Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Persahabatan


Semua yang melihat plakat milik Adrine, sangatlah terkejut karena nomor yang dimiliki oleh Adrine itu tidak biasa. Mata mereka terbelalak lebar hanya karena sebuah plakat yang hanya bernomorkan 00.


"Kenapa kalian terkejut? Bukankah hal ini sudah jadi pembicaraan umum?"


Adrine tak percaya kalau teman-temannya itu belum mendengar hal tersebut. Namun teman-temannya masih tetap tidak tahu dan menggelengkan kepala mereka.


"Apa kalian selama ini tidak pernah keluar rumah?"


Adrine merasa kalau mereka semua tak tahu, berarti mereka tidak keluar dari rumah sama sekali. Dan teman-teman Adrine masih saja menggelengkan kepala mereka.


"Apa memang benar kalau hal ini sudah banyak diketahui banyak orang? Kenapa mereka tidak berusaha merebutnya darimu?"


Arpha tidak tahu kalau Plakat Penentu milik seseorang, jika diambil oleh orang lain itu akan menimbulkan fluktuasi yang cukup kuat, sehingga meledak dan menghancurkan plakatnya.


"Apa kau ini lupa? Bukankah Plakat Penentu milik seseorang jika diambil oleh orang lain itu meledak?"


David pun mengingatkan pada Arpha, yang lainnya juga sudah tahu akan hal itu, meskipun Adrine hanya menduganya saja dan dugaannya itu benar.


Lalu Adrine terpikirkan sesuatu yang tadinya hampir terlupakan olehnya.


"Apa kalian tidak ingin ke Menara Aliran Bayangan Bertingkat? Aku yang akan membelikan Plakat Penentunya."


Seketika itu, teman-temannya Adrinep langsung menoleh kearahnya. Adrine merasa ada yang aneh.


"Dengar Adrine! Seharusnya kau sudah tahu kenapa kami tidak kesana!"


David mengingatkan hal tersebut kepada Adrine dan memang, Adrine juga tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Tenang saja! Aku akan ikut kesana, kalian jangan khawatir!"


Walaupun Adrine sudah meyakinkan seperti itu, namun semuanya masih saling menatap satu sama lain. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Tapi bukankah kau itu sudah tak punya jadwal lagi? Dan kau juga belum menjelaskan bagaimana kau bisa disana selama 3 hari, jelaskan!"


Seperti sifatnya, Arpha memang orang yang cukup memaksa dan agak tempramental. Arpha masih saja teringat dengan pertanyaannya sendiri yang menanyakan tentang Adrine yang berada di Menara Aliran Bayangan Bertingkat selama 6 hari itu.


"Oh iya, aku lupa."


"Haiish!!"


Semua orang menghela nafas kesal yang ditujukan kepada Adrine ketika mendengar alasannya itu. Adrine hanya nyengir ketika itu dan hampir tak bisa berkata-kata lagi.


"Sebenarnya aku sendiri juga tak tahu. Tapi percayalah, disana aku juga bingung dan penasaran, kenapa hanya papan penunjuk ditempatku saja yang tidak ada batasan waktunya."


Memang tidak ada angka yang menunjukkan sisa waktu milik Adrine, sedangkan yang lainnya pasti ada, bahkan hal itu juga berlaku disaat Adrine naik lantai.


"Serius? Tolonglah, jangan main-main!"


Arpha sedikit tak percaya dengan perkataan Adrine, begitu juga dengan yang lain, pernyataan itu susah untuk mereka terima.


"Tolonglah Adrine! Jelaskan yang sebenarnya, kami juga pasti akan mencoba memahami apa yang kau ceritakan kepada kami."


Etern juga sedikit memaksa Adrine untuk menceritakan kisah yang sebenarnya, padahal apa yang diceritakan oleh Adrine itu adalah kisah yang sebenarnya.


"Sudah kubilang, untuk apa aku berbohong kepada kalian? Apa gunanya juga aku membohongi kalian?"


Adrine sangat berusaha untuk meyakinkan mereka semua, dan juga sebenarnya hampir tak ada yang percaya kalau Adrine itu berbohong. Karena diantara mereka, semua tahu bahwa Adrine itu tak pernah berbohong.


"Aku... Sebenarnya aku juga percaya akan dirimu yang tidak pernah berbohong kepada kami, namun alasan yang kau sebutkan ini tidak masuk akal. Apa benar memang begitu?"


David pun menjelaskan bagaimana pendapatnya tentang alasan dari Adrine, namun tak dapat dipungkiri, memang alasan Adrine susah untuk diterima oleh akal sehat.


"Kalau begitu lihatlah ini! Lihatlah, plakat milikku ini menunjukkan bahwa aku sudah naik beberapa lantai. Tak mungkin kalau ada seseorang yang bisa naik dalam waktu sehari saja."


"Mustahil! Hanya dalam waktu yang singkat kau sudah mencapai lantai 4?"


David hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat, namun kebenarannya tampak didepan mata dan tak bisa dipungkiri lagi kalau Adrine memang sudah mencapai lantai 4.


Bukan hanya David saja yang terkejut setengah mati seperti itu, namun Arpha dan Etern juga sangat terkejut ketika melihat Plakat Penentu milik Adrine. Walaupun teman-temannya terkejut dengan plakatnya, namun Adrine hanya bersikap seolah tidak ada apa-apa.


"Nah, sekarang semuanya sudah terbukti. Tak ada lagi yang bisa mengelak. Ayo kita pergi! Semua biaya aku yang akan menanggungnya."


Wajah terkejut teman-teman Adrine berubah menjadi wajah yang kebingungan. Mereka tak tahu apa mereka sendiri tetap yakin untuk keluar rumah sekarang ini.


"Ayolah! Apa kalian tidak mau menjadi kuat? Dan lagi sudah tak ada yang menantang salah satu dari kalian sampai saat ini juga, iya kan?"


Adrine terus mencoba untuk meyakinkan teman-temannya untuk ikut bersamanya. Mereka bertiga juga sebenarnya ingin ikut, tapi mereka ragu untuk tetap ikut bersama Adrine.


Adrine sendiri malah menjadi bingung karena sikap teman-temannya yang tiba-tiba menjadi pendiam dan tak mau bicara sedikit pun. Mereka bertiga saling melirik dan menyenggol satu sama lain.


"Bagaimana? Kumohon! Jika ada yang mengancam kalian, aku sendiri yang akan menghajar mereka."


Adrine terus menerus berusaha untuk meyakinkan teman-temannya, namun mereka bertiga masih saja diam, dan ini sudah yang ketiga kalinya Adrine meyakinkan mereka bertiga untuk ikut bersamanya.


'Sebenarnya ada apa sih dengan mereka bertiga? Kenapa mereka hanya diam saja? Apakah Geng Lima Jenius mengancam mereka sampai tak boleh keluar rumah hanya untuk kepentingan pribadi dan tantangan saja?' Pikir Adrine.


Lama-kelamaan Adrine menjadi tak tahan dengan sikap diam dari teman-temannya. Ia pun berbalik kanan dan ingin meninggalkan mereka bertiga.


"Tunggu Adrine!"


Langkah kaki Adrine menjadi terhenti ketika mendengar Etern memanggilnya.


"Ada apa? Ikut atau tidak sekarang ini urusan kalian. Jika kalian ingin ikut, maka ikutlah bersamaku kesana, jika tidak tinggallah disini dan berlatihlah tanpa aku."


Adrine berbicara tanpa berbalik dan tidak memperhatikan siapa yang ingin ia ajak bicara. Adrine seperti sedang marah dan sudah mulai kesal dengan teman-temannya, sehingga berbicara pun tidak menghadap keorangnya.


"Bukan begitu Adrine, kumohon dengarlah dulu."


Adrine pun memutuskan untuk berbalik ketika Etern memintanya untuk mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.


"Kenapa? Kalian saja dari tadi tidak pernah percaya dengan apa yang kubicarakan, sekarang kalian ingin aku mendengarkan penjelasan dari kalian?"


Adrine berbicara dengan nada yang datar, namun suaranya itu membuat yang lainnya semakin tak berani untuk berbicara lagi.


"Adrine, kumohon! Dirumahlah untuk sebentar saja. Sebulan kita dirumah, hanya menghabiskan waktu untuk berkultivasi saja, dan kau langsung pergi entah kemana."


Mendengar hal tersebut dari Etern, Adrine sendiri juga menjadi tidak lagi mengucapkan kata-kata. Ia ingin mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari Etern..


"Dulu kau pergi selama lebih dari 2 tahun, dan sekarang kau malah tak ingin menemui kami? Kumohon Adrine, dirumahlah untuk bersama kami. Kami berjanji akan ikut denganmu, tapi kumohon, bersamalah kami untuk sebentar saja. Kita sebagai sahabat belum pernah menghabiskan waktu bersama seperti ini."


Adrine menjadi tertunduk ketika mendengar kalimat tersebut dari Etern. Ia sendiri menjadi paham kenapa mereka tak berani berbicara. Itu karena mereka tak ingin mengganggu latihan Adrine.


"Aku tahu, kau tak punya waktu. Tapi setidaknya, sehari ini saja, tolong bersama kami. Berlatih pun tak apa, asalkan kegiatan yang nyata."


Etern malah yang memohon kepada Adrine yang sebelumnya ingin mengajaknya dan yang lain ke Menara Aliran Bayangan Bertingkat.


"Kumohon!"


Etern terus memohon kepada Adrine untuk tidak pergi dulu. Adrine pun tersenyum tipis dan mengangkat kepalanya kembali.


"Baiklah. Aku akan ikut bersama kalian."


Adrine pun memilih kebersamaan bersama dengan para sahabatnya. Ia juga ingin menikmati indahnya persahabatan.


Bersambung!!