Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Mata Hitam Semesta Ketiadaan Kuno


Sesosok hitam berselimutkan aliran petir di sekujur tubuhnya melintas di depan mata Adrine begitu saja, sesosok itu justru menyerang seseorang yang ada di belakang Adrine.


Sesosok bertubuh hitam lapis petir putih atau yang biasa disebut Darkness Lightning Demon menyerang senior Yota, namun ia menyerang orang yang salah.


SLAAASH!!


Darkness Lightning Demon langsung terpental dengan begitu cepat karena sebuah serangan dari senior Yota, cepat, tajam, dan kasar, begitulah serangannya tanpa adanya senjata di tangannya.


"Bodoh."


Senior Yota agak kurang peduli dan hanya mengejek Darkness Lightning Demon.


Akan tetapi tak ada dari mereka yang tahu kenapa Darkness Lightning Demon menyerang senior Yota yang lebih kuat dibandingkan dengan Adrine.


'Aneh, bukankah hewan iblis punya pemikiran yang juga cerdas?' Pikir Adrine.


DEG!!


'Ek ... A ... Apa in ... Ini?' Pikir Adrine.


Tiba-tiba muncul tekanan yang begitu kuat dirasakan oleh Adrine, tekanannya begitu menusuk sampai ka dalam jantung dan kepalanya. Kepalanya pun langsung pusing berat dan tubuhnya menjadi sangat berat pula.


Walaupun tekanan yang dirasa hanya sepersekian detik saja, namun muncul tekanan yang terus meningkat menjadi begitu berat dan tajam, hal inilah yang membuat Adrine begitu pusing dan tak berdaya.


Perlahan kesadaran Adrine mulai menghilang, matanya juga menjadi begitu berat.


Adrine pun terjatuh dan tak sadarkan diri.


"ADRINE!!"


Senior Yota yang melihatnya langsung berteriak dan bergegas menuju ke arah Adrine.


"Adrine ... Apa ... Apa yang terjadi padamu?"


Senior Yota begitu panik dengan Adrine yang tiba-tiba pingsan. Darkness Lightning Demon kembali menyerangnya dan dengan sangat cepat ia mencengkram wajah hewan iblis itu dan membantingnya ke tanah.


"Akan ku pastikan kau tak akan bangun lagi, iblis busuk."


Kemudian senior Yota berpaling lagi kepada Adrine dan sangat mengkhawatirkannya.


KREEEK!!


"Eh?"


Tiba-tiba terdengar sesuatu dari pilar pemancarnya. Sontak senior Yota menoleh ke arah pilarnya. Ia melihat pilarnya terbuka dan menunjukkan isi dari dalam pilarnya yang berisikan 7 pedang, pedang tersebut memiliki gagang emas dan mata pedangnya terbentuk oleh kristal berwarna ungu.


"A ... Apa itu?"


Senior Yota menatap terus ke arah tujuh pedang yang melayang dan mulai mengitari pilar cahaya, seolah pandangannya telah terkunci pada ketujuh pedang tersebut dan yang pasti pedang tersebut begitu kuat sehingga membuat senior Yota dapat merasakan energinya yang sangat kuat.


Sementara itu, Adrine berada di dalam alam bawah sadar, namun bukan alam bawah sadar bawaannya. Di sana terdapat ruang yang sama dengan seluruh angkasa luar, terdapat berbagai bintang dan kerlipan cahaya di mana-mana. Namun Adrine tetap waspada dengan keadaan yang mungkin akan terjadi.


'Sekarang ini aku di mana?' Pikir Adrine.


Adrine pun mulai terbang dan menjelajahi ruang tersebut.


"•Wah wah ... Kau datang lebih awal rupanya.•"


Tiba-tiba saja terdengar suara yang begitu keras dan berat di dalam ruang tersebut, Adrine sangat terkejut mendengarnya apalagi ternyata ia telah ditunggu oleh seseorang yang berbicara barusan.


"Siapa kau? Kenapa kau membawaku ke dalam sini?"


Adrine cukup berani walaupun ia tahu jika seseorang yang barusan berbicara dengannya adalah orang yang mungkin sangat kuat dan hebat.


"•Hmm ... Walaupun dalam keadaan begini, kau itu tetap waspada juga ya? Lumayan ... Tapi aku tahu kalau di dalam hatimu itu kau sedang waspada, benar bukan?•"


"Katakan saja apa tujuanmu! Jangan banyak basa-basi."


Adrine sangat penasaran kenapa ia dibawa masuk sampai ke dalam alam bawah sadar yang asing. Walaupun asing, namun Adrine merasa jika udara dan energi yang ada di dalam ruang itu sangat jernih dan murni, lebih murni dari yang pernah ia rasakan di luar alam bawah sadar tersebut.


"•Kau itu tak sabaran juga, ternyata ... Baiklah, akan kukatakan langsung padamu, kau itu memiliki darah Laniakea yang berarti kau adalah salah satu penerus dari keselestialan Resscion Laniakea.•"


Ketika mulai mengatakan tujuannya, suaranya terdengar lebih serius dan tidak terlalu sebercanda tadi.


'Darah Laniakea? Keselestialan Resscion Laniakea? Apa itu?' Pikir Adrine.


Adrine sama sekali tidak mengerti dengan apa yang didengarnya barusan, ia terus berpikir apa maksud dari Adrine memiliki darah Laniakea.


"Apa maksudnya?"


"•Hehe ... Semua penerus itu mirip denganmu, tak tahu menahu tentang keselestialan.•"


Bukan malah dijawab, justru orang itu malah meledek Adrine dan berbasa-basi.


"Aku menunggu."


Adrine terus mendorong agar seseorang itu mengatakan apa maksudnya yang sebenarnya.


"•Oke oke ... Aku adalah Celestialine, penguasa dari seluruh wilayah keselestialan Resscion Laniakea, bisa dibilang jika seluruh super gugus Laniakea adalah wilayah kekuasaanku. Apa kau tahu tentang super gugus Laniakea?•"


Adrine menggeleng.


"Tidak tahu."


"•Ah iya, benar juga ... Kau disembunyikan di dimensi lain kan?•"


Adrine sangat terkejut mendengar kalau orang itu cukup tahu sedikit tentang masa lalunya.


"•Aku takkan menjelaskannya, tapi yang terpenting sekarang kau adalah salah satu dari penerus keselestialan Resscion Laniakea, sebagai penerus akan kuberikan sedikit hadiah sebagai tradisi untuk para penerus.•"


'Hadiah?' Pikir Adrine.


Terdapat begitu banyak pertanyaan yang terus berputar-putar di kepala Adrine, ia sungguh tak mengerti apa-apa tentang hal yang telah disampaikan padanya barusan oleh orang yang tak diketahui wujudnya.


Walaupun Adrine tak melihat wujudnya secara langsung, namun ia tahu jika kemampuan orang itu sangatlah kuat sehingga bisa membentuk cahaya suar dan takdir yang mempertemukannya dengan Adrine di dalam Distorsi Portal.


"Hadiah apa yang kau maksud?"


"•7 Pedang Semesta Laut Dalam, kau bisa melihatnya setelah keluar dari alam ini, mereka semua adalah artifak tingkat Murni peringkat 7. Aku juga akan memberimu pilihan untuk memilih teknik yang ada setelah ini.•"


"APA? 7 PEDANG TINGKAT MURNI? APA KAU SEDANG BERCANDA?"


Adrine sangat terkejut karena seseorang yang belum pernah ia temui dan ketahui sebelumnya tiba-tiba saja memberikan artifak yang sangat kuat kepadanya. Bukan hanya satu, melainkan terdapat 7 pedang yang sungguh luar biasa.


"•Aku tidak sedang bercanda, di tempatku itu terlalu banyak, menurutku kalau dibagikan akan menjadi berkah bukan? Haha ... Tapi ada satu lagi yang aku sembunyikan di dalam pilar, kau bisa menemukannya dengan mata jiwamu. Oh iya, khusus untukmu yang mata jiwanya terpisah, aku bisa menggabungkannya sekarang juga.•"


Adrine kembali dibingungkan dengan pembicaraan yang membicarakan tentang mata jiwanya.


"Mata jiwa terpisah? Apa ketiga mataku ini sebenarnya adalah 1 mata?"


Rasa penasaran Adrine kian bertambah dengan adanya orang itu yang sempat membicarakan ketiga matanya.


"•Yap ... Aku menyebut matamu itu mata Hitam Semesta Ketiadaan Kuno. Mata legendaris yang masuk ke dalam 3 besar daftar mata jiwa. Karena terpisah, jarang sekali orang yang bisa mengenalinya, orang yang tak tahu akan mengira jika mata itu adalah mata jiwa bawaan. Bagaimana? Mau aku gabungkan?•"


Adrine kembali berpikir ulang jika harus menerima bantuan dari gelombang suara yang asal-usul dan wujud sumbernya belum jelas.


"Apa semua fungsinya juga ikut tergabung? Jika tidak ada perubahan negatif, aku siap menerima bantuan penggabungan."


Suasana pun hening dan seseorang itu tidak menjawab pertanyaan Adrine.


'Kenapa dia tidak menjawab? ... Eh?' Pikir Adrine.


Tiba-tiba saja ketiga mata jiwa Adrine terbuka secara otomatis dan bersamaan, mata kanannya yang berwarna merah memunculkan cahaya merah, mata kirinya yang berwarna ungu juga memunculkan cahaya ungu, begitupun dengan mata tengahnya yang berwarna emas.


"AAAARRGHHHHH!!!"


Selain itu, Adrine merasakan kesakitan yang luar biasa pada ketiga matanya, seolah matanya seperti dicongkel dan sangat berat layaknya orang mengantuk, namun matanya tak bisa tertutup. Semua otot syarafnya terlihat dengan sangat jelas yang memperlihatkan jika mata Adrine sedang bereaksi akan sesuatu yang sangat menyakitkan.


Senior Yota melihat sesuatu terjadi pada Adrine, ia membaringkan tubuh Adrine di atas tanah. Fisik aslinya itu yang berada di luar, ketiga matanya pun juga terbuka, namun tidak terdapat bola mata di balik kelopak matanya, hanya terdapat cahaya yang terpancar sama di dalam alam bawah sadar. Lagi-lagi senior Yota bingung dan sekarang ia tak tahu apa yang harus dilakukannya.


Di dalam alam bawah sadar, pancaran cahaya di mata Adrine berubah menjadi kabut energi yang melayang dan saling mengitari layaknya awan badai. Ketiga energi tersebut membentuk gumpalan hitam pekat dengan debu kosmis yang bercahaya dan berwarna-warni. Cahayanya terus memancar sampai redup dan menghilang, begitupun kabut energinya juga menghilang. Ketiga kabut energi tersebut membentuk bola hitam pekat yang seukuran bola mata dengan berbagai debu kosmik di dalamnya, seolah di dalam bola tersebut terdapat alam semesta, juga terlihat galaksi di dalam bola tersebut.


Kemudia bole hitam tersebut melebur dan membentuk kabut energi yang merasuk ke dalam mata tengah Adrine, selain itu ketiga mata lainnya mulai melebur dan menghilang. Di fisik aslinya, cahaya yang memancar di matanya juga mulai meredup, namun cahaya mata tengah Adrine berubah dari emas ke hitam.


Pancarannya mulai meredup dan ketiga matanya mulai menutup. Di dalam alam bawah sadar, Adrine sudah tak lagi merasakan rasa sakit pada ketiga matanya, namun mata tengahnya masih aktif. Bola hitam tadi telah menggantikan bola mata emas Adrine, kini mata hitam dengan corak semesta itu telah menjadi mata jiwa Adrine yang sesungguhnya.


"Huh ... Huuuh ... Apa itu tadi?"


Adrine terus menghela nafas lega karena telah tercerabut dari rasa sakitnya tadi.


"•Selamat, kau telah membangkitkan mata Hitam Semesta Ketiadaan Kuno sepenuhnya. Selain itu, Tremendous Absorption yang kau miliki itu berasal dari mata itu, karena sudah benar-benar disatukan menjadi mata Hitam Semesta Ketiadaan Kuno.•"


Adrine menjadi geram karena terus menerus ada hal yang ia tak mengerti, ia tak suka penasaran yang terlalu tinggi, namun jika ia membutuhkan tetap akan pemasaran. Karena itulah Adrine membenci penasaran dan tak suka terlalu mengetahui rasa penasaran, walaupun begit Adrine adalah tipe orang yang selalu penasaran dan membenci perasaan tersebut.


"Apa lagi ini? Kenapa ada pembicaraan yang tak mengerti lagi? Apa itu Tremendous Absorption?"


"•Mustahil bagimu dirasuki oleh iblis dan keracunan, karena Tremendous Absorption adalah penyerap yang begitu dahsyat di dalam tubuhmu. Tapi kau bisa memanfaatkan apa yang telah diserap oleh Tremendous Absorption yang ada di dalam matamu itu. Oh iya, sekarang adalah waktunya hadiah dan kau hanya bisa mengambil 1 teknik.•"


Tiba-tiba saja muncul berbagai kitab dan gulungan kertas yang berisikan teknik berterbangan di mana-mana. Adrine sempat mengambil 1 yang ada di depannya, namun tangannya tersambar listrik dengan tegangan yang begitu tinggi.


"A ... Apa itu?"


"•Haha ... Listrik Ungu Sejuta Arus adalah teknik tingkat Semesta peringkat 4, tidak semudah itu bro ... Semuanya tidak ada yang lebih rendah dari tingkat Semesta peringkat 4•"


Adrine kembali berpikir ulang.


'Apa berarti ada yang berada di tingkat Misteri?' Pikir Adrine.


"•Berharaplah kalau kau menemukan teknik tingkat Misteri di antara kumpulan teknik tingkat Semesta itu.•"


Adrine menatap ke atas dan melihat begitu banyaknya gulungan dan kitab teknik yang berterbangan, begitu juga di samping kanan, kiri, depan, belakang, dan juga di bawahnya.


'Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tapi tak apa-apa, teknik tingkat Misteri memang seharusnya diperjuangkan, aku harus mencobanya selagi bisa.' Pikir Adrine.


Tatapan mata Adrine langsung menjadi begitu tajam di setiap memandang.


"•Oh iya, aku lupa menyampaikan jika kau hanya punya waktu 3 jam untuk mencarinya.•"


Adrine sungguh terkejut mendengarnya.


"Apa? Secepat itu? Kenapa baru sekarang kau memberitahu tentang itu padaku?"


"•Haha ... Jangan sia-siakan waktumu itu dan cepatlah mencari selagi masih ada waktu, cepatlah!•"


Kemudian Adrine mencari dengan rasa kesal.


'Cih, mirip sekali dengan Shin kecil.' Pikir Adrine.


"•Apa kau baru saja menyebut nama tuan Shin Rhei?•"


Bersambung!!