Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Ujian Kelulusan (11)


Tempat yang sungguh mengerikan namun saksi bisu dari suatu hal yang menakjubkan, tanah yang hangus terbakar hingga bahkan langit-langit yang hangus berjatuhan bagaikan tetesan hujan dimalam hari. Berkumpul puluhan orang yang sedang menatap tempat tersebut, dan disana terdapat seseorang dan sebuah pedang yang ditancapkan ditanah, orang itu seperti tengah duduk bersandar disamping pedangnya yang ditancapkannya itu. Itulah Adrine, seseorang yang membuat tempat disekitarnya yang hangus dan menjadi saksi bisu dari kekuatan yang dimilikinya.


Adrine terlihat sedang duduk dan menunduk, matanya terpejam seperti orang yang tengah tidur. Namun perlahan matanya kembali terbuka, kepalanya terangkat dan melihat keatas, melihat sekumpulan orang yang juga sedang melihatnya. Kini ia pun berdiri dan mencabut pedangnya dari tanah, tanah yang ada disekitarnya pun juga seperti ikut terangkat oleh pedang Adrine.


Iris mata kanan Adrine terlihat berwarna merah dan pupil matanya terlihat seperti membentuk sebuah simbol, itulah mata jiwanya. Lalu ia memejamkan matanya dengan perlahan dan membukanya kembali, setelah matanya dibuka kembali matanya telah kembali normal, mata dengan iris berwarna cokelat dan pupil mata yang berwarna hitam, begitupun mata kirinya yang sebelumnya berwarna ungu. Pedang yang ada ditangannya kini telah menghilang bersamaan dengan matanya yang telah normal kembali.


ZRIIING!!


Dengan gerakan yang sangat cepat Adrine telah menghilang dari tempatnya dan hanya menyisakan angin disana. Dalam sekejap, Adrine sudah berada diantara kerumunan orang yang tadi tengah melihatnya.


Tiba-tiba 2 orang maju mendekatinya, itulah David dan Arpha, mereka sangat khawatir serta penasaran dengan kondisi Adrine sekarang.


David membuka mulutnya terlebih dahulu untuk menanyakan kondisi Adrine.


"Apakah kau baik-baik saja? Kenapa kau seperti orang yang kehabisan tenaga?"


Adrine hanya tersenyum ketika ditanya oleh David, namun ia tak akan diam jika ditanya, apalagi orang yang menanyainya sekarang ini adalah teman dekatnya sendiri, yaitu David.


"Aku baik-baik saja. Tenang saja, tenagaku tak habis, hanya saja tubuhku masih terasa hangat karena ledakan tadi."


Teknik Ledakan Api yang dikeluarkan Adrine tadi juga mengenai tubuhnya, namun dampaknya juga tak terlalu besar untuk penggunanya karena teknik tadi menggunakan energinya, jadi dampaknya hanya tubuh Adrine yang menjadi panas dan kini tubuhnya sedang melakukan proses penurunan dan penyesuaian suhu tubuh.


David yang mendengar kalau Adrine tidak kenapa-napa nampak lega, ia sedikit takut jikalau temannya ini kondisinya menurun atau kehabisan tenaga.


"Syukurlah kalau begitu."


Arpha sedikit penasaran dengan point yang didapat oleh Adrine, itu karena teknik tadi telah membunuh puluhan lawan dalam sekejap hingga tak bersisa.


"Adrine, berapakah point yang kau dapat?"


Lalu Adrine memeriksa datanya dan melihat point yang didapatnya.


"48 point."


"Banyak sekali!"


Bukan hanya Arpha yang meneriakkan kata tersebut, orang-orang yang ada disekitarnya dan mendengar seberapa banyak point milik Adrine juga meneriakkan 2 kata yang sama seperti halnya Arpha.


Namun ada 2 orang yang nampak tidak terkejut sama sekali, mereka berdua adalah David dan Yama. Mereka berdua nampak biasa-biasa saja ketika mendengarnya karena menurut mereka berdua hal tersebut memanglah wajar jika Adrine menghabisi lawan sebanyak itu.


Yama pun mendekat karena ingin membicarakan sesuatu dengan Adrine, begitupun halnya dengan Adrine, ia pun mendekat kearah Yama karena tahu Yama sedang ingin menanyakan sesuatu kepadanya.


'Ini... Tak disangka Adrine jauh lebih peka daripada David, hebat... Dia orang yang cukup sulit dimengerti.' Pikir Yama.


Semua orang melihat Adrine dan Yama sedang berhadapan, mereka nampak seperti sedang menantikan pertandingan yang sengit seperti tadi, namun mereka langsung tahu bagaimana hasil akhir. Tapi raut wajah mereka terlihat seperti kecewa, itu karena tak ada satupun dari keduanya yang memancarkan energi kekuatan masing-masing maupun hawa pembunuh. Udara disekitar nampak tenang dan tidak ada gejolak sama sekali diantara Adrine dan Yama, terlihat jika mereka berdua akan membicarakan sesuatu tanpa adanya pertarungan.


Akan tetapi raut muka diantara mereka berdua terlihat sangat tegang, hal itu memang wajar jika itu adalah wajah Yama, karena memang wajah Yama terlihat cukup tegang, namun wajah dingin Adrine juga terlihat tegang dimata orang lain.


"Apa kau ingin menanyakan sesuatu?"


Adrine memulai pembicaraan dengan menanyakan hal apa yang ingin dipertanyakan oleh Yama. Namun Yama terlihat cukup tenang seperti biasanya tapi tidak dengan raut wajahnya, namun semua itu memang biasa karena wajah Yama memang terlihat tegang.


"Untuk pertanyaan kita bahas nanti saja, aku hanya sedang ingin..."


"Meminta maaf kepadaku?"


DEG!!


Yama sangat terkejut ketika mendengar Adrine sudah tahu apa yang akan ia katakan, namun Yama jauh lebih tegang ketika akan mendengar jawaban apa yang akan terlontar dari mulut Adrine nantinya.


"Ya, itulah yang ingin kubicarakan denganmu."


Semua orang langsung terkejut dan memandang satu sama lain, apalagi keempat anggota Geng Lima Jenius juga ikut mendekat dan Adrine merasa mereka berempat juga ingin mengatakan hal yang sama.


"Ya, kami memang ingin meminta maaf."


Dengan serentak, Pino, Rizky, Vania, dan Shani mengucapkan hal yang sama. Namun Adrine malah berbalik dan tidak menatap mereka berlima, ia merasa ada yang kurang dan salah dari permintaan maaf mereka berlima.


"Apa kalian merasa permintaan maaf kalian ini sudah benar?"


DEG!!


Kelima orang itu langsung terkejut seketika itu juga, tak disangka permintaan maaf mereka tidak diterima sama sekali. Orang-orang yang lain langsung saling membicarakan hal ini dengan orang yang ada disamping mereka masing-masing.


"Apa mereka akan saling bertarung?"


"Mungkin mereka akan bertarung, jawaban Adrine barusan sangat menusuk hati."


"Apakah itu yang dinamakan menolak permintaan maaf secara tak langsung?"


"Ugh... Sangat sadis sekali jawaban Adrine barusan, apakah setelah ini akan ada pertarungan?"


Semua orang saling berargumen tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, jawaban Adrine memang nampak seperti tidak memaafkan Geng Lima Jenius secara tak langsung.


Namun apa yang dibicarakan oleh orang-orang nampak tak benar, itu karena kelima anggota Geng Lima Jenius memang sudah bertekad untuk meminta maaf dengan Adrine. Bahkan sekarang ini mereka langsung bersujud dan meminta maaf kepada Adrine.


"Kami meminta maaf akan apa yang telah kami lakukan terhadap nama baikmu beserta teman-temanmu, kami mohon, maafkan kami!"


Adrine sedikit terkejut mendapati hal tersebut, jadi ia langsung berbalik dan mengangkat mereka semua. Bukan hanya Adrine saja yang terkejut, bahkan semua orang yang melihatnya barusan juga terkejut, begitupun dengan David.


"Aku hanya ingin kalian meminta maaf dengan benar, bukannya bersujud seperti itu, aku ini bukan raja hingga kalian bersujud seperti itu."


Namun kelima orang tersebut nampak masih khawatir, jadi Pino ingin memastikan apakah Adrine memang sudah benar-benar memaafkan mereka berlima.


"Apakah kau telah memaafkan kami?"


"Ya, aku memaafkan kalian berlima, kalian semua."


Adrine menjawab dengan senyuman yang ramah, wajahnya bagaikan taman yang penuh bunga dan diatasnya terdapat langit biru yang cerah dengan awan-awan yang berterbangan diatasnya.


"Huuuh... Syukurlah..."


Kelima anggota Geng Lima Jenius menghembuskan nafas lega atas diterimanya permintaan maaf mereka berlima.


"Tapi aku hanya meminta kalian 1 hal."


Tak disangka Adrine meminta sebuah persyaratan atas permintaan maaf dari Geng Lima Jenius. Yama yang merasa paling bersalah langsung maju kedepan dan menanyakan persyaratan apa yang akan dinyatakan oleh Adrine.


"Apa itu? Apakah benda berharga? Artifak? Kitab atau Gulungan teknik?"


Adrine menggelengkan kepalanya karena bukan itu hal yang diinginkannya.


"Bukan, aku bukan orang serendah itu sampai-sampai harus meminta barang untuk sebuah permohonan maaf."


Semua yang ada disana saling memandangi satu sama lain karena sedikit bingung dengan apa yang Adrine minta.


"Aku hanya meminta kalian tidak melakukan hal yang sama seperti apa yang telah kalian lakukan sebelumnya, apa kalian bisa?"


Seketika itu, semua orang terkejut mendengarnya. Tak disangka Adrine dapat memaafkan apa yang telah dilakukan oleh Geng Lima Jenius kepadanya dengan sangat mudah, bahkan tanpa persyaratan apapun, Adrine hanya menginginkan kalau mereka tidak melakukan hal yang sama lagi nantinya.


"Oh iya, Vania, aku memintamu untuk kau juga meminta maaf kepada Arpha. Bukankah sebelumnya kau juga mempunyai kesalahan terhadapnya?"


Adrine masih teringat kejadian tersebut, kejadian yang dimana Arpha melawan Vania, namun dengan cepat Vania menganggukkan kepalanya tanpa ragu dan langsung berjalan kearah Arpha untuk meminta maaf terhadapnya.


"Arpha, aku ingin meminta maaf atas apa yang telah kuperbuat terhadapmu, apakah aku boleh menerima maafmu?"


Ketika dimintai maaf, nampak wajah Arpha yang terlihat sedikit bingung. Ia memalingkan pandangannya dan melihat kemana-mana, lalu ia menunduk dan memikirkan sesuatu hal. Dengan cepat Arpha kembali menatap Vania dengan tatapan yang cukup serius.


"Baiklah, aku memaafkanmu. Sejujurnya aku masih sedikit ragu untuk memaafkanmu, tapi karena Adrine yang memintanya... Ya sudahlah."


Arpha tersenyum tipis ketika berbicara, dan ia juga menatap Adrine. Seketika itu Adrine langsung tersenyum lebar sambil menatap kearah Arpha, begitupun dengan David.


Namun Adrine teringat 1 hal, ada sesuatu hal yang masih belum ia selesaikan, dan menurutnya sekarang adalah waktu yang cukup tepat baginya.


"Cukup sudah kita bermaaf-maafan disini, aku masih belum menemukan Etern sampai sekarang. Kita harus cepat karena waktu kita semakin menipis."


"Eh?"


Tiba-tiba Yama dan Pino seperti seperti terkejut mendengar Adrine yang sedang membicarakan Etern.


"Ada apa? Apa kalian mengetahui sesuatu?"


SET!!


Mata Adrine terbelalak dan seperti menyadari sesuatu. Ada suatu pemikiran yang masuk kedalam pikirannya, namun bukanlah hal yang mungkin baik.


"Atau jangan-jangan kalian..."


"Bukan!!"


Yama segera menyadari kalau Adrine mengira kalau dirinya itu telah membunuh Etern, maka dari itu Yama langsung mencegah pemikiran Adrine itu.


"Kami tidak membunuhnya."


"Lantas?"


Adrine sangat penasaran dan menunggu penjelasan dari maksud Yama, ia juga memancarkan hawa pembunuh yang membuat orang lain menjadi agak tertekan.


"Kami bukan membunuhnya, hanya saja kami tadi melihatnya."


Bersambung!!