
Kembalinya Adrine dari tempat pilar cahaya, senior Yota langsung menyambutnya, Adrine sama sekali tidak terluka dan seniornya itu memberikan apresiasi berupa tepuk tangan. Namun karena tangan kirinya yang mengkristal, ia agak kesakitan pada saat memberi tepuk tangan.
"Senior Yota, apa aku bisa melihat keadaan tanganmu itu?"
Senior Yota melihat yang kirinya.
"Ah, ini? Tenang saja, tidak apa-apa, nanti saja aku akan periksakan di rumah sakit selepas kita pulang."
Senior Yota menyembunyikan tangannya di belakang dan tidak memperbolehkan Adrine melihatnya lebih lama lagi.
"Tidak-tidak, coba aku lihat senior, jangan berusaha menyembunyikannya."
Kemudian senior Yota pasrah dan memperlihatkan tangannya yang mengkristal itu.
"Senior Yota, apakah terjadi sesuatu padaku tadi saat aku sedang pingsan?"
"Iya, tadi kau seperti kerasukan sesuatu dan matamu itu bercahaya, dahimu juga terbuka dan mengeluarkan cahaya juga."
Adrine merasa tidak perlu menyembunyikannya lagi dari senior Yota yang telah melihatnya.
"Senior, mata jiwaku ini sebenarnya telah berpindah posisi di dahi, dan kau tahu, ketujuh pedang itu memang benar-benar disiapkan untukku, kau tenang saja."
Senior Yota terdiam sejenak mendengar penjelasan dari Adrine dan memalingkan pandangannya ke arah suar. Kemudian ia melihat kembali wajah Adrine yang tertuju pada dahinya.
"7 pedang tingkat Sejati ... Tidak tidak, tingkat Suci, kau memang beruntung."
'Haaah, untung senior Yota tidak tahu kalau artifak ini di tingkat Murni sampai peringkat 7.' Pikir Adrine.
Kemudian Adrine mengangkat tangan senior Yota dan menyentuhkannya pada dahinya.
"A ... Apa yang kau lakukan?"
"Tolong tutup matamu senior, aku akan mencoba melihat apa yang terjadi dengan mata jiwaku."
Senior Yota patuh akan perkataan Adrine dan mulai menutup matanya, mata jiwa Adrine telah teraktifkan. Dan ternyata Adrine bisa menyelami organ dalam yang ada di tangan senior Yota, jiwanya itu benar-benar masuk ke dalam tulang-tulang senior Yota.
'Alirannya terhambat, tapi masih bisa disembuhkan, justru bisa menjadi keuntungan bagi senior Yota.' Pikir Adrine.
Kemudian Adrine mulai memperbaiki dari aliran darah yang paling sedikit terkena racunnya, Adrine berusaha mendorong racunnya hingga ke ujung jari senior Yota agar jauh lebih mudah dan tidak terlalu menyebar.
Beberapa menit kemudian, Adrine berhasil mengumpulkan semua racunnya dan terkumpul di jari-jari senior Yota.
'Sekarang tinggal dimanipulasi menjadi kekuatan fisik.' Pikir Adrine.
Karena sebelumnya racunnya berada di dalam aliran darah, jadi kulit dan tulang akan berubah menjadi kristal. Akan tetapi jika racunnya dimasukkan ke dalam tulang dengan cara yang benar, maka racun tersebut akan menjadikan tangan mereka sekeras Kristal Ungu Laut Dalam tanpa ada resiko dan efek sampingnya.
Membutuhkan lebih dari setengah jam untuk Adrine benar-benar menyelesaikannya hingga sempurna, kini tangan kiri senior Yota telah disembuhkan dari racun Kristal Laut Dalam dan juga diperkuat.
"Sekarang buka matamu senior Yota."
Ketika senior Yota membuka matanya, ia sudah melihat tangannya normal, namun terdapat garis-garis ungu di jarinya.
"Tanganku ... Benar-benar sembuh?"
"Maaf senior, aku tidak bisa menghilangkannya semua jejaknya."
Namun senior Yota menatap Adrine dengan tatapan yang tulus.
"Terima kasih, Adrine, tidak apa-apa jika tanganku masih seperti ini, lebih baik sembuhn daripada tidak sama sekali."
Adrine mengangguk dan senior Yota benar-benar senang akan kesembuhan tangannya.
Setelah itu, senior Yota dan Adrine mulai meninggalkan tempat itu dan sampai ke pintu portalnya dalam setengah jam. Di setelah keluar, Adrine melihat senior besar Lhila menunggunya di luar, senior Yota memberi hormat kepada senior besar Lhila karena status senior Lhila lebih besar dari senior Yota.
Senior Yota meninggalkan senior besar Lhila dengan Adrine karena ia mengerti jika senior besar Lhila ingin menemui Adrine. Para murid pun segera berenang menuju ke pantai karena jalanan es yang disiapkan Adrine sebelumnya telah mencair. Mereka pun hanya menyisakan Adrine bersama dengan senior besar Lhila.
"Apa kau masih ingat dengan janjimu?"
Adrine mengangguk.
"Aku sudah mencapai tahap Keberlanjutan level-3 beberapa bulan yang lalu, jadi aku benar-benar teringat dengan janjiku kepadamu, senior."
Senior besar Lhila senang melihat Adrine yang telah menepati janjinya, namun pandangannya terlempar ke arah 7 pedang yang melayang di belakang kepada Adrine
"Pedang apa itu? Apa itu artifak yang kau temukan di dalam sana?"
Lagi-lagi Adrine mengangguk.
"Iya, artifak artifak ini sangat berharga, setidaknya di tingkat Suci."
"Apa? Tingkat Suci?"
Senior besar Lhila nampak sangat terkejut dan langsung memegang pundak Adrine.
"Apa kau tidak bisa menyembunyikannya di dalam cincin penyimpanan? ... Oh iya, cincin penyimpanan juga punya batasan untuk menyimpan benda dengan batas kekuatan tertentu."
"Nah ... Sekarang senior Lhila tahu kan? Aku sendiri juga tak tahu cara menyembunyikannya."
"•Bodoh, gunakan Tremendous Absorption untuk menggunakan mode samaran, seketika ketujuh pedang Semesta Laut Dalam akan menghilang. Sudah ya ... Dadah ... •"
Suara orang misterius itu pun tiba-tiba muncul dan menghilang. Adrine segera mencoba apa yang dilakukan oleh suara misterius barusan.
"Senior ... Ah tidak, senior, aku minta bantuanmu untuk merahasiakan apa yang akan kulakukan ini."
"Coba lihat saja setelah ini."
Kemudian Adrine mengaktifkan mata jiwanya dan memperlihatkan sebuah alam semesta yang berada di dalam sebuah bola.mata kepada senior besar Lhila.
"Apa ... Apa-apaan itu?"
Senior besar Lhila sudah tak tahu lagi harus berkata apa, ia melihat indahnya dan hebatnya wujud mata jiwa milik Adrine yang berada di dahi. Namun Adrine sudah terlanjur fokus dengan apa yang ingin ia lakukan, jadi ia tak melihat wajah takjub dan terkejutnya senior besar Lhila.
Tiba-tiba saja pedang yang melayang di belakang kepala Adrine pun berselimutkan bayangan dan menghilang.
'Jadi begitu ... Berarti hanya perlu menekan pedangnya dengan energi bayangan di mataku dan membuatnya tak kasat mata di dalam dunia bayangan ... Haha, menarik juga.' Pikir Adrine.
Kemudian senior besar Lhila menatap Adrine dengan tatapan kesal dan merasa dibodohi oleh Adrine.
"Apa barusan kau berbohong?"
"A ... Aw ... "
Tiba-tiba saja telinga Adrine terangkat tinggi tanpa ada yang menyentuhnya.
"Tu ... Tunggu dulu ... Aku bisa jelaskan ... "
Lalu senior besar Lhila melepaskan Adrine.
Adrine pun menjelaskan apa yang terjadi, ia menceritakan kalau dirinya barusan mendapat sebuah bisikan yang di mana bisikan tersebut berasal dari dalam mata jiwanya dan memberitahukan cara membuat pedang pedang yang ada di belakang kepalanya jadi menghilang.
"Begitu ya? Baru tahu ada cara seperti itu."
"Aku sendiri juga tak tahu, senior, tiba-tiba saja suaranya muncul begitu saja."
Setelah itu, senior besar Lhila pun mengajak Adrine kembali. Adrine menggunakan salah satu pedangnya untuk terbang melintasi laut.
"Wow, jenius juga kau."
"Ah, ini teknik terbang menggunakan pedang, cukup memanipulasi energinya saja untuk membuatku bisa mengendalikan gerak pedangnya tanpa menyentuh, terus aku berdiri di atasnya dengan penuh kendali."
Senior besar Lhila mengangguk.
"Ya ya ya, aku juga tahu itu."
Mereka pun bersiap kembali ke perguruan Yin-Yang Fierry Zeronia dan ternyata senior besar Lhila telah mempersiapkan pesawat sendiri untuk kembali yang di mana pesawat tersebut adalah pesawat yang digunakan oleh mereka pada saat pertama kali dulu. Senior besar Lhila memang bertujuan untuk menjemput Adrine secara khusus.
"Oh iya, Adrine, master Heyto ingin menemuimu hari ini. Katanya ini menyangkut masalah perebutan posisi kandidat yang diadakan 2 bulan lagi."
"Begitu kah? Baik, berarti tujuan kita sekarang adalah ke tempat master Heyto."
Senior besar Lhila mengangguk.
Setelah itu, pesawat dengan begitu cepatnya menuju ke tempat di mana master Heyto berada. Menurut senior Lhila, master Heyto berada di ruangannya yang di mana itu berada di pusat kota. Tepatnya di sebuah apartemen besar yang bahkan dari gerbang perbatasan kota pun bisa terlihat dengan sangat jelas.
Beberapa saat kemudian, pesawat yang ditumpangi Adrine dan senior besar Lhila pun sampai. Di apartemen besar tersebut memang sudah dipersiapkan tempat untuk melakukan pendaratan di sebuah lantai yang sangat tinggi.
'Padahal jika dilihat dari jauh, kami mendarat bahkan belum sampai dari setengah ketinggian gedungnya, tapi ini setidaknya sudah lebih dari 100 lantai. Tinggi sekali.' Pikir Adrine.
Gedung yang sangat besar dan tinggi itu mencakup 350 lantai dan area yang sangat luas. Adrine cukup terkesan hanya dengan melihatnya dari kaca pesawat, sehingga dari atas sana seluruh bangunan kota pun terlihat.
"Apa kau tahu? 1 lantainya itu terdiri dari 200 kamar dan pintu masuk yang ada di sana itu untuk lantai 100 sampai 150, untuk biaya standarnya saja bagi kualitas bintang 1 sudah sangat mahal, setidaknya 10.000 koin plasma pertahunnya."
"Apa? 10.000? Mahal sekali, dan ... 1 lantai 200 kamar? Bukankah kelihatannya tidak sampai seluas itu sampai mencakup ratusan kamar?"
"Namanya juga apartemen mewah, yang membangunnya juga orang hebat yang berhasil menggabungkan teknologi dengan sihir perluasan ruang. Untuk master Heyto sendiri memilih kualitas VVIP atau bintang 5, biayanya sampai beratus-ratus ribu pertahunnya."
Adrine terdiam sejenak mendengar perkataan dari senior besar Lhila, ia seperti tak sanggup membayangkan sekaya apa pemilik apartemen besar itu.
"Sudahlah senior, aku sudah tak sanggup mendengarnya."
"Haha ... Sudah kuduga."
Ketika pesawatnya akan mendarat, muncul beberapa drone kecil yang memindai isi pesawat, bahkan ketika Adrine turun pun ia juga diperiksa. Bukan diperiksa apa yang telah dibawa oleh Adrine, melainkan data yang dimiliki olehnya yang akan diperiksa oleh drone drone tersebut.
"Jika kau buronan, kau akan ditangkap, hahaha ... "
Adrine hanya tersenyum karena menurutnya candaan senior besar Lhila sangatlah tidak lucu. Itu adalah menurutnya, namun bagi beberapa orang pasti akan mengerti isi humornya.
"Apa kita akan langsung masuk ke dalam tempat master Heyto tinggal?"
"Iya kalau kau tahu ID tempatnya, kau juga harus menunggu persetujuan dari penghuninya. Oh iya, drone yang tadi juga akan mengirimkan transmisi berupa data dari orang yang datang."
Lalu senior besar Lhila mengetikkan angka-angka pada sebuah layar seukuran telapak tangan di samping pintu masuknya.
Setelah selesai memasukkan ID-nya, terdapat simbol titik tiga yang menghilang dan kembali lagi secara terus menerus, itu tanda yang menunjukkan harus menunggu persetujuan atau bisa disebut juga dengan loading.
Tak berselang lama, muncul tulisan akses diterima dan muncul profil Adrine dan senior Lhila. Pintu masuk pun terbuka.
"Waaah ... Ini perumahan atau kebun bunga?"
Adrine begitu kagum dengan pemandangan yang sangat indah, ia melihat kebun yang begitu luas dan terdapat juga kincir angin raksasa dan beberapa bangunan kecil.
'Bangunan di dalam ruang yang ada di dalam bangunan? Apa maksudnya ini?' Pikir Adrine dengan perasaan yang penuh kebingungan.
Bersambung!!