Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Altar Sembilan Warna Api Spiritual (10)


SETELAH 4 BULAN BERLALU


Sekali lagi dan terus menerus berlanjut, fluktuasi energi lagi-lagi terjadi. Tetapi kali ini Adrine menciptakan fluktuasi energi yang cukup berbeda. Yang sebelumnya adalah roh ungu yang melayang-layang, tapi kalau sekarang adalah seperti menciptakan sebuah kotak pelindung merah transparan yang sangat besar dan unik.


"Apa ini?"


Shin kecil sendiri juga kurang mengerti tentang hal yang sedang terjadi sekarang. Tetapi hal tersebut cukup menarik baginya, seperti bukan biasanya.


"Semoga bukan hal buruk."


Shin kecil berharap kalau pelindung tersebut bukan merupakan hal yang buruk baginya maupun Adrine.


Setelah berfluktuasi hingga hampir 10 menit, fluktuasi energi pun telah selesai. Adrine membuka matanya dan telah sadarkan diri secara penuh. Didepannya terlihat Shin kecil sedang melayang dan menuju kearahnya.


"Apa itu tadi?"


Lantas Shin kecil langsung bertanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Adrine sendiri sebenarnya juga kurang tahu.


"Oh iya, kau dapat apa?"


"Aku mendapatkan artifak, namanya Gembok Merah Api Pengunci Ruang Waktu."


"Eh?"


Shin kecil seperti tahu tentang Gembok Merah Api Pengunci Ruang Waktu. Ekspresinya seperti menunjukkan kalau ia mengenali tentang artifak yang baru didapat oleh Adrine.


"Apa kau tahu sesuatu?"


"Bukan apa-apa, hanya saja... Aaahh, lupakan saja!"


"Oh... Okelah."


Shin kecil seperti sedang ada yang dipikirkan. Mungkin berhubungan dengan Gembok Merah Api Pengunci Ruang Waktu. Tetapi Adrine tak terlalu memperdulikan hal tersebut.


"Ini adalah artifak tingkat Murni. Kekuatannya bisa kau gunakan sebagai pelindung."


"Ya, aku tahu itu. Tapi pada gembok ini ada 3 tahapan, Penjara Simbol, Penjara Ruang, dan Pengunci Waktu, apa maksudnya?"


"Aku sedikit kurang tahu. Kau cari tahu saja sendiri, gabungkan saja gembok itu dengan Pedang Api Hitam Ashura. Kau mungkin akan mendapatkan teknik atau skill baru."


"Hehe, benar juga kau ini. Tunggu sebentar..."


Lalu Adrine mengaktifkan mata jiwa kirinya untuk mengeluarkan kitab emasnya yang tak bernama.


"Tunggu dulu, aku belum memberi nama kepada kitab ini. Bagaimana kalau kuberi nama... Kitab Emas Tanpa Nama."


"Oke juga nama yang kau berikan, tapi... Kitabmu yang satunya, bagaimana?"


"Itu nanti saja. Yang terpenting sekarang adalah ini..."


Lalu lembaran dari Kitab Emas Tanpa Nama mulai terbuka dan terbiak-biak dengan sendirinya. Kitab tersebut bercahaya terang dan energi pada kitabnya mulai menghisap Gembok Merah Api Pengunci Ruang Waktu. Adrine memunculkan Pedang Api Hitam Ashura. Kitab Emas Tanpa Nama mulai menyalurkan energinya kedalam Pedang Api Hitam Ashura. Pedang tersebut ikut bercahaya setelah energinya tersalurkan.


Berselang beberapa waktu, Kitab Emas Tanpa Nama memancarkan sejumlah cahaya dan energi yang cukup besar. Gejolaknya cukup hebat dan menyebabkan terjadinya fluktuasi yang hampir sama dengan fluktuasi energi pada Adrine. Hanya saja fluktuasinya tak sebesar disaat Adrine berlatih di Altar Sembilan Warna Api Spiritual. Perbandingannya sekitar 1 : 50, perbedaan fluktuasinya masih cukup jauh dibandingkan dengan apa yang dirasakan oleh Adrine.


Proses tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan 10 menit pun telah berlalu, tetapi Adrine masih belum selesai dalam penggabungannya.


"Aku juga tak tahu. Mungkin semakin tinggi tingkatannya, akan semakin lama juga proses penggabungannya. Aku tak yakin."


Adrine dan Shin kecil masih terus memperhatikan proses penggabungannya. Mereka berdua masih menunggu dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Mereka tak berharap hasilnya tak memuaskan ataupun membahayakan.


DEG!!


"Eh?"


Sebuah pemikiran yang bagus tiba-tiba muncul pada otak Adrine. Entah darimana itu berasal, namun hanya dengan itu mungkin adalah cara tercepatnya daripada harus menunggu lebih lama lagi.


"Ada apa Adrine?"


"Aku punya pemikiran yang bagus."


"Apa itu?"


"Bagaimana kalau proses ini kubantu dengan kultivasiku di Altar Sembilan Warna Api Spiritual? Mungkin prosesnya akan lebih cepat."


"Ah iya, kau benar juga."


Pemikiran tersebut cukup logis apalagi kalau artifaknya dikultivasikan juga akan semakin kokoh pula kekuatannya. Dan ditempat tersebut, mungkin juga akan dapat lebih mempercepat lagi.


Lalu Adrine melompat dan membawa ketiga artifak tersebut kebawah. ia mengumpulkan semua energi dan panas yang ada untuk mengkultivasi proses penggabungan antara Pedang Api Hitam Ashura dan Gembok Merah Api Pengunci Ruang Waktu.


"Tak kusangka, kalau bocah ini pintar juga. Hmm... Baguslah."


Adrine memulai kultivasinya. Api yang ada disekitar mulai merespon energi yang sedang dikultivasikannya. Gejolak pada magma mulai meningkat.


Tetapi Adrine tidak memasuki alam bawah sadarnya. Altar Sembilan Warna Api Spiritual seperti tahu kalau Adrine bukan sedang berkultivasi pada dirinya sendiri, melainkan sedang mengkultivasikan proses penggabungan artifak.


Entah kenapa dan apa yang sedang terjadi, ketujuh api yang sudah Adrine munculkan seperti aktif. Ketujuh api tersebut seperti memancarkan energi yang cukup kuat dan memiliki kesadaran tersendiri untuk membantu kultivasi yang sedang Adrine lakukan.


7 api tersebut berkobar lebih kuat lagi dan sepertinya terus meningkat. Mulai dari api jingga hingga api merah berkobar dan membentuk pancaran api dan mengitari Adrine. Pancaran apinya mulai terpusat pada satu titik yang dimana itu adalah Kitab Emas Tanpa Nama.


Kitab Emas Tanpa Nama mengkonversi api dan mengubahnya menjadi energi yang sangat murni sehingga dapat diserap oleh Pedang Api Hitam Ashura.


Sementara itu, Adrine masih berkultivasi dan mengerahkan beberapa kekuatannya agar semakin dapat mempercepat proses penggabungannya.


"Ternyata bocah ini sangat jenius. Punya 3 mata jiwa, memiliki artifak yang sangat unik dan spesial, mempunyai keberuntungan yang hebat, dan memiliki tekad yang kuat, benar-benar pantas untuk mendapatkan USC dariku. Tapi sayang..."


Shin kecil seperti sedang menyimpan sesuatu rahasia yang ia sembunyikan dari Adrine. Tetapi dengan adanya Adrine yang menurutnya jenius ini, Shin kecil tak menganggapnya apa yang ia sembunyikan itu akan berakhir buruk pada Adrine nantinya.


'Mungkin... Justru Adrine kemungkinan besar akan berjuang lebih jauh lagi agar semua hal ini tidak membuatnya menjadi lebih buruk di masa depan.'


Shin kecil menaruh harapan besar pada Adrine nantinya. Ia berharap agar Adrine dapat berhasil walaupun apa yang akan terjadi di masa depan, apapun itu.


Tetapi Adrine juga masih berjuang keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Kekuatan, kemampuan, bahkan ambisi, ia ingin segera mendapatkan semua itu dan melampaui batas kekuatannya sendiri. Ia tak memandang apapun yang akan menghalanginya.


"Sekaranglah waktunya, HIYAAAH!!"


BLAAM!!