
Adrine yang hendak membuang plastik hitam berisikan sampah itu terhenti sejenak. Ia mendengar keramaian di balik pintunya. Karena Adrine penasaran, ia membuka pintu kamar dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
'Ramai banget,' batinnya ketika melihat seisi lorong pada lantai tiga itu dikerumuni oleh banyak orang.
Adrine agak terkejut melihatnya. Di depan kamarnya begitu ramai orang-orang namun matanya yang jeli itu tak melihat sosok wanita yang sekamar dengannya tadi. Ketika Adrine hendak turun pun, tak sekalipun ia melihat wanita tersebut. Akan tetapi telinganya mendengar obrolan orang lain. Mereka semua tengah membicarakan tentang apa itu 'Pilar.'
Pilar adalah perwakilan di setiap divisi. Pilar sendiri memiliki tiga tingkat yang mewakili tingkat kultivasinya, pilar tingkat Keabadian, pilar tingkat Kesempurnaan, dan pilar tingkat Permata. Dan yang menjadi pilar adalah orang yang paling kuat di tingkatnya.
Adrine juga sempat mendengar sesuatu tentang siapa yang menjadi pilar tingkat Keabadian. 'Katanya yang menjadi pilar di tingkat Keabadian sekarang adalah seorang wanita, hmm ... Aku penasaran siapa wanita itu?' tanyanya dalam hati.
Lalu membuang sampahnya di genangan lava yang masih panas, ia hendak langsung kembali ke kamarnya. Tetapi langkahnya terhenti ketika melihat orang-orang berkumpul di belakang asrama. Di sana lebih ramai ketimbang yang ada di depan pintu kamarnya.
Setelah itu, Adrine bergegas ke belakang asrama untuk memeriksa apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Sesampainya di belakang asrama, Adrine melihat adanya dua orang yang sedang bertarung. Mereka yang bertarung berada di sebuah lapangan yang berbentuk persegi dengan di setiap sisinya terdapat pembatas yang berupa sihir cahaya. Rupanya ketika Adrine bertanya kepada orang lain alasan kenapa mereka bertarung adalah karena mereka sedang memperebutkan gelar seorang pilar. Dan juga katanya seorang pilar adalah tempat yang paling dekat dengan ketua divisi, serta mereka akan diizinkan masuk ke puncak gunung Frey untuk memilih senjata sebagai pencapaiannya menjadi seorang pilar.
Karena Adrine tahu bahwa sifat orang-orang yang ada di sana kebanyakan sangat tempramental, jadi ia tak banyak tanya.
Kebetulan juga di sana Adrine melihat seorang wanita yang mana itu adalah orang yang sebelumnya keluar dari kamar. Pada saat itu Adrine hendak mendekatinya, namun ia mengurungkan niatnya agar tak dikira sedang menggoda seorang wanita. Apalagi Adrine masih belum tahu sifat sesungguhnya dari wanita itu.
Tapi karena penasaran Adrine tetap mendekati wanita itu.
Setelah Adrine mendekatinya, wanita itu menoleh dengan ekspresi yang datar. Dilihat-lihat wanita itu memang sudah tahu bahwa Adrine mendekatinya.
"Apa kau nyaman dengan kamarnya?" tanya wanita tersebut.
Adrine menduga bahwa mungkin wanita itu memang sengaja memberantakan kamarnya sendiri. Sehingga jika ada orang yang sekamar dengannya akan merasa jijik dan tidak nyaman. Dan itulah tujuannya, agar tak ada yang sekamar dengannya.
Kemudian dengan sedikit senyuman, Adrine menjawab, "Aku telah membereskan kamarnya, jadi kau tak perlu khawatir jika aku tak nyaman tinggal di sana."
Wanita itu kemudian memalingkan wajahnya dan tak memperdulikan jawaban Adrine. Ia memang tak peduli jawaban apa yang akan ia dengar.
Adrine cukup kesal dengan sikapnya itu, ia memegang bahu wanita itu. "Hei, siapa namamu?" tanyanya dengan nada yang hangat.
Wanita itu sama sekali tak menoleh. "Singkirkan tanganmu, atau kubunuh kau!" suruhnya.
Selepas itu Adrine menyingkirkan tangannya dari bahu wanita tersebut. Ia hanya diam setelah percakapan singkat yang tak jelas itu dan memperhatikan pertarungan yang ada di depannya.
"Hei, apa kau tahu? Sebenarnya mereka itu bukan sedang memperebutkan gelar seorang pilar, lho ... " Wanita itu tiba-tiba mengajak Adrine berbicara. Ia seolah sedang berbicara dengan temannya saja.
Adrine agak bingung dengan sikap wanita itu. "Bagaimana kau bisa tahu? Memang mereka bertarung untuk apa?" tanyanya.
"Dendam kesumat."
Adrine tak terkejut sama sekali dengan jawaban yang diberikan oleh wanita di depannya itu. Ia hanya sedikit penasaran kenapa dia bisa tahu bahwa itu bukan pertarungan memperebutkan posisi seorang pilar.
'Hmm ... Aku sempat mendengar kalau pilar tingkat Keabadian adalah seorang wanita, apa jangan-jangan dia ... ' Adrine mencurigai wanita itu. Tatapannya seolah tak tertarik dengan apapun apalagi dengan pertarungan di depan matanya. Orang lain bersorak-sorai meramaikan suasana, sementara dia hanya menonton dengan wajah bosan dan menguap berkali-kali seolah sudah bosan dengan tontonan seperti itu.
Beberapa menit kemudian, pertarungannya selesai. Salah seorang yang ada di dalam arena bertarungnya tak sadarkan. Yang satunya lagi bersorak atas kemenangannya dengan penuh rasa puas.
Lalu wanita yang berdiri di depan Adrine berjalan ke depan. Tepat setelah itu, ketua Fheafel datang di atas arena. Orang-orang di sana mengatakan bahwa sekarang adalah waktunya.
Dengan wajah yang terus tersenyum, ketua Fheafel mengeluarkan kalimatnya, "Seperti biasanya ... Di setiap penerimaan anggota baru kita pasti akan melakukan ... Perebutan posisi seorang pilar ... Kuakui keantusiasan kalian yang terus mengikuti tradisi ini ... Dimulai dari pilar tingkat Keabadian ... Reina Revani." Tetap seperti biasanya, nada yang dikeluarkannya selalu aneh.
Seseorang maju di tengah arena, rupanya wanita yang sekamar dengan Adrine itu adalah pilar tingkat Keabadian dari divisi keempat.
"Sudah kuduga," gumam Adrine.
Setelah itu, ketua Fheafel mengatakan peraturannya yang mana anggota lain boleh menantang Reina yang seorang pilar pada periode ini. Mereka yang bisa mengalahkannya akan menggantikan posisinya dan mereka yang masih merasa tak puas boleh menantang lagi sang pilar baru.
Jika tak ada yang berhasil mengalahkan Reina di atas arena maka posisinya akan dipertahankan hingga periode berikutnya pada saat penerimaan anggota baru. Begitupun dengan orang yang berhasil mengalahkannya, jika dia berhasil bertahan di atas arena maka dia lah yang akan menjadi pilar baru dari tingkat Keabadian dan mendapatkan hak keuntungannya.
Dan lagi, orang-orang hanya memiliki satu kesempatan untuk menantang. Jika mereka gagal memenangkan pertarungannya, maka dia harus bertahan sampai orang terakhir yang menantangnya.
Tepat setelah disebutkan peraturannya, orang-orang langsung berebutan untuk menantang Reina.
Dikarenakan wanita itu memang seorang pemalas, ia memilih lawannya dengan asal-asalan. Ia menuding seseorang secara acak sembari menguap tak peduli dengan sekitarnya. Orang yang ditunjuk sangat senang sekali ketika langsung mendapatkan kesempatan untuk melawan Reina.
Wanita itu menggunakan trik dengan menyimpan pisau di dalam lubang lengan baju dan pria yang ditunjuk olehnya kalah dalam beberapa gerakan saja.
Tetapi secara tak disangka, Adrine ditunjuk olehnya dengan senyuman sinis.
Karena telah ditunjuk, Adrine pun dapat masuk ke dalam arena. Banyak orang yang mengenalnya karena telah menjadi salah satu pusat perhatian ketika di penerimaan anggota baru.
"Kenapa kau menunjukku sementara banyak orang yang ingin bertarung denganmu?" tanyanya.
Reina hanya mendehem, lantas ia berkata, "Bagaimana kalau kita bertaruh? Kalau kau menang, kau bisa tetap tinggal di bersamaku, kalau kau kalah, enyahlah dari kamarku!"
Karena ia tak ingin pergi dari kamar itu, dengan segenap kekuatannya Adrine akan melawan Reina.
"Baiklah, aku terima pertaruhannya," jawab Adrine.
Reina tersenyum lebar ketika mendengar jawaban barusan. Tetapi ia sangatlah bersiap diri karena melihat langsung pertarungan yang dilakukan oleh Adrine.
'Pria muda ini bisa membuat musuh kalah hanya dalam satu gerakan, aku harus berhati-hati,' batinnya.
"Hah?!"
Adrine terkejut, Reina terlihat mengerahkan segalanya dalam pertarungan ini. Dia menggunakan zirahnya, bentuknya terbilang cukup unik. Ya, memang bentuk zirah itu tergantung dari pemikiran dari masing-masing pemiliknya.
Terlihat ada bagian yang berada tepat di belakang lengannya yang berbentuk runcing ke atas, bahkan tingginya melebihi kepalanya. Pada lengannya terdapat banyak jarum yang ukurannya lebih kecil, lebih panjang, dan lebih runcing ketimbang yang digunakannya sebelumnya. Tepatnya berada di bawah pergelangan tangannya dan berjumlah belasan. Zirahnya hanya memanjang sampai lututnya saja dan bentuknya meruncing di bagian depan dan belakang. Di bagian telapak kakinya terdapat pula sepatu besi yang di bagian ujung depan dan belakangnya meruncing.
Reina benar-benar serius dalam melawan Adrine pada pertandingan ini.
'Wanita ini ... Benar-benar tak ingin melepaskan posisinya, hehe,' batin Adrine.
ZRAAASH!!
Reina yang pertama kali bergerak, dengan sangat cepat ia mengitari Adrine dengan gerakan yang sangat cepat. Sebagian besar penonton setingkat tak bisa melihat gerakannya, tetapi Adrine dapat melihatnya dengan sangat jelas.
Sembari melaju kencang, Reina melemparkan jarum jarumnya ke arah Adrine. Serangan juga hampir tak terlihat karena ukurannya yang begitu kecil.
Adrine dapat menangkisnya dengan mudah, tapi seiring dengan kecepatan Reina yang terus meningkat, kecepatan serangnya menjadi lebih cepat pula. Jumlah yang dilempar tiap detiknya juga lebih banyak. Hal tersebut membuat Adrine sedikit tertekan, mau tak mau ia harus melakukan sesuatu agar tidak terus menerus berada di dalam keadaan tersebut.
Adrine pun mengeluarkan ketujuh Pedang Semesta Laut Dalam. Pedang pedang itu melindunginya sementara dirinya akan membaca gerakan lawan.
'Nah, ini dia!'
SWOOOSH!!
Salah satu pedang Adrine melesat dengan sangat cepat ke depan. Reina yang mengetahui hal tersebut seketika menghentikan gerakannya. Karena begitu tiba-tiba dan sangat cepat, ia terjatuh. Tubuhnya menggelinding dan dengan segera Reina berdiri kembali dengan posisi kuda-kudanya.
'Aish, memang benar sangat sulit untuk mengalahkannya,' batinnya.
Reina berekspresi datar dan terus menatap dingin ke arah Adrine dengan penuh kewaspadaan. Ia tahu bahwa setiap langkah yang dilakukan oleh pria muda di depannya itu sangatlah membahayakannya.
Sementara itu, tatapan Adrine membidik ke arah lengan kanan Reina. Mata hitamnya memancarkan sinar hitam seperti dulu ketika ia berada di Monumen Iblis 6 Tahun.
'Tangan kanannya ... Sepertinya dia keracunan, beberapa nadi di pergelangan tangannya seperti akan membusuk,' batinnya.
Adrine juga menduga bahwa mata kirinya dapat melihat racun, tekanan darah, dan beberapa penyakit. Selain itu, menurutnya kondisi tangan Reina bisa lebih parah jika terus menerus bertarung hingga seserius ini. 'Ya, dalam kurang dari sepuluh bulan setelah pertarungan seintens ini, dia akan kehilangan lengan kanannya itu. Apalagi racun itu dapat menyebar ke seluruh tubuhnya,' batinnya lagi.
Karena Adrine merasa bahwa pertandingan pada saat ini dapat membahayakan Reina pada masa mendatang. Adrine berpikir bahwa ia harus segera mengakhiri pertarungannya ini.
Kemudian Adrine menggabungkan tubuhnya dengan jiwa Bolt Demon. Di antara kesemua pasukan bayangannya iblis kilatnya lah yang paling dapat bergerak paling cepat di antara lainnya.
ZRAAASH!!
'APA?!'
Gerakan yang dilakukan oleh Adrine membuat Reina terkejut. Begitu cepatnya hingga tak ada satupun mata penonton setingkat yang dapat mengimbangi pergerakannya. Sehingga Reina tak punya kesempatan untuk melarikan diri.
Wanita itu pun mengaktifkan mata jiwanya dan mengeluarkan artifaknya. Senjata yang ia pegang adalah sebuah sabit setinggi wanita dewasa, sebuah artifak tingkat Sejati peringkat empat.
"AAARGHH!!"
Tak sempat melakukan pertahanan apapun Reina segera dihentikan oleh Adrine dengan cakar yang di selimuti oleh petir biru. Tangannya gemetaran dikarenakan petir barusan, sehingga sabit yang ia pegang terjatuh. Membuatnya jatuh terduduk tak bisa melakukan apapun, terdiam tak berkutik.
Kekalahan terlihat jelas dari bagaimana Adrine menudingkan kedua jarinya untuk mendiamkan Reina hingga tak mampu lagi untuk berdiri.
Dengan segera pria yang memenangkan pertandingan itu berubah kembali ke wujud aslinya dan menjulurkan tangannya. Reina menerima bantuannya dan berdiri dengan sigap kembali. Dirinya menerima kekalahan secara adil dan bersedia memberikan gelarnya sebagai seorang pilar.
Lantas Adrine mendekatkan bibirnya ke telinga Reina, wanita itu tersipu serta terkejut pada saat yang itu juga, ia segera menjauhkan wajahnya dari Adrine, hanya menjauhkan sedikit. Para penontonnya juga tak terima harus menerima
Karena tak ingin salah paham atas tindakannya, Adrine segera berbisik, "Tanganmu itu terkena racun, benar bukan?"
Tatapan Reina segera terlempar pada pria di sampingnya itu seraya menyembunyikan tangan kanannya. Ia terkejut setengah mati mendengarnya. "Kau bagaimana bisa tahu?" tanyanya berbisik pula.
Adrine hanya tersenyum, "Rupanya aku tak salah menebak, haha," ucapnya sembari tertawa kecil.
Bersambung!!