
Semuanya terkejut melihat Adrine benar-benar mempunyai bukti bahwa ia telah mengalahkan Fire demon of death. Adrine mengajak yang lainnya untuk mencari point lagi.
"Tenang saja. Aku sudah punya cukup banyak point untuk lolos pada ujian pertama ini."
Lalu Senior David menunjukkan point miliknya yang lumayan banyak.
"Bagaimana denganmu Etern?"
"Kalau aku punya 1100 point saja. Itu sudah cukup untuk lolos."
Etern juga menunjukkan point miliknya.
"Dan kau Arpha?"
"Kukira kau tak peduli denganku."
"Aku tak akan lupa denganmu. Lalu, bagaimana dengan point milikmu?"
"Aku punya 1250 point lebih. Itu sudah cukup bagiku. Lagipula, energiku sudah banyak terkuras."
"Baguslah."
'Melihat dari wajah mereka, pasti tak ada yang menyadari keberadaan Shin kecil.'
Adrine menghembuskan nafas lega. Ia berpikir bagaimana caranya untuk menjelaskan terntang Leluhur Shin.
"Oh ya, kenapa kalian menungguku disini? Kenapa kalian tidak mencari point tambahan lagi?"
"Tadinya aku dan Senior David pergi untuk mencari point tambahan. Tapi setelah cukup, kami menunggumu disini."
"Lalu, bagaimana denganmu Arpha?"
"Aku tadi sedikit tak memperdulikanmu. Tapi setelah aku punya point yang cukup, entah kenapa aku penasaran dengan apa yang tadi terjadi di wilayah stormzone."
"Kau menungguku?"
"Begitulah. Tapi aku hanya ingin memastikan saja, apa benar itu kau atau tidak."
"Jadi begitu."
Lalu Adrine mengajak mereka untuk berkeliling mencari tambahan point lagi sekagi masih ada waktu 1 jam. Ditengah perjalanan, mereka berempat berbincang-bincang membicarakan tentang pertarungan Adrine dengan Fire demon of death.
"Begitulah... Tapi aku langsung jatuh pingsan sesaat setelah mengalahkan iblis api itu."
"Berapa lama?"
"Sekitar 2 jam."
"Kalau point milikmu sekarang berapa?"
"Aku agak sedikit lupa. Aku belum memeriksanya sejak sebelum mengalahkan iblis api. Ciba kita lihat."
Lalu Adrine membuka data point miliknya. Semua terkejut mendapati point milik Adrine lebih dari 2000 point. Adrine sendiri bahkan terkejut, padahal sebelumnya ia sedikit tak memperdulikan tentang yang namanya point.
"Point dari Fire demon of death itu, kau dapat berapa dari iblis api itu?"
Lalu Adrine dan lainnya mendapati hewan spirit tingkat raja peringkat 2. Adrine membiarkan mereka bertiga untuk berebut point. Adrine hanya melihat dan menunggu dari belakang.
'Hewan selemah ini, apa tak terlalu lama untuk mengalahkannya? Bertiga pula.' Pikir Adrine.
Dengan sombong, Adrine mengolok-olok teman-temannya didalam hati. Tapi setelah itu, yang berhasil mendapatkan pointnya adalah Etern.
"Apa kau tak apa-apa Adrine tak mencari point? Sekarang kau peringkat 3 lho."
"Ya. Dan kau juga bisa naik ke peringkat 1 dengan kekuatan dari pasukanmu itu."
Adrine berpikir lagu. Dalam pikiran Adrine, ia berpikir ada benarnya juga saran dari temannya. Tapi sekarang ini bukan untuk point lagi, yang lolos adalah yang menang.
"Aku tak mau mengambil resiko. Sekali aku kalah, aku harus mengulang untuk mendapatkan point."
"Kau benar."
Lalu Adrine merasakan sesuatu dengan jumlah yang banyak datang kearahnya dengan jarak sekitar 400 meter menurut insting dari point sense miliknya.
"Ssstt, kalian semua diamlah!"
"Ada apa Adrine?"
Semuanya menjadi penasaran, mengapa Adrine menyuruh mereka untuk diam.
"Ada orang banyak dengan jarak sekitar 400 meter sedang menuju kemari."
"Berapa jumlah mereka?"
"Aku tak pasti. Kalau tidak salah, ada sekitar 10 hingga 12 orang."
"Pasti ada yang melaporkan kalau kau, orang yang masuk kedalam wilayah stormzone telah kembali ke wilayah whitezone."
"Ya. Mungkin mereka menginginkan point yang banyak darimu Adrine."
"Aku tahu itu. Inilah resiko yang telah kupikirkan sejak aku berjalan kembali kesini."
Lalu semuanya memikirkan cara untuk menyembunyikan diri mereka. Sebenarnya Adrine ingin merebut point mereka, tapi Adrine juga kasihan kalau mereka tidak lolos ujian.
"Aku punya ide."
"Apa itu? Katakanlah Adrine! Katakanlah!"
Semuanya menjadi tak sabaran ingin mendengar ide dari Adrine.
"Tapi aku tak yakin kalian akan setuju dengan ideku."
"Bicaralah dulu, kami akan dengarkan idemu."
"Baiklah. Dengarkan ideku."
Lalu Adrine menyuruh untuk semua temannya mendekat dan membisikkan idenya.
"Apa? Itu mungkin akan berbahaya bagi kami!!"