
Sekumpulan orang sedang menatapi seroang wanita disana, mereka terlihat terkejut sekaligus merasa penasaran dengan apa yang terjadi.
"Apa benar apa yang dikatakan oleh orang itu kalau pelindung tadi adalah tuan putri Adrina yang memasangnya?"
Pebi merasa penasaran tentang pelindung yang sebelumnya menghalangi Adrine dan Etern pergi, namun diantara mereka tak ada yang mengenal siapa itu orang yang menyelamatkan Etern tadi, kecuali beberapa orang termasuk Alvian yang tangannya telah terputus.
"Ya, pelindung tadi aku yang pasang."
Wanita yang dipanggil Adrina itu pun menjawab 'iya', dan mereka semua cukup terkejut dengan hal tersebut.
Namun ekspresi wajah Dio seperti sedang meremehkan, begitupun dengan Lala dan Pebi.
"Apa pelindungnya sungguh selemah itu?"
Dio terlebih dahulu mengucapkan kalimatnya, seperti biasa, kalimatnya sangat pedas dan cukup provokatif.
"Ya, bukankah tuan putri Adrina lah yang terkuat disini?"
Pebi menambahkan komentar darinya, cukup menyindir dan hampir sama dengan kalimat yang dikatakan oleh Dio barusan.
"Jika tuan putri Adrina yang terkuat, mengapa bisa pria itu menghancurkan pelindung yang diciptakan oleh tuan putri?"
Lala menambahkan pertanyaan yang mendukung kalimat-kalimat sebelumnya, ia memang sejak dari awal meremehkan wanita yang bernama Adrina itu.
Dari apa yang dikatakan Dio, Lala, dan Pebi, Adrina adalah yang terkuat diantara mereka dan kultivasinya lebih tinggi daripada mereka bertiga, pencapaian kultivasi Adrina telah mencapai tahap Kematian level-3 kelas menengah dan lebih tinggi daripada Dio, Pebi, Alvian, Nicho, dan lain-lain.
Sementara itu Adrine berjalan mendekat kearah mereka dan juga ingin tahu apa yang sedang dibicarakan, namun tak disangka ia melihat pemandangan yang menurutnya indah dimatanya.
Wanita yang ditunjuknya tadi mengayunkan tangannya keatas dan mengeluarkan energinya, membuat ketiga orang yang ada dihadapannya menjadi terlempar dan langsung ada yang dibawah kaki Adrine.
"Wow, kalian rupanya saling bermusuhan."
Adrine sangat senang melihat sekumpulan musuhnya ternyata juga saling bermusuhan dan memiliki konflik internal.
"Heh."
Adrine tersenyum puas sambil menatap Dio yang tepat berada dibawahnya, dan orang yang yang ditatapnya juga menatap Adrine, namun dengan tatapan sebal dan marah.
Tiba-tiba Adrine berjongkok dan tangannya langsung memegang leher Dio, lalu Adrine mengangkatnya dan melemparkannya ketempat ia berdiri sebelumnya.
BRUAK!!
Karena jarak terlemparnya ketiga orang tadi cukup dekat, Adrine langsung mendatangi orang yang satu lagi yang ada disebelah kanannya yaitu Lala dan melakukan hal yang sama seperti tadi.
"EKH... APA... APAAN INI?"
Lala merasa tak terima jika lehernya diangkat seperti itu, namun bukan langsung Adrine lemparkan seperti Dio, ia menyeretnya dan membawanya mendekati yang terbaring satunya lagi yaitu Pebi. Adrine juga langsung mengangkatnya dengan mencekik lehernya seperti apa yang dilakukan Adrine terhadap Dio dan Pebi.
"LE... LEPASKAN AKU..."
Pebi tak hampir tak bisa berbicara dan suaranya sangat berat, ia hanya bisa menggenggam erat tangan kiri Adrine begitu juga dengan yang dilakukan oleh Lala. Mereka merasa sungguh tersiksa dengan lehernya yang dicekik itu.
Karena cukup kasihan dengan mereka berdua, Adrine memutuskan untuk langsung melempar mereka berdua dimulai dari Lala terlebih dahulu.
BUAKH!!
Dan berikutnya adalah Pebi yang dilemparkan dengan cukup cepat karena tubuhnya yang lebih berat ketimbang Lala.
BUAKH!!
Mereka mundur menjauh dari tempat dimana ketiga orang yang barusan dilempar itu mendarat, lalu mereka langsung kembali menatap Adrine dan tatapan mereka sedikit berbeda. Terdapat rasa penasaran akan seberapa kuatnya Adrine pada tatapan mereka dan juga terdapat sedikit rasa takut kepada Adrine karena kesadisannya barusan yang ditunjukkan secara langsung dihadapan mereka.
Wajah Adrine yang tadi tersenyum senang sekarang berubah menjadi biasa saja tanpa ekspresi apapun, namun terlihat seperti orang yang menantang dihadapan orang-orang yang ada didepan Adrine.
Dio, Lala, dan Pebi terlihat masih memegangi lehernya masing-masing karena leher mereka masih terasa sakit akibat dicekik oleh Adrine. Seseorang yang ada dihadapan mereka bertiga sekarang adalah Adrina, mereka juga takut akan kejadian barusan terjadi lagi.
Sementara itu, Yama terlihat senang menatap pertarungan Adrine dengan orang-orang dari rasi bintang, ia terlihat seperti bersemangat akan pertarungan tersebut. Arpha juga merasa ada yang aneh akan pandangan Yama yang terlihat sedang senang.
"Kenapa kau terlihat bersemangat sekali? Ada apa dengan pertarungan didepan?"
Seketika Yama langsung menoleh kearah Arpha karena ditanyainya, ia masih terlihat senang dan tersenyum walau tidak menatap pertarungan Adrine.
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku menyukai gaya bertarung Adrine disana, memang benar seperti apa yang kau katakan sebelumnya, Adrine memang tidak menyerang secara brutal seperti sebelumnya."
Walaupun jawaban Yama cukup panjang dan juga terperinci, namun Arpha merasa ada yang kurang dari jawaban Yama. Ia masih terlihat tak puas dengan jawaban yang barusan didengarnya.
"Coba jelaskan sekali lagi, aku sedikit kurang paham."
"Kukira kau juga cukup pintar... Seperti ini, gaya bertarung Adrine itu bukan tipe bertarung secara brutal, namun ia menghabisi musuh secara perlahan tapi pasti. Adrine juga melakukan 1 hal yang menurutku cukup provokatif, yaitu tadi ketika Adrine melemparkan ketiga orang yang ada dihadapannya dengan cara yang menyiksa."
Arpha menatap sinis dan dengan wajah penasarannya, namun Yama menjawabnya dengan lancar tanpa ada pengalihan alasan sama sekali. Dan sekarang pandangan Arpha terhadap Yama terlihat berbeda.
"Kau ini memang seorang Psikopat."
Yama hanya menoleh tersenyum mengerikan didepan Arpha sambil berkata...
"Aku memang Psikopat."
"APA?"
Sungguh hal yang sangat mengejutkan bagi Arpha, mendengar orang yang ada disampingnya barusa saja mengaku kalau dirinya itu adalah seorang psikopat.
Etern yang ada didepan mereka berdua terlihat seperti terganggu akan pembicaraan Arpha dan Yama, wajahnya terlihat kesal akibat hal tersebut.
"KALIAN BERDUA DIAM LAH!!! PERHATIKAN BAIK-BAIK PERTARUNGANNYA DAN WASPADA LAH DENGAN HAL TAK TERDUGA!!!"
Etern meneriaki keduanya seketika itu mereka berdua seperti mati rasa, mereka berdua langsung terdiam setelah mendengar teriakan Etern yang terlihat marah dan kesal.
Dan Adrine sekarang kembali berjalan kedepan dan orang-orang yang ada didepan mereka terlihat bersiap. Mereka semua langsung mengaktivasi zirah mereka masing-masing kecuali beberapa orang, diantaranya adalah Nicho dan Adrina, ada beberapa lagi yang juga tak mengaktifkan zirah mereka.
Karena merasa waspada, Alvian dan ketiga orang yang tadi dilempar Adrine juga telah mengaktivasi zirahnya, mereka merasa kekuatan milik Adrine tak sesederhana apa yang dipikirkan orang lain.
Salah seorang ada yang merasa penasaran dengan kekuatan yang dimiliki Adrine dan maju.
"Hah, untuk apa kita terus berdiam diri dan memandangi orang itu terus menerus? Aku akan maju sendiri dan melawannya."
Orang yang bersuara serak barusan bernama Vion, orang-orang lain ada yang memanggilnya Pion karena plesetan dari namanya itu. Kultivasinya telah mencapai tahap Kematian level-3 kelas awal, berasal dari rasi bintang Reticulum yang berarti Jaring.
Etern yang ada didepan mereka berdua terlihat seperti terganggu akan pembicaraan Arpha dan Yama, wajahnya terlihat kesal akibat hal tersebut.
"KALIAN BERDUA DIAM LAH!!! PERHATIKAN BAIK-BAIK PERTARUNGANNYA DAN WASPADA LAH DENGAN HAL TAK TERDUGA!!!"
Etern meneriaki keduanya seketika itu mereka berdua seperti mati rasa, mereka berdua langsung terdiam setelah mendengar teriakan Etern yang terlihat marah dan kesal.
Dan Adrine sekarang kembali berjalan kedepan dan orang-orang yang ada didepan mereka terlihat bersiap. Mereka semua langsung mengaktivasi zirah mereka masing-masing kecuali beberapa orang, diantaranya adalah Nicho dan Adrina, ada beberapa lagi yang juga tak mengaktifkan zirah mereka.
Karena merasa waspada, Alvian dan ketiga orang yang tadi dilempar Adrine juga telah mengaktivasi zirahnya, mereka merasa kekuatan milik Adrine tak sesederhana apa yang dipikirkan orang lain.
Salah seorang ada yang merasa penasaran dengan kekuatan yang dimiliki Adrine dan maju.
"Hah, untuk apa kita terus berdiam diri dan memandangi orang itu terus menerus? Aku akan maju sendiri dan melawannya."
Orang yang bersuara serak barusan bernama Vion, orang-orang lain ada yang memanggilnya Pion karena plesetan dari namanya itu, ia lumayan tinggi dan sama seperti Arpha, tingginya 170 cm. Kultivasinya telah mencapai tahap Kematian level-3 kelas awal, berasal dari rasi bintang Reticulum yang berarti Jaring.
"Kau betul juga, mari kita uji dia dengan kekuatan kita."
Dan yang bicara barusan adalah Rettick, seorang lelaki yang tinggi dan gagah, tingginya 174 cm dan terdapat bekas luka sayatan vertikal yang ada dimatanya, seolah matanya pernah tergores oleh pedang maupun sejenisnya. Rettick berasal dari rasi bintang yang sama dengan Vion, yaitu rasi bintang Reticulum, ia memiliki kultivasi yang juga sama dengan Vion, yaitu pencapaian tahap Kematian level-3 kelas awal.
ZRAAAST!!
Lalu kedua orang tersebut langsung bergerak dan mendatangi Adrine menggunakan kekuatan mereka masing-masing.
Dimulai dari Vion yang sudah mengangkat tangan kirinya dan diarahkan kearah Adrine.
"Meriam Jaring Cahaya!!"
Terlontar sebuah gumpalan cahaya yang sebenarnya adalah jaring-jaring cahaya yang memadat seperti bola cahaya.
Dan kini Rettick juga mengangkat tangan kirinya dan mulai menyerang.
"Meriam Jaring Api!!"
Sama seperti Vion, sebuah gumpalan terlontar cepat dari tangan kiri Rettick, namun berupa api karena Rettick cukup mahir dalam penggunaan elemental api. Dan jaring-jaring yang membentuk meriam api tersebut adalah jaring api.
Vion dan Rettick pun berhenti dan melihat apa yang terjadi selanjutnya. Kedua bola meriam tersebut melesat dengan sangat cepat kearah Adrine, membuat setiap mata yang melihatnya menjadi sangat antusias.
"Combine Soul, Red Diamond!!"
BLAAAR!!
Adrine langsung memukul ketanah seketika setelah menggabungkan jiwa Red Diamond, muncul dinding es yang cukup besar.
BLAAAR!! SRIIING!!
Kedua meriam tadi telah menghantam dinding es milik Adrine, asap tebal dan dingin mengepul disekitaran dinding es yang hancur akibat hantaman kedua bola meriam barusan. Sebagian meleleh dan yang sebagiannya lagi hancur dan lenyap.
WUUUSHH!!
Muncul seseorang yang secara tiba-tiba keluar dari kabut dingin tersebut, Adrine berjalan seperti seolah tidak terjadi apa-apa disaat menembus kabut dingin barusan. Dan disaat keluar dari kabut tadi, Adrine sudah tidak lagi bergabung dengan jiwa milik Red Diamond.
'Kekuatan elemental kedua orang ini cukup kuat, hanya saja dasar kultivasi mereka saja yang masih rendah.' Pikir Adrine.
Vion dan Rettick seperti kagum akan melihat Adrine yang mampu menghalau serangan mereka berdua hanya dengan dinding es yang tebal.
"Hebat juga orang ini, tak kusangka serangan kita berhasil ditahan olehnya."
Vion seperti sedang memuji kehebatan Adrine dalam pertahanannya tadi disaat menahan serangan darinya dan Rettick.
"Ya, dia adalah bibit unggul dari seorang kultivator."
Rettick setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vion, bahkan ia menyebut Adrine sebagai 'Bibit Unggul'.
Namun Adrine tak ingin terus membuang waktu, itu karena waktunya yang masih terus berjalan dan sudah mulai menipis. Kini waktu yang masih tersisa hanya 2 jam saja, namun orang-orang yang ada dibelakangnya masih kekurangan point untuk bisa lulus dari ujian.
Bukan hanya Adrine saja yang berpikiran untuk segera bertindak cepat, namun Vion dan Rettick juga memiliki pemikiran yang sama seperti Adrine.
"Kita harus cepat!"
Suara Vion berubah menjadi agak tinggi dan mengingatkan untuk segera mengakhirinya.
"Baiklah, ayo kita selesaikan sekarang juga."
Rettick pun langsung setuju dengan apa yaang Vion katakan, mereka sangat kompak dalam 1 tim.
ZRIIING!!
"APA?"
Tiba-tiba Adrine menghilang dari tempatnya, mereka semua terkejut dan mata mereka tertuju kemana-mana untuk mencari dimana Adrine berada. Kecepatannya sangat cepat sekali hingga mata pun tak bisa mengikuti pergerakannya.
"Aku harus segera bergegas sekarang dan maaf, aku harus menjatuhkan kalian."
Tiba-tiba terdengar suara dibelakang telinga Vion dan Rettick, mereka pun segera menoleh.
BUAKH!!
Belum juga mereka melihat apa yang ada dibelakang mereka, kepala mereka telah terpukul dengan sangat keras. Adrine memukul kepala mereka hingga terlempar cukup jauh hanya dalam sekali pukulan.
Bukan hanya Vion dan Rettick yang terkejut akan hal tersebut, Nicho, Alvian, Dio, bahkan Adrine sampai semua orang yang melihatnya juga terkejut akan hal tersebut. Kecepatan Adrine sangat luar biasa cepat, namun mereka juga terkejut akan kekuatan yang mampu dikeluarkan oleh Adrine, itulah yang membuat mereka terkejut.
'Kecepatannya sangat luar biasa, namun kekuatannya juga tidak lemah. Assassin saja membutuhkan sebuah senjata ringan untuk mengerahkan kekuatannya.' Pikir Adrina.
Pemikiran Adrina memang tak sepenuhnya benar, seorang assassin memang pada umumnya menggunakan senjata ringan, namun pada tingkat tertentu mereka mampu menggunakan tubuh mereka sebagai senjata dan mengerahkan sejumlah energinya untuk membentuk kekuatan yang mirip senjata tajam seperti jari mereka dan tangan mereka. Dan Adrine sudah mencapai tingkat yang seperti itu, ia mampu mengeluarkan sedikit energi untuk memperkuat bagian tubuhnya dan membentuk serangan yang diinginkannya tanpa harus memiliki aksesoris yang dibutuhkan.
Dan sekarang Adrine berdiri dan menghadap kearah Adrina kembali, ia pun terdiam sejenak dan memejamkan matanya.
ZRIIING!!
Tiba-tiba Adrine menghilang dari tempatnya lagi secepat kilat dan membuat semua orang mencari-cari dirinya.
BLAAAR!!
Sungguh sangat tak diduga, Adrine langsung muncul dibelakang Adrine dan Nicho. dan menghantam tanah dengan sangat kuat, namun muncul pelindung es yang dimana Adrine sedang mengurung orang didalamnya, termasuk Adrine sendiri. Mereka yang terkurung hanyalah 2 orang, yaitu Nicho dan Adrina. Alasan Adrine juga ikut mengurung Nicho adalah karena Nicho sedari tadi terus berada didekat Adrina.
"ADRINE!! KENAPA KAU MENGURUNG KAMI?"
SET!!
Secara tiba-tiba Nicho teringat sesuatu yang membuatnya mengurungnya disini bersama Adrina, tahu kalau semenjak dari tadi dirinya terus berada didekat Adrina, maka dari itu Adrine ikut mengurungnya didalam penjara esnya. Dan Nicho juga teringat jika nama kedua orang yang ada didepannya sekarang hampirlah sama.
"Ada yang aneh, nama kalian sepertinya mirip..."
Dengan lugasnya, Nicho langsung menyimpulkan dan mengatakan tentang nama mereka berdua.
"Apa maksudmu?"
Jelas hal tersebut mengagetkan Adrina yang tidak tahu apa-apa.
"Memang itu yang sedang aku pertanyakan, bukankah namamu Adrina?"
Seketika hal tersebut membuat Adrina marah, Adrine sendiri kurang tahu apa sebabnya.
"BERANINYA KAU MEMANGGIL NAMAKU SECARA LANGSUNG!!"
Merasa cukup mengenal Adrina, Nicho pun mengingatkan tentang siapa sosok Adrina itu agar Adrine sadar mengapa Adrina bisa semarah itu.
"Adrine, kau seharusnya memanggilnya dengan sebutan tuan putri, kau tak punya hak dan status yang mampu membuatmu bisa memanggil namanya secara langsung."
"Begitukah?"
Adrine cukup menyadari apa kesalahannya, namun Adrina seperti sedang menyadari kalau Nicho memanggil lelaki yang ada didepannya dengan nama Adrine.
"Namamu Adrine?"
"Eh?"
Adrine sedikit terkejut mendengar wanita yang barusan marah dengannya tiba-tiba memanggilnya dan menanyai namanya.
"Ya, itulah sebabnya aku ingin bertanya, tapi bukan kepadamu, melainkan kepada Nicho."
Seketika Nicho langsung menoleh kearah Adrine karena namanya telah disebutkan.
"Memangnya apa yang ingin kau pertanyakan?"
"Eh?"
Dengan segera Adrine menyadari sesuatu ketika ingin menanyakan hal yang ingin ia tanyakan kepada Nicho tadinya. Ia pun langsung membuat dinding es pembatas yang dimana telah membatasinya bersama Nicho dari Adrina.
"Apakah aku boleh menanyakan tentang hal itu didepannya?"
Namun sepertinya hal tersebut ditolak mentah-mentah oleh Nicho, ia tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Adrine.
"Tidak, kau tidak boleh menanyakannya hal itu dihadapannya."
Adrine langsung paham dan kembali menurunkan dinding pembatas tadi, ia sendiri terpikirkan pertanyaan lain yang dimana sepertinya ada kaitannya dengan panggilannya. Namun Adrine sudah mengetahui hal tersebut sejak dulu.
"Apa yang kalian bicarakan tadi dibelakangku?"
Adrine hanya menggelengkan kepalanya ketika ditanyai oleh Adrina, dan diikuti juga oleh Nicho setelah itu.
"Aku hanya ingin menanyakan 1 hal saja, kenapa kalian memanggilnya dengan sebutan tuan putri?"
Nicho tersenyum senang mendengar arah pembicaraannya dengan cepat dibelokkan oleh Adrine.
"Tuan putri Adrine memiliki status kebangsawanan di rasi bintang Orion, kau pasti juga sudah menyadarinya karena dia sangat dekat denganku dari tadi."
Adrine mengangguk mengerti, namun agar pembicaraannya lebih jelas Adrine masih memiliki pertanyaan lagi untuk dipertanyakan.
"Apa status yang dimilikinya dalam keluarga bangsawan? Apakah dia adalah putri kerajaan?"
Disaat Nicho ingin membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Adrine, sebuah tangan menutupi mulutnya dan menghentikan suara yang ingin dikeluarkannya.
'Nampaknya dia sendiri yang ingin menjawabnya, sepertinya dia akan menyombongkan dirinya dihadapanku.' Pikir Adrine.
Apa yang dipikirkan Adrine ternyata benar, Adrina berjalan mendekati Adrine dengan penuh gaya.
"Akan aku perkenalkan diriku sendiri."
'Berbicaranya saja penuh dengan gaya dan nada yang khas seorang tuan putri, dasar wanita.' Pikir Adrine.
Hal itu membuat Adrine sedikit merubah ekspresi dinginnya, dilihat dari bibirnya yang tersenyum tipis melihat orang yang ada didepannya.
"Namaku adalah Adrina Irnanda, anak ketiga dari Monarch Orion dan menyandang status tuan putri didalam kerajaan."
Raut muka Adrine masih tetap sama ketika wanita yang ada didepannya selesai memperkenalkan dirinya dengan anggun dan indah. Namun Adrine tidak mengira hal itu adalah sebuah kesombongan, melainkan reaksi normal dari wanita yang ingin memperkenalkan dirinya kepada lelaki atau orang lain, apalagi yang sifatnya yang semacam itu.
"Ah... Kalau begitu, mohon maafkan saya tuan putri Adrina yang cantik."
Adrine pun meminta maaf dengan tunduk dan hormat, namun sepertinya reaksi yang ditimbulkan oleh Adrina seperti berbeda dari apa yang ditunjukkannya tadi.
"Bangunlah! Kau tak perlu bersujud seperti itu."
Adrina memegang lengan Adrine dan mengangkatnya dengan ramah, sangat berada diluar ekspektasi Adrine. Namun hal tersebut diterima oleh Adrine dengan tulus, ia bangun ketika diangkat oleh Adrina.
"Terima kasih tuan putri."
"Lain kali kau tak perlu sampai bersujud seperti itu ketika bertemu denganku lagi, oke?"
Adrine dengan perlahan menganggukkan kepalanya dan berkata...
"Oke."
'Sepertinya wanita ini masih belun terbiasa untuk memamerkan dirinya, mungkin sifatnya yang sebenarnya itu baik, namu terdesak oleh pertaru gan seperti ini.' Pikir Adrine.
Adrine masih terpikirkan oleh sedikit pertanyaan yang mengganjal dipikirannya.
"Apakah yang memiliki status kebangsawanan disini cuma tuan putri Adrina seorang?"
Adrina dan Nicho kompak menggelengkan kepalanya dengan bersamaan.
"Tidak, ada lagi orang yang memiliki status kebangsawanan disini, dan yang lebih beruntung lagi adalah ada 2 orang yang menyandang status sebagai putra dan putri Monarch, salah satunya adalah tuan putri Adrina."
Adrine mendengarkan dengan seksama penjelasan yang cukup panjang dari Nicho, ia paham semua maksudnya dan mengerti akan penjelasannya.
"Siapa saja?"
"Yang pertama adalah aku, tuan putri Adrina, dan yang satunya lagi adalah..."
Sementara itu, Etern dan orang-orang yang ada dibelakangnya masih terus menatap apa yang terjadi didepannya dengan sangat antusias, apalagi Adrine telah menjebak orang didalam dinding es buatannya.
"Etern, kenapa kau sangat antusias seperti itu? Tatapanmu itu tajam sekali, apa yang sedang kau awasi?"
Lalu Etern menoleh kearah samping kirinya dan melihat orang yang menanyainya, yaitu David.
"Haih... Tidak apa-apa, hanya saja ada 1 orang yang sepertinya cukup menarik disana."
"Siapa?"
Dan dalam waktu yang cukup bersamaan, Etern dan Adrina membuka mulutnya dan mengatakan...
"Pangeran Syorze, putra kedua dari Monarch rasi bintang Scorpius."
Bersambung!!