
BLAAAM!!
Muncul ledakan yang begitu kuat dan juga terdapat ledakan aliran petir yang cukup kuat, hembusan angin yang sangat kuat seketika ledakan itu terjadi. Fluktuasi yang ada berhamburan tak jelas dan bergelombang kemana-mana. Ledakan itu juga bersinar cukup terang, seakan-akan itu adalah ledakan cahaya, namun membekukan lantai sekitar dan membuat suhu udara menjadi sejuk.
Kabut dingin tercipta diantar ledakan yang terjadi, dan semakin lama semakin menyebar pula kabutnya.
ZRAAAST!! ZRAAAST!! ZRAAAST!!
Terdapat 3 sosok yang keluar dengan gerakan yang cepat dari kabut dingin tersebut. Mereka bergerak menjauh dari kabut itu dan berhenti tak jauh dari sana. Ketiga sosok tersebut terlihat sangat antusias dan cukup waspada ketika memandangi gumpalan asap yang ada didepan mereka.
"Seharusnya dia sudah membeku karena pukulan es kuat dariku tadi."
Arpha terlihat sangat percaya diri dengan serangannya tadi. Namun belum diketahui apakah didalam kabut dingin yang ada didepan itu terdapat seonggok es yang besar atau tidak.
"Aku tak yakin, petir yang aku hantamkan itu bersifat destruktif. Bisa jadi kalau es yang kau buat itu hancur."
Etern merasa kalau es yang Arpha ciptakan itu bertahan ataukah tidak. Ia berasumsi kalau petirnya itu menghancurkan es milik Arpha.
"Tenang saja! Es milik Arpha telah aku perkuat dengan elemental cahaya milikku, jadi kemungkinan besar kalau petirmu itu akan menyatu dan memperkuat esnya juga. Kita akan tahu setelah kabut itu menghilang."
David yang tadi telah menggunakan kekuatan cahaya miliknya itu percaya kalau es yang dibentuk oleh Arpha tidak akan bentrok dengan petir hitam milik Etern.
Beberapa saat kemudian, kabut asap yang menyelimuti tempat dimana Adrine berdiri dihadapan mereka itu menghilang secara perlahan. Terlihat seonggok es besar yang bercahaya dan dilapisi oleh aliran petir hitam yang mengalir dimana-mana.
"Nah, apa kubilang? Es milik Arpha tidak hancur karena elemental cahaya milikku. Dan es itu juga sekarang menjadi sangat kuat dan keras."
Apa yang diucapkan oleh David itu memang benar. Es yang mereka lihat didepan juga memang terlihat sangat kuat.
Dan didalam bongkahan es besar itu terdapat tubuh seseorang yang terlihat membeku. Terlihat jelas tubuh Adrine didalam bongkahan es membeku dan masih berdiri tak bergerak.
'Adrine tak mungkin bisa menghancurkan es milikku, apalagi esnya sudah diperkuat oleh David, hehe.' Pikir Arpha.
Namun perkiraan Arpha kelihatannya salah. Dari beberapa jarak disekitar tempat Adrine membeku tanahnya mulai bergetar dan esnya juga mulai retak.
Semuanya terkejut merasakan tanah disekelilingnya bergetar. Tak ada yang tak merasa cemas sedikit pun.
"Ada apa ini? Kenapa tanahnya bergetar?"
Tak ada satupun juga yang tidak penasaran dan menanyakan darimana datangnya gempa tersebut. Arpha sendiri tiba-tiba menjadi heboh, namun yang yang lainnya hanya panik biasa yang sudah menduga apa yang terjadi.
Bongkahan esnya mulai retak dimana-mana dan sudah ada bagian yang terpental hingga hampir hancur dan meledak.
BLAAARR!!
Seperti apa yang dikira, es besar ciptaan Arpha telah hancur berkeping-keping dan terpental kemana-mana. Terdapat siluet seseorang yang berdiri tegak. Orang itu adalah Adrine yang berhasil menghancurkan es yang membuatnya beku didalamnya.
"Apa? Adrine bisa menghancurkannya dengan secepat ini?"
Arpha terlihat panik ketika melihat Adrine tidak terpengaruh akan serangannya tadi, namun Etern dan David sudah menduga hal tersebut karena memang mereka berdua sudah tahu persis seberapa kuat Adrine itu berdasarkan pada kultivasinya.
Adrine mengusap bagian bahu kirinya yang masih terdapat potongan es kecil. Ekspresi wajahnya terlihat datar dan memandang rendah kekuatan teman-temannya.
"Apa kekuatan kalian hanya sebatas membentuk es itu saja?"
Pertanyaan itu benar-benar menusuk ketiga temannya termasuk Arpha. Tapi memang Adrine sudah seharusnya sekarang ini mencapai tahap Keberlanjutan karena ia cuma harus menghancurkan Lapisan Segel Darah Suci saja, jika sudah maka ia akan mencapai pada tahapan tersebut. Dan kini Adrine hanya perlu menghancurkan lapisan dalam dari segel yang menyelimuti Titik Meridiannya.
Setelah mengatakan hal tersebut, Arpha yang tak sabaran langsung mengeluarkan mata jiwanya. Namun matanya itu adalah mata jiwa bawaan, sama seperti yang dimiliki oleh Adrine.
Mata jiwa milik Arpha itu berwarna putih kebiruan yang bersinar. Ada beberapa warna hitam seperti pola cincin yang tipis. Namun pupilnya berwarna putih kebiruan dan tidak berwarna ungu.
Mata jiwa Arpha juga memiliki artifak yang berupa palu yang gagangnya cukup panjang dan kepala palunya cukup kecil, tapi berupa es yang tengahnya berlubang dan memancarkan cahaya putih yang cukup terang. Artifak milik Arpha adalah artifak tingkat puncak, hampir serupa milik Adrine saat dulu pertama kalinya muncul.
"Palu? Bukankah kau itu adalah seorang kultivator tipe assassin? Kenapa artifak pada mata jiwamu itu adalah sebuah palu?"
Arpha tidak merasa terhina akan perkataan Adrine. Ia hanya tersenyum ketika mendengar hal tersebut.
"Perubahan peran kultivator itu bisa, asalkan perubahannya tidak terlalu jauh. Sekarang ini aku bisa dibilang tipe penyerang berat, dan palu ini bernama Palu Cahaya Beku!!"
Arpha dengan percaya dirinya mengatakan hal tersebut. Adrine hanya diam dan tak peduli apa namanya. Setelah Arpha mengaktifkan mata jiwanya, hal itu diikuti oleh David.
Mata jiwa milik David berwarna kuning. Mata miliknya juga berupa mata jiwa bawaan yang tidak menyerupai mata jiwa legendaris milik seorang leluhur. Dan artifak yang dimiliki oleh David berupa tongkat sihir yang mirip seperti milik seorang penyihir. Tongkatnya seperti berupa kristal ungu panjang dan kayu yang berwarna coklat keemasan saling melilit satu sama lain, dan diatasnya ada terdapat kristal putih yang tertanam pada tongkatnya dan kristalnya sebesar 2 kali genggaman tangan.
"Tongkatku ini bernama Tongkat Kristal Emas Terhormat, artifak tingkat puncak."
David mengenalkannya dengan senyuman yang ramah. Tetapi Tongkat Kristal Emas Terhormat memiliki aura yang cukup kuat dan Adrine merasa kalau artifak milik David itu adalah artifak yang terkuat dibandingkan dengan artifak yang setingkat.
"Oh ya Etern, bagaimana denganmu? Apa kau tak mau menunjukkan mata jiwamu dan artifak jiwa milikmu?"
Adrine terlihat penasaran dengan mata jiwa dan artifak yang dimiliki oleh Etern. Namun sepertinya Etern tak mau menunjukkan apa yang diminta oleh Adrine.
"Aku... Maaf, aku tak bisa."
Adrine memaklumi kalau Etern tak mau menunjukkan apa yang dimintanya. Namun yang lain tidak sama dengan Adrine, mereka terlihat seperti orang yang sangat penasaran.
"Oke... Baiklah, akan kutunjukkan apa yang kalian minta."
Setelah itu, Etern mengaktifkan mata jiwanya. Namun tidak satu mata seperti milik yang lain, kedua mata milik Etern berwarna merah gelap yang hampir berwarna hitam, lalu pupilnya berupa simbol petir yang berwarna hitam pekat dan hampir tak nampak. Tapi mata kiri dan mata kanan Etern terlihat berbeda, karena simbol petir pada mata kirinya itu terbalik.
"Mata ini kusebut dengan Mata Petir Neraka Ketiadaan, dan artifaknya..."
WUUUSH!!
Angin bertiup ketika Etern akan memunculkan artifaknya.
"Semua ini artifak jiwa dari mata jiwamu?"
Arpha dan David bertanya secara bersamaan, namun Adrine hanya menatap Etern dengan tatapan terkejut yang sama dengan lainnya, matanya terbelalak lebar, pupilnya mengecil.
"Ya, semua ini adalah artifak jiwa pada mata jiwa milikku. Armor, tombak, dan sarung tangan ini, semuanya adalah artifak dalam satu mata jiwa."
Semuanya tercengang ketika melihatnya dan tak ada yang berkutik sama sekali. Mereka hanya diam ditempat dan terus memandangi Etern.
Adrine pun membuka mulutnya, dan berucap sepatah kata...
"Mustahil."
Bersambung!!