
10 MENIT SEBELUMNYA
Adrine masih berada didalam pesawat yang sedang proses pendaratan. Adrine masih belum tahu dimana tempat tinggalnya. Ia pun bertanya kepada master yang ada disana.
"Oh iya, dimana tempat tinggalku?"
Lalu Heyto dan Kai pun menoleh. Kai yang menjelaskan tentang pembagian tempat tinggal.
"Kini tempat tinggal tidak per individu seperti dulu. Sekarang tempat tinggal telah dibagikan kepada guild-guild dan dihuni oleh para anggota guild itu sendiri. Dan semenjak kau pergi, Etern, David, dan Arpha telah mengklaim dirimu dalam guild mereka. Mereka terus bersikeras untuk menjadikanmu salah satu dari anggota dari guild mereka."
Adrine mengangguk paham.
"Apa nama guild mereka?"
Heyto hanya tersenyum, dan ia pun membuka mulutnya.
"Karena dirimu yang telah hilang, mereka menamakan guild mereka dengan nama Guild Saudara Yang Hilang. Aku sendiri juga merasa bersimpati atas kepergianmu dan kesedihan mereka."
Adrine juga mengerti tentang perasaan mereka. Adrine sendiri juga merasakan hal yang sama ketika berpisah dengan teman-teman tersayangnya.
"Lalu, dimana tempat tinggal mereka?"
Lalu Heyto memberikan sebuah benda yang wujudnya seperti cahaya. Dan benda itu diberikan kepada Adrine.
"Itu adalah letak koordinat tempat tinggalmu dengan teman-temanmu itu. Angka yang diatas adalah koordinat tempat tinggalnya, dan angka yang dibawah adalah letak koordinatmu berdiri sekarang. Jika kau bergerak, maka koordinat yang bawah juga akan berubah."
Adrine pun mengangguk paham, dan seketika itu pesawatnya juga sudah mendarat. Lalu, Adrine pun turun dari pesawat. Heyto dan kedua master yang lainnya juga telah pergi.
"Baiklah, dimana tempat ini?"
Adrine pun berjalan dan cukup tidak mengerti dengan tata letak koordinatnya. Ia bahkan hampir tersesat karena kebingungan.
Dan setelah Adrine menemukan letaknya, ia pun melihat seseorang sedang menggertak orang lain. Dan orang yang digertak itu menurut Adrine cukup familiar dimatanya.
"Bukankah itu Senior David? Eh... Bukan, maksudku, bukankah itu David?"
Lalu Adrine diam-diam mendekati mereka dan mendengarkan percakapan mereka. Adrine terus mendengarkan gertakan dan ancaman dari Roni.
Adrine yang mulai merasa kesal dengan sikap Roni, ia pun mulai mendekati mereka dan Arpha pun muncul. Adrine tetap maju dan menepuk pundak Roni.
Lalu Adrine pun menanyakan tentang apa yang dibicarakan mereka bertiga dan langsung menghantam Roni ditempat. Dan seketika itu, mereka bertiga yang sudah tahu tentang Adrine, mereka langsung terkejut setengah mati.
"Baiklah, tak usah basa-basi lagi, kita langsung ketempat yang mereka janjikan!"
Setelah itu, Etern pun keluar dari rumah dan menutup pintunya. Arpha dan David menoleh kebelakang dan melihat Etern yang sedang mengunci pintu.
"Etern, kau jangan keluar dulu, tak baik bagi kesehatanmu sekarang ini."
David pun mengingatkan agar Etern tidak beranjak dari tempat peristirahatannya, namun karena rasa kangennya yang sangat berat dengan Adrine, ia bahkan menahan rasa sakitnya yang ada dikakinya.
Dan seketika itu, Etern memeluk Adrine dari belakang. Mereka sesama lelaki, mereka juga hanyalah bersahabat. Perlahan Etern pun berbisik.
"Akhirnya kau pulang, Adrine."
Adrine pun mengangguk.
"Itu pasti."
Lalu Adrine mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya. Ia mengeluarkan 5 buah pil yang berwarna merah.
"Ambil pil ini! Bukannya kau sedang butuh Pil Mata Serigala? Ini adalah pil itu, ambillah!"
Etern pun mengambil pil tersebut.
"Terima kasih."
Dan Etern langsung menelan satu pil terlebih dahulu untuk menekan rasa sakitnya disaat ia berjalan. Setelah itu, efek pemulihannya akan mulai muncul setelah beberapa menit. Dan rasa sakit yang sebelumnya mulai muncul kembali dan juga perlahan mulai menghilang secara perlahan.
"Baiklah, sekarang kita harus ketempat yang telah mereka katakan. Dan untuk bertarung, biarkan aku yang akan melawan mereka."
Lalu mereka pun kembali meneruskan perjalanan ketempat yang telah ditentukan. Adrine meminta bantuan David untuk menunjukkan jalan menuju arena tantangan yang dimaksud.
David masih memperhatikan Roni yang terbaring itu. Dan Adrine pun menoleh kearah Roni.
"Biarkanlah saja! Nanti juga sadar sendiri."
Adrine tidak memperdulikan tentang Roni dan hanya berbalik kanan lalu pergi begitu saja. Begitu juga dengan Arpha, ia bahkan tidak menoleh sama sekali ketika David menyebutkan nama Roni.
Dan Arpha menjadi penasaran dengan satu hal. Ia terus memperhatikan Adrine ketika berjalan, dan Adrine sudah mengetahui kalau sejak dari tadi Arpha memperhatikannya.
'Hmm... Kenapa aku tidak bisa merasakan kekuatan kultivasi Adrine? Apa Adrine kuat, atau lemah? Lalu yang tadi... Ah, ya sudahlah.' Pikir Arpha.
Arpha tidak bisa menebak seberapa jauh Adrine telah berkembang diluar sana. Ia bahkan tidak bisa merasakannya walaupun Adrine sudah ada disampingnya.
Lalu Adrine pun menoleh kearah Arpha. Dan Arpha pun mengalihkan pandangannya agar seolah-olah ia tidak sedang memandangi Adrine.
Dan Adrine pun mengeluarkan sesuatu lagi dari cincin penyimpanannya. Ia mengeluarkan pil lagi dan untuk diberikan kepada Arpha.
"Arpha, ambil dan minum pil ini! Ini adalah Pil Yin Surga Keempat, bisa meningkatkan kecepatan kultivasimu untuk sementara."
Arpha pun menerima dan mengambil pilnya. Dan seketika itu, Arpha langsung menelannya.
WUUUSSHHH!!
Energi yang kuat keluar dari tubuh Arpha. Walaupun tidak terlalu mempengaruhi Adrine sedikitpun, namun itu akan sangat terasa oleh orang yang kultivasinya masih sama dengan Arpha.
"Terima kasih Adrine."
Adrine pun menganggukkan kepalanya.
"Sama-sama. Dan sekarang, kita harus cepat kesana. Kalau tidak, kita akan membuat mereka menunggu."
David mengerti dengan maksud dari perkataan Adrine, namun tidak untuk Arpha dan Etern.
"Haha, kalian berdua pasti tak paham dengan perkataanku barusan. Maksudku, ayo kita buat mereka terkejut dengan kekuatanku yang baru ini."
Adrine telah memperbarui perkataannya yang tadi. Dan dengan kalimatnya yang baru ini, mereka berdua menjadi paham dengan maksud dari perkataan Adrine yang sebelumnya. Tapi Arpha masih penasaran dengan kekuatan dan kultivasi Adrine yang sekarang ini.
'Jika Adrine mengatakannya seperti itu, maka seharusnya dia sudah berada ditahap Kematian. Tapi, kenapa aku tidak bisa merasakan aura kekuatannya?' Pikir Arpha.
Arpha masih terus terheran-heran dan penasaran dengan apa yang sudah berubah dari Adrine sampai saat ini. Dan sebenarnya, Adrine mengetahui hal itu sejak tadi.
"Apa yang sedang kau lihat, Arpha?"
Adrine pun merasa seolah-olah sedang melihat Arpha yang sedang memperhatikan sesuatu.
"Oh, tidak-tidak. Aku... Itu, aku sedang memperhatikan luka yang ada ditangan Etern."
Etern pun merasa namanya terpanggil. Dan ia pun langsung memperhatikan bagian tubuhnya yang tadi sempat dibicarakan.
"Tanganku baik-baik saja. Tenang saja, tanganku ini tidak terlalu banyak terluka tadi."
Merasa kalau tangannya diperhatikan oleh Arpha, Etern langsung mengusap tangan kirinya yang diperhatikan oleh Arpha.
"Pfftt..."
Adrine pun menahan tawanya dan menutupi bibirnya dengan jari-jarinya.
"Humph..."
Dan Arpha merasa kesal dengan kelakuannya sendiri dan tertawaan Adrine. Adrine pun kembali menghadap kedepan dan fokus kembali kejalan.
"Baiklah, fokus kembali! Kita harus mengejutkan mereka disana, dan permalukan mereka dihadapan para bawahannya! Hehe!"
Adrine berkata sambil tersenyum mengerikan.
GLUK!!
Bahkan ketiga temannya sampai menelan ludah karena melihat senyuman Adrine.
Bersambung!!