
Adrine tak banyak tahu tentang burung yang ada didepannya, padahal namanya adalah Kreasi Phoenix Biru, berarti yang ada didepannya adalah seekor burung Phoenix. Namun Adrine tidak tahu-menahu tentang bagaimana bentuk dan wujud dari seekor burung Phoenix.
Setelah gulungan kertas itu memancarkan seluruh api biru yang ada, sekarang bentuk akan burung Phoenix itu sangatlah detail. Dan Adrine sudah menyadari kalau burung itu adalah burung Phoenix, dengan hanya mengingat nama dari tekniknya. Ukuran dari burungnya hampir sebesar tubuh Adrine, kira-kira besar dari burung Phoenix itu adalah 80% besar dari tubuh Adrine.
Suhu yang ada disekitar juga sudah tak lagi naik, namun masih belum juga turun. Namun dilantai atas dan bawah suhunya sudah mulai menurun karena sudah tak ada lagi kenaikan suhu.
Burung Phoenix itu bergerak dan seperti mengepakkan sayapnya, Adrine sedikit terkejut melihat hal tersebut.
'Tak kusangka burungnya hidup.' Pikir Adrine.
Burung biru yang ada diatas Adrine kini tengah terbang dan berputar-putar. Adrine masih terus memperhatikan burung tersebut agar tidak menyerang orang lain.
Tiba-tiba saja burung itu terbang lebih cepat, Adrine sedikit terkejut ketika melihatnya. Ia khawatir kalau burung itu akan berbuat macam-macam. Tapi gerakan burung itu seakan semakin lama semakin mendekatinya. Dan kini Adrine malah cemas akan dirinya sendiri.
Dan benar, burung Phoenix itu menabrak tubuh Adrine dan kini tubuh Adrine malah terbakar seperti apa yang terjadi pada tangannya tadi. Adrine cukup panik karena tubuhnya yang terbakar, namun masih menahan diri agar tidak membuat keributan.
Suhu yang ada disekitar sudah mulai turun semenjak burung Phoenix tersebut membakar tubuh Adrine. Dan kini Adrine malah semakin kesulitan, kepanasan akibat tubuhnya yang terbakar sambil menjaga ketenangan agar tidak ada orang lain yang melihatnya.
'Sialan! Kenapa burung itu malah membakar tubuhku? Errghh!!' Pikir Adrine.
Adrine merasa sangat kesakitan dan kepanasan, seolah tubuhnya sedang dicelupkan kedalam lembah yang berisikan magma dan lava yang sangat panas. Tubuhnya memerah dan tulang-tulangnya menjadi sepanas air yang mendidih, Adrine hampir tidak kuasa lagi menahan kesakitan yang dialaminya dan ia sudah akan tak sadarkan dirinya.
Namun Adrine masih terus bersikeras terhadap pendiriannya agar tidak tumbang hanya dalam panas yang seperti itu saja. Bukan semakin panik ketika menghadapi keadaan, namun Adrine malah semakin tenang dalam menghadapi panas yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Adrine memfokuskan energinya terhadap api yang ada ditubuhnya, dan ketika ia mulai menstabilkan energinya api yang menyelimuti tubuhnya mulai bergerak menuju pada arah dadanya, tepatnya pada jantungnya.
Beberapa saat kemudian, semua apinya sudah tak ada lagi, mengalir pada dada yang tepatnya pada bagian jantung. Karena Adrine merasa ada yang aneh, jadi ia membuka bajunya untuk memeriksa apakah memang semua api biru tadi terhisap oleh jantungnya. Baju Adrine tidak terbakar karena pada dasarnya api tadi hanya menyerang fisiknya saja, tidak pada pakaiannya.
Ketika Adrine membuka bajunya, ia melihat ada api yang membentuk simbol yang berupa burung Phoenix yang membentuk lingkaran dan ditengahnya seperti membentuk sebuah simbol api didadanya. Lalu apinya menghilang dan membentuk sebuah tato didada Adrine dan simbol apinya berwarna biru, serta burung Phoenixnya berwarna hitam.
'Apa-apaan ini? Kenapa aku bisa punya tato?' Pikir Adrine.
Adrine sedikit terkejut melihat ada tato didadanya, ia merasa tak nyaman akan tato tersebut. Adrine mencoba mengusap tato tersebut agar bisa hilang, namun hal yang sebaliknya terjadi, tangannya malah terbakar ketika mengusap tatonya. Tapi Adrine menyadari sesuatu disaat memeriksa tangannya yang terbakar.
Tangan Adrine yang tadinya gosong dan melepuh karena sebelumnya terbakar, kini telah pulih dengan sangat cepat hingga tak berbekas sama sekali. Tangannya telah beregenerasi dan pulih seperti sedia kala.
"Wow... Bagaimana bisa? Bukankah regenerasi yang sebelumnya tidak secepat ini?"
Adrine mengusap tangannya sambil berbisik dengan ekspresi yang senang. Namun dengan sekejap Adrine sudah mengalihkan hal tersebut, ia langsung terfokus akan berkultivasi. Adrine seperti orang yang tergila-gila akan latihan dan kultivasi.
Sama seperti sebelumnya, Adrine masih bisa berlatih ketika dirinya sedang berkultivasi. Dan ternyata Adrine memilih berkultivasi karena agar ia bisa melatih teknik Kreasi Phoenix Biru sambil menguatkan dirinya.
Disaat Adrine ingin melatih teknik tersebut, ternyata ia tidak bisa melakukannya. Itu karena Adrine tidak bisa langsung melatih teknik tersebut secara langsung dan harus secara bertahap.
Teknik tersebut dibagi menjadi 3 tahap, yaitu regenerasi, kreasi, dan hidup. Regenerasi sudah dikuasai oleh Adrine dan orang lain pun juga bisa melakukan hal yang sama, berarti kini Adrine harus melatih tahap kedua, yakni kreasi, yaitu membentuk api menjadi seekor burung Phoenix dan bisa digunakan untuk menyerang. Dan untuk pada tahap hidup, Adrine bisa membuat burung Phoenix itu seperti seolah adalah burung peliharaan yang bisa bertengger dipundaknya dan bisa terbang atau hidup sesuka hati penggunanya.
Namun kini Adrine diharuskan untuk melatih pada tahap kreasi agar nanti bisa melatih pada tahap hidup dan menyempurnakannya. Adrine berlatih untuk menggunakan api biru yang dimana sumbernya dari tato pada dadanya. Dan ketika ia ingin menggunakan api biru dari teknik Kreasi Phoenix Biru, tatonya akan bereaksi seperti bercahaya biru.
Adrine sedang melatih agar bisa menggunakan energi api biru sebanyak mungkin agar bisa membentuk burung Phoenix seperti tadi hingga sedetail mungkin. Dan pada tahap hidup itu bukan seperti tahap kreasi yang dimana harus menggunakan energi api biru sebanyak-banyaknya, yakni harus bisa membuat api tersebut bertahan selama mungkin hingga seperti burung Phoenix yang sesungguhnya.
Adrine terus saja melakukan hal yang sama dan berulangkali memaksakan energinya agar bisa menambah intensitas api birunya, namun usahanya masih tak ada hasilnya, api biru yang diciptakan oleh Adrine sama sekali tak bertambah intensitasnya. Suhu yang ada masih tetap sama dan tidak bertambah maupun berkurang.
"Teknik macam ini memang sedikit membuatku kesal. Tapi aku harus berusaha agar bisa menjadi kuat."
Adrine masih membuat motivasi yang sama, yakni agar dirinya bisa menjadi lebih kuat. Jika orang ada orang yang terus ada didekatnya, orang itu akan terbiasa dengan kalimat tersebut dan lama-lama bisa menjadi pusing karena Adrine terus saja mengatakan kalimat tersebut.
Memang tujuan Adrine adalah untuk menjadi kuat, agar kejadian seperti 2 tahun tidak akan pernah terulang lagi.
Intensitas api biru yang sudah mampu untuk diciptakan Adrine hanya sebesar seperempat dari kepalan tangan saja. Ia bukan orang yang pantang menyerah, bahkan jika harus melakukannya sampai bertahun-tahun pun akan tetap dilakukannya.
Adrine telah berlatih teknik Kreasi Phoenix Biru hingga lebih dari 2 jam, namun perkembangannya hampir tak bisa dilihat oleh mata telanjang. Api biru yang mampu diciptakan oleh Adrine hanya meningkat sepersepuluh dari intensitas yang sebelumnya. Walaupun sepertinya hanya sedikit, namun tetap itu adalah perkembangan. Memang tidak bisa dilihat secara langsung, namun tak ada salahnya walaupun hanya mengembangkan sebesar itu saja.
"Tak kusangka kalau teknik ini cukup sulit untuk dilatih. Bahkan dalam waktu lebih dari 2 jam saja aku tidak bisa melihat perkembangannya. Apa ada yang salah?"
Walaupun terlihat sedang marah dan tegang, namun Adrine tetap berusaha dan pantang untuk menyerah. Baginya perkembangan yang sedikit dalam waktu yang singkat itu cukup bagus daripada tak ada perkembangannya sama sekali dan menyerah begitu saja. Tak ada kata menyerah bagi Adrine selama waktu masih terus berjalan.
Tato yang ada didada Adrine terus menyala karena ia tidak pernah berhenti. Berusaha untuk menciptakan api biru, dalam waktu 3 detik saja api tersebut telah lenyap ditelan bumi. Memang sulit jika apinya hanya bertahan sesingkat itu, maka dari itulah mengapa untuk mengendalikan lama waktu pada penggunaannya ditetapkan pada tahap terakhir, yakni tahap hidup.
Adrine tidak mengganti pelatihan teknik tersebut dengan teknik yang lain, walaupun sempat teringat dengan teknik Tapak Suci Api Hijau Alam, tapi Adrine tetap melatih teknik Kreasi Phoenix Biru tanpa henti. Ia ingin bisa melihat perkembangan dari teknik Kreasi Phoenix Biru sejelas mungkin.
Waktu terus berjalan, Adrine telah berlatih hingga berjam-jam, namun hasilnya masih saja belum bisa dilihat dengan jelas oleh matanya. Hanya meningkat sepersepuluh lagi dari ukuran sebelumnya.
"Aku tak akan berhenti sampai aku bisa menggunakan teknik ini semaksimal mungkin."
Bersambung!!