
"APA? HEWAN SPIRIT TINGKAT JELMAAN IBLIS?"
Suara teriakan yang lantang dari dalam laboratorium pusat kota Fierry, teriakan itu dari master Heyto yang terkejut sekaligus cemas dengan Adrine yang berhadapan langsung melawan hewan spirit tingkat Jelmaan Iblis peringkat 1, Rubah Bermata Tiga. Rubah tersebut seharusnya memiliki kekuatan dasar di tingkat Langit peringkat 5, hanya saja yang di hadapi oleh Adrine sekarang ini adalah hewan spirit buatan. Memiliki peningkatan dengan chip penguatan.
Di dalam dunia semi nyata buatan laboratorium, Adrine tidak terlalu takut dan tetap santai ketika di hadapan Rubah Bermata Tiga. Itu karena Adrine tahu jika rubah itu akan semakin bersemangat apabila melihat lawan yang penuh ketakutan, justru akan kebingungan jika lawannya tetap santai ketika berhadapan dengannya. Adrine melakukan seperti itu agar rubah tersebut bingung dan tidak terlalu agresif dengan keberadaan Adrine.
"Kau... Manusia... Tetaplah diam di sana dan jadilah makananku!"
Rubah tersebut dapat berbicara dengan bahasa manusia. Seperti yang dikatakannya, ia akan menjadikan Adrine untuk makanannya.
"Kau melihatku sebagai mangsa, tapi kenapa kau menumbuhkan 5 ekor? Apa aku ini terlihat seperti ancaman di matamu?"
Rubah Bermata Tiga bisa menumbuhkan sembilan ekor, jika mereka terancam, mereka akan menumbuhkan seekor demi seekor sampai 9 ekor. Jika menurut rubah tersebut terdapat ancaman besar yang tak dapat dielakkan, maka mereka bisa saja menumbuhkan lebih dari 7 ekor. Ekor yang l mereka tumbuhkan akan menunjukkan seberapa besar kekuatan yang akan mereka keluarkan pada saat itu juga.
"Hahaha, aku tidak suka diremehkan... Jadi... Aku juga tidak suka... Meremehkan..."
Adrine melihat sesuatu yang lain pada rubah itu, ia merasa jika pertumbuhan ekornya itu bukan karena tidak meremehkan. Selain itu, rubah tersebut selalu melirik ke belakang dan itu yang membuat Adrine semakin curiga.
'Bukan karena tidak meremehkan lawan ataupun apa, hanya saja seperti ada yang mengejarnya atau ada sesuatu di belakangnya.' Pikir Adrine.
"Terserah kau saja, yang penting apakah kau akan melawanku?"
Rubah Bermata Tiga pun tersenyum lebar.
"Tentu..."
ZRAAAST!!
Adrine langsung bergerak dengan sangat cepat menuju ke arah Rubah Bermata Tiga, namun rubah itu sama sekali belum bergerak dari tempatnya dan ia juga seperti sudah bersiap untuk menyerang balik Adrine. Ekspresi yang ditampakkan oleh Adrine kembali seperti biasanya, dingin dan datar,.apalagi di saat agak serius seperti ini.
Ekor pada rubah tersebut dilengkapi oleh beberapa teknologi yang menyatu dengan tubuhnya, ia juga bersiap menyerang Adrine dengan itu karena mampu menembakkan sinar laser yang sangat kuat dari ekornya itu.
CTAAASH!! CTAAASH!! CTAAASH!! CTAAASH!! CTAAASH!!
Lima buah laser telah ditembakkan oleh ekor Rubah Bermata Tiga, namun serangan tersebut dapat dihindari oleh Adrine dengan gerakannya yang lincah.
'Bocah sialan, tidak akan kubiarkan kau mendekatiku.' Pikir Rubah Bermata Tiga.
Rubah tersebut mulai bersiap dari serangan yang dilancarkan oleh Adrine.
ZRAAAST!!
Adrine pun melompat dengan sangat tinggi, tubuhnya terlihat bercahaya ketika di atas udara karena di selimuti oleh api, api tersebut adalah kemampuan dari Purgatory Demon yang ditransformasikan ke tubuh Adrine.
Pedang yang dipegang oleh Adrine kini diangkatnya tinggi-tinggi, serangan dari udara yang akan dilancarkan oleh Adrine akan menghasilkan dampak yang besar ketika menyentuh tanah.
"Takkan kubiarkan kau menyentuhku!"
Rubah Bermata Tiga pun membuka mulutnya lebar-lebar dan mengeluarkan bola energi yang seukuran dengan kepalan tangan yang diarahkan kepada Adrine yang melayang di udara.
BWOOOSH!!
Bola tersebut memancarkan cahaya hijau yang sangat kuat dan terang, namun Adrine tetap menatap rubah tersebut dengan tatapan yang tajam seperti biasanya tanpa mengkhawatirkan apapun.
Pancaran cahaya hijau itu pun mendekat ke arah Adrine dengan sangat cepat.
Beberapa waktu sebelumnya, master Heyto yang ada di luar dunia yang dijalani oleh Adrine, kini tengah khawatir akan keselamatan Adrine.
"Rubah Bermata Tiga tidak akan bisa ditangani oleh bocah di tahap Keberlanjutan begitu saja, tidak akan mudah baginya jika harus menanganinya langsung, bahkan kabur pun juga tak akan mudah."
Master Heyto terus mengamati pergerakan Adrine yang tengah melawan Rubah Bermata Tiga, ia merasa jika dirinya harus turun tangan sendiri.
"Master Heyto, bagaimana jika aku masuk ke dalam sana dan membantunya, lagipula aku sudah mengembangkan kultivasiku."
Tiba-tiba ada seseorang yang datang, orang itu adalah salah satu anggota yang ada di dalam laboratorium, walaupun bukan dari laboratorium pusat, dia bernama Reki.
"Siapa yang mengizinkanmu kemari? Tak ada yang menyuruhmu kemari, lagipula kau pun tak akan bisa membantunya di dalam sana, kau hanya akan menjadi beban saja bagi Adrine."
Master Heyto berkata seperti itu karena Reki hanya berada di tahap Keberlanjutan level-5 saja, memang lebih kuat dibandingkan dengan Adrine.
"Apa master Heyto mengira aku ini berada di tahap Keberlanjutan level ke-5? Kau salah, master, aku ini sekarang berada di tahap Nirvana Alam Pertama."
Reki dengan sombongnya memamerkan kultivasinya yang katanya telah mencapai tahap Nirvana Alam Pertama.
"Berkultivasilah di sini sekarang juga?"
"Apa?"
Reki nampak terkejut, namun ia langsung berkultivasi seperti apa yang dikatakan oleh master Heyto.
"Bangunlah!"
Reki pun bangun seperti apa yang dikatakan oleh master Heyto.
"Apa kau merasakan sesuatu yang menyakitkan di dalam meridianmu?"
"Tidak sama sekali, memangnya kenapa?"
Tatapan master Heyto menjadi sangat tajam dan penuh dengan aura membunuh yang sangat pekat.
"Berani sekali kau membohongiku!"
"Ba... Ba... Bagaimana master bisa tahu?"
Reki sangat ketakutan ketika melihat master Heyto yang yang menatapnya tajam, namun ekspresi wajah master Heyto kembali biasa dan terus melanjutkan untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Adrine.
"Seseorang yang telah mencapai tahap Nirvana Alam Pertama akan mengalami sesuatu di dalam meridiannya, itu dinamakan Gejolak Meridian. Gejolak tersebut akan terasa seperti pusaran yang berputar di dalam meridian dan terasa sangat sakit, seseorang akan terbiasa dengan rasa sakitnya setelah membiasakan diri setidaknya dalam 10 bulan lebih, aku sendiri juga membiasakan diri dalam waktu 11 bulan dulunya."
Lalu Reki pun mendekat ke arah master Heyto untuk meminta pengampunan atas kebohongannya barusan.
"Tolong maafkan aku master."
Di dalam layar proyeksi yang sangat besar melihatkan Adrine yang tengah berada di udara dan diserang oleh Rubah Bermata Tiga dengan pancaran bola cahayanya.
"Jika kau berada di posisinya, kau memang tak akan bisa menghindarinya, begitupun dengannya, tapi kalau itu kau, maka kau akan mati."
Reki bingung dengan perkataan master Heyto.
'Lantas apa bedanya dengannya yang juga akan mati di sana?' Pikir Reki.
Dan sekarang, Adrine tengah melayang dan tak bisa menghindari serangan dari Rubah Bermata Tiga, mengelak pun tak akan bisa karena ia sedang berada di udara.
BLUAAAARR!!
Serangan tersebut mengenai Adrine dengan telak, asap tebal mengepul di udara akibat ledakan dahsyat tersebut.
WUUUSH!!
Muncul Adrine yang masih dalam keadaan yang biasa saja dan dalam keadaan menyerang seperti sebelumnya, namun terdapat bola kaca yang melindunginya dan bola tersebut retak dan banyak berlubang karena terkena serangan dari Rubah Bermata Tiga barusan. Bola kaca tersebut dilapisi oleh petir, karena bola pelindung tersebut berasal dari Bolt Demon.
SLAAASH!!
Pedang Adrine menebas dengan kencangnya dan Rubah Bermata Tiga bisa menghindari serang tersebut, hanya saja rubah itu tetap terkena dampak dari serangan pedang Adrine.
Serangan Adrine mengenai mata kiri Rubah Bermata Tiga, namun dampaknya begitu besar bagi rubah tersebut, maka dari itu rubah itu menumbuhkan 1 ekor lagi dan menganggap Adrine sebagai ancaman yang besar.
"Sial... Manusia... Beraninya kau..."
Adrine masih terlihat biasa saja ketika menatap tajam ke arah Rubah Bermata Tiga, ia tetap terlihat dingin dan tidak panik sama sekali.
"Kau punya kemampuan yang bagus, lebih baik kau menjadi milikku saja."
Adrine tetap berekspresi datar ketika mengancam, namun ancamannya itu membuat Rubah Bermata Tiga menjadi tak senang.
ZRAAAST!!
Adrine pun berlari menuju ke Rubah Bermata Tiga, rubah tersebut pun menyerang Adrine dengan memanjangkan ekornya dan menyerang Adrine dengan ekornya itu.
Adrine berhasil menghindari beberapa serangan dari rubah tersebut, namun ada 1 ekor lagi yang ada di depannya dan ia tak bisa menghindarinya.
SLAAASH!!
"WAAANG!!"
Rubah Bermata Tiga menggonggong dengan sangat keras, membuat semua burung berterbangan. Pedang Adrine terayun dengan sangat cepat dan ekor rubah itu terkena tebasan secara vertikal oleh Adrine.
ZRAAAST!!
Dengan sangat cepat Adrine menebas dan sudah berada di belakang Rubah Bermata Tiga dengan meninggalkan jejak bayangannya.
Kaki Rubah Bermata Tiga terkena tebasan telak dari Adrine, kakinya terluka dan berdarah akibat terkan serangan Adrine. Rubah tersebut kini hanya tinggal mempunyai 3 kaki.
"Apa kau yakin tak butuh kemampuan ekor ketujuh mu?"
Rubah Bermata Tiga hanya tersenyum ketika diremehkan oleh Adrine.
"Sekarang aku... Akan bertanya padamu... Kau pasti sudah tahu... Tentang kemampuan ekor ketujuh ku... Jadi... Apa kau yakin bisa... Melawanku?"
Adrine cukup tahu dengan kemampuan dari ekor ketujuh Rubah Bermata Tiga.
"Ekor kelima, mengeraskan kulit dan mempertajam mata, ekor keenam, meningkatkan kemampuan regenerasi dan meredam rasa sakit beserta meningkatkan ketajaman serangan, ekor ketujuh, memperbesar ukuran dan menambah massa tubuh, aku tahu itu dan... Aku tahu cara mengatasinya."
Rubah Bermata Tiga merasa sangat tidak senang dengan ucapan Adrine barusan, namun Adrine tetap tidak seperti orang yang senang karena bisa mengatasi kemampuan dari Rubah Bermata Tiga.
Kemudian kaki Rubah Bermata Tiga beregenerasi dan sembuh kembali, hanya saja masih berbekas.
"Baiklah... Karena kau yang meminta... Aku akan melawanmu... Dengan serius...."
Setelah itu, Rubah Bermata Tiga pun menumbuhkan seekor lagi dan ukuram tubuhnya membesar hingga lebih dari 5 kali lipat dari ukuran asli tubuhnya.
"Heh..."
Adrine berbisik pelan sambil tersenyum tipis melihat Rubah Bermata Tiga.
"Kau benar-benar serius menanggapi ucapan ku barusan, sepertinya kau membuat peluang hidupku menjadi semakin menipis ya?"
Rubah Bermata Tiga tersenyum juga mendengar ucapan Adrine.
"Seingatku... Kau sendiri yang meminta... Tanggung sendiri akibatnya..."
Lalu Adrine pun melepaskan transformasinya dengan Purgatory Demon, Bolt Demon mendapat suara panggilan dari Adrine yanh tiba-tiba berada di kepalanya untuk menyuruhnya ke tempat Adrine sekarang.
Bolt Demon pun keluar dari tempat ia bersembunyi dan Rubah Bermata Tiga terkejut melihatnya.
"Apa kau menyadarinya?"
"Jadi bola pelindung yang tadi... Melindungimu itu... Adalah bantuan dari... Darkness Lightning Demon?"
Adrine tersenyun melihat ekspresi terkejut dari Rubah Bermata Tiga.
"Ya, kau kira aku tak mempunyai persiapan untuk melawanmu? Aku akan mati konyol jika melakukan hal seperti itu."
Setelah itu pun Adrine mengeluarkan ketiga hewan iblis miliknya, Rubah Bermata Tiga pun menjadi begitu terkejut dan ia juga melangkah mundur ketika melihat hal itu.
"Transformasi Bolt Demon!"
Tubuh Bolt Demon melebur menjadi energi petir yang menyatu menjadi perisai tubuh bagi Adrine. Purgatory Demon dan Blood Demon pun juga mulai memperbesar energi elemental asli mereka dengan menyerap energi yang ada di sekitar. Api yang berkobar di tubuh Purgatory Demon menjadi begitu dahsyat dan ganas serta aroma darah dan aura membunuh dari Blood Demon semakin pekat dan menyesakkan nafas.
"Kau bisa menumbuhkan ekor kedelapan mu jika kau mau."
Bersambung!!