Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Perdebatan


Adrine sangatlah bingung sekaligus terkejut mendapatkan nomor yang tadi sempat disebutkan Heyto. Tak ada yang memperhatikan Adrine sedang kebingungan disana, mereka hanya fokus untuk berdiri dan bergantian pada nomor mereka masing-masing.


"Lupakan! Bukankah lebih baik? Aku juga tidak harus mengantri."


Adrine pun langsung berjalan tanpa harus kebingungan lagi. Ia ingin sesegera mungkin untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.


Disaat Adrine berjalan, ia sempat dihadang oleh orang karena Adrine menyerobot antrian tanpa memberitahukan nomor yang Adrine dapatkan.


"Kau harus antri! Berapa nomormu? Tidak ada yang kosong didalam."


Roni terlebih dahulu menegur Adrine karena ia masih menyimpan dendam kepada Adrine. Ia lebih tidak terima dengan Adrine apalagi orang yang ia benci malah menyerobot antrian.


"Bukankah seharusnya masih ada yang kosong? Apa benar memang sudah penuh?"


Adrine tidak percaya kalau tempatnya memang penuh semua. Ia mengira kalau tempat yang bernomorkan 0 itu sudah ada yang mengisinya.


"Memang! Tempat yang bernomorkan 0 itu masih kosong, tapi tempat itu tidak akan pernah ada yang mengisinya, apalagi dirimu! Hanya legenda yang bisa membuktikannya."


Roni ingin terus membantah Adrine, ia masih tak terima dengan adanya Adrine disana. Namun Adrine hanya bersikap tenang dan tak menunjukkan ekspresi apapun.


"Bagaimana kalau aku mendapatkan nomor 00? Apakah aku boleh masuk?"


Adrine hanya berkata dengan wajah dinginnya. Orang lain juga terus memperhatikan perdebatan antara Adrine dengan Roni.


"Hahahaha... Lihatlah betapa gilanya dia! Masih mau berkhayal disiang bolong seperti ini? Bermimpilah!!"


Roni pun menghina Adrine dengan begitu rendahnya. Ia memaki Adrine dan mengajak orang lain untuk ikut memaki Adrine.


"Hahaha..."


Orang lain juga ikut tertawa dengan makian dari Roni yang masih tak tahu diri. Adrine tidak memperdulikan tentang makian dari Roni, ia hanya terlihat dingin begitu saja.


Diantara mereka belum ada yang tahu kalau Adrine sudah mencapai tahap Kematian level-4 dan bersiap untuk memasuki tahap Keberlanjutan. Jika Adrine menunjukkan kekuatannya, tak ada dari mereka semua yang berani bertingkah.


"Perlihatkan dulu berapa angka yang kau dapatkan dari Plakat Penentu, lalu aku akan mempersilahkan dirimu masuk dengan terhormat."


Dengan wajah yang sombong, namun tidak menyombongkan apapun, Roni begitu merendah Adrine dengan ucapannya. Adrine masih begitu tenang dengan wajahnya yang dingin.


"Baiklah, Lihatlah ini dan kau harus menepati janjimu!"


Adrine pun memperlihatkan Plakat Penentu miliknya.


"Apa? Tidak mungkin!"


Bukan hanya Roni yang mengucapkan hal tersebut, orang lain juga mengucapkan hal yang sama dengan perasaan yang terkejut.


"Sekarang kau harus persilahkan aku masuk dengan terhormat!"


Adrine pun membalas Roni dengan sikap angkuhnya. Sekarang ia bebas untuk menyombongkan dirinya dan memerintah Roni untuk bersikap hormat didepannya ketika itu juga.


"Baiklah, lagipula aku hanya akan hormat kali ini saja. Tapi kau tak akan punya waktu untuk naik kelantai berikutnya, sedangkan aku sudah berada dilantai 3 sekarang ini."


Walaupun Roni begitu menyombongkan dirinya yang sudah berada dilantai 3, Adrine tidak memperdulikan perkataannya. Adrine hanya berjalan kedepan sambil menunjukkan ekspresi dinginnya.


Sesuai dengan janji yang tadi diucapkan, Roni pun tunduk dengan hormatnya kepada Adrine. Ia melakukannya dengan ekspresi wajah yang tak ikhlas, seakan-akan ia ingin menendang bokong Adrine sekeras-kerasnya.


"Anjing pintar!!"


DEG!!


Adrine pun menghina Roni dengan menyamakan Roni dengan anjing yang suka disuruh. Dimata Adrine, Roni hanyalah seekor anjing yang suka disuruh-suruh oleh majikannya, itu sebabnya Adrine memanggilnya dengan sebutan anjing.


'Sialan! Dia menyebut aku ini anjing? Tak bisa dibiarkan!' Pikir Roni.


Roni merasa tidak terima dengan hinaan Adrine tentang anjing.


"Hahahaha, Roni disebut dengan anjing!"


"Tapi dia memang pantas untuk disebut sebagai anjing, bukankah dia memang babu dari para ketua Geng Lima Jenius?"


'Sialan! Kalian mengolok diriku? Akan kubalas kalian nanti! Tunggu saja kalian! Termasuk kau Adrine!' Pikir Roni.


Adrine sudah masuk kedalam daftar hitam Roni. Dulu yang tadinya Adrine hanya dianggap sepele dimata Roni, kini Adrine sudah dianggap orang yang tak akan pernah ia maafkan.


Adrine pun masuk kedalam dengan penuh gaya. Orang-orang masih memandang Roni dengan tatapan yang hina karena Adrine membalasnya dengan penuh hinaan, walaupun hanya dengan 2 kata.


Disaat Adrine masuk kedalam Menara Aliran Bayangan Bertingkat, ia melihat disekitarnya yang dimana tema tempat tersebut sangatlah gelap dan suram. Lampu penerangannya hanyalah obor dan beberapa lilin.


Namun Adrine tidak terlalu memperhatikan tentang detail tempat tersebut, ia hanya tertarik untuk mencari dimana tempatnya akan berkultivasi nantinya.


Lalu Adrine pun menemukan tempat dimana ada orang yang sedang berkultivasi, dan membentuk sebuah lingkaran spiral. Mereka semua duduk diatas dudukan yang disampingnya terdapat sebuah papan. Dudukannya berbentuk seperti batu yang berbentuk lingkaran yang agak tipis, namun cukup untuk menahan seseorang untuk duduk diatasnya.


Adrine melihat tempat dudukan untuk berkultivasi yang masih kosong, dan tempat itu berada ditengah dan ada papan yang bernomorkan 00.


"Ah, seharusnya itu adalah tempatku."


Adrine tak sengaja melihat melihat kalau dibawah nomor papan orang lain, terdapat angka lagi yang selalu berkurang tiap detiknya.


'Sepertinya untuk berkultivasi disini ada ketetapan waktunya. Berarti mereka rela untuk mengantri karena tahu kalau waktu mereka juga terbatas.' Pikir Adrine.


Kemudian Adrine berjalan menuju dudukannya dan bersiap untuk dirinya berkultivasi. Tak ada yang melihat Adrine berjalan dan orang-orang hanya duduk berkultivasi tanpa harus melihat orang lain. Mereka hanya fokus terhadap kultivasi masing-masing.


Disaat Adrine duduk diatas dudukannya, ia mendapati kalau angka 00 yang ada pada papan disampingnya menjadi bercahaya. Memang hal yang wajar karena angka pada papan orang lain juga bersinar, namun ada yang membedakan antara papan milik Adrine dengan yang lain.


"Kenapa punyaku tidak ada waktunya? Apa karena tidak ada yang menunggu?"


Adrine merasa bingung dengan hal tersebut. Memang papan milik Adrine tidak menunjukkan berapa waktu yang ia miliki untuk berkultivasi disana.


"Ya sudahlah. Aku juga untung karena tidak ada batas waktunya."


Adrine pun langsung fokus untuk berkultivasi dan duduk bersila dengan rapi. Dan seketika itu, ada orang lain yang sudah selesai dalam berkultivasi karena waktunya habis. Ia sangat terkejut mendapati dudukan yang bernomorkan 00 itu sudah ada yang mengisi.


"Siapa dia? Apakah memang sudah ada yang mendapatkan angka 0?"


Orang itu sangat terkejut. Dan disaat itu, ada orang yang masuk karena gilirannya untuk berkultivasi.


"Kenapa kau berhenti disitu? Ayo cepat keluar! Ini giliranku."


Seseorang itu mengingatkan kepada orang lain yang berdiri didepannya sambil terus memandangi Adrine.


"Apakah benar kalau dudukan yang bernomorkan 0 itu sudah ada yang mendapatkannya?"


Orang itu langsung menanyakan tentang Adrine yang duduk diatas dudukan yang bernomorkan 0 itu.


"Memang tadi diluar ada sedikit keributan karena orang yang mendapatkan nomor 00. Dan orang itu bernama Adrine, orang yang duduk disana itu."


Nada dari orang yang memberitahu tentang keributan Adrine dengan Roni seperti biasa-biasa saja, tapi orang yang satunya mendengarnya terlihat sangat terkejut.


"Apa dia benar-benar Adrine yang itu? Adrine yang sering dibicarakan oleh Geng Lima Jenius itu?"


Orang itu seperti tahu dengan siapa yang sedang duduk diatas dudukan yang bernomorkan 0 itu.


"Ya, itu memang benar dia. Kalau tidak, bagaimana bisa dia sampai berurusan dengan babu dari ketua Vania, Si Roni itu?"


Orang yang masuk itu terlihat biasa saja saat berbicara, namun didalam hatinya, ia juga sangat terkejut dengan hal tersebut.


"Baiklah, sekarang kau keluar! Sekarang ini adalah giliranku."


Mereka berdua pun saling meninggalkan satu sama lain. Yang satu langsung duduk bersila, dan yang satunya lagi berjalan keluar dari menara.


Dari apa yang tadi mereka perbincangkan tentang Adrine, mereka masih terpikirkan oleh satu hal, dan hal itu masih mengenai tentang Adrine.


'Apa memang benar kalau dia itu adalah Adrine yang selama ini dianggap sebagai pecundang? Apakah memang kalau dia itu pecundang? Bagaimana bisa?' Pikir dari kedua orang tadi.


Bersambung!!