
Sesudahnya Adrine menyerap sebagian besar manfaat Sacred Liquid Fire, ia mengambil sisanya ke dalam botol kaca, dia mendapatkan lebih dari 20 botol yang sekiranya setiap botol itu dapat menampung satu liter Sacred Liquid Fire. Merasa ada yang datang, Adrine segera mengamankan seluruh botolnya dan menyisakan sedikit cairan biru yang panas itu, kemudian dirinya bersembunyi di sebalik stalakmit.
Tiba-tiba Adrine teringat akan Liona.
'Benar saja, di mana Liona?' Pikir Adrine.
GROOOOOK!!
Terdengar dengkuran orang yang tidur di bawah kaki Adrine, dan ketika ia melihatnya, ternyata adalah Liona yang ketiduran menunggu Adrine yang ternyata sudah lebih dari setengah jam dirinya menyerap Sacred Liquid Fire. Liona sendiri juga tampaknya telah berhasil mengumpulkan lebih dari tiga botol kaca yang berisikan satu liter Cairan Embun Emas.
'Kerja bagus,' gumam Adrine dalam hati.
Kemudian pada saat orang yang datang itu sudah sangat dekat, Adrine menyiapkan sebuah pedang yang ia tancapkan di pinggir kolam. Pedang yang ditancapkannya itu adalah Pedang Semesta Laut Dalam, pedang tersebut adalah jebakan besar bagi yang mengambilnya.
Seperti dugaan Adrine, orang yang datang itu tertarik akan pedang yang menancap di pinggiran kolam itu dan berusaha mengambilnya. Namun sayangnya itu adalah jebakan yang disiapkan oleh Adrine dan orang yang mengambilnya itu seketika berubah menjadi Kristal Ungu Laut Dalam.
"Kena kau!" Ujar Adrine.
Bersamaan dengan itu, Liona bangun dan memandangi Adrine.
"Ah, kau sudah selesai dengan Sacred Liquid Fire-nya?" Tanya Liona.
Adrine mengangguk.
Lalu mereka keluar dari sana dan mengambil sisa Sacred Liquid Fire yang ada, Adrine meminjam beberapa botol kaca milik Liona dan hampir lebih dari separuh kolam telah terkuras oleh Adrine.
Selepas menyimpan tubuh orang asing yang mengkristal, Adrine dan Liona pun bergegas pergi dari sana dan segera mencari harta lain yang sekiranya masih utuh.
Di dalam perjalanan, Adrine dan Liona sempat berbincang tentang dimensi awal, Adrine merasa tak beruntung karena tidak menemukan apa-apa selain Ruby Bintang yang ditemukannya di Kastil Iblis.
"Aku menemukan satu lagi belati, dan kebetulan belati yang kutemukan adalah artefak tingkat Puncak," ujar Liona.
"Jadi semua belati yang kau keluarkan untuk mengancamku tadi itu artefak tingkat Puncak semua?" Tanya Adrine.
"Ada satu yang di tingkat Tinggi, ada dua yang di tingkat Semesta, aku hanya memaksimalkan kemampuan yang kumiliki saja," ujar Liona lagi.
Sebenarnya Adrine cukup terkesan dengan perjuangan yang dilakukan oleh Liona hingga mengembangkan potensi dan kemampuannya tanpa bantuan siapapun, Adrine merasa bahwa dirinya itu terlalu banyak menerima bantuan dari Shin kecil dan tak akan membuatnya berubah jika terus menerus bergantung pada orang tua tersebut.
***
Adrine dan Liona kini menemukan cahaya lagi, mereka mendapati banyaknya benda berkilauan di sana dan mereka berdua mengambil semua yang bisa mereka ambil.
Harta yang ditemukan di sana juga lumayan banyak dan bagus, namun Adrine membiarkan Liona mengambil lebih banyak darinya karena harta yang ada di sana bukanlah targetnya. Maka dari itu Adrine hanya mengambil sebagian kecilnya saja.
***
Tak kurang dari sepuluh menit, Adrine dan Liona pergi dari tempat berkilauan tadi karena semua harta karun yang ada di sana telah ludes.
Tak lama kemudian, mereka pun akhirnya sampai pada tujuan. Terdapat sebuah pintu besar yang terbuat dari batu yang diukir, terdapat gambar-gambar aneh yang ada di pintu tersebut. Terdapat pula sembilan piringan batu besar yang terlihat seperti dudukan yang sama seperti yang ada di dalam Menara Bayangan Bertingkat.
'Apa masuk ke dimensi berikutnya memiliki batasan?' Pikir Adrine.
Jidat Adrine terlipat, ia juga tahu pasti bahwa untuk masuk ke dimensi berikutnya pasti bukan hanya sekedar terbatas jumlah, akan tetapi pastinya memiliki syarat yang lain agar bisa menempati kesembilan kuota yang tersedia.
"Ah, aku ingat kalau ada yang pernah bilang dimensi terakhir hanya bisa dimasuki oleh beberapa orang saja, yah, mungkin ini yang dimaksud," ujar Liona.
'Hah? Dia ternyata tahu juga tentang ini, dan yang pasti bukan hanya jumlah saja yang ditetapkan,' pikir Adrine.
Mereka berdua mendekat, Adrine berusaha menggapai udara yang ada di atas piringan batu.
CRZZZZTT!!
Muncul petir kuning yang menyengat tangan Adrine, ia menyadari sesuatu pada sistem mekanis yang ada pada piringan batunya dan pintu yang ada di dinding.
'Penetapan tanda petir, ya ... Akan tertanam debu petir yang menyelimuti tubuh, pasti untuk masuk ke dalam dibutuhkan tanda petir, mereka yang tak kuat membutuhkan penangkalnya agar tanda petir tetap tertanam tanpa harus tersiksa oleh prosesnya,' pikir Adrine.
Setelah itu, Adrine mundur dan melihat-lihat sekelilingnya, ia tak mendapati seorang pun di sana dan ia yakin bahwa orang-orang yang lain pasti juga menyadari penetapan tanda petir yang ada di depan gerbang.
Liona menyadari bahwa dia dan Adrine telah melewatkan penangkal petirnya, dia sadar setelah melihat Adrine tersengat oleh petir yang ada di udara yang di alirkan oleh piringan batu.
"Liona, apa kau berani langsung masuk tanpa penangkal petirnya?" Tanya Adrine.
Tak disangka Adrine mengetahuinya dan membuat wanita di hadapannya itu terkejut. Liona tampak ragu akan kemampuannya, namun ia mencoba menggapai udara sama seperti yang dilakukan oleh Adrine sebelumnya.
CRZZZZTT!!
Sama seperti halnya Adrine tadi, petir mengaliri tangan Liona, dia dengan cepat menarik tangannya agar petirnya tak semakin menguat.
"Sepertinya iya, tapi aku tak yakin itu di mana ... Oh ya, tolong jaga aku sementara kau juga jangan melihatku, kumohon," pinta Adrine.
Liona menyanggupi permintaan Adrine dan segera membalikkan badan, ia berjalan agak jauh dengan mata yang menatap dengan penuh antusiasme. Adrine sendiri berusaha masuk dan melakukan penetapan tanda petir pada dirinya tanpa menggunakan penangkal petir, sebenarnya Liona menyadari akan apa yang direncanakan oleh Adrine dan ia cukup khawatir dengan lelaki tersebut.
'Kucoba saja meredam efek buruknya dengan Tremendous Absorption,' pikir Adrine.
Kemudian Adrine mulai melangkahkan kakinya dan memasuki wilayah penetapan petirnya.
CRZZZZTT!!
"Ukkh ... " lirih Adrine.
Liona yang mendengar lirihan Adrine barusan menjadi lebih khawatir, tak disangka jika penetapan tanda petir akan sangat menyakitkan.
Perlahan Adrine mulai masuk dan setengah badannya sudah mulai diselimuti oleh debu petir, padahal yang berdiri di atas piringan batu masih setengah badan.
'Tidak ... Sakit seperti ini akan kucoba untuk menahannya sendiri tanpa kemampuan khusus,' pikir Adrine.
Masih tetap pada pendiriannya, Adrine terus mencoba masuk tanpa harus mengurangi efek kesakitannya menggunakan Tremendous Absorption. Semua kesakitan ia terjang demi bisa melatih tubuhnya, semua petir yang mengalir pada tubuhnya itu ia terima dengan penuh perjuangan.
***
5 menit kemudian, Adrine berhasil menyelesaikan penetapan tanda petirnya. Pintu gerbang yang berada di tembok telah terbuka dan piringan batu yang sebelumnya berwarna abu-abu biasa telah berubah menjadi berwarna putih, menandakan bahwa piringan batunya tak bisa lagi melakukan penetapan tanda petir.
Tepat sebelum Adrine masuk ke dalam, Liona telah menjaganya dengan sepenuhnya hati dan melihatnya berhasil melakukan penetapan tanda petir, Liona membiarkan orang lain lewat untuk melakukan penetapan tanda petir juga. Ketika Adrine hendak masuk, ia tersenyum melihat Liona yang benar-benar melakukan perintahnya.
Adrine pun masuk ke dalam dimensi berikutnya, pintunya langsung tertutup setelah masuknya Adrine.
Tak lama kemudian, muncul Violet, Viona, dan Shiny, Liona tahu kalau ketiga orang itu adalah teman Adrine.
"Di mana Adrine? Apa dia sudah masuk duluan?" Tanya Shiny.
Liona mengangguk.
"Kita harus masuk juga, lihat, batu penandanya hanya tersia 6 lagi," ujar Viona.
Shiny menyadari dengan temuan kembaran yang bersamanya, ranting perak sekeras baja yang tadi ditemukan adalah penangkal petir yang dicari-cari.
"Kita hanya menemukan satu penangkal petir saja, siapa yang akan masuk di antara kita?" Tanya Shiny.
Violet dan Viona saling menatap, mereka tersenyum satu sama lain yang kemudian kembali melihat ke arah Shiny. Hal ini membuat lelaki bermata sipit itu bingung.
"Kami berdua yang akan masuk," ujar Violet dan Viona bersamaan.
"Haha, mustahil, tapi kalian itu suka ... Suka sekali dengan kemustahilan," ujar Shiny sambil menepuk pundaknya dan mendongak ke atas dengan mata tertutup.
***
Sebelumnya, Adrine telah memasuki dimensi terakhir yang ada di dalam Monumen Iblis 6 Tahun lebih dari 5 menit sebelum kedatangan Shiny , Violet dan Viona di depan gerbang. Karena ialah yang pertama, maka dirinya punya kesempatan untuk memeriksa apa yang ada di dalam sana, namun ia hanya menemukan anak tangga yang di mana setelah menaikinya ke atas akan membawanya ke sebuah pintu lagi. Adrine telah menaiki anak tangganya dan sampai ke atas, di setiap beberapa anak tangganya terdapat tulang yang menjulang dengan di atasnya terdapat api biru layaknya obor.
Mendapati pintu yang begitu besar dengan adanya patung tengkorak yang di dalam mulutnya terdapat api yang berkobar tepat di pintunya.
DEG!!
'Ugh ... Perasaan ini ... ' Pikir Adrine dengan tangannya yang menyentuh dadanya yang sesak.
Adrine merasakan niat pembunuh yang sangat kuat dari balik pintunya, darah tercium kuat dari sana.
'Jika niat pembunuhnya sekuat ini, pasti kekuatannya sangat besar ... Aku yakin, pasti hewan spirit di tingkat Jelmaan Iblis,' pikir Adrine.
Karena merasa penasaran dengan apa yang ada di balik pintu, Adrine segera menyentuh pintu dan mendorongnya.
KRIEEET!!
Pintu sedikit terbuka, cahaya merah terpancar dari dalam.
Ketika sudah bisa melihat apa yang ada di dalam, Adrine terbelalak lebar, tatapannya terlihat ngeri melihat sebuah jalur yang panjang di balik pintu dan berjejeran hewan spirit yang tampak seperti penjaga. Bukan karena itu Adrine terkejut, layaknya istana, jauh dari pandangan terlihat singgasana dengan makhluk berwujud humanoid yang duduk di atas sana.
'Dia ... Killer Skeleton Demon, dan ... Tingkat Jelmaan Iblis peringkat 1 ... Tidak! Pasti lebih kuat lagi ... Fase penyempurnaan,' pikir Adrine.
Segera Adrine berbalik dan merasa kalau sudah ada orang lain yang masuk.
'Sudah saatnya aku bertindak licik!' Gumam Adrine.
Bersambung!!