yang memancar di mata kirinya bertambah intensitasnya. Racun yang ada di dalam tangan kanan Reina mengalir dengan sendirinya ke mulut Adrine, bahkan seolah racunnya itu telah terpisah dari darahnya.


Reina memejamkan matanya menahan rasa perih yang ada di tangannya. Perlahan racun yang ada di tangannya tersedot keluar


'Sudah kuduga, Tremendous Absorption bisa melakukannya,' batin Adrine.


Beberapa menit kemudian seluruh racun yang ada di dalam tangan Reina pun hilang sepenuhnya. Adrine berhasil menyedot racunnya, tetapi muncul efek samping terhadapnya karena belum terlalu terbiasa menelan racun. Kepalanya sedikit pusing dan terasa berputar-putar.


"Kau hanya perlu menunggu pulih secara perlahan saja ... Tunggu satu atau dua Minggu pasti akan tanganmu akan benar-benar sembuh," ujar Adrine.


Reina terdiam pada saat itu juga, ia hanya berpikir mungkin mengucapkan terima kasih saja tak cukup untuk yang dilakukan oleh Adrine padanya barusan.


"Oh iya, apa tanganmu merasa kesemutan? Sebagian besar nadi di lenganmu itu menutup dengan cepat karena gigitanku tadi ... Karena racunnya pula aliran darahmu tersumbat, jadi mungkin dalam beberapa hari kesemutan itu akan menjadi penghambatmu nanti," ujar Adrine.


Reina menatap hangat kepada Adrine, "Kau tahu? Aku bahkan tak bisa merasakan sentuhan tanganmu itu, dan lagi, telapak tanganku ini sekarang lumpuh. Sepertinya sampai waktu yang kau sebutkan barusan," jelasnya.


Adrine agak terkejut mendengarnya, Reina pun mengeluarkan sebutir pil dari sakunya. Pil tersebut hanyalah pil penyembuhan biasa yang akan menyokong pemulihannya.


Kepala Adrine terus berputar, ia terhuyung bahkan pada saat ini dirinya hanya sedang duduk.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Reina.


"Hanya ... Sedikit pusing," jawab Adrine.


Tetapi saat itu juga penglihatannya perlahan kabur. Kepalanya menjadi sangat berat begitupun dengan tubuhnya.


'Mungkin ini efek sampingnya,' batin Reina.


Di dalam hati wanita itu, ia menyimpan rasa terima kasih yang sangat besar kepada Adrine. Ia juga merasakan perasaan aneh dalam hatinya.


'Ugh ... Tak kusangka, efek sampingnya bisa sekuat ini ... Ini juga pertama kalinya aku ... Menelan racun,' gumam Adrine dalam hati.


Walaupun begitu, ia tak menyesali apa yang barusan diperbuatnya. Dengan begitu ia tahu bahwa kemampuannya sudah meningkat beberapa tingkat.


Lalu karena sudah tak kuat lagi, Adrine pun terhuyung dan jatuh ke dalam pangkuan Reina. Ekspresi wajah wanita yang memberinya pangkuan itu tidak berubah sama sekali, tetap saja datar dan hanya sedikit memerah saja. Reina juga merasa bahwa dirinya butuh istirahat. Ia pun tertidur di atas dada pria yang dipangkunya dengan sedikit sunggingan bibir senangnya.


"Terima kasih."


***


Adrine pun tersadar dari pingsannya. Ia terheran melihat ada kepala yang tidur di atas dadanya. Pada saat yang sama, Reina yang tertidur di atasnya itu terbangun.


"Ma ... Maaf, aku malah ketiduran di ... "


Adrine masih tak enak hati, ia segera bangun dari sana dan melihat ke jendela. Adrine terheran, "Sepertinya perebutannya masih belum selesai," ujarnya ketika melihat keramaian di luar.


"Benarkah? Aku justru merasa kalau aku sudah tidur selama sehari penuh, coba kulihat," ujar Reina sembari berjalan ke arah jendela.


"Hmm ... Sepertinya itu bukan lagi pertandingan perebutan posisi pilar,"


"Lantas apa?" tanya Adrine penasaran.


Reina tertegun sejenak, matanya melihat ke bawah dengan teliti. "Itu ... Kau terlambat untuk ke puncak gunung Frey saja," ucapnya dengan santai.


'APA!?'


"KENAPA KAU BERKATA SEOLAH ITU HAL YANG BIASA?!!! AKU SUDAH TERLAMBAT!!!" teriak Adrine.


Orang yang berada di kamar tepat di samping kamar Adrine dan Reina terkaget mendengar suara teriakan yang begitu menggelegar. Apalagi ada yang sedang mandi dan bernyanyi, mereka bahkan ada yang sampai meloncat karena saking terkejutnya.


"Hanya mengambil artifak saja, kau tak perlu seheboh itu," ujar Reina.


'Bodo amat,' batin Adrine.


WUUUSH!!


Adrine tiba-tiba saja sudah menghilang dari pandangan Reina. Dan mendadak ia sudah berada di bawah.


Reina hanya terlihat biasa saja, kemudian berjalan ke kulkas di dapur dan mengambil beberapa daging dan minuman di sana. Lantas ke meja dapur dan memasak sesuatu.


'DIA BENAR-BENAR WANITA GILA!' batin Adrine sembari berlari kencang menuju ke gunung Frey yang berada di belakang asrama.


Adrine juga merasa sedikit kedinginan karena tempatnya di sana masihlah berada di benua Es. Tetapi ia tak memperdulikan hal itu, dirinya hanya terus mengejar yang lainnya untuk bisa segera sampai ke puncak gunung Frey.


Sebenarnya keramaian sebelumnya hanya karena orang-orang ingin melihat siapa saja pilar-pilar terbarunya. Di atas asrama, Liona juga sempat melihat Adrine yang sedang berlari terburu-buru.


"Selamat atas gelar baru yang kau dapatkan kemarin, Adrine," ucapnya sembari tersenyum. Tangannya yang menyentuh jendela berharap dapat benar-benar menyentuh lelaki yang diselamatinya barusan di luar sana.


Setelah itu Adrine bertemu dengan para pilar lainnya. Ia berjalan menyusul ketua divisinya.


"Ketua, kenapa pilar tingkat Permata nya juga ikut? Bukankah tak ada yang menggantikannya?" tanyanya berbisik. Sebenarnya Adrine memang sempat mendengar dan tahu siapa pilar divisi empat tingkat Permata.


"Dia hanya ikut untuk meramaikan saja ... Setelah ini kau akan bertemu dengan pilar ... Dari divisi yang lain," jawab ketua Fheafel.


Adrine mengangguk dan segera bergerak melambat agar bersama kembali dengan para pilar lainnya.


Beberapa saat kemudian, Adrine bertemu dengan para pilar dari divisi pertama, ketiga, ketujuh, dan kesembilan seperti apa yang dikatakan oleh ketua Fheafel. Adrine juga melihat sosok yang tak asing di matanya, sosok yang juga menjadi sorotan utama ketika penerimaan anggota baru, Angelo D'Jonathan. Dia menjadi seorang pilar baru dari tingkat Keabadian pada divisi pertama.


Adrine juga sempat melihat bahwa Royu masih menjadi pilar tingkat Kesempurnaan di divisinya. Adrine tak memperdulikannya dan segera melihat-lihat yang lainnya.


Angelo juga mengalihkan pandangannya ketika melihat Adrine sekilas. Ekspresi wajahnya juga terlihat cuek dan malas untuk saling bertatap muka.


'Sombong sekali lelaki itu,' batin Adrine.


Walaupun terlihat begitu sombong, tetapi ia pantas untuk melakukannya. Alasannya adalah karena dia kuat, Adrine malah merasa agak jijik dengan sikap sombongnya. Ya, Adrine juga terkadang merasa jijik dan benci dengan sikapnya yang biasanya menjadi begitu sombong dan cuek.


Tiba-tiba Angelo kembali melihat ke arah Adrine, "Hei bocah, bagaimana kalau penentuan besok kau menjadi lawan pertama bagiku?"


Adrine tak terkejut mendengarnya, ia sudah menduga Angelo pasti ingin bertarung dengannya. 'Sangat mudah mengenali wajah sepertimu, kau hanya ingin tenar saja di hadapan yang lain,' batin Adrine.


"Baiklah, kutunggu besok di pertandingan penentuan pilar terkuat tingkat Keabadian," balasnya.


Angelo pun melempar pandangannya lagi dengan sombong, sementara Adrine hanya terkesan tak tertarik dengan apa yang tawaran tadi. Jika menolak maka akan membuat malu divisinya, tapi jika menerimanya hanya akan berkesan seperti bocah yang sedang beradu mainan baru. Yap, begitu pula tatapan yang diberikan oleh para ketua divisi yang ada di sana.


Tak berselang lama semua ketua dan pilar divisi pun hadir. Dikatakan bahwa hampir delapan puluh persen pilar sebelumnya digantikan oleh pilar yang baru.


Akan tetapi hanya beberapa saja yang digantikan oleh anggota baru seperti Adrine dan Angelo. Dan mereka berdua juga akan bertarung paling awal nantinya ketika pertandingan untuk menentukan siapa pilar terkuat diselenggarakan.


'Aku akan menjadi yang terkuat, aku akan menjadi pilar tingkat Keabadian terkuat yang berasal dari divisi pertama,' batin Angelo sembari tersenyum lebar penuh dengan ambisi.


Berbeda dengan Adrine, ia justru sedang menguap kebosanan di sana. 'Sebenarnya ... Aku sedang malas,' batinnya.


Bersambung!!