
Cahaya dari magma yang berpijar menyinari langit-langit goa, menepis bayangan dari setiap murid yang sedang bertarung dan bertualang. Bayangan tercipta ketika cahaya terhalang oleh sesuatu, namun ada kalanya cahaya mampu menembusnya.
Didalam goa juga terdapat kelompok-kelompok yang saling menghancurkan dan menjaga, mereka juga ada yang sedang menyusun kelompoknya dan saling menjalin kerja sama dengan kelompok lain. Disana juga terdapat Adrine berserta kelompoknya, kini mereka tengah menghadapi masalah, namun bukan masalah besar.
Sebuah kelompok lain dengan anggota yang lebih banyak dari kelompok Adrine telah berjalan dan mereka mengarah pada tempat dimana kelompok Adrine sedang beristirahat, namun Adrine tidak menganggap semua itu menjadi masalah, ia menganggapnya sebagai berkah yang mendatanginya.
Salah satu anggota dari kelompok Adrine, yaitu Arpha, ia sedang bertarung dan mendapatkan luka yang cukup berat. Dirinya harus memulihkan kondisinya dalam waktu yang cukup lama, namun kelompok lain yang mengarah padanya telah semakin mendekat.
Adrine sendiri telah mengawasi dan meninjau semua detailnya yang akan dimasukkannya kedalam rencana, ia juga telah melakukan beberapa gerakan untuk segera melaksanakan rencananya dan semua itu berjalan dengan sangat lancar. Namun tak lama setelah itu, ia merasakan adanya aura kekuatan yang dimana jumlahnya cukup banyak, dan semua itu terjadi tepat setelah rencananya terlaksana, bahkan dalam waktu yang cukup singkat. Bukan hanya cukup singkat, apa yang dirasakan oleh Adrine telah terasa bahkan sebelum rencananya terselesaikan, kini mereka telah sampai pada tempat Adrine beserta teman-temannya.
"Mereka datang!!"
Perkataan Adrine pun membuat kegelapan yang ada didepannya membuka sebuah pintu yang dimana keluarlah 7 orang yang berjalan keluar dari kabut kegelapan mengarahnya. Mereka semua tampak asing dimata Adrine, tak ada satupun dari mereka yang dikenali oleh Adrine.
Mata Adrine menatap kelompok baru yang baru saja datang itu dengan tatapan yang tajam, namun Adrine hanya mengeluarkan ekspresi yang biasa seperti melihat air disungai mengalir. Hal itu disebabkan karena tak ada dari mereka yang telah menyentuh tahap Kematian level-2 kelas akhir.
"Hahaha, wajahmu itu lucu sekali, kenapa kau menatapku seperti itu? Takut?"
Dengan sombongnya seseorang yang berada paling didepan menghina Adrine karena wajahnya yang datar itu, namun hinaan itu tidak dipedulikan oleh Adrine. Orang yang ada didepan itu seperti ketua dari kelompok tersebut.
"Hahahaha..."
"Hahahaha..."
"Hahahaha..."
Orang-orang yang ada dibelakang orang yang menghina Adrine juga ikut tertawa menghina Adrine, tapi tak ada yang mempedulikan hinaan itu, bahkan David pun sama sekali tidak membuka mulutnya untuk berbicara dan melawan penghinaannya. Adrine sendiri sama sekali tidak masalah akan hinaan yang dilontarkan untuknya.
Tertawaan mereka perlahan berhenti dan mulai bingung karena melihat orang yang mereka hina hanya diam seribu bahasa.
"Hei kau, kenapa diam?"
Sebelumnya menghina, kini salah satu mereka bertanya kenapa Adrine tidak menanggapi hinaan mereka. Walaupun ditanya, Adrine tetap hanya diam dan memandangi mereka.
"Sialan, woi!! Kau punya telinga atau tidak?"
Ketua mereka sepertinya mulai kesal dengan Adrine yang tidak menanggapi kedatangan dan juga hinaan mereka, dan juga yang dibelakang mereka juga merasa kesal karena ketua mereka yang juga kesal.
Ketua kelompok yang ada didepan Adrine pun mulai menggertakkan giginya, tangannya pun juga telah mengepal, ia sangat kesal dengan Adrine karena sama sekali tidak pernah menganggapnya ada disana.
"KALAU ORANG BERTANYA ITU DIJAWAB!!"
Kemarahan dari orang yang ada didepan Adrine telah meluap-luap, namun Adrine hanya diam dan masih berekspresi biasa-biasa.
Adrine pun mulai membuka mulutnya.
"Oooh... Kalian bicara denganku?"
Dengan santainya Adrine mengatakan 3 kata itu, hal tersebut semakin membuat marah dari perwujudan kera yang ada didepannya.
"KAU ANGGAP AKU INI APA, HAH? KERA?"
Orang itu marah karena sangat kesal dengan Adrine, dan lagi, Adrine mengangguk ketika ketua itu menganggap dirinya sendiri sebagai kera ditelinga Adrine.
Tanpa basa-basi lagi, orang itu pun menyerang Adrine dan keenam orang yang ada dibelakangnya tidak bergerak dan masih terus menatap Adrine. Kecepatannya cukup cepat dan tepat ketika tangannya berada 1 cm didepan wajah Adrine...
ZRIIIING!!
'Apa?' Pikir orang yang menyerang Adrine.
Adrine sendiri menghilang dari pandangannya, sekarang ia tak tahu apa yang sedang diserangnya, mungkin angin.
BLAAAM!!
Suara hantaman keras muncul dari arah yang berlawanan dari serangan yang ditujukan kepada Adrine, dimana ledakan yang hebat itu telah mengacaukan seluruh kelompok yang melawan Adrine. Hanya tersisa 3 orang saja yang masih hidup, yakni ketua yang menyerang Adrine dan 2 orang sisanya.
"A... Apa yang... Barusan terjadi?"
Ketua dari segerombolan orang yang telah dilenyapkan oleh Adrine, langsung terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi, bahkan langsung gagap ketika berbicara. Seketika Adrine berada tepat didepan orang itu. Adrine menjadi sesosok bayangan hitam yang pekat dengan mata merah menyala dan memancarkan hawa pembunuh yang sangat mengerikan. Semua orang terintimidasi oleh Adrine bahkan termasuk David sekalipun.
Seseorang yang tadinya dengan sombongnya menghina Adrine, sekarang jatuh terdiam dan hanya bisa memandangi sesosok Adrine yang ada didepannya.
"Bersiaplah untuk menggunakan point respawn!!"
SET!!
Lalu Adrine melirik kearah David mengisyaratkan untuk datang ketempatnya, David juga paham dengan isyaratnya dan mengangguk mengerti.
Lalu David pun datang ketempat Adrine dan seketika menghabisi orang yang ada didepan Adrine, kini hanya tersisa 2 orang lagi yang terbaring dibelakangnya dan Adrine menyuruh David untuk memilih salah satu diantara mereka.
"David, pilih salah satu dari mereka!"
Ketika David memilih orang dengan ukuran tubuh yang lebih besar, orang yang tubuhnya kecil disampingnya merasa lega karena tidak dipilih oleh David untuk dibunuh.
"Adrine, bagaimana dengan orang yang ini."
Namun kebahagiaan dari orang itu tak berlangsung lama ketika David menyebutkan nama Adrine, ia sangat terkejut dengan siapa orang yang telah menghancurkan seluruh kelompoknya.
"A... Apa? Namamu itu... Adrine?"
Adrine hanya diam dan bahkan tidak menghiraukan apa yang barusan terucap oleh seseorang dibelakangnya, dan seketika itu, orang itu pun mulai merasa kehilangan harapannya ketika Adrine membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
"Setelah ini, giliran Arpha untuk mendapatkan pointnya."
Apa yang dimaksud oleh Adrine dengan mudah dimengerti oleh orang yang terbaring dibelakangnya. Tak ada orang lain selain Adrine bersama David dan juga seorang yang terbaring disana, orang yang terbaring dibelakangnya juga tak melihat adanya orang lain disana. Namun Adrine menyebutkan nama seseorang selain dari mereka berdua.
Setelah beberapa saat, datanglah 3 sosok disana. Mereka bertiga datang dengan tubuh yang penuh dengan luka dan lelah, walaupun terlihat lemah dan letih, namun mereka bertiga tetap menjadi ancaman besar bagi orang yang ada dibelakang Adrine.
"Arpha, kau dapat 1 lagi. Lihat dibelakangku! Itu punyamu."
Tak dapat dipungkiri lagi, Arpha yang sangat ingin segera mendapatkan point banyak langsung menghabisi orang itu ditempat. Namun masih belum tahu bagaimana dengan kedua orang yang datang bersamanya, Adrine sendiri juga sedikit merasa penasaran dengan mereka karena tiba-tiba mengikuti Arpha yang datang ketempat Adrine.
"Kenapa kalian mengikuti Arpha kemari? Ada perlu apa kalian disini?"
Tak disangka kalau David memiliki pemikiran yang sama seperti apa yang dipikirkan oleh Adrine, bahkan ia sudah menanyakan hal yang sedang ingin menanyakan tentang hal yang ditanyakan oleh David.
"Ka... Kami hanya ingin menanyakan sesuatu kepada Adrine, apakah tidak boleh?"
Salah satu dari mereka mengatakan apa maksud mereka untuk datang bersama dengan Arpha, namun mereka sepertinya ingin menanyakan sesuatu.
"Tentu saja."
Adrine tak mau perkataannya diucapkan lebih dulu oleh David. Kedua orang yang ada didepannya terlihat seperti malu dengan apa yang ingin mereka tanyakan.
"A... Apa boleh kami mengikuti kalian?"
Adrine tersenyum ketika mendengar pertanyaan yang diajukan itu, seperti apa yang direncanakan oleh Adrine, semua itu berjalan dengan sangat lancar.
"Baiklah, tapi untuk pembagian pointnya aku yang akan mengaturnya. Jika kalian ingin mendapatkan point yang lebih lagi, kalian juga bisa pergi."
David sedikit terkejut mendapati perkataan Adrine, ia seperti tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
"Apa kau tak merasa terkhianati nantinya?"
Adrine pun menghembuskan nafasnya.
"Jika mereka tak menginginkan kita untuk menggunakan point respawn, maka kita juga dengan bebas bisa membiarkan mereka pergi juga. Tapi, berbeda cerita kalau mereka berusaha untuk membuat kita menggunakan point respawn."
Arpha dan David mengangguk paham, begitupun dengan kedua orang yang baru saja datang itu.
"Oh iya, kalian berdua tak perlu memperkenalkan diri kalian, yang terpenting sekarang aku sudah tahu bagaimana wajah kalian."
Kedua orang yang ada didepan Adrine mengangguk paham, seperti apa yang dikatakan oleh Adrine, ia memang sudah tahu dan mengingat wajah kedua orang itu.
Adrine pun melihat-lihat sekitar, tatapannya seperti elang yang sedang mengawasi areanya. Sekarang ini keadaan sudah tak ada lawan atau kelompok yang sedang mengarah ketempatnya, jadi Adrine memutuskan untuk segera pergi dari sana.
"Sekarang kita harus pergi dari sini, kita tak perlu juga untuk berlama-lama berdiam disini."
"Ya!!"
Serentak Arpha dan David beserta kedua orang yang ikut disana mengangguk dan menerima keputusan Adrine untuk segra pergi dari sana. Adrine sendiri juga ingin segera menemukan Etern dan dengan menambah jumlah anggota, Adrine berharap kalau kemungkinan untuk menemukan Etern akan lebih besar daripada sebelumnya.
Adrine pun bergerak dan diikuti 4 orang dibelakangnya. Kini ia bergerak ketempat yang lebih acak karena agar bisa menemukan banyak kemungkinan dan point yang terdampar atau beberapa orang yang sedang bertarung satu sama lain.
Namun belum juga bergerak jauh dari tempat sebelumnya, Adrine dan seluruh anggota dalam kelompoknya melihat adanya Geng Lima Jenius yang telah berkumpul dengan jumlah anggota yang lengkap berada dibawah sebuah lembah yang dimana cukup luas, dan kini Adrine berada diatas lembah untuk melihat dan sedikit mengawasi Geng Lima Jenius. Sebenarnya kedua orang yang mengikuti Adrine barusan tadi ingin bergerak dan berpindah haluan untuk ikut bergabung bersama Geng Lima Jenius, namun sepertinya mereka masih berpikir-pikir lagi untuk berpindah dari Adrine.
Adrine sendiri juga tahu kalau kedua orang tadi ingin berpindah dan bergabung untuk membantu Geng Lima Jenius, namun ia hanya diam dan membiarkan mereka berpikir.
Geng Lima Jenius sekarang sedang melakukan sebuah pertarungan dengan kelompok lain yang dimana mereka berasal dari perguruan utara. Kelima orang itu, beserta dengan beberapa orang yang membantunya terlihat kewalahan dalam pertarungan. Namun dalam pihak yang lain tidak terlihat sama seperti apa yang dirasakan oleh orang-orang dari perguruan selatan.
"Sepertinya mereka cukup kuat. Tak disangka murid utara cukup kuat untuk bisa menandingi kekuatan murid selatan."
Adrine sedikit kagum akan kekuatan yang dimiliki oleh murid utara, namun David dan Arpha tahu kalau kekuatan mereka masih belum bisa dikatakan hebat jika disandingkan dengan Adrine.
"Eh? Itu..."
Adrine terkejut melihat adanya seseorang yang dikenalnya dari murid utara, dan orang itu adalah orang yang pernah ia kalahkan sebelumnya. Orang itu memamerkan kekuatan dari mata jiwanya dan menggunakan kekuatan beserta artifak jiwanya untuk melawan Adrine.
Adrine tak mengenal siapa dia, namun orang itu sangat mengenal Adrine walaupun tak tahu bagaimana wajah dan karakteristik Adrine. Bisa dibilang hanya tahu saja. Orang yang dimaksud itu bernama Rio.
Adrine tersenyum tipis dengan wajahnya yang berubah menjadi gelap dan licik. Kini sepertinya Adrine sedang mempersiapkan rencananya yang baru untuk bisa turun langsung kedalam pertarungan sana.
"Hehe, aku punya ide."
Bersambung!!