Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Kompetisi Membuat Pil


Menara Beku Kuno adalah salah satu dari menara spiritual seperti Menara Aliran Bayangan yang ada di Perguruan Bayangan Kilat. Perbedaannya adalah pada elemental pada menara spiritualnya.


Sama seperti Menara Aliran Bayangan, Menara Beku Kuno memiliki sembilan lantai. Mempunyai plakat yang menentukan tempat di mana kau akan berkultivasi, dan juga begitu cocok dengan fisik yang dimiliki oleh Liona.


Mengantarnya ke tempat ini juga adalah hal yang tepat karena Liona segera mencapai tahap Penciptaan. Dengan menggunakan energi bawaan yang disediakan oleh menara spiritual, wanita itu akan dengan cepat menembus. Apalagi ia memang sudah menyerap inti jiwa hewan spirit dan telah menyelesaikan Ujian Nirvana.


Keuntungan lain yang di dapat adalah terdapat seseorang di tingkat Kesempurnaan yang menjaga perjalanan Adrine dan kawan-kawannya.


Di sana Adrine hanya untuk mengantar Liona saja, karena ia ingin kembali berlatih menyuling pil.


"Kuantar sampai di sini saja, sampai jumpa."


Liona mengangguk dan melambai ke arah Adrine yang pergi meninggalkannya.


Kemudian pria yang baru saja mengantar wanita berpenutup mulut itu memeriksa kembali kapan kompetisi itu dimulai.


"Rupanya malam ini ya?" gumamnya.


Setelah itu, Adrine bergegas kembali ke apartemennya.


BUGH!!


Secara tidak disengaja ada seseorang berjubah yang menyenggol Adrine. Seseorang itu wajahnya tertutup oleh tudung jubahnya dan ia segera meminta maaf kepada pria yang disenggolnya.


"Saya minta maaf," ucap orang itu.


'Seorang wanita?' batin Adrine.


"Ah, tak apa-apa. Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya balik.


Sosok misterius itu mengangguk dan segera pergi dari sana. Arahnya menuju ke arena pertandingan namun Adeine tidak memperhatikannya.


Sosok berjubah itu rupanya adalah seorang wanita dan entah siapa dirinya.


Sesampainya Adrine di apartemennya, ia segera melatih kembali kemampuan menyuling pilnya. Viona dan Violet sempat menanyai di manakah Liona berada dan Adrine menjawabnya dengan terus terang.


"Hmm, setelah bisa membuat Pil Peningkat Nafsu Makan, sekarang aku harus bisa membuat pil yang lebih bagus lagi," katanya ketika sampai di ruangan pribadinya.


Kemudian Adrine mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menyuling pil. Rencananya ia ingin membuat pil tingkat dasar, Pil Kantuk. Seperti namanya, itu adalah obat tidur dan Adrine memang berencana untuk banyak-banyak membuat pil yang dapat melumpuhkan lawan ketimbang menyokong diri sendiri.


Setelah semua bahannya terkumpul, Adrine mempersiapkan tungku dan api yang ia gunakan dalam penyulingan.


Kini Adrine melatih kembali semua yang harus dilakukan di dalan penyulingan pil.


***


Beberapa jam kemudian, Adrine pergi ke tempat kompetisi diadakan. Saat malam, kondisi kota begitu ramai dan dipenuhi oleh cahaya lampu yang membuat kota menjadi begitu hidup.


Adrine agak merasa terkejut dengan suasana seperti itu. Itu karena membuatnya cukup senang dengan kondisi yang tidak terlalu gaduh dan penuh keributan.


Sesampainya di tempat tujuan, Adrine melihat tempat pendaftaran dan langsung melakukan pendaftaran.


"Kau pendaftar baru?" tanya administrator.


Adrine mengangguk dan menjawab, "Ya."


Administrasi itu kemudian mengambil sebuah token batu kristal berwarna biru yang bertuliskan pemula di tengahnya. Pria itu seperti memiliki suasana hati yang buruk dan wajahnya begitu datar.


"Terima kasih," ucap Adrine.


Lalu ia masuk dan segera menuju ke tungku yang telah tersedia. Matanya secara tak sengaja tertuju ke arah sebuah ruangan yang di mana itu adalah tempat dari wanita yang pernah dimaksud oleh pria yang pernah ditanyai oleh Adrine.


'Dia?' batin Adrine. Di sana ia melihat sosok berjubah yang pernah tak sengaja menyenggolnya.


Adrine tak peduli dengan siapa dan mengapa harus wanitu itu yang menentukan, hal yang kini dipikirkannya hanyalah cepat dimulai dan segera selesai. Ia hanya ingin tahu berapa banyak banyak uang yang didapat dari membuat pil di sana.


Peraturan pernah mengatakan bahwa setelah selesai membuat pil, para alkemis dapat menyetorkannya ke aula penjualan untuk ditukarkan menjadi koin plasma tergantung jenis dan kualitas pilnya. Jumlah pil yang boleh dibuat tak terbatas selama waktu yang ditetapkan masih berlangsung. Akan tetapi, pil yang dilombakan hanya boleh satu dan para alkemis juga dibebaskan untuk dapat memilih pilnya masing-masing yang akan dilombakan.


***


TING!!


Waktu untuk membuat pil pun dimulai. Waktu yang diberikan sebanyak 3 jam untuk membuat pil sebanyak mungkin Tempat di sana dipenuhi oleh alkemis dari yang pemula sampai yang seorang ahli.


Mereka yang pemula hanya berusaha mendapatkan yang terbaik untuk menukarkannya menjadi koin plasma dan yang ahli juga yang masih muda bersaing untuk mendapatkan posisi terbaik dan mendapatkan tempat di samping seorang wanita, Fhiora.


WUUUSH!!


Adrine mulai mengeluarkan semua bahannya dan melakukan pembakaran. Ia meleburkan semua bahannya hingga berbentuk butiran.


Di bawah kakinya tercipta sebuah formasi mental, Adrine sengaja menciptakannya agar proses pembuatannya semakin cepat. Formasi mental yanv dibentuknya itu hanyala formasi dasar dan tidak terlalu spesifik, sehingga itu hanyalah sebuah formasi penyokong.


Apa yang dilakukan oleh Adrine ini membuat Fhiora, wanita berjubah itu terkejut dan tertarik dengan kemampuan lelaki yang dilihatnya itu.


'Tak kusangka ada yang bisa melakukan teknik seperti itu, apa dia itu seorang master alkemis?' tanya Fhiora dalam hati.


Kemudian ia bertanya pada seorang lelaki yang bersamanya, "Apa di kota ini ada seorang ahli di usia muda?"


Pria itu menjawab, "Pastinya banyak. Ini adalah salah satu kota obat terbesar di Benua Es, ya walaupun yang ada di sini hanya seperempat dari apa yang ada di keseluruhan kota ini."


Kota Springer adalah kota yang sangat besar, yang berkumpul di satu tempat bersama Adrine ini hanyalah satu dari empat bagian keseluruhan di kota ini. Jadi banyak alkemis berbakat yang masih seumuran dengan Adrine, bahkan mungkin jauh lebih muda dan lebih berbakat.


Pria itu kemudian mendongak dan melihat ke arah Adrine. Matanya menatap begitu tajam dan tertegun di saat itu juga.


"Proses itu ... Dia menggunakan energi mental untuk menahan panasnya api dan menyesuaikan suhunya. Selain itu, formasinya sangat sempurna dengan timing peleburannya ... H-hebat," pujinya.


Lelaki itu bernama Yana. Dia adalah rekan Fhiora, mereka memang mencari murid karena alkemis tingkat empat memang sudah cocok untuk menjadi "Guru Alkemis."


***


TING!!


Waktu penyulingan pun selesai. Adrine berhasil membuat sebanyak lima belas pil tingkat Dasar dan tiga pil tingkat Semi Duniawi.


Adrine juga telah menyerahkan semua pilnya untuk diseleksi dan ia memilih satu pil kualitas terbaiknya untuk diseleksi, pil tingkat Semi Duniawi, Pil Mutiara Petir Langit Bintang Pertama.


Di waktu yang sama, Fhiora dan Yana menyeleksi pil yang dibuat oleh Adrine. Mereka agak kecewa melihat bakatnya dalam membuat, jadi mereka meminta seseorang untuk memanggil Adrine ke tempat mereka ketika seleksi berakhir.


Sementara itu, Adrine berada di ruangan khusus yang dipersiapkan oleh Fhiora dan Yana untuk menunggu berakhirnya seleksi pil. Ia melakukan kultivasi untuk meningkat kekuatannya.


"Ugh, jadi benar di tahap Nirvana Alam Pertama rupanya semengerikan ini?" gumamnya.


Meridiannya bergejolak hebat dan menciptakan rasa sakit dan tidak nyaman yang begitu hebat di di setiap titik meridian di tubuhnya. 'Rasanya begitu mengerikan sampai tubuh seperti hampir meledak,' begitulah menurut Adrine.


Lagipula, ini adalah pertama kalinya ia berkultivasi semenjak berada di tahap Nirvana. Dan juga, Adrine langsung melompat ke kelas akhir. Apa yang dikatakan oleh Liona sebelumnya salah bahwa Adrine berada di kelas menengah, jadi rasa sakitnya meningkat ketika ketika kultivasinya juga meningkat. Semakin tinggi kultivasinya, semakin menyakitkan dan semakin tidak nyaman pula gejolaknya. Serta karena Adrine telah melompat, jadinya ia telah melewati rasa sakit yang seharusnya tidak begitu menyakitkan dan mudah untuk diadaptasikan.


Beberapa jam kemudian, Adrine dipanggil untuk segera menemui Fhiora dan Yana.


Sesampainya di tempat yang telah diarahkan, Adrine melihat tiga orang yang terlihat telah menunggu.


"Hei, kau bocah beraninya membuat kedua guruku menunggu!" seru seseorang berambut merah dengan nada yang menantang.


Adrine menghiraukan sosok itu, tapi ia lebih memperhatikan sosok laki-laki dan perempuan di belakangnya.


"Hei hei, Chrono, kau jangan sembarangan begitu?" ujar sosok lelaki di belakangnya. Kemudian pria yang baru saja marah-marah kepada Adrine seketika tunduk dengan senyuman penuh permintaan maaf, "Maaf," ucapan pada seseorang yang mengingatkannya.


"Kau pasti Yana, orang yang disebutkan di selebaran bukan?" tanya Adrine.


Di selebaran dan beberapa banner memang disebutkan dan juga ditampakkan wajah Yana. Lelaki itu memang sudah dikenal oleh Adrine dan wajar jika Yana tidak terkejut ketika Adrine menyebutkan namanya.


"Benar, namaku Yana, dan yang di sampingku ini adalah Fhiora," ucapnya.


"Aku juga sudah mendengar nama Fhiora dari seseorang, jadi aku juga sudah tahu. Lagipula banyak yang tergila-gila pada gadis bernama Fhiora itu, bukankah kita pernah bertemu? Benar bukan Fhiora?" tanya Adrine.


Muncul niat pembunuh yang begitu pekat dan memenuhi ruangan tersebut, "Hei kau! Beraninya kau tidak sopan pada guruku! Dan lagi, beraninya kau menyebut nama kedua guruku secara langsung?!" seru pria yang bernama Chrono itu lagi.


Di penglihatan Adrine, Chrono terlihat seperti anak kecil yang mudah marah dan bandel. Yana dan Fhiora mengingatkannya layaknya sepasang orang tua.


"Guru! Dia tidak sopan padamu, aku hanya memperingatkannya agar sedikit sopan pada kalian berdua, lagipula aku ini kuat," ujar Chrono.


Adrine sedikit tertarik dengan ucapan Chrono barusan. "Kau berkata kalah kau itu kuat? Buktikan sekarang juga!"


ZRAAASH!!


Tanpa basa-basi Chrono langsung melesat ke arah Adrine. Kecepatannya juga sungguh luar biasa.


'Tahap Keberlanjutan level-5 ya?' batin Adrine.


"Haha, kau salah jika hanya menganggap ku berada di tingkat Keabadian!" seru Chrono. Gerakannya semakin cepat dan sihir di tubuhnya juga semakin kuat, Adrine bisa merasakan perubahan yang begitu signifikan di depan matanya. "Itu karena aku ... BERADA DI PUNCAK TAHAP PENCIPTAAN!!!" teriaknya.


Adrine tak menyangka dan begitu terkejut mendengarnya. Dan lagi, sihir yang melapisi Chrono menjadi begitu kuat dan menjadi jauh lebih pekat.


'Dia ... Menyembunyikan kekuatannya yang sebenarnya!'


ZRIIING!!


Dengan kecepatan yang super cepat, dia tiba di depan mata pria yang baru saja dibentaknya. Melancarkan cahaya biru yang sangat halus di tangannya, sihirnya terus menguat hingga titik logis dengan kekuatan puncak tahap Penciptaan.


"Aurora!" ucap Adrine lirih.


Muncul sinar putih yang begitu terang benderang dari belakang punggungnya. Kemudian ia maju seolah waktu berhenti di saat ia berjalan, kekuatannya juga begitu luar biasa dari kehadirannya.


Sosok bersinar itu mengangkat tangan kanannya dan membuka jari-jarinya.


"PUKULAN PENEBAS WAKTU!" teriak Chrone menyebutkan nama teknik serangannya.


BLAAAARR!!


Asap mengepul, debu berterbangan dan berhamburan selepas serangan barusan. Dampak yang begitu mengerikan dari benturan dua kekuatan dahsyat.


"Tak kusangka Aurora setara dengan ahli di tahap Kehancuran, tapi ... " Adeine berjalan mendekat dari dalam asap yang mengepul, mendatangi sosok yang melindunginya. "Aku masih belum puas dengan kemampuanku sendiri!" tambahnya dengan nada lirih.


Adrine mengatakan hal seperti itu karena kemampuan yang ia miliki masih belum setara dengan keseluruhannya pasukannya. Ia juga berniat akan melampaui dari keseluruhannya pasukannya walaupun perkembangannya masih belum bisa menyamai pasukannya. Itu karena meningkatkan kekuatan pasukan jauh lebih mudah ketimbang kekuatan diri sendiri.


"Makhluk ini/itu ... " ucap Fhiora, Yana, dan Chrono di saat yang bersamaan. Mereka terkejut dengan makhluk yang barusan menahan serangan hebat dari Chrono yang menyerangnya dengan sekuat tenaga.


Kekuatan dari sosok di depan mereka begitu menyeramkan dan juga memberikan tekanan yang kuat. Pertahanan yang barusan dilakukannya juga hanya sekedar mengangkat menyodorkan tangan saja.


Makhluk itu adalah pasukan terkuat Adrine saat ini, gabungan dari segala pasukannya sekarang ini, prajurit cahaya, Aurora.


Bersambung!!