
"Apa kalian sudah dengar? Katanya, pecundang yang namanya Adrine itu sudah kembali. Apa dia akan memalukan nama Perguruan Bayangan Langit lagi?"
"Apa? Bagaimana reputasi kita sebagai murid dari Perguruan Bayangan Langit? Bisa-bisa kita jadi malu karenanya."
"Benar. Pasti pulang-pulang baru sampai tahap Kehidupan level-1, bukannya itu memalukan?"
"Haha, itu terlalu bagus baginya, mungkin saja sekarang dia mencapai tahapan Badai level-2? Haha, bisa saja itu juga terlalu bagus."
Suara yang menceritakan tentang Adrine telah tersebar kemana-mana. Seperti yang dikatakan oleh Adrine, dari mulut kemulut, berita tentangnya yang terusir telah terdengar sampai keperguruan murid inti utara.
Berita kejelekan tentang Adrine telah menyebar hingga kemana-mana. Bahkan berita itu telah menyebar hingga perguruan lain, tapi masih ada beberapa yang beranggapan baik tentang Adrine.
Hingga berita tersebut terdengar oleh guild terbesar diperguruan murid inti utara, Guild Tangan Raja. Semuanya mengenal tentang keburukan Adrine, bahkan ada yang berkeinginan untuk bertarung dengan Adrine.
Dan orang-orang yang berada didalam Guild Tangan Raja sedang membicarakan tentang Adrine.
"Hahaha, apa ketua mendengarnya? Pecundang yang namanya Adrine itu telah kembali keperguruan ini. Bagaimana menurut ketua?"
Seseorang tiba-tiba memberitahukan tentang Adrine yang telah kembali. Orang itu seperti senang dan gembira dengan kepulangan Adrine.
"Adrine? Pecundang itu? Yang katanya diusir itu? Baguslah! Ketika datang waktunya, aku ingin tahu seperti apa dia. Bagus Rio, ini memang benar-benar berita yang bagus."
Seseorang yang dipanggil ketua itu, memanggil pembawa beritanya, Rio. Dan si ketua itu seperti juga sangat senang dengan kepulangan Adrine.
"Sama-sama ketua Qiandi."
Rio memanggil ketuanya dengan nama Qiandi.
"Baiklah, kau boleh pergi Rio."
Setelah Qiandi memperbolehkan Rio pergi, Rio pun pergi. Tapi Qiandi masih sangat senang dengan berita itu.
"Aku ingin tahu, seperti apa Adrine itu. Saat ujian kelulusan nanti, aku akan bertemu dengannya. Bersiaplah Adrine! Aku tidak akan memberimu ampun karena telah mempermalukan Perguruan Bayangan Langit ini. Lihat saja nanti!"
Qiandi pun duduk dengan santainya dan masih terus memikirkan tentang ia yang menghajar Adrine.
Namun, ditempat Adrine sekarang ini, ia dan teman-temannya sedang berlatih. Adrine berharap kalau ujian kelulusan ini, ia sudah harus mencapai tahap Keberlanjutan. Tapi ia tak berpikiran kalau semua itu bisa terjadi dalam waktu yang singkat.
"Adrine, apa kau tidak mengajak kami ketempat yang dulu biasanya kau berlatih?"
Etern masih teringat tentang ruang kultivasi yang tercipta oleh USC milik Shin kecil. Namun Adrine hanya bersikap normal ketika ditanya tentang hal tersebut.
"Tempat itu tercipta karena sebuah alat, dan secara tak sengaja alat itu hilang ketika aku berada ditempat pengasinganku dulu."
Adrine membohongi teman-temannya agar rahasianya tetap tersimpan dengan rapi. Adrine juga menjawab dengan tenang tanpa pikir-pikir dulu atau ragu-ragu.
"Apa? Mungkin alat itu sudah diambil oleh pihak rasi bintang Telescopium."
Seketika itu, David menyimpulkan bahwa alat yang digunakan itu telah diambil oleh rasi bintang Telescopium. Adrine hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi.
"Mereka itu terlalu jahat. Menurutmu, apa mereka itu bekerja sama dengan Alfian? Atau mungkin Ray?"
Walaupun ketika Arpha menyimpulkan hal tersebut, Adrine hanya menggeleng dan merasa tidak tahu.
"Simpan saja semua itu! Jika ada masanya, aku bisa mengambilnya kembali."
Adrine hanya tak ingin mengungkit semua itu kembali. Adrine ingin berlatih saja dan tidak membahas masa lalu terlebih dahulu.
Etern masih ingat dengan janji Adrine yang apabila sudah sampai rumah, Adrine akan menceritakan tentang kultivasinya selama ini.
"Nah, benar juga itu. Bagaimana dengan kultivasimu Adrine?"
Arpha juga menjadi teringat kalau Adrine tadi telah berjanji untuk menceritakan kultivasinya.
"Ah iya ya, maaf tadi aku lupa."
Adrine sendiri malah juga kembali teringat akan janjinya sendiri yang hampir lupa. Sebenarnya Adrine merasa sedikit gugup untuk menceritakannya. Tapi Adrine terus berusaha untuk menceritakannya demi teman-temannya.
"Baiklah, aku mulai cerita. Disaat aku sampai tempat pengasinganku, aku merasa sangat tidak nyaman disana. Tempat itu sangat panas. Dan disana aku menemukan sebuah tempat yang jauh lebih panas tetapi cocok untuk berkultivasi, bahkan bisa dibilang kalau tempat itu mempercepat proses kultivasi, tapi tempat anti sinyal."
Disaat Adrine menceritakannya, semuanya mendengarnya dengan seksama. Bahkan, tak ada sedikitpun yang bergerak sedikitpun disaat mendengarkannya.
"Selanjutnya, aku terus berkultivasi hingga berkembang pesat ditempat itu, bahkan aku sampai lupa waktu disana. Aku terus melatih kekuatan tubuhku dan mengembangkan teknik baru. Dan disaat akhir waktu disana, aku telah mencapai pencapaian tahap Kematian level-4 kelas akhir."
"APA?? TAHAP KEMATIAN LEVEL-4 KELAS AKHIR??"
Semuanya langsung melompat terkejut mendengar Adrine mengatakan kalau dirinya telah mencapai tahap Kematian level-4. Bahkan Adrine sendiri menjadi terkejut ketika semua orang didepannya melompat dan berteriak terkejut.
"Memangnya kenapa? Kenapa kalian seperti terkejut seperti itu?"
Wajah Adrine sangatlah polos disaat mengatakannya. Adrine benar-benar tak tahu kalau satu kenaikan kelasnya saja sangatlah sulit untuk meraihnya. Dan disaat itu Adrine hanya tahu kalau kecepatan kultivasinya sedikit meningkat.
"Bocah ini pura-pura bodoh atau memang tidak tahu? Tapi wajahnya saja sepolos ini, aku merasa kalau dia ini memang polos."
Shin kecil yang dari kejauhan mendengarkan cerita Adrine merasa kalau Adrine ini memang benar-benar polos dan tidak tahu kenapa teman-temannya terkejut seperti itu.
"Woi!! Adrine!! Dengarkan aku, satu kenaikan kelas saja bisa dihitung hingga satu bulan lebih lamanya, dan kau bilang itu kenapa kami terkejut? Kecepatan macam apa itu? Dalam 2 tahun lebih kau bisa mencapai tahap Kematian level-4 itu terlalu cepat. Pantas saja dirimu itu bisa mengalahkan satu Geng Lima Jenius dengan sangat mudah."
Panjang lebar Arpha menjelaskan kalau 1 level saja bisa diraih dalam berbulan-bulan.
Adrine sendiri juga merasa sadar kalau kecepatan kultivasinya selama ini terlalu cepat. Ia bahkan merasa kalau Altar Sembilan Warna Api Spiritual itu terlalu sangat membantu.
"Bisa dibilang tempat yang kau temukan itu terlalu bagus. Dimana itu?"
David berusaha mencernanya lebih baik lagi, dan Adrine juga merasakan hal tersebut. Adrine sendiri juga tak mau menceritakan kalau tempatnya telah ia hancurkan demi mengambil benda.
"Itu... Oh iya, disaat aku menembus tahap Kematian level-4 kelas akhir, fluktuasi energiku terlalu kuat dan menghancurkan tempat itu secara tak sengaja."
Adrine hampir saja merasa gugup disaat bercerita, dan semua itu hampir membuat cerita Adrine menjadi terasa seperti kebohongan.
"Jadi seperti itu? Lalu, kau ini sudah sampai tahap Keberlanjutan?"
Dan disaat Adrine ditanya oleh Etern, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku yang sekarang ini hanya masih sampai ditahap Kematian level-4 kelas puncak. Dan ya, itu tadi yang kau bilang, tahap Keberlanjutan lah yang kuincar sebelum ujian kelulusan."
Walaupun sepertinya Adrine mengucapkan hal tersebut dengan sangat percaya diri, tapi teman-temannya menunjukkan ekspresi yang seperti tidak bisa percaya untuk keberhasilan dengan impian Adrine tersebut.
"Kenapa wajah kalian seperti itu?"
Adrine merasa aneh dengan ekspresi wajah dari teman-temannya. Semua itu membuat Adrine menjadi kebingungan.
Bersambung!!