Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Dimensi Terakhir


Pertarungan yang ada di dimensi terakhir pun tak dapat dihindarkan, Adrine berusaha agar orang lain tak merebut harta yang berada di sana, namun mereka semua tak tahu bahwa di balik pintu yang berisikan harta karun itu terdapat Killer Skeleton Demon yang telah menunggu mangsanya. Adrine memang telah mengetahui sesosok hewan iblis itu karena dirinya lah yang paling awal masuk ke dimensi ketiga itu, ia bermaksud untuk bersembunyi dan membuat beberapa rencana kecil.


TAP!! TAP!! TAP!!


Langkah kaki terdengar dari arah pintu yang menghubungkan dimensi tengah dengan dimensi akhir, Adrine masih terus menunggu orang itu datang ke sana dan mendapatinya seperti orang yang kesakitan dan kelelahan.


'Apakah ini pertama kalinya aku bersikap licik?' Pikir Adrine.


Adrine mengaktifkan Dead Silent agar orang yang akan datang itu tidak merasakan keberadaannya, dan benar saja, terdapat 5 orang yang lewat dan segera naik ke atas tangga.


Sesampainya orang-orang di depan pintu, mereka membuka pintunya dan langsung mendongak ketika melihat jalanan yang rapi dengan jajaran hewan spirit yang berbaris layaknya pengawal. Namun karena sudah terlanjur membuka pintu, mereka sudah tak bisa kembali dan diharuskan untuk melawan.


'3 orang tahap Nirvana Alam Pertama level-3 dan sisanya di level ke-2,' ujar Adrine dalam hati.


Pengamatannya sangatlah tajam dan intuisinya juga kuat, Adrine mulai tersenyum dengan permulaan masuk para kultivator ke dalam masalah yang membuat mereka tak bisa keluar dari masalah itu sendiri.


"Pertarungan ... Di mulai!" Ujar Adrine berbisik.


Pertarungan pun tak terhindarkan, orang-orang yang masuk itu mulai kalang kabut akan hewan spirit di sana yang mulai menyerang. Adrine juga melihat pintunya mulai tertutup kembali, namun terlihat bahwa yang ada di balik pintu masih baik-baik saja jika Killer Skeleton Demon belum bertindak apa-apa.


TAP!! TAP!! TAP!!


Ada lagi orang yang masuk lagi, Adrine kembali bersembunyi di balik bayangan.


'Eh?'


Adrine terkejut melihat 3 orang yang berjalan di depannya ternyata adalah Liona, Violet, dan Viona, akan tetapi yang Liona terlihat tampak seperti orang yang kelelahan dan kesakitan.


"Kalian ikut masuk juga?" Tanya Adrine yang tiba-tiba muncul, ketiga temannya agak terkejut melihatnya.


"Ah? Kukira kau sudah masuk ke tempat utama, apa di sini ada ilusi yang membuatmu ada di sini terus?" Tanya Viona.


Adrine menggeleng.


"Ada hewan iblis yang berkekuatan di tingkat Jelmaan Iblis di balik pintu di atas sana, kalian lihat pintu di sana!" Ujar Adrine sambil menunjuk ke arah pintu yang ada di atas tangga.


Mereka cukup terkejut mendengarnya dan Adrine kembali menatap Liona.


"Ah iya, Liona, jangan katakan kau tidak menggunakan penangkal petirnya!" Ujar Adrine dengan nada yang tinggi.


Liona hanya terdiam, tubuhnya memang terlihat sangat lemas dikarenakan penanaman tanda petir.


"Kau saja memaksakan diri ketika masuk, apa aku tak boleh?" Tanya Liona pada Adrine.


Adrine hanya bisa terdiam sambil menatap Liona, ia memang memaksakan diri layaknya wanita yang ditegurnya.


"Kalian jangan ikut masuk, biar aku saja yang akan masuk ke dalam sana. Setelah berhasil nanti, kita tinggal bagi saja bagian kita masing-masing," ujar Adrine.


Violet dan Viona ingin membantah ucapan Adrine, namun mereka melihat Adrine yang memasang wajah serius, Liona sendiri juga tak berani membantah.


Kemudian Adrine berbalik dan ia diam-diam menanamkan satu Purgatory Demon yang kekuatannya kecil, segera dia bergegas naik tangga menuju ke pintu yang dibaliknya terdapat puluhan hewan spirit termasuk hewan iblis, Killer Skeleton Demon. Sesampainya di depan pintu, ia membukanya dan melihat para kultivator yang masih bertahan dengan sisa energi mereka.


"HEI BOCAH!! CEPAT BANTU KAMI!!!" Teriak salah seorang kultivator yang berjuang mati-matian dengan perisai besi besarnya.


Adrine tak menunjukkan ekspresi apapun dan hanya berjalan santai ke depan, hal ini jelas membuat orang-orang yang tengah berjuang di depannya menjadi kesal.


"CEPATLAH!!!" Teriak orang itu lagi.


Terdapat beberapa hewan spirit yang mulai menyerang Adrine, mereka berkelompok dalam jumlah belasan dan ada beberapa hewan terbang dengan jenis-jenis yang berbeda.


'Bocah itu ... Inilah akibatnya jika tidak segera bertindak membantu kami, dia sama tak tertolong, pastinya semuanya enggan untuk menolong bocah itu,' pikir seseorang yang membawa perisai besi besar.


Adrine masih saja santai dan hanya berjalan dengan ekspresi datar, dimulai dari para hewan berbulu di depannya yang mulai menyerangnya.


ZRAAAST!!


Adrine melesat dengan sangat cepat dan tangannya dipenuhi oleh aura darah yang sangat korosif, tangannya itu juga memegang pedang biasa yang bukan sejenis artifak yang ia dapatkan sebelumnya dari perguruan untuk berlatih pedang. Hampir kesemuanya terbunuh oleh lesatan Adrine, dan sisanya terluka parah hingga terjatuh di atas tanah. Mereka yang sebelumnya membentak Adrine yang hanya berjalan perlahan nan santai, kini hanya bisa terdiam saja.


"Hei hei, fokus pada lawan kalian, tolol!" Umpat Adrine yang melihat orang-orang di hadapannya malah diam seribu bahasa sambil memelototinya.


Pada saat mereka kembali fokus, mereka justru banyak yang terkena serangan dari hewan spirit karena sempat lengah dalam pertarungan, namun Adrine dengan mudah membereskan lawannya tanpa membutuhkan banyak waktu. Setelah menyelesaikannya pun ia tetap membantu yang lain untuk membereskan hewan spirit yang dirasa paling merepotkan.


***


Dalam kurang dari sepuluh menit, ada lagi satu orang yang datang. Penampilannya terlihat sangat menawan dengan pakaiannya yang putih dengan motif garis-garis berwarna emas yang sangat elegan dan mewah.


"Haha, ternyata sudah dibereskan ya? Yaaah ... Padahal tuan muda ini ingin melihat pertunjukan yang seru, ternyata sudah selesai," ujar pemuda tersebut dengan nada menghina, "apa kalian bisa tambah adegannya lagi?" Tambah pemuda itu.


Beberapa orang yang ada di sana merasa kesal dengan pria yang merasa tinggi itu, ada juga yang tak terlalu menghiraukannya karena Killer Skeleton Demon yang ada di depan mereka jauh lebih penting. Adrine juga sama sekali tidak menghiraukan pria yang ada di belakangnya itu bicara, matanya terus tertuju kepada Killer Skeleton Demon yang duduk di atas singgasana.


"Cih ... Hei kau, kenapa kau mengabaikan aku? Aku ini tuan muda keluarga Rhiki lho ... Namaku Leyan Rhiki, yaaah, kalau begitu buat saja pertunjukan untukku," ujar pria bernama Leyan, ucapannya itu ditujukan kepada Adrine.


"Apa kau sudah selesai mengoceh?" Ujar Adrine tanpa memalingkan wajahnya.


'Bocah ini ... ' Pikir Leyan.


Dia hanya bisa menggertakkan giginya tanpa bisa berkata-kata seperti barusan, sekali ucapan Adrine terlontarkan, seolah mulutnya tersumpal oleh ribuan sampah plastik.


"Berani juga kau bocah," ujar Leyan dengan nada kasar.


"Banyak bicara juga kau, bocah sombong," ujar Adrine balik.


SRIIIING!!


Tiba-tiba saja muncul Adrine di depan Leyan, tangannya dipenuhi energi yang kuat dengan petir yang memancar di matanya. Leyan hanya tersenyum melihatnya yang berusaha memukulnya.


SRIIIING!!


"Kau itu ... Masih kurang cepat!" Ucap Leyan dengan nada halus yang muncul di belakang Adrine.


Dengan cepat Leyan menendang punggung Adrine dengan kekuatan penuh.


SRIIIING!!


Leyan sangatlah terkejut mendengar suara Adrine di belakangnya dan yang ada di depannya hanyalah udara.


'Bocah sialan ini ... Cepat sekali!' Pikir Leyan.


Sudah terlambat untuk mengetahui gerakan Adrine, kerah baju Leyan ditarik dari belakang dan dilemparkan ke langit-langit.


BLAAARR!!


Batu-batuan kecil mulai berjatuhan dan langit-langit goa menjadi retak akibat berbenturan dengan tubuh Leyan.


ZRAAAST!!


Kemudian Leyan melesat ke arah Adrine dengan sangat cepat langsung dari langit-langit goa dan dengan sigap, Adrine menghidari serangan Leyan.


ZRAAAST!!


Leyan melesat lagi dengan pedang emas di tangannya ke arah Adrine, gerakannya lebih cepat dan serangannya terlihat lebih tajam. Leyan memegang pedangnya dengan tangan kanannya.


'Bocah satu ini akan jadi masalah kalau terus kubiarkan,' pikir Leyan.


Sementara itu, Adrine justru berpikir lain tentang Leyan.


'Bocah ini kayaknya dari keluarga kaya, aku akan mengambil semua yang dia miliki di cincin penyimpanannya,' pikir Adrine.


Setelah mendekati Adrine, dengan cepat Leyan mengubah cara memegang pedangnya yang menjadi berlawanan dengan lengannya.


TRIIIING!!


"Kukira kau tak bisa menggunakan pedang, rupanya aku salah, mahir juga kau," ujar Leyan.


Adrine dengan cepat menahannya dengan pedang yang melayang di depan matanya, Leyan tahu bahwa bisa menggunakan pedang tanpa harus menyentuh pedang itu sendiri adalah trik yang cukup sulit, sehingga dia tahu bahwa Adrine bukan pengguna pedang amatiran.


"Oh? Justru kukira kau yang tak bisa menggunakan pedang," ujar Adrine.


TRIIIING!!


Adrine memegang pedangnya dan mengayunkannya denga cepat, Leyan terlempar lagi dan tangannya masih menggenggam erat pedangnya.


"Tak kusangka pedangmu tidak lepas dari genggaman tanganmu, lumayan juga kau," ujar Adrine, ia masih saja berekspresi datar dan dingin seperti biasanya.


'Bocah ini juga kuat, apa dia sudah sampai tahap Nirvana Alam Pertama level ke-3 kelas puncak sepertiku?' Pikir Leyan.


Dia sendiri tak tahu jika Adrine sebenarnya masih berada di tahap Keberlanjutan, namun Leyan hanya memiliki potensi semi tinggi dan kemampuan berpedangnya juga masih bisa dibilang baru saja melebihi amatiran. Adrine bisa menangkis semua serangan dan menangkap serta menebak gerakan Leyan dengan mudah karena menurutnya semua gerakan lawannya itu hampir mirip seperti robot visual di ruang AuRyHl (Augmentasi Reality Hologram 3D). Selain itu, kemampuan yang ditunjukkan oleh Leyan hanyalah rendahan, Adrine tahu kalau Leyan pasti tak pernah melakukan pertarungan sengit sampai pertarungan hidup dan mati.


Ia juga melihat tiga cincin penyimpanan yang ada di jari tangan kanan Leyan.


'Kalau benar begitu, aku tak punya cara lain lagi,' pikir Leyan.


ZRAAAST!!


Leyan melesat melewati Adrine begitu saja dan dia membuat semua orang yang ada di belakang Adrine menjadi sandera.


"Aku tahu kau bukan lawanku, tapi aku takut kau menyimpan dendam dan akan membunuhku. Mereka temanmu bukan? Jangan serang aku kalau kau ingin mereka selamat," ancam Leyan kepada Adrine.


Leyan merasa kalau Adrine adalah salah satu dari kumpulan orang yang disanderanya, jadi dia memutuskan untuk mengancam Adrine agar nyawanya terselamatkan.


"Kau salah, aku lah yang pertama di sini, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka, aku bersembunyi sebelumnya karena ingin melihat bagaimana reaksi Killer Skeleton Demon, tapi seperti yang kau lihat, hasilnya nihil, dia tidak melakukan apa selain menonton saja," ujar Adrine.


'Bocah ini bicara seolah-olah apa yang dikatakannya itu benar, tapi kenapa aku merasakan hawa pembunuh yang begitu kuat?' Pikir Leyan.


WUUUSH!!


Adrine melayangkan pedangnya dan menancap di langit-langit, muncul Kristal Ungu Laut Dalam yang mulai tumbuh dan menutupi jalan masuk ke Killer Skeleton Demon. Orang-orang yang ada di sana langsung melihat kristalnya tumbuh dan terlihat bingung dengan apa yang dilakukan Adrine.


"A ... Apa yang kau lakukan?" Tanya Leyan.


"Tengkorak yang ada di sana akan menyerang, dia sudah mulai menunjukkan hawa membunuhnya," ujar Adrine.


'Jadi ... Yang barusan itu ... ' Pikir Leyan dan dengan cepat menoleh ke arah dinding kristal yang sudah menutup rapat.


Adrine masih menatap santai ke arah Leyan, sementara orang yang ditatapnya justru malah antusias dan waspada akan Killer Skeleton Demon di belakangnya.


"Tenang saja, dinding yang kubuat itu dari Kristal Ungu Laut Dalam dan berlapis-lapis, dia tak bisa seenaknya menembus dinding yang kubuat," ujar Adrine dengan santainya.


ZRAAAST!!


Leyan menoleh dengan cepat seketika mendengar langkah cepat.


"TUNGGU!!!" Teriak Leyan.


Adrine berhenti tepat di depan mata Leyan, tangannya terhenti untuk menghunuskan pedangnya ke kepala Leyan. Orang yang disandera oleh Leyan terlepas dengan sendirinya karena tangan Leyan bergemetar hebat, itu disebabkan rasa takutnya dan aura membunuh yang sangat kuat dari Adrine.


"A ... Ampuni aku ... Akan kuberikan semua yang kau mau, tapi ... Kumohon ampuni aku ... " Pinta Leyan yang terjatuh karena saking takutnya.


"Syukurlah kau sudah sadar, tapi sekarang bukan waktunya meminta maaf," ujar Adrine.


Leyan merasa senang karena Adrine terlihat sudah memaafkannya.


CRAAASSHT!!


"Ka ... Kau ... "


Perut Leyan tertusuk oleh kristal di belakangnya dan tubuhnya perlahan mulai mengkristal.


"Tapi sekarang waktunya untuk membunuhmu!" Ucap Adrine dengan penuh kengerian.


Leyan terbunuh di tempat dan orang lain yang menyaksikannya tertegun atas aksi yang dilakukan oleh Adrine.


"Setinggi apapun posisinya, tidak boleh merendahkan orang lain, apalagi sampai menghina dan membuat orang lain menjadi bonekanya," ujar Adrine.


Bersambung!!